LOGINTangan kiri yang memegang perutnya diangkat, luka fatal yang seharusnya bisa membuat Aldi kehilangan banyak darah tertutup rapat. Fenomena aneh itu membuat Kepala Desa kebingungan tak percaya.
Aldi bersiap bertarung tidak hanya dengan Kepala Desa tapi juga dengan Grace. Meski ia punya banyak kartu yang bisa dimainkan, Aldi ingin mencoba menikmati pertarungan. “Mungkin ini alasanku ada di dunia!” Aldi bergumam dan meyakinkan dirinya sendiri, tanpa peringatan kakinya melangkah ke arah Kepala Desa. Meski tidak menggunakan kecepatan penuh, ia berhasil dihadang Grace dan serangannya ditangkis. Tang! Suara benturan pedang terdengar keras. Aldi melompat mundur demi membuat gerakan selanjutnya, tapi ia tidak mendapat kesempatan. Grace dengan brutal menyerangnya. Ayunan pisau Grace sangat tajam dan mengarah langsung ke titik vital. Satu serangan pasti akan membunuh musuhnya, Aldi menyadari ada sesuatu yang salah dengan mata lawannya. Setelah beberapa kali menghindar, Aldi memilih untuk menghentikan salah satu senjata Grace dan langsung melakukan tendangan keras ke arah dagu. Tendangannya sekali lagi menghantarkan Grace terbang menghantam dinding rumah. Kepala Desa dari tadi bersujud ke arah Parung monster kelelawar pemakan darah. Aldi mencoba mendekat dan menyerang Kepala Desa tapi sedikit terlambat. Suara nyaring dari monster Kelelawar terdengar hingga bisa memecahkan gendang telinga. Aldi mengontrol Prana dan memblokir semua gelombang suara ke telinganya. Matanya melirik ke arah Grace yang tiba-tiba bangun setelah mendengar suara itu. Meski tubuhnya tampak lemas Grace tetap bangun seperti zombie. Aldi menciptakan sebuah aliran listrik statis di seluruh ujung jarinya. Ia mendekat dengan langkah kaki yang terukur dan cepat, sebelum Grace membuat gerakan kejutan listrik langsung menargetkan otaknya. Grace yang terkejut langsung pingsan, dia tidak bisa mengingat apapun setelahnya. Aldi menoleh ke arah Kepala Desa, ia terkejut saat melihat Monster berbentuk kelelawar menusuk tubuh Kepala Desa dengan tangannya. Mata merah layaknya darah menatap langsung ke Aldi yang kurang waspada. [Pengendalian Pikiran ditolak.] Setelah melihat pemberitahuan sistem Aldi tahu mata merah itu ingin mengendalikannya. Namun tidak bisa, ia bingung karena tidak merasakan apa-apa. Mentalnya dari kehidupan sebelumnya terbawa sampai sekarang, jadi mengendalikan pikirannya dengan hipnotis hampir tidak mungkin. Musuh bersiap menyerang, Aldi segera memasang sikap bertahan tapi matanya terbelalak tak percaya karena musuh tiba-tiba hilang. Monster kelelawar tiba-tiba muncul di depan wajahnya, ia langsung memblokir cakar yang ingin menembus badannya. Tang! Benturan kuku monster bertemu pedang terdengar sangat keras. Aldi diterbangkan hingga menghantam dinding, seteguk darah segar keluar dari mulutnya. Tanpa mengusapnya, Aldi berdiri dan memperhatikan dengan seksama. Monster kelelawar hilang lagi tapi kali ini Aldi berhasil merespon. Perisai racun tak kasat mata menghentikan serangan monster, Aldi tersenyum tipis karena melihat sebuah goresan kecil di tangan yang menghantam perisai racunnya. Aldi melompat menjauh, ia melihat dengan jelas bahwa monster kelelawar itu tidak punya mata. Gelombang ultrasonik dipancarkan setiap beberapa detik adalah kunci pergerakannya. Saat sensor itu mengenai tubuhnya fokusnya langsung turun sepersekian detik. Setelah membentuk perisai penghalang, Aldi dapat mengkonfirmasinya. Ia hanya perlu menyesuaikan waktunya untuk menyerang balik. Sensor ultrasonik dipancarkan lagi, Aldi segera membentuk perisai lagi. Namun kali ini ia langsung bergerak setelah membentuknya. Benar saja Monster kelelawar masih menyerang perisainya. Tanpa membuang kesempatan, ia memanfaatkan momentum dan menghantarkan serangan mematikan ke arah luka di tangan monster. Tidak lupa Aldi menyuntikkan segala racun yang ia bisa buat dalam waktu singkat. Tusukannya tajam pedangnya langsung menancap ke luka monster Kelelawar. Teriakan kesakitan terdengar sangat keras hingga menghancurkan penghalang suara di rumah Kepala Desa. Aldi terus menyuntikkan racun sebanyak-banyaknya, matanya melotot melihat Monster yang terus berteriak. Tidak lupa dia membentuk perisai untuk kedua telinganya supaya gendang telinganya tidak terluka. Setelah beberapa saat kesakitan, Monster kelelawar meledak dan aura hitam melayang ke udara. Sebuah bola berwarna biru laut jatuh ke tanah, Aldi segera mengambilnya. [Bola Skill : Sensor Ultrasonik.] Aldi segera menghancurkannya dengan genggaman tangannya. Cahaya berwarna biru laut langsung merasuki tubuhnya. Paket pengetahuan tentang cara menggunakan sensor ultrasonik terlintas di pikirannya. Tanpa menunggu aba-aba, Aldi segera menggunakannya. Sensor itu seperti persepsi Prana tapi jika dimaksudkan untuk menyerang musuh itu akan menjadi serangan dadakan yang mematikan. Cara kerjanya seperti gelombang suara pada umumnya, tapi dalam frekuensi rendah yang hampir tidak mungkin didengar manusia. Namun Aldi bisa mendengar dan memodifikasi gelombangnya hingga menciptakan serangan dadakan yang bisa membuat musuh panik atau bahkan kematian seketika. Setelah pertarungan sengit berakhir, Aldi melihat Gerard menerobos masuk rumah Kepala Desa. Ia melihat Istri dan Kepala Desa di tanah tak sadarkan diri. Matanya terbuka lebar saat melihat darah di sekitar Kepala Desa, pikirannya mulai berpikir yang tidak-tidak. Namun Frank segera datang dan bertanya, “Tuan Muda, apa yang terjadi?” “Monster Kelelawar menyerang, Kepala Desa diperdaya olehnya dan tewas. Untungnya Grace masih sempat aku selamatkan.” Aldi menjelaskan detail lengkapnya. Penjelasannya langsung menghilangkan kekhawatiran Gerard. Frank mendekati Grace dan mengulurkan tangan kanannya ke atas kepala Grace yang tergeletak di pangkuan Gerard. Aura hijau muncul dari tangannya, itu adalah keterampilan yang mirip dengan Grace tapi efeknya jelas lebih kuat. Luka dalam Grace dengan cepat pulih dan beberapa saat langsung membuka mata. Ronald dan Gerard terkejut karena Frank bisa menggunakan keterampilan penyembuhan yang begitu kuat. Padahal itu adalah Skill Grace yang sudah dimodifikasi Aldi secara pribadi dengan mengandalkan pengetahuannya yang super kuat. Aldi duduk bersila, ia juga sedang menyembuhkan diri. Berkat keterampilan Grace ia bisa sembuh lebih cepat dan pertumbuhan ototnya semakin cepat. Meski sebenarnya ia punya super Regenerasi, keterampilan tambahan meningkatkan efisiensinya. Grace yang sadar mulai menjelaskan kejadian sebenarnya, ia mencurigai Kepala Desa dan melakukan investigasi sendiri. Namun ia tidak menyangka ternyata ada Monster Kelelawar yang dapat mempengaruhi pikirannya. Penduduk desa banyak yang tak percaya dengan Grace karena Kepala Desa pernah mengalahkannya dalam pemilihan. Namun itu hal yang wajar, Grace mencoba meyakinkan semuanya. Seminggu telah berlalu, Grace hanya bisa meyakinkan sebagian kecil. Hanya 3 orang yang mengikutinya, sedangkan yang lain berdiri di sisi Kepala Desa. Gerard tidak bisa berbuat banyak karena ia sudah dikeluarkan dari desa karena memilih melayani Aldi. Desa Betik benar-benar dalam keadaan memprihatinkan tapi Aldi tidak menunjukkan kepeduliannya. Ia justru segera memberi batasan dan akan kembali ke Kota Gayam karena urusannya sudah selesai. Setelah diskusi alot akhirnya Grace memilih untuk keluar dari Desa, bersama dengan 3 orangnya. Mereka melakukannya supaya Desa Betik terus bersatu. Pagi hari Aldi dan rombongannya pulang, tapi sebuah ledakan keras terdengar setelah mereka keluar dari desa. Ledakan itu jelas berasal dari desa, Gerard dan Grace dengan cepat berlari dan wajahnya terlihat kaku ketika melihat Desa Betik dibakar oleh segerombolan monster Lizardman. Gerard dan Grace ingin membalas dendam tapi dihentikan 3 orang Desa Betik. “Kita tidak mungkin melawan mereka sekarang!” ucap salah satu penduduk. Aldi memperhatikan dengan seksama, tiga titik hijau muncul di atas kepala tiga penduduk Desa Betik itu. “Menarik, ternyata dunia ini tidak kekurangan orang cerdas,” gumam Aldi dengan suara lirih. Meski pelan, Frank dan Ronald mendengarnya. Mereka tidak mengubah ekspresi tapi keduanya yakin Aldi adalah Tuan Muda yang layak untuk dilayani. Indikator di atas kepala Ronald berubah menjadi emas, ia sepenuhnya menyerahkan diri pada Tuan Mudanya.Tim pengintai yang nekat membuntuti kelompok Basara langsung dieksekusi di tempat tanpa suara. Kemampuan Gerard dan Grace berkembang sangat pesat setelah mereka mendalami Prinsip Jiwa.Usai membersihkan area, Aldi segera memberikan arahan untuk menjamu kelompok Basara. Koordinasi timnya berjalan sangat cepat dan terukur. Frank, sebagai penanggung jawab utama, terlihat begitu tenang meski harus mengurus banyak tugas logistik sekaligus dalam waktu singkat.Tidak lama kemudian, Basara dan Aldi sudah duduk berhadapan di ruangan yang sama. Keduanya saling melempar pandang, mencoba mengukur kedalaman kekuatan masing-masing.Namun, saat Aldi mengaktifkan sistemnya, sebaris teks aneh muncul: [Basara, Level ?, Power : ?.]Mata identifikasi yang selalu ia andalkan ternyata tidak berfungsi. Aldi hanya bisa menebak bahwa orang di depannya ini memiliki kekuatan yang berada di luar jangkauan sistemnya saat ini. Informasi dari jaringan intelijen menyebutkan bahwa Basara adalah seorang jenderal pera
Aldi perlahan membuka mata. Ia akhirnya memahami mengapa tekniknya tiba-tiba berkembang sendiri. Ternyata, Teknik Prinsip Jiwa ini bukanlah seratus persen ciptaannya, melainkan gabungan dari berbagai kekuatan. Saat mendapat tambahan energi lain, teknik itu akan berkembang secara alami dan memberikan wawasan baru bagi penggunanya. Artinya, semakin banyak ras yang menggunakan Teknik Prinsip Jiwa, semakin mendalam pula pemahaman mereka tentang kultivasi.Pandangannya langsung mengarah ke sosok penyihir yang terbang di langit. Di saat yang sama, ia juga bisa merasakan keberadaan kubah tak kasat mata yang melindungi semua orang. Kedua alis Aldi berkerut saat melihat Justin yang tampak kebingungan.Justin adalah penyihir jenius, anak dari seorang Viscount yang berkelana demi mencari pengalaman bertarung. Namun, langkahnya sedikit terhambat karena Aldi berhasil mengalahkannya dengan cukup mudah—bahkan setelah laga itu, Aldi masih harus menghadapi Visco.Bagi seorang penyihir, terbang adalah
Kabut panik sempat menyergap benak Aldi saat melihat tubuh Rini perlahan melenyap. Namun, ia memaksakan Prana tetap mengunci pandangannya untuk membedah fenomena yang sedang terjadi. Begitu pendaran cahaya hijau memudar, Aldi melesat mendekat.Tunas pohon kecil di hadapannya mulai bermanifestasi dan tumbuh secara abnormal. Dari yang awalnya hanya setinggi sejengkal tangan, tanaman itu meroket cepat hingga menjadi pohon dewasa setinggi dua meter.DEG!Dentuman misterius itu kembali menggetarkan udara. Aldi menoleh ke segala penjuru, nihil. Penasaran, ia memberanikan diri menempelkan telinganya ke kulit pohon yang masih bergetar hebat tersebut."Tidak mungkin... suaranya berasal dari dalam batang ini?"Sebelum rasa terkejutnya reda, tubuh Aldi mendadak memancarkan pendaran hijau pekat. Kemampuan pasif Regenerasi Super miliknya tiba-tiba meraung liar, menciptakan resonansi paksa yang menyedot sekaligus mengalirkan balik seluruh energi alam di sekitarnya."Cih, fenomena apa lagi ini?!" er
Setelah mengerahkan seluruh perlawanan, Visco akhirnya tumbang dan jatuh pingsan di tanah yang hancur. Di tengah gemuruh stadion, Aldi justru mendongak, menatap lurus ke langit tempat dua sosok pria tua mengawasinya sedari tadi. Sadar keberadaan mereka telah terkunci, kedua sosok misterius yang enggan menampakkan wajah itu langsung melesat pergi.Bersamaan dengan itu, suara komentator membahana mendefinisikan kemenangan mutlak nomor 178. Pihak penyelenggara Arena Mojor kembali menelan pil pahit; mereka merugi hingga sebelas ribu koin emas karena meremehkan Aldi. Di sisi lain, kelompok Bluewings pulang dengan kantong yang dipenuhi ribuan koin emas hasil taruhan.Setelah menerima hadiah utama berupa Inti Monster tingkat tinggi, Aldi menyadari benda itu tidak lagi berguna untuk menembus batas tubuhnya sendiri. Tanpa ragu, ia menyerahkannya kepada Frank. Setelah Frank berhasil menyerap dan menyaring seluruh energi keruh di dalam inti tersebut, sebuah ledakan energi murni tercipta—pria par
Melihat energi hijau yang menyelimuti tubuh Aldi, Visco segera meningkatkan kewaspadaannya dan langsung menerjang maju. Satu hantaman keras ia layangkan murni untuk meremukkan dada musuhnya, namun serangan bertenaga itu mendadak terhenti oleh satu telapak tangan Aldi.Energi hijau di tangan Aldi tidak hanya menahan benturan, tetapi juga meredam seluruh gelombang kejutnya, membuat pukulan telak Visco seketika kehilangan daya ancam.Aldi memutuskan bahwa waktu bermain-mainnya sudah habis. Menolak untuk terus membuang waktu dengan bertahan, ia mengambil alih kendali pertempuran. Tinju kanannya melesat secepat kilat, menghantam dada Visco yang sempat lengah akibat kehilangan momentum.Melihat pertahanan musuhnya terbuka, insting bertarung Aldi bergejolak. Tanpa memberi jeda satu napas pun, ia menghujani Visco dengan kombinasi pukulan beruntun yang brutal.BAM! BLAAM! BAM!Udara di sekeliling mereka menjerit hebat, terdistraksi oleh gelombang kejut mematikan yang tercipta dari setiap bentu
Wujud asli dari mode bertarung Justin kini terekspos sepenuhnya. Jubah penyihirnya yang terkoyak menampilkan bentuk tubuh yang bertolak belakang dengan penyihir rapuh pada umumnya. Otot-ototnya mengeras padat, berpadu dengan kulit biru tua yang membuatnya tampak seperti entitas iblis yang siap meratakan seisi kota.Sebelum Aldi sempat menganalisis perubahan struktur energi tersebut, tubuh Justin lenyap secara mutlak. Tanpa ada riak udara ataupun peringatan, sosok biru tua itu sudah muncul tepat di depan garis pandang Aldi, melayangkan satu pukulan keras ke arah dada.BLAAM!Hantaman berkekuatan destruktif itu melempar tubuh Aldi melesat lurus hingga menabrak dinding pembatas arena hingga retak parah. Asap tebal dan puing batu berjatuhan. Namun, alih-alih meringis kesakitan akibat patah tulang, dari balik kepulan debu, Aldi justru bangkit berdiri perlahan dengan seringai lebar di wajahnya. Rasa sakit dan tekanan hebat ini... adalah apa yang ia cari selama ini untuk menembus batas kemam
Pertanyaannya ringan tapi menjawabnya seharusnya sangat susah. Namun Frank menjawabnya dengan begitu mudah dan lantang. “Karena itu anda Tuan Muda.” Sebenarnya Frank tidak tahu mengapa ia mengatakan itu. Kata itu langsung meluncur dari mulutnya tanpa sempat berpikir
Mata merah itu memancarkan intimidasi yang kuat, kelompok bandit melihatnya dengan takut. Mereka ingin melepaskan senjata, tapi Gerard sudah menebas mereka semua dengan cepat. Tidak hanya Aldi yang memerah karena bubuk merica, tapi Gerard juga terlihat sangat marah karena marah. Setelah mengirim p
Bakat hanyalah ilusi yang diciptakan manusia, itulah yang Aldi percaya. Tidak ada bakat atau orang berbakat, hanya ada orang berusaha dan mau mempelajarinya. Racun kuning kehijauan itu menandakan salah satunya, Aldi yang selalu bereksperimen berhasil mewujudkannya. Bukan karena dia berbakat tapi ka
Cahaya kuning menjulang tinggi ke langit, satu ayunan pedang langsung membelah musuhnya. Peristiwa itu menggemparkan seluruh Kota Gayam, bahkan Faisal terlihat ternganga.Disisi lain Aldi sedikit terkejut dengan output yang dihasilkan. Dia hanya bereksperimen dengan prana dan memadatkannya dengan t







