LOGINCahaya kuning menjulang tinggi ke langit, satu ayunan pedang langsung membelah musuhnya. Peristiwa itu menggemparkan seluruh Kota Gayam, bahkan Faisal terlihat ternganga.
Disisi lain Aldi sedikit terkejut dengan output yang dihasilkan. Dia hanya bereksperimen dengan prana dan memadatkannya dengan tekanan tinggi. Meski terlihat kebingungan ekspresinya tetap tenang dan penuh fokus. Hal itu membuat semua mata-mata dan 3 Pelayannya takjub, dan rasa hormat mulai muncul di benak mereka. Tanpa ekspresi Aldi melihat ke arah pedangnya, dia sebenarnya ingin takjub karena kekuatan ini tidak mungkin ada di dunia modern. Namun ekspresinya yang tenang itu disalahkan artikan sebagai ketidakpuasan karena musuhnya terlalu lemah. “Cepat segera bereskan. Ambil Intinya jika memang ada.” Aldi memberi perintah sambil menyarungkan pedangnya. Perintahnya singkat dan jelas tapi mengandung ancaman nyata pada para mata-mata yang ingin mencuri hasil rampasannya. Frank segera bergerak, dia dengan cepat membelah beberapa monster. Gerard juga melakukannya dengan cepat, tapi Ronald sedikit terlambat karena dia kurang berpengalaman membelah tubuh monster. Setelah mengumpulkan semuanya, Aldi mendapat 40 Inti Prana tingkat rendah. Menjualnya sekarang adalah pilihan terbaik, karena dia harus mengumpulkan uang. “Jual semua, belikan daging sapi dan ayam. Kita akan makan besar hari ini. Oh iya Gerard bawa tubuh bos itu.” Aldi tersenyum ke arah Gerard yang tampak terkejut mendengarnya. Sepanjang perjalanan Gerard tampak gelisah, tapi tidak ada yang berani membuka percakapan karena Aldi terus berjalan ke arah kediamannya. Sesampainya di lapangan latihan, Aldi mengangkat tangannya pelan. “Ini ruang privasi, apa kalian mencoba memprovokasi?” ucap Aldi dengan suara tajam. Bayangan hitam pergi, mereka adalah mata-mata yang terus mengikutinya sejak tadi. Aldi sudah melatih kepekaannya hingga titik maksimal yang bisa dilakukannya saat ini. “Gerard masak daging itu.” Gerard tersentak, dia tidak menyangka Tuannya ingin memasak daging yang bisa membunuh manusia. Kecuali Kesatria bintang 3 yang punya toleransi racun yang kuat. “Tuan bukankah ini bisa membunuh manusia?” Aldi tersenyum dan berkata dengan suara lembut. “Bukankah ras kalian spesialis dalam membuat masakan monster. Cepat sajikan dengan rempah terbaik, jangan terlalu pedas karena Ronald sedikit sensitif lidahnya.” Ronald yang mendengar langsung membantah. “Siapa yang tidak bisa makan pedas!” Frank dengan kecepatan tangannya langsung melempar cabe rawit ke dalam mulutnya. Lemparannya tepat sasaran dengan kecepatan yang terbaik, Ronald tidak bisa menghindar dan hanya bisa mengunyah. “Huaaahhhh.” Ronald berguling-guling kepedasan dan berlari mencari air. Padahal di sakunya ada botol minum tapi Ronald justru berlari ke rumah untuk mengambil air. “Ah…” Aldi, Frank, dan Gerard kompak. “Tuan apa anda sudah tahu?” Aldi mengangguk. “Sejak awal aku sudah tahu, karena malas berpikir jadi aku biarkan. Toh kau bekerja dengan baik.” Frank mengangguk, sebenarnya dia tidak terlalu tahu apa yang mereka bicarakan. Memasak monster memerlukan keahlian khusus, bahkan beberapa Koki Kerajaan tidak bisa melakukannya. Gerard berasal dari sebuah desa di perbatasan Utara Kota Gayam, masuk kedalam wilayah Kota Ngampel lebih tepatnya desa Betik. Sebuah desa yang bertarung terus menerus melawan monster. Itu terjadi karena ada portal monster level rendah, meski hanya level rendah monster yang terus muncul membuat penduduk disana beradaptasi. Memasak daging monster sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Istrinya juga terkena racun karena terlalu banyak makan daging monster, meski berhasil disembuhkan Gerard masih khawatir. “Ya aku tahu yang kamu pikirkan, bawa saja mereka kesini. Jika tebakanku benar setidaknya masih ada 80 orang di desamu.” Aldi memperkirakan jumlah penduduknya dengan informasi-informasi yang dimilikinya. Jiwanya sebagai peneliti sudah mengakar sampai ketulang jadi memperkirakan jumlah penduduknya adalah hal yang mudah. Apalagi informasi di dunia ini cukup mudah diakses karena adanya Guild Newpaper, guild yang berfokus memberikan informasi dan menyebarkannya. Gerard menelan ludahnya dan menjawab, “Iya itu satu bulan yang lalu. Sekarang hanya ada 50an. Banyak yang gugur dipertarungkan sebelumnya.” Aldi menunjukkan keprihatinan, dia tidak menyangka 30 nyawa melayang hanya karena satu gelombang monster. “Itu karena aku tidak ada disana.” Gerard menunduk menyesal. “Ceritakan saja apa yang ingin kau ceritakan.” Aldi memberi ruang untuk Gerard. Sebagai salah satu Tuan Muda di desa Betik, Gerard menjadi petarung garis depan yang menghadang para monster. Namun karena berhutang budi pada Aldi dia meninggalkan posisinya. Pertarungan itu melibatkan semua penduduk, bahkan anak kecil berumur 12 tahun harus bertarung. Kebrutalan itu terjadi karena Kota Ngampel tidak terlalu peduli dengan keberadaan Desa Betik yang selalu menolak berkompromi. Sebelum portal monster muncul pendudukan Desa Betik lebih dari 300 jiwa dan 120 petarung aktif. Hanya dalam beberapa tahun saja mereka merosot hingga ke posisi sekarang. Hanya ada 15 petarung aktif termasuk istrinya. Karena para laki-laki hampir semua gugur hanya menyisakan kepala desa, anak-anak dan beberapa orang tua Desa Betik hanya punya petarung wanita. “Aku… aku…” Gerard tampak bimbang ingin mengatakan sesuatu. “Masak itu dulu, ayo jemput semua orang itu. Penjualan 40 Inti itu harusnya cukup untuk mereka hidup dalam seminggu.” Aldi menunjuk monster babi dengan ekspresi tenang. Gerard mengangguk dan mengeluarkan semua alat masak dari cincin penyimpanan. Frank yang melihatnya tercengang, harga cincin penyimpanan paling murah 100 koin emas. “Tidak perlu heran, dia juga tuan muda sepertiku. Bedanya dia berasal dari desa dan aku berasal dari Ibu Kota.” Aldi menoleh ke arah Frank yang masih ternganga melihat Gerard memotong tubuh monster dan menggorengnya. "Iya Tuan.” Frank dengan cepat tersadar. Ronald terkejut sekali lagi melihat Gerard yang menggoreng tubuh monster. “Hei apa yang kau lakukan!” Frank dengan cepat langsung menutup mulutnya dan berbisik, “Berisik. Diam dan lihat saja.” Hanya butuh beberapa menit untuk menyelesaikan masakan. Gerard menyajikan masakan dalam 4 piring terpisah, dia sudah terbiasa membagi makanan setara. “Sudah siap!” Namun sebelum menyerahkannya ke Aldi, dia teringat sesuatu dan langsung menarik keempatnya. “Maafkan aku Tuan Muda.” Aldi menggeleng. “Tak perlu mengaturnya lagi.” Tanpa peringatan Aldi mengambil salah satu piring dan memakannya. Satu suapan membuatnya terbelalak, rasanya benar-benar sangat lembut dan nikmat. Frank dan Ronald dengan cepat langsung mencobanya. Meski mereka awalnya ragu, melihat ekspresi Aldi langsung mencoba. Ketiganya menghabiskan makanan dengan cepat. Energi hijau yang menyelimuti daging monster itu adalah penawaran racun yang kuat. Bahkan tidak hanya menjadi penawar racun tapi juga menjadi peningkat kestabilan Prana. Setelah makan semuanya, Aldi segera duduk bersila memeriksa apa yang sudah dia makan. Monster yang telah dia makan tadi tidak hanya menambah kapasitas Prana, tapi juga meningkatkan sedikit fisiknya secara instan. “Jadi begitu.” Belum selesai memperhatikan pertumbuhan fisiknya, Aldi menelusuri semua saraf hingga tulangnya. Dia menemukan sesuatu yang menarik. Daging monster mengandung racun pasif yang dapat disimpan dalam tubuhnya. Tepatnya di Liver atau hati, biasanya hanya menghasilkan Toksin atau anti racun dari luar tapi setelah memakan monster Aldi merasakan perkembangan yang signifikan. Sebagai eksperimen, Aldi mencoba mengalirkan energinya memerintahkan Liver untuk memproduksi racun dan mengarahkannya ke ujung jari telunjuknya. Sebuah gumpalan berwarna kuning kehijauan muncul di ujung jarinya. Aldi mengarahkannya ke batu di sebelahnya. Batu itu melelah layaknya lilin yang terbakar habis. Frank, Gerard dan Ronald yang melihatnya terkejut. Kontrol prana dan mewujudkannya dalam bentuk apapun seharusnya hanya bisa dilakukan oleh Kesatria bintang 4. Tanpa ada yang tahu sebenarnya Aldi setara dengan bintang 4 karena ada 4 lingkaran di inti penyimpanan prana miliknya. “Oh. Sepertinya menyenangkan.” Aldi tersenyum tipis dan ingin meneliti racun itu lebih lanjut.Regas dan Reymond tidak ada pilihan selain mengakuinya, meski begitu mereka tetap ingin mencari keuntungan dari pelayan Aldi yang sudah menghajar orangnya. Namun niat mereka berdua segera ditarik setelah melihat senyum Aldi yang sangat mengintimidasi.“Siapa sebenarnya rubah ini.” ucap Regas dalam hatinya yang masih tidak percaya salah satu tim elitnya kalah begitu mudah.Reymond segera beradaptasi dengan situasi, meski ia punya kepercayaan diri melawan mereka tapi mundur adalah pilihan terbaik. Tangan kanannya diangkat, energi dalam tubuhnya bersirkulasi pelan dan menciptakan sebuah benang terang, benang itu langsung mengangkat tubuh orang-orangnya. “Sepertinya cukup sampai disini,” ujar Reymond.Regas juga langsung beradaptasi, ia tidak perlu mencampuri urusan Kota Gayam lagi. Niatnya hanya ingin melihat situasi tapi kekalahan Moralez membuat Regas harus menampakkan dirinya.Setelah semua orang meninggalkan tempat, tatapan Aldi langsung mengarah ke Moralez yang masih terbaring di t
Moralez melompat mundur, ia terpaksa membuka segel kekuatannya. “Baiklah kau memaksaku!”Tubuhnya bertambah besar dan kulitnya berubah merah. Matanya menyala garang, menyerupai iblis yang ingin menelan semua musuhnya. Sekarang penampilannya sudah seperti iblis yang siap menghancurkan apa saja di depannya.Aldi melihat indikator di atas kepala Moralez berubah menjadi hitam yang artinya mereka akan menjadi musuh sampai mati. Hal yang membuatnya sedikit antusias karena kekuatan yang tercatat dalam sistem.[Moralez, Level : 31 (Bintang 4), Power : 1100 Keterampilan :---]Senyum tipis merekah di wajah Aldi, matanya berkilat penuh antusias. “Ini dia yang aku cari, majulah!” teriaknya sambil menancapkan pedangnya di tanah.Tepat setelah ia menyelesaikan katanya, pukulan keras langsung menghantam dadanya. Aldi diterbangkan hingga puluhan meter, meski begitu dia berhasil berhenti dengan kedua kakinya. Matanya langsung melihat ke arah musuh, itu adalah tatapan kecewa karena pukulan Moralez tera
Xorn tertawa terbahak-bahak. “Seperti yang diharapkan dari rivalku. Sebagai pelayan apa kau tidak punya pikiran bergabung dengan kami?”Frank menggelengkan kepala. “Sebenarnya aku cukup terkejut saat melihatmu melakukan semua ini. Ah jika saja Tuan Faisal melihat ini, dia pasti akan sangat terpukul.”Sekali lagi Xorn tertawa. “Dia tidak akan tahu, semua dilakukan dengan baik. Jadi aku akan kembali ke sisinya tanpa ada sedikitpun kecurigaan.”Frank hanya bisa diam karena itu memang fakta, ia mendengar pembicaraan pasukan mereka. Faisal sudah dikondisikan supaya tidak bisa mendengar kejadian disini, ia disibukkan dengan pekerjaan sebagai walikota.“Baiklah-baiklah, jangan membuat ini berlarut-larut. Ayo hilangkan bukti yang bisa membawamu ke neraka ini!” ucap Frank dengan senyum lebar.10 anak mulai ketakutan saat Frank melepaskan Prana berwarna ungu kehitaman. Aura mencekam dan gelap itu seperti kematian yang sedang mengintai targetnya.Xorn mundur selangkah tapi langsung melawan tekan
Prinsip Jiwa adalah teknik kultivasi yang masih bisa berkembang, Aldi akan terus memperbaikinya seiring berjalannya waktu. Teknik kultivasi kuno dipadukan dengan pengetahuan modern menciptakan aliran baru.Pemuda yang paling tua berdiri dan bertanya dengan ekspresi serius. “Tuan Muda, bagaimana dengan adik-adik kami?”“Mereka sudah menjadi bagian dari keluarga, bahkan jika kalian menolak dan ingin menjadi anggota biasa aku tidak memaksa.”Pemuda berumur 16 tahun itu langsung berlutut dan melakukan ritual sumpah darah. Jarinya digigit hingga darah mengucur, lalu ia mengusapkannya ke dahi.“Aku tidak akan pernah mengkhianati Tuan Muda Aldi.” Cahaya keemasan menerobos keluar dari tubuhnya. Sebuah benang terhubung antara dirinya dan Aldi yang berdiri tegak.“Aku menghargai keputusanmu. Kau yang paling tua jadi jangan memaksa kehendak adik-adikmu.” Aldi memberi peringatan.Sembilan pemuda lainnya mengangguk setuju, mereka tidak punya orang tua jadi lebih baik mengikuti Aldi Rahmat yang bis
Aldi duduk bersila menghadap matahari pagi yang begitu indah. “Bumi dulu pasti seindah ini.” Kenangan lama mulai muncul di pikirannya. Namun Aldi tidak mau ambil pusing dan fokus memperbaiki tubuhnya.Semua otot tubuhnya sudah mencapai puncaknya, ia hanya menemukan dorongan lebih untuk mendobrak penghalangnya. Prana miliknya tidak terlalu melimpah karena akar spiritualnya hanya tingkat Roh.Akar spiritual adalah pondasi awal setiap manusia di dunia ini berkultivasi. Ada 7 tingkat akar kultivasi yaitu Fana, Roh, Murni, Elemen, Raja, Surgawi, Kekacauan.Kakak ke-6 hingga ke-4 punya akar spiritual Elemen, mereka punya elemen api, angin, dan air. Kakak ketiga dan kedua punya akar spiritual Raja, dan Kakak sulungnya punya akar spiritual Surgawi seperti Duka Rahmat.
Gerard yang sudah tak sadarkan diri menyerang membabi buta. Ronald menangkis serangan dengan senyum lebar di bibirnya, meski beberapa serangan kecil menembus penjagaannya itu dapat diabaikan berkat Keterampilan Regenerasi.Grace melihat pertarungan gila itu, ia sudah sebulan berlatih dengan Ronald tapi tidak mengetahuinya. Perisai itu begitu kokoh layaknya sebuah tembok raksasa.Serangan Gerard mulai melemah sebelum dia memulihkan diri perisai penyok itu langsung menyodok wajahnya. Gerard langsung pingsan setelah terkena serangan.Ronald tersenyum di balik perisai, tubuhnya penuh darah yang mengalir tapi staminanya masih terjaga. “Pertarungan yang hebat, Kawan. Lain kali berusahalah lebih kuat.”Rossa, Rina, dan Rini melihat pertarungan hebat itu. Mereka tidak menyangka di balik penampilan konyol Ronald, ternyata tersimpan semangat juang yang begitu membara.Orang yang paling terkejut disini tentu saja Frank, setelah ia melihat pertarunga







