Home / Fantasi / Ilmuwan Kultivasi / Chapter 5 Pengakuan

Share

Chapter 5 Pengakuan

Author: ChimungKing
last update publish date: 2026-05-03 15:07:58

Cahaya kuning menjulang tinggi ke langit, satu ayunan pedang langsung membelah musuhnya. Peristiwa itu menggemparkan seluruh Kota Gayam, bahkan Faisal terlihat ternganga.

Disisi lain Aldi sedikit terkejut dengan output yang dihasilkan. Dia hanya bereksperimen dengan prana dan memadatkannya dengan tekanan tinggi. Meski terlihat kebingungan ekspresinya tetap tenang dan penuh fokus. Hal itu membuat semua mata-mata dan 3 Pelayannya takjub, dan rasa hormat mulai muncul di benak mereka.

Tanpa ekspresi Aldi melihat ke arah pedangnya, dia sebenarnya ingin takjub karena kekuatan ini tidak mungkin ada di dunia modern. Namun ekspresinya yang tenang itu disalahkan artikan sebagai ketidakpuasan karena musuhnya terlalu lemah.

“Cepat segera bereskan. Ambil Intinya jika memang ada.” Aldi memberi perintah sambil menyarungkan pedangnya. Perintahnya singkat dan jelas tapi mengandung ancaman nyata pada para mata-mata yang ingin mencuri hasil rampasannya.

Frank segera bergerak, dia dengan cepat membelah beberapa monster. Gerard juga melakukannya dengan cepat, tapi Ronald sedikit terlambat karena dia kurang berpengalaman membelah tubuh monster.

Setelah mengumpulkan semuanya, Aldi mendapat 40 Inti Prana tingkat rendah. Menjualnya sekarang adalah pilihan terbaik, karena dia harus mengumpulkan uang.

“Jual semua, belikan daging sapi dan ayam. Kita akan makan besar hari ini. Oh iya Gerard bawa tubuh bos itu.”

Aldi tersenyum ke arah Gerard yang tampak terkejut mendengarnya.

Sepanjang perjalanan Gerard tampak gelisah, tapi tidak ada yang berani membuka percakapan karena Aldi terus berjalan ke arah kediamannya. Sesampainya di lapangan latihan, Aldi mengangkat tangannya pelan.

“Ini ruang privasi, apa kalian mencoba memprovokasi?” ucap Aldi dengan suara tajam.

Bayangan hitam pergi, mereka adalah mata-mata yang terus mengikutinya sejak tadi. Aldi sudah melatih kepekaannya hingga titik maksimal yang bisa dilakukannya saat ini.

“Gerard masak daging itu.”

Gerard tersentak, dia tidak menyangka Tuannya ingin memasak daging yang bisa membunuh manusia. Kecuali Kesatria bintang 3 yang punya toleransi racun yang kuat.

“Tuan bukankah ini bisa membunuh manusia?”

Aldi tersenyum dan berkata dengan suara lembut. “Bukankah ras kalian spesialis dalam membuat masakan monster. Cepat sajikan dengan rempah terbaik, jangan terlalu pedas karena Ronald sedikit sensitif lidahnya.”

Ronald yang mendengar langsung membantah. “Siapa yang tidak bisa makan pedas!”

Frank dengan kecepatan tangannya langsung melempar cabe rawit ke dalam mulutnya. Lemparannya tepat sasaran dengan kecepatan yang terbaik, Ronald tidak bisa menghindar dan hanya bisa mengunyah.

“Huaaahhhh.” Ronald berguling-guling kepedasan dan berlari mencari air. Padahal di sakunya ada botol minum tapi Ronald justru berlari ke rumah untuk mengambil air.

“Ah…” Aldi, Frank, dan Gerard kompak.

“Tuan apa anda sudah tahu?”

Aldi mengangguk. “Sejak awal aku sudah tahu, karena malas berpikir jadi aku biarkan. Toh kau bekerja dengan baik.”

Frank mengangguk, sebenarnya dia tidak terlalu tahu apa yang mereka bicarakan. Memasak monster memerlukan keahlian khusus, bahkan beberapa Koki Kerajaan tidak bisa melakukannya.

Gerard berasal dari sebuah desa di perbatasan Utara Kota Gayam, masuk kedalam wilayah Kota Ngampel lebih tepatnya desa Betik. Sebuah desa yang bertarung terus menerus melawan monster. Itu terjadi karena ada portal monster level rendah, meski hanya level rendah monster yang terus muncul membuat penduduk disana beradaptasi.

Memasak daging monster sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Istrinya juga terkena racun karena terlalu banyak makan daging monster, meski berhasil disembuhkan Gerard masih khawatir.

“Ya aku tahu yang kamu pikirkan, bawa saja mereka kesini. Jika tebakanku benar setidaknya masih ada 80 orang di desamu.”

Aldi memperkirakan jumlah penduduknya dengan informasi-informasi yang dimilikinya. Jiwanya sebagai peneliti sudah mengakar sampai ketulang jadi memperkirakan jumlah penduduknya adalah hal yang mudah. Apalagi informasi di dunia ini cukup mudah diakses karena adanya Guild Newpaper, guild yang berfokus memberikan informasi dan menyebarkannya.

Gerard menelan ludahnya dan menjawab, “Iya itu satu bulan yang lalu. Sekarang hanya ada 50an. Banyak yang gugur dipertarungkan sebelumnya.”

Aldi menunjukkan keprihatinan, dia tidak menyangka 30 nyawa melayang hanya karena satu gelombang monster.

“Itu karena aku tidak ada disana.” Gerard menunduk menyesal.

“Ceritakan saja apa yang ingin kau ceritakan.” Aldi memberi ruang untuk Gerard.

Sebagai salah satu Tuan Muda di desa Betik, Gerard menjadi petarung garis depan yang menghadang para monster. Namun karena berhutang budi pada Aldi dia meninggalkan posisinya.

Pertarungan itu melibatkan semua penduduk, bahkan anak kecil berumur 12 tahun harus bertarung. Kebrutalan itu terjadi karena Kota Ngampel tidak terlalu peduli dengan keberadaan Desa Betik yang selalu menolak berkompromi.

Sebelum portal monster muncul pendudukan Desa Betik lebih dari 300 jiwa dan 120 petarung aktif. Hanya dalam beberapa tahun saja mereka merosot hingga ke posisi sekarang. Hanya ada 15 petarung aktif termasuk istrinya.

Karena para laki-laki hampir semua gugur hanya menyisakan kepala desa, anak-anak dan beberapa orang tua Desa Betik hanya punya petarung wanita.

“Aku… aku…” Gerard tampak bimbang ingin mengatakan sesuatu.

“Masak itu dulu, ayo jemput semua orang itu. Penjualan 40 Inti itu harusnya cukup untuk mereka hidup dalam seminggu.” Aldi menunjuk monster babi dengan ekspresi tenang.

Gerard mengangguk dan mengeluarkan semua alat masak dari cincin penyimpanan. Frank yang melihatnya tercengang, harga cincin penyimpanan paling murah 100 koin emas.

“Tidak perlu heran, dia juga tuan muda sepertiku. Bedanya dia berasal dari desa dan aku berasal dari Ibu Kota.” Aldi menoleh ke arah Frank yang masih ternganga melihat Gerard memotong tubuh monster dan menggorengnya.

"Iya Tuan.” Frank dengan cepat tersadar.

Ronald terkejut sekali lagi melihat Gerard yang menggoreng tubuh monster. “Hei apa yang kau lakukan!”

Frank dengan cepat langsung menutup mulutnya dan berbisik, “Berisik. Diam dan lihat saja.”

Hanya butuh beberapa menit untuk menyelesaikan masakan. Gerard menyajikan masakan dalam 4 piring terpisah, dia sudah terbiasa membagi makanan setara.

“Sudah siap!”

Namun sebelum menyerahkannya ke Aldi, dia teringat sesuatu dan langsung menarik keempatnya. “Maafkan aku Tuan Muda.”

Aldi menggeleng. “Tak perlu mengaturnya lagi.”

Tanpa peringatan Aldi mengambil salah satu piring dan memakannya. Satu suapan membuatnya terbelalak, rasanya benar-benar sangat lembut dan nikmat.

Frank dan Ronald dengan cepat langsung mencobanya. Meski mereka awalnya ragu, melihat ekspresi Aldi langsung mencoba. Ketiganya menghabiskan makanan dengan cepat. Energi hijau yang menyelimuti daging monster itu adalah penawaran racun yang kuat. Bahkan tidak hanya menjadi penawar racun tapi juga menjadi peningkat kestabilan Prana.

Setelah makan semuanya, Aldi segera duduk bersila memeriksa apa yang sudah dia makan. Monster yang telah dia makan tadi tidak hanya menambah kapasitas Prana, tapi juga meningkatkan sedikit fisiknya secara instan.

“Jadi begitu.”

Belum selesai memperhatikan pertumbuhan fisiknya, Aldi menelusuri semua saraf hingga tulangnya. Dia menemukan sesuatu yang menarik.

Daging monster mengandung racun pasif yang dapat disimpan dalam tubuhnya. Tepatnya di Liver atau hati, biasanya hanya menghasilkan Toksin atau anti racun dari luar tapi setelah memakan monster Aldi merasakan perkembangan yang signifikan.

Sebagai eksperimen, Aldi mencoba mengalirkan energinya memerintahkan Liver untuk memproduksi racun dan mengarahkannya ke ujung jari telunjuknya.

Sebuah gumpalan berwarna kuning kehijauan muncul di ujung jarinya. Aldi mengarahkannya ke batu di sebelahnya. Batu itu melelah layaknya lilin yang terbakar habis.

Frank, Gerard dan Ronald yang melihatnya terkejut. Kontrol prana dan mewujudkannya dalam bentuk apapun seharusnya hanya bisa dilakukan oleh Kesatria bintang 4.

Tanpa ada yang tahu sebenarnya Aldi setara dengan bintang 4 karena ada 4 lingkaran di inti penyimpanan prana miliknya.

“Oh. Sepertinya menyenangkan.” Aldi tersenyum tipis dan ingin meneliti racun itu lebih lanjut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 27 Metode

    Tim pengintai yang nekat membuntuti kelompok Basara langsung dieksekusi di tempat tanpa suara. Kemampuan Gerard dan Grace berkembang sangat pesat setelah mereka mendalami Prinsip Jiwa.Usai membersihkan area, Aldi segera memberikan arahan untuk menjamu kelompok Basara. Koordinasi timnya berjalan sangat cepat dan terukur. Frank, sebagai penanggung jawab utama, terlihat begitu tenang meski harus mengurus banyak tugas logistik sekaligus dalam waktu singkat.Tidak lama kemudian, Basara dan Aldi sudah duduk berhadapan di ruangan yang sama. Keduanya saling melempar pandang, mencoba mengukur kedalaman kekuatan masing-masing.Namun, saat Aldi mengaktifkan sistemnya, sebaris teks aneh muncul: [Basara, Level ?, Power : ?.]Mata identifikasi yang selalu ia andalkan ternyata tidak berfungsi. Aldi hanya bisa menebak bahwa orang di depannya ini memiliki kekuatan yang berada di luar jangkauan sistemnya saat ini. Informasi dari jaringan intelijen menyebutkan bahwa Basara adalah seorang jenderal pera

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 26 Memperbaiki

    Aldi perlahan membuka mata. Ia akhirnya memahami mengapa tekniknya tiba-tiba berkembang sendiri. Ternyata, Teknik Prinsip Jiwa ini bukanlah seratus persen ciptaannya, melainkan gabungan dari berbagai kekuatan. Saat mendapat tambahan energi lain, teknik itu akan berkembang secara alami dan memberikan wawasan baru bagi penggunanya. Artinya, semakin banyak ras yang menggunakan Teknik Prinsip Jiwa, semakin mendalam pula pemahaman mereka tentang kultivasi.Pandangannya langsung mengarah ke sosok penyihir yang terbang di langit. Di saat yang sama, ia juga bisa merasakan keberadaan kubah tak kasat mata yang melindungi semua orang. Kedua alis Aldi berkerut saat melihat Justin yang tampak kebingungan.Justin adalah penyihir jenius, anak dari seorang Viscount yang berkelana demi mencari pengalaman bertarung. Namun, langkahnya sedikit terhambat karena Aldi berhasil mengalahkannya dengan cukup mudah—bahkan setelah laga itu, Aldi masih harus menghadapi Visco.Bagi seorang penyihir, terbang adalah

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 25 Druid

    Kabut panik sempat menyergap benak Aldi saat melihat tubuh Rini perlahan melenyap. Namun, ia memaksakan Prana tetap mengunci pandangannya untuk membedah fenomena yang sedang terjadi. Begitu pendaran cahaya hijau memudar, Aldi melesat mendekat.Tunas pohon kecil di hadapannya mulai bermanifestasi dan tumbuh secara abnormal. Dari yang awalnya hanya setinggi sejengkal tangan, tanaman itu meroket cepat hingga menjadi pohon dewasa setinggi dua meter.DEG!Dentuman misterius itu kembali menggetarkan udara. Aldi menoleh ke segala penjuru, nihil. Penasaran, ia memberanikan diri menempelkan telinganya ke kulit pohon yang masih bergetar hebat tersebut."Tidak mungkin... suaranya berasal dari dalam batang ini?"Sebelum rasa terkejutnya reda, tubuh Aldi mendadak memancarkan pendaran hijau pekat. Kemampuan pasif Regenerasi Super miliknya tiba-tiba meraung liar, menciptakan resonansi paksa yang menyedot sekaligus mengalirkan balik seluruh energi alam di sekitarnya."Cih, fenomena apa lagi ini?!" er

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 24 Sosok Misterius

    Setelah mengerahkan seluruh perlawanan, Visco akhirnya tumbang dan jatuh pingsan di tanah yang hancur. Di tengah gemuruh stadion, Aldi justru mendongak, menatap lurus ke langit tempat dua sosok pria tua mengawasinya sedari tadi. Sadar keberadaan mereka telah terkunci, kedua sosok misterius yang enggan menampakkan wajah itu langsung melesat pergi.Bersamaan dengan itu, suara komentator membahana mendefinisikan kemenangan mutlak nomor 178. Pihak penyelenggara Arena Mojor kembali menelan pil pahit; mereka merugi hingga sebelas ribu koin emas karena meremehkan Aldi. Di sisi lain, kelompok Bluewings pulang dengan kantong yang dipenuhi ribuan koin emas hasil taruhan.Setelah menerima hadiah utama berupa Inti Monster tingkat tinggi, Aldi menyadari benda itu tidak lagi berguna untuk menembus batas tubuhnya sendiri. Tanpa ragu, ia menyerahkannya kepada Frank. Setelah Frank berhasil menyerap dan menyaring seluruh energi keruh di dalam inti tersebut, sebuah ledakan energi murni tercipta—pria par

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 23 Gila

    Melihat energi hijau yang menyelimuti tubuh Aldi, Visco segera meningkatkan kewaspadaannya dan langsung menerjang maju. Satu hantaman keras ia layangkan murni untuk meremukkan dada musuhnya, namun serangan bertenaga itu mendadak terhenti oleh satu telapak tangan Aldi.Energi hijau di tangan Aldi tidak hanya menahan benturan, tetapi juga meredam seluruh gelombang kejutnya, membuat pukulan telak Visco seketika kehilangan daya ancam.Aldi memutuskan bahwa waktu bermain-mainnya sudah habis. Menolak untuk terus membuang waktu dengan bertahan, ia mengambil alih kendali pertempuran. Tinju kanannya melesat secepat kilat, menghantam dada Visco yang sempat lengah akibat kehilangan momentum.Melihat pertahanan musuhnya terbuka, insting bertarung Aldi bergejolak. Tanpa memberi jeda satu napas pun, ia menghujani Visco dengan kombinasi pukulan beruntun yang brutal.BAM! BLAAM! BAM!Udara di sekeliling mereka menjerit hebat, terdistraksi oleh gelombang kejut mematikan yang tercipta dari setiap bentu

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 22 Final

    Wujud asli dari mode bertarung Justin kini terekspos sepenuhnya. Jubah penyihirnya yang terkoyak menampilkan bentuk tubuh yang bertolak belakang dengan penyihir rapuh pada umumnya. Otot-ototnya mengeras padat, berpadu dengan kulit biru tua yang membuatnya tampak seperti entitas iblis yang siap meratakan seisi kota.Sebelum Aldi sempat menganalisis perubahan struktur energi tersebut, tubuh Justin lenyap secara mutlak. Tanpa ada riak udara ataupun peringatan, sosok biru tua itu sudah muncul tepat di depan garis pandang Aldi, melayangkan satu pukulan keras ke arah dada.BLAAM!Hantaman berkekuatan destruktif itu melempar tubuh Aldi melesat lurus hingga menabrak dinding pembatas arena hingga retak parah. Asap tebal dan puing batu berjatuhan. Namun, alih-alih meringis kesakitan akibat patah tulang, dari balik kepulan debu, Aldi justru bangkit berdiri perlahan dengan seringai lebar di wajahnya. Rasa sakit dan tekanan hebat ini... adalah apa yang ia cari selama ini untuk menembus batas kemam

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 9 Pertarungan Sengit

    Tangan kiri yang memegang perutnya diangkat, luka fatal yang seharusnya bisa membuat Aldi kehilangan banyak darah tertutup rapat. Fenomena aneh itu membuat Kepala Desa kebingungan tak percaya.Aldi bersiap bertarung tidak hanya dengan Kepala Desa tapi juga dengan Grace. Meski ia punya banyak kartu

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 8 Siapa Kawan Siapa Lawan?

    Pertanyaannya ringan tapi menjawabnya seharusnya sangat susah. Namun Frank menjawabnya dengan begitu mudah dan lantang. “Karena itu anda Tuan Muda.” Sebenarnya Frank tidak tahu mengapa ia mengatakan itu. Kata itu langsung meluncur dari mulutnya tanpa sempat berpikir

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 7 Lizardman

    Mata merah itu memancarkan intimidasi yang kuat, kelompok bandit melihatnya dengan takut. Mereka ingin melepaskan senjata, tapi Gerard sudah menebas mereka semua dengan cepat. Tidak hanya Aldi yang memerah karena bubuk merica, tapi Gerard juga terlihat sangat marah karena marah. Setelah mengirim p

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 6 Perjalanan

    Bakat hanyalah ilusi yang diciptakan manusia, itulah yang Aldi percaya. Tidak ada bakat atau orang berbakat, hanya ada orang berusaha dan mau mempelajarinya. Racun kuning kehijauan itu menandakan salah satunya, Aldi yang selalu bereksperimen berhasil mewujudkannya. Bukan karena dia berbakat tapi ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status