LOGINAldi tidak tau seberapa efektif tekniknya dibanding orang didunia ini. Standarnya masih seperti dunia modern yang selalu mengejar kesempurnaan dan kekuatan.
Sosok pria berkarisma terlihat mendekati lapangan latihan, Aldi berdiri dan melihat dua orang berjalan ke arahnya, mereka adalah Faisal dan Xorn. Meski aura mereka berdua sangat mendominasi, Aldi dengan tenang menghadapinya. “Wah... sudah lama aku tidak melihat Walikota, ada keperluan apa hingga datang ke tempatku.” Pertanyaan yang tenang tapi susah untuk dijawab, Faisal tau itu hanya pertanyaan untuk menghinanya. “Yah, Tuan Muda sudah banyak berubah apa salahnya mengunjungi Bangsawan muda seperti Anda.” Keduanya saling membalas dan berbicara, Xorn dan Frank hanya diam di sebelah tuan mereka masing-masing. Keduanya memang tenang, tapi mereka sedang mengukur kekuatan masing-masing. “Jadi intinya anda ingin kami membantu mengusir gerombolan monster itu?” tanya Aldi memastikan. Faisal tersenyum tipis dan berkata, “Senang bisa berbicara dengan orang cerdas seperti Anda.” Meski memuji, Faisal sangat terguncang dalam benaknya. Dia tidak tahu Tuan Muda Aldi yang selalu membuat onar ternyata anak muda cerdas. Tidak hanya bisa membungkus perkataannya dengan diplomasi kosong, tapi juga bisa memojokkannya. “Baiklah, tapi aku ingin bergerak sendiri. Ah, juga 4 orang itu tarik ke sisimu. Meski keluarga utama menyuruhmu abaikan sementara. Aku akan mengurus gerombolan monster itu!” kata Aldi sambil membalikkan badannya. Xorn membelalakkan matanya, dia sudah melatih mata-mata dengan baik. Bahkan menempatkannya dengan sangat hati-hati di sisi Aldi, tapi penyamaran mereka sudah ketahuan. Frank tersenyum tipis menatap ke arah Xorn. “Jangan mudah percaya rumor.” Dia mengikuti Aldi yang meninggalkan lapangan latihan. Diikuti Ronald dan Gerard. Aldi dan ketiga orangnya bersiap, mereka membawa perlengkapan yang dibutuhkan. Ronald sedikit bingung karena hanya mereka yang bersiap. “Tuan, dimana prajurit lainnya?” Aldi menggelengkan kepala. “Tidak ada, hanya kita yang berangkat.” Frank dan Ronald menelan ludahnya, mereka sedikit gugup karena harus bertarung dengan segerombolan monster. Meski monster tingkat rendah, mereka bisa saja tewas karenanya. Hanya Gerard yang tampak tenang, dia melihat sekeliling dan memasukkan senjatanya. Beberapa pisau dimasukkan, meski diluar terlihat hanya seorang koki nyatanya dia adalah pria yang petarung garis depan. Melawan ratusan babi memang berbahaya, tapi sekarang hidupnya hanya untuk Aldi. Apapun perintahnya dia akan mengikutinya meski harus berjalan di atas besi panas. Keempatnya berangkat, lebih dari 10 orang mengikuti. Mereka adalah para mata-mata dari berbagai organisasi termasuk Xorn. Meski begitu Aldi mengabaikannya, dia hanya ingin memperlihatkan sedikit kekuatan dan memilih untuk menggunakan otaknya. “Monster itu di belakang gunung, mereka sedang istirahat. Ayo siapkan jebakan!” Aldi memberi instruksi dengan jelas, mereka menggali 5 lubang berbentuk persegi. Kemudian batu yang cukup besar ditaruh di depannya. “Babi itu sering kali melompat saat melihat batu. Ayo perlambat gerakan mereka.” Aldi terus memberi instruksi. Tidak hanya 5 lubang, Aldi juga memasang beberapa daun yang cukup mencurigakan di atas tanah. Itu adalah tempat mereka bertarung nantinya. Setelah menyelesaikan persiapannya, Aldi memberi isyarat untuk mundur dan mulai istirahat. Dia duduk bersila mengatur nafas dan mengedarkan energi Prana ke sekujur tubuhnya, begitu juga dengan 3 Pelayannya. Hari mendekati sore, suara gemuruh terdengar. Segerombolan monster babi muncul dari kejauhan, Aldi membuka mata dan berteriak. “Siapkan diri kalian!” Pedang dikeluarkan dari sarungnya, Aldi menggunakan pedang lusuh seharga 2 koin emas. Gerard dengan cepat merespon dengan menunjukkan pisau kecil di tangan kanan dan kirinya, setelah siap dia menghilang dari pandangan semua orang. “Gerard kau kemana?” teriak Frank yang panik karena rekannya melarikan diri. Dia juga bersiap dengan memasukkan tangannya ke dalam bajunya. Frank adalah seorang pelayan yang selalu menyembunyikan senjata di balik bajunya. Kemampuannya adalah melempar pisau terbang dari balik bajunya, meski terlihat remeh dia tidak pernah meleset dari targetnya. Aldi mengangkat tangannya. “Biarkan, dia sudah mengambil posisinya.” Ronald mengeluarkan celurit dan sebuah perisai. Tampilannya aneh, tapi itu adalah style bertarung yang disarankan tuannya. Segerombolan babi berteriak, mereka berlari ke arah Kota Gayam. Monster babi sempat berhenti sejenak saat melihat Aldi dan 2 orang dibelakangnya. Pemimpin monster sedang menilai situasi, tapi karena kapasitas otaknya yang terbatas dia menyuruh pasukan menghancurkan Aldi terlebih dulu. Garis depan melaju dengan sangat cepat, puluhan monster babi melompati batu dan terjebak dalam lubang. Karena gerombolan yang tidak berhenti bagian depan terinjak-injak bahkan beberapa patah kaki. Aldi dengan suara keras berteriak, “Maju!” Frank memulai pergerakan terlebih dulu. Lima pisau kecil muncul di sela-sela jari tangan kanannya, tanpa lama senjata itu melesat cepat ke arah monster. Hanya dalam beberapa saat 5 monster tumbang. Energi prana yang menyelimuti senjatanya langsung meledakkan monster, beberapa musuh terluka karenanya. Ronald melihat 4 monster menuju arah Frank. Dia dengan sigap meju kedepan menghadangnya, keterampilannya dalam menggunakan perisai sudah sangat terlatih. Sabetan senjatanya juga langsung mengirim para monster ke neraka. Sosok hitam muncul dari langit dan menghantam bagian tengah gerombolan monster. Itu adalah Gerard dengan keterampilan pedangnya. “Blade Art Style.” Gerard mengamuk di tengah-tengah gerombolan musuh. Pisaunya menari menebas semua musuh dengan kecepatan tinggi. Puluhan monster dalam sekejap dipotong dengan rapi. Gerard menarik nafas dan tiba-tiba menghilang lagi. Dia membutuhkan waktu untuk istirahat dan harus bersembunyi beberapa saat. Aldi melihat 3 orang itu tersenyum tipis, pedang di tangan kanannya memancarkan teror menakutkan pada monster babi yang mendekat. Semua membatu, monster itu berhenti ketakutan, Aldi dengan cepat mengeliminasi 5 monster dengan satu tebasan. Melihat ayunan pedangnya yang mengerikan membuat gerombolan di belakangnya berhenti. Aldi tersenyum lebar dan matanya menatap tajam ke arah musuh. “HAHAHA, sudah lama aku menantikan ini!” Tawanya menggema di medan perang. Aldi menebas musuhnya seperti menebas kue bolu dengan lembut. Korban satu persatu jatuh di dekatnya, para mata-mata merinding ketakutan mendengar tawa Aldi yang mulai nyaring di telinganya. Perasaann inilah yang dia tunggu-tunggu sejak di kehidupan sebelumnya, bisa bertarung dengan sekuat tenang disisi manusia. Satu kata yang cocok untuk menggambarkan situasi ini. “Monster gila!” Pemimpin monster berteriak, “Ngiik…!!!” Energi berwarna kuning menyelimuti seluruh pasukannya. Kekuatan pasukan monster bertambah, tapi bukannya panik Aldi justru tersenyum lebar. “Berkumpul!” teriaknya memanggil pasukannya. Frank dan Ronald langsung berdiri di belakangnya, Gerard juga muncul di paling belakang. Aldi mengatur nafasnya, hembusannya nafasnya terlihat berwarna kuning. Energi Prana menyelimuti tubuhnya, energi kuning juga muncul di sekitar tubuh rekan-rekannya. “Mengamuklah! Buat ini menjadi pertarungan hidup dan mati kalian!” Perintah Aldi jelas, Gerard dengan sigap langsung melesat ke gerombolan monster. Satu ayunan pisaunya langsung mengirim beberapa musuh ke neraka. Frank juga merasakan gejolak yang muncul di dalam tubuhnya, senjata yang disimpan di belakang bajunya dikeluarkan, 10 pisau terbang langsung membunuh para monster. Ronald tidak kalah, dia mulai menggunakan perisai untuk menyerang. Pertarungan gila itu terjadi beberapa jam lamanya hingga bulan sudah menunjukkan wujud penuhnya. Aldi berdiri di paling belakang, tapi dia juga terlihat kelelahan meski tidak membunuh monster setelah mengeluarkan energi kuning itu. Keringat mulai membasahi dahinya, dia sedang mempertahankan Prana terus menerus. Teriaknya bos monster langsung memberhentikan pasukan monster yang sudah terpojok. Jumlah monster yang awalnya ratusan sekarang tinggal puluhan, itu membuktikan betapa intens pertarungannya. Aldi memberi isyarat untuk timnya. “Mundur dulu.” Bos monster itu menatap Aldi dengan ekspresi marah. Energi hitam muncul dari sekujur tubuhnya, energi itu langsung menarik semua energi kehidupan pasukannya. Frank dan Ronald lagi-lagi menelan ludahnya. Mereka melihat kebangkitan Bos Monster tingkat 1. Seharusnya itu tidak pernah muncul di kota pinggiran. Aldi tersenyum dan berkata dengan suara lembut. “Percuma, kau itu hanya lemah!” Pedangnya diangkat tinggi-tinggi hingga menutupinya sinar cahaya bulan. “Lunar Cleaver!”Tim pengintai yang nekat membuntuti kelompok Basara langsung dieksekusi di tempat tanpa suara. Kemampuan Gerard dan Grace berkembang sangat pesat setelah mereka mendalami Prinsip Jiwa.Usai membersihkan area, Aldi segera memberikan arahan untuk menjamu kelompok Basara. Koordinasi timnya berjalan sangat cepat dan terukur. Frank, sebagai penanggung jawab utama, terlihat begitu tenang meski harus mengurus banyak tugas logistik sekaligus dalam waktu singkat.Tidak lama kemudian, Basara dan Aldi sudah duduk berhadapan di ruangan yang sama. Keduanya saling melempar pandang, mencoba mengukur kedalaman kekuatan masing-masing.Namun, saat Aldi mengaktifkan sistemnya, sebaris teks aneh muncul: [Basara, Level ?, Power : ?.]Mata identifikasi yang selalu ia andalkan ternyata tidak berfungsi. Aldi hanya bisa menebak bahwa orang di depannya ini memiliki kekuatan yang berada di luar jangkauan sistemnya saat ini. Informasi dari jaringan intelijen menyebutkan bahwa Basara adalah seorang jenderal pera
Aldi perlahan membuka mata. Ia akhirnya memahami mengapa tekniknya tiba-tiba berkembang sendiri. Ternyata, Teknik Prinsip Jiwa ini bukanlah seratus persen ciptaannya, melainkan gabungan dari berbagai kekuatan. Saat mendapat tambahan energi lain, teknik itu akan berkembang secara alami dan memberikan wawasan baru bagi penggunanya. Artinya, semakin banyak ras yang menggunakan Teknik Prinsip Jiwa, semakin mendalam pula pemahaman mereka tentang kultivasi.Pandangannya langsung mengarah ke sosok penyihir yang terbang di langit. Di saat yang sama, ia juga bisa merasakan keberadaan kubah tak kasat mata yang melindungi semua orang. Kedua alis Aldi berkerut saat melihat Justin yang tampak kebingungan.Justin adalah penyihir jenius, anak dari seorang Viscount yang berkelana demi mencari pengalaman bertarung. Namun, langkahnya sedikit terhambat karena Aldi berhasil mengalahkannya dengan cukup mudah—bahkan setelah laga itu, Aldi masih harus menghadapi Visco.Bagi seorang penyihir, terbang adalah
Kabut panik sempat menyergap benak Aldi saat melihat tubuh Rini perlahan melenyap. Namun, ia memaksakan Prana tetap mengunci pandangannya untuk membedah fenomena yang sedang terjadi. Begitu pendaran cahaya hijau memudar, Aldi melesat mendekat.Tunas pohon kecil di hadapannya mulai bermanifestasi dan tumbuh secara abnormal. Dari yang awalnya hanya setinggi sejengkal tangan, tanaman itu meroket cepat hingga menjadi pohon dewasa setinggi dua meter.DEG!Dentuman misterius itu kembali menggetarkan udara. Aldi menoleh ke segala penjuru, nihil. Penasaran, ia memberanikan diri menempelkan telinganya ke kulit pohon yang masih bergetar hebat tersebut."Tidak mungkin... suaranya berasal dari dalam batang ini?"Sebelum rasa terkejutnya reda, tubuh Aldi mendadak memancarkan pendaran hijau pekat. Kemampuan pasif Regenerasi Super miliknya tiba-tiba meraung liar, menciptakan resonansi paksa yang menyedot sekaligus mengalirkan balik seluruh energi alam di sekitarnya."Cih, fenomena apa lagi ini?!" er
Setelah mengerahkan seluruh perlawanan, Visco akhirnya tumbang dan jatuh pingsan di tanah yang hancur. Di tengah gemuruh stadion, Aldi justru mendongak, menatap lurus ke langit tempat dua sosok pria tua mengawasinya sedari tadi. Sadar keberadaan mereka telah terkunci, kedua sosok misterius yang enggan menampakkan wajah itu langsung melesat pergi.Bersamaan dengan itu, suara komentator membahana mendefinisikan kemenangan mutlak nomor 178. Pihak penyelenggara Arena Mojor kembali menelan pil pahit; mereka merugi hingga sebelas ribu koin emas karena meremehkan Aldi. Di sisi lain, kelompok Bluewings pulang dengan kantong yang dipenuhi ribuan koin emas hasil taruhan.Setelah menerima hadiah utama berupa Inti Monster tingkat tinggi, Aldi menyadari benda itu tidak lagi berguna untuk menembus batas tubuhnya sendiri. Tanpa ragu, ia menyerahkannya kepada Frank. Setelah Frank berhasil menyerap dan menyaring seluruh energi keruh di dalam inti tersebut, sebuah ledakan energi murni tercipta—pria par
Melihat energi hijau yang menyelimuti tubuh Aldi, Visco segera meningkatkan kewaspadaannya dan langsung menerjang maju. Satu hantaman keras ia layangkan murni untuk meremukkan dada musuhnya, namun serangan bertenaga itu mendadak terhenti oleh satu telapak tangan Aldi.Energi hijau di tangan Aldi tidak hanya menahan benturan, tetapi juga meredam seluruh gelombang kejutnya, membuat pukulan telak Visco seketika kehilangan daya ancam.Aldi memutuskan bahwa waktu bermain-mainnya sudah habis. Menolak untuk terus membuang waktu dengan bertahan, ia mengambil alih kendali pertempuran. Tinju kanannya melesat secepat kilat, menghantam dada Visco yang sempat lengah akibat kehilangan momentum.Melihat pertahanan musuhnya terbuka, insting bertarung Aldi bergejolak. Tanpa memberi jeda satu napas pun, ia menghujani Visco dengan kombinasi pukulan beruntun yang brutal.BAM! BLAAM! BAM!Udara di sekeliling mereka menjerit hebat, terdistraksi oleh gelombang kejut mematikan yang tercipta dari setiap bentu
Wujud asli dari mode bertarung Justin kini terekspos sepenuhnya. Jubah penyihirnya yang terkoyak menampilkan bentuk tubuh yang bertolak belakang dengan penyihir rapuh pada umumnya. Otot-ototnya mengeras padat, berpadu dengan kulit biru tua yang membuatnya tampak seperti entitas iblis yang siap meratakan seisi kota.Sebelum Aldi sempat menganalisis perubahan struktur energi tersebut, tubuh Justin lenyap secara mutlak. Tanpa ada riak udara ataupun peringatan, sosok biru tua itu sudah muncul tepat di depan garis pandang Aldi, melayangkan satu pukulan keras ke arah dada.BLAAM!Hantaman berkekuatan destruktif itu melempar tubuh Aldi melesat lurus hingga menabrak dinding pembatas arena hingga retak parah. Asap tebal dan puing batu berjatuhan. Namun, alih-alih meringis kesakitan akibat patah tulang, dari balik kepulan debu, Aldi justru bangkit berdiri perlahan dengan seringai lebar di wajahnya. Rasa sakit dan tekanan hebat ini... adalah apa yang ia cari selama ini untuk menembus batas kemam
Tangan kiri yang memegang perutnya diangkat, luka fatal yang seharusnya bisa membuat Aldi kehilangan banyak darah tertutup rapat. Fenomena aneh itu membuat Kepala Desa kebingungan tak percaya.Aldi bersiap bertarung tidak hanya dengan Kepala Desa tapi juga dengan Grace. Meski ia punya banyak kartu
Pertanyaannya ringan tapi menjawabnya seharusnya sangat susah. Namun Frank menjawabnya dengan begitu mudah dan lantang. “Karena itu anda Tuan Muda.” Sebenarnya Frank tidak tahu mengapa ia mengatakan itu. Kata itu langsung meluncur dari mulutnya tanpa sempat berpikir
Mata merah itu memancarkan intimidasi yang kuat, kelompok bandit melihatnya dengan takut. Mereka ingin melepaskan senjata, tapi Gerard sudah menebas mereka semua dengan cepat. Tidak hanya Aldi yang memerah karena bubuk merica, tapi Gerard juga terlihat sangat marah karena marah. Setelah mengirim p
Bakat hanyalah ilusi yang diciptakan manusia, itulah yang Aldi percaya. Tidak ada bakat atau orang berbakat, hanya ada orang berusaha dan mau mempelajarinya. Racun kuning kehijauan itu menandakan salah satunya, Aldi yang selalu bereksperimen berhasil mewujudkannya. Bukan karena dia berbakat tapi ka







