Share

Bab 6

Sabiya gemetaran saat merasakan kedua tangan Shin sudah merangkul tubuh kecilnya itu.

Deg.

"Dia, semakin berani menyentuhku!" tolak Sabiya dalam hati.

Shin juga tergerak karena hati dan nalurinya, sebagai seorang laki-laki dan sebagai suami, dia ingin menenangkan wanita miliknya. Shin sudah berhasil meraih tubuh Sabiya pada pelukan hangatnya. "Istriku, jangan nangis," Shin hanya bisa mengucapkan itu dalam hati. Dia sudah terlanjur ikut hanyut bersama kesedihan Sabiya.

"JANGAN BERANI MENYENTUHKU DENGAN NIAT KOTORMU ITU!" teriak Sabiya melengking dan mendorong tubuh Shin dengan kasar.

Plaaakkk!

Wajah Shin terdorong kuat dengan paksa menghadap ke kanan. Pipi kirinya terasa perih karena mendapatkan tamparan dari tangan halus itu. Tidak, sakit di pipi tidak sebanding dengan hentakan di hatinya, serasa ambruk.

Shin mengusap pelan pipi kirinya yang sudah merah. Dia pun menoleh perlahan untuk melirik orang yang sudah menamparnya itu. "Bi-ya?" ucapnya dengan ekspresi sedih sekaligus kaget.

Air mata Sabiya sudah mengucur deras sejak tadi. "Apa hakmu menyentuhku?! Kamu bukan siapa-siapa! Kamu cuma orang asing yang dikenalkan paksa oleh Mamaku!"

Kedua kornea cokelat mengilap milik Shin pun mulai berkaca-kaca. Hatinya terasa diinjak saat mendengar penuturan pahit dari bibir manis istrinya. "Biya, aku...."

Sabiya segera mengambil bantal guling yang sempat menjadi pembatas di tempat tidur. "Jahat!" teriak Sabiya melengking. Sabiya tidak segan-segan memukuli badan Shin berkali-kali menggunakan bantal guling empuk itu.

Hati Shin memang terasa nyeri karena omongan Sabiya yang sedikit tidak dia terima di hati. Namun, kini dia fokus melindungi diri dari serangan bantal guling oleh istrinya itu.

Pukkk!

Pukkk!

Pukkk!

"Dasar penjahat Ikan A-Shin!" oceh Sabiya yang tidak berhenti memberikan pukulan bantal gulingnya.

"Ikan A-Shin?" batin Shin bertanya-tanya. Mungkinkah Idris memanggilnya dengan julukan itu karena meniru perkataan Sabiya barusan?

"Udah, nanti kamu capek. Bantalnya lembut. Badanku ga sakit sama sekali," kata Shin sedikit meledek Sabiya sambil menangkis serangan kecil baginya. Senyuman kecil terlihat malu-malu timbul pada bibir indah Shin.

Sabiya berhenti sejenak. Dia mencoba mengatur napasnya yang ngos-ngosan. "Aku ga mau tidur di sini!" Sabiya berniat menuju pintu.

"M-mau ke mana?" tanya Shin khawatir kalau sampai Sabiya benar-benar tidak mau satu kamar dengannya.

"Aku mau tidur di luar!" jelas Sabiya yang mencoba membuka pintu dengan garang.

"Apa???" ucap Shin tak kuasa. "Biya, jangan begini."

Sabiya menyadari bahwa kunci pada pintu ternyata tidak ada. "Mana kuncinya?!" Sabiya menjadi takut.

Saat itu juga, Shin turun dari tempat tidurnya. Dia berniat menghampiri Sabiya yang sedang mencoba untuk membuka paksa pintu yang jelas-jelas terkunci.

Mendadak darah mengalir deras mengitari seluruh urat-urat tubuh Sabiya. Dia merasa sedang dalam keadaan terancam sekarang karena tidak bisa keluar dari kamar. "Bu-buka pintunya," pinta Sabiya gagap karena takut melihat Shin yang berjalan mendekatinya.

Shin tidak menghentikan langkahnya, hingga membuat Sabiya mencoba berlari menghindarinya. Namun, dengan gerakan cepat Shin berhasil meraih tangan kecil Sabiya.

"Aaa! Lepas!" teriak Sabiya histeris. Jantung Sabiya serasa copot saking terkejutnya ketika Shin menangkap tangannya, seperti penjahat yang akan menculik.

Sabiya berpikir mungkin Shin akan balas bersikap kasar kepadanya karena tadi Sabiya sempat menamparnya.

Shin yang mendengar teriakan Sabiya pun cepat-cepat menutup mulut Sabiya menggunakan tangannya. "Jangan berisik, malu didengar Pak Didi dan Bi Susan," ucap Shin dengan suara kecil.

Sabiya terus berteriak meski mulutnya tengah dibungkam oleh tangan besar Shin. "Wee-paaas!" (Lepas).

Shin sudah berjarak sangat dekat dengan Sabiya sekarang. Dia menatap jelas mata Sabiya yang berair dengan tubuh gemetaran. "Kenapa kamu takut denganku? Aku suamimu."

Sabiya hanya terisak dan sesenggukan dengan mulut yang masih dibungkam.

"Kumohon," ucap Shin pelan. Tanpa ragu lagi, Shin menarik pinggang Sabiya. Tubuh kecil itu pun berhasil jatuh ke pelukannya lagi.

Sabiya membiarkan sejenak tubuhnya agar tidak memberontak. Dia merasa gila karena sudah ada dalam dekapan laki-laki yang tidak dicintainya sama sekali. "Hiks... Buka pin-tunya."

"Ga boleh tidur di luar," gumam Shin yang sudah menangkup wajah Sabiya menggunakan kedua tangannya. Shin merasa berdosa setiap melihat air mata Sabiya yang mengalir. Dia pun menghapus air mata di pipi mulus itu dengan usapan lembut. "Jangan nangis."

Netra cokelat Sabiya kini menangkap seberkas cahaya dari netra indah Shin yang ada di hadapannya sekarang. Sabiya sulit berkata-kata karena sudah lelah terlalu banyak menangis.

Shin tak henti-hentinya menatap mata indah Sabiya yang sedikit sembap. Lagi-lagi nalurinya sebagai lelaki seakan tergerak untuk mencium kening Sabiya yang hanya tinggal beberapa senti lagi dari bibirnya.

Sabiya menyadari kalau Shin menatapnya dengan sendu dan akan semakin mendekapnya. "Ja-ngan," isaknya semakin takut.

Shin menghentikan niatnya itu. "Jangan tidur di luar," pinta Shin memohon.

Benar-benar tidak bisa dipercaya, Sabiya merasa tubuhnya melayang begitu cepat. Shin dengan gagahnya sudah menggendong tubuh mungil Sabiya ala bridal style.

"Tidur," ajak Shin yang sudah membawa tubuh Sabiya yang cukup enteng baginya.

"Mamaaa!" pekik Sabiya menjadi-jadi. Dia memberontak di dalam gendongan itu.

Shin cepat-cepat membaringkan Sabiya ke tempat tidur, lalu menyelimuti paksa tubuh Sabiya. "Ti-dur," perintah Shin, masih dengan suara lembutnya yang menenangkan.

"Gaaa!" berontak Sabiya yang merasa akan gila.

Namun, Shin sudah menggulung Sabiya menggunakan selimut ungu tebal itu hingga Sabiya seperti berada di dalam kepompong berwarna ungu.

Karena terus memberikan perlawanan dengan Shin, Sabiya merasa jilbabnya sedikit melorot. Dia tidak bisa membenarkan jilbabnya karena tangannya terkurung di dalam selimut.

"Lepaaas! Lepasin aku!" teriak Sabiya memohon.

"Tuh kan, jilbabnya berantakan," jelas Shin yang ingin merapikan jilbab itu.

Saat tangan Shin sudah menyentuh jilbab tersebut, Sabiya semakin mengeraskan tangisannya. "Jangan sentuh aku!!! Kumohon..., jangan sakiti aku."

Shin sedikit mendelikkan mata karena Sabiya terlihat begitu takut padanya. "Maaf," kata Shin sedih melihat tubuh Sabiya gemetaran.

Sabiya tidak memberontak lagi, dia hanya mematung bersama isakannya yang masih berlangsung. Dia lelah dan sedikit terbatuk.

Shin menghela napas berat. Dia pun mengambil kunci pintu yang menggantung di paku tak jauh dari pintu. Dengan berat hati, dia membuka pintu kamarnya.

Klek.

Sabiya bisa mendengar suara pintu yang dibuka.

Shin sudah membuka pintu, ia berdiri di sana dengan wajah sedih.

Sabiya mencoba melepaskan diri dari selimut. Saking ingin cepat-cepat berangkat, Sabiya hampir tersandung.

"Kamu tega ninggalin aku?" tanya Shin yang berniat menghentikan langkah Sabiya.

Sabiya merutuk di dalam hatinya, "Memangnya dia siapa? Masalah kalau aku ninggalin dia? Heuh!"

Kaki Sabiya tidak bisa berhenti. Kini dia sudah keluar dari kamar itu.

Shin pun berlari ikut menyusul ke mana Sabiya akan tidur.

"Jangan ikuti aku!" rutuk Sabiya kesal dan ngeri karena Shin terus-terusan mengikutinya. Dia pun berlari menghindari langkah Shin yang besar. “Aku ga akan mau!”

“Meski aku memohon bagai bayi singa yang lucu?” tanya Shin yang terus mengikuti.

“Kamu bukan bayi singa yang lucu, tapi Ikan A-Shin!” semprot Sabiya.

“Apa harus aku berubah menjadi singa besar yang kelaparan?” kekeh Shin menakut-nakuti.

“Huaaa, seraaam!” Sabiya berlari.

Di ruang tengah, terlihat Idris yang sedang seru-serunya memutar tombol stick dengan liarnya menghadapi game yang dia mainkan.

"I'id!" panggil Sabiya yang mengadu karena dikejar Shin.

Idris segera menekan pause. "Untung game nya bisa di-pause," kata Idris lega. Dia pun mendapati Sabiya kini sudah merangkul tangannya sambil menangis. "Kak Biya! Kakak diapain???" tanya Idris kaget melihat penampilan jilbab Sabiya yang sudah berantakan.

"Id, aku tidur di kamarmu, ya," Sabiya memohon.

"Ikan A-Shin! Kamu apain Kakakku?!" tanya Idris kesal.

"Aku cuma... nyuruh dia... tidur," jawab Shin tergagap.

Idris sebenarnya mengerti apa yang sedang terjadi, apalagi ini malam pertama kedua insan itu. "Udahlah, Kak Biya belum siap. Jangan dipaksa," tebak Idris to the point.

Semburat merah mulai memenuhi pipi Shin. Bagaimana bisa seorang Idris mengatakan hal itu di depannya dengan ekspresi meledek. "Aku cuma nyuruh Biya tidur, bukan yang lain," jelas Shin membela diri.

Idris pun menolehi Sabiya yang masih betah merangkul tangannya, "Kak Biya tidur aja di kamarku. Aku mau tidur di sini aja, lagi seru main. Besok juga ga ada jadwal kuliah."

Sabiya langsung berdiri dan berniat menuju ke kamar berpintu ungu muda.

Shin pun berjalan diam-diam menyusul mengikuti langkah kaki Sabiya yang begitu kecil baginya.

Idris memerhatikan Sabiya dan Shin yang berjalan beriringan. "Hah, dasar cowok mesum! Pasti dia maksa Kak Biya untuk... Awas aja kalau dia berani kasar!" oceh Idris yang tanpa malunya dengan leluasa memainkan game milik Shin.

Sabiya belum menyadari kalau Shin berjalan mengikutinya masuk ke ruangan yang menjadi kamar Idris itu.

Saat Sabiya berbalik untuk menutup pintu. "Aaaa!" pekiknya.

Shin membiarkan badannya sedikit terjepit pada pintu yang hampir ditutupi Sabiya. "Aku cuma mau ngucapin selamat tidur, Tuan putri," jelas Shin dengan bibir yang sudah melengkung ke bawah, seperti ingin menangis namun ditahan.

"Ga usah sok perhatian! Aku bisa tidur tanpa diucapkan selamat tidur!" bentak Sabiya kesal. Jujur, Sabiya agak tersipu saat dipanggil Tuan putri.

"AC-nya jangan terlalu dingin. Jangan lupa pakai selimut. Ambil wudhu dulu, ada kamar mandi di dalam sana. Jangan lupa baca do'a," Shin berpesan cukup banyak hingga membuat Sabiya memutar bola matanya malas.

"Mimpi indah," lanjut Shin.

Blaaammm!

Pintu langsung ditutup kuat oleh Sabiya tanpa rasa kasihan sedikit pun melihat Shin.

Shin mengelus dada, dia mencoba bersabar dan tidak lemah. Ia pun memutuskan segera kembali ke kamarnya, sendirian.

Sesaat Shin melirik Idris yang sedang bersemangat memainkan game-nya. "Id, jangan tidur terlalu malam walaupun besok ga kuliah. Jangan kesiangan bangun subuhnya," Shin memperingati.

Idris merasa telinganya begitu ngilu mendengar nasehat-nasehat itu. "Iya, iya! Berisik amat sih, Ikan A-Shin! Aku udah gede."

Shin menggelengkan kepalanya melihat tingkah Idris yang kurang dewasa. Namun, tiba-tiba Shin kembali rindu melihat layar game itu, rindu di saat masa di mana dia, Alvin, dan sosok Kakak angkat (Rain) masih bersama memainkan game.

Flashback on 》》》

“Rain, Shin, Alvin... jangan bergadang karena game....”

Shin, Rain, dan Alvin menoleh bersama ke sumber suara, yaitu suara dari Ayah angkat mereka yang memperingati agar bisa mengatur waktu.

“Iya, Ayah,” jawab mereka bersama.

Mereka menyelesaikan misi terakhir, dan yang memenangkan permainan adalah Rain.

“Aish! Aku kalah terus!” Alvin ngambek dan berbaring bebas pada ambal empuk tempat mereka lesehan.

Shin senang karena skornya berada di tengah, tidak rendah juga tidak tinggi.

Rain pun memikirkan sesuatu. “Kalau suatu saat aku berhasil meciptakan game sendiri, apa kalian akan memainkannya?”

“Tentu, Hyung!” kata Shin antusias, “Game-nya yang lain daripada yang lain.”

Alvin memberi masukan, “Game tentang ruang angkasa kayaknya seru tuh!”

“Tentu, nanti kupikirkan lagi,” kata Rain. “Dan sekarang... kita harus kasih hukuman bagi yang kalah!”

Shin dan Rain sama-sama tersenyum, lalu menatap jahil ke arah Alvin.

“A-apa?” tanya Alvin yang ingin kabur. Namun, belum sempat berlari, wajah Alvin langsung ditaburi tepung oleh Shin dan Rain.

“Huahahah!” tawa Shin dan Rain bersamaan. Sementara, wajah Alvin sudah pasrah dan putih semua.

Flashback off 《《《

Shin tersadar dari ingatan masa lalunya. Dia pun lanjut melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya tanpa ada Sabiya yang menemani.

Malam yang seharusnya amat indah, malah menjadi kacau. Tidak sesuai dengan apa yang diharapakan. "Kenapa Biya seperti membenciku?"

Drrrttt!

Ternyata, G-phone dalam keadaan tak terlihat masih menempel di kedua telinga Shin. Dia merasa G-phone-nya bergetar. Shin segera menekan telinga kanannya, memunculkan G-phone nyata, lalu disusul dengan terpampangnya layar besar di hadapannya.

Shin membaringkan badannya yang lelah pada ranjang empuknya yang sudah agak berantakan karena insiden bersama Sabiya tadi.

"Yeoboseo," ucap Shin lemas menatap layar hijau itu.

*Yeoboseo: Bahasa Korea (Arti: Halo)

Tak lama, muncul wajah tampan adik angkatnya.

"Hyung?" panggil Alvin semringah.

"Kenapa, Vin?" jawab Shin semakin menderita melihat Alvin yang malah cengengesan.

"Kukira panggilanku ga akan diangkat. Apa aku mengganggu malam pertamamu, Hyung? Haha!" tawa Alvin girang bersama sepiring kentang goreng di dekatnya.

"Mitos. Malam pertama itu ga ada," jelas Shin putus asa.

"Mwo?! Jadi, kalian belum? Aish, mana istri Hyung? Aku mau bicara, masa Hyung-ku yang tampan bagai pangeran negeri dongeng ini dianggurin?" kata Alvin sebal dan kasihan melihat Shin sendirian di kamar itu, namun tetap lanjut tertawa.

*Mwo: Bahasa Korea (Arti: Apa)

"Aku sedih," keluh Shin yang sudah berbaring lesu. Bukan hanya Alvin yang menertawakannya sekarang, Shin merasa dunia juga menertawakannya sepanjang malam ini.

***

Pagi harinya, Bi Susan sudah menyiapkan banyak hidangan untuk sarapan. Dia merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan usai bekerja keras memasak untuk majikannya pagi ini.

"Selamat makan, Tuan Shin. Jangan lupa baca do'a terlebih dahulu," pesan Bi Susan yang mengkhawatirkan Shin seperti anaknya sendiri.

Pak Didi sudah terlihat rapi mengenakan kemejanya, bersiap-siap menjalani aktivitas rutinnya yaitu menjadi sopir pribadi Shin.

"Pak Didi, Bi Susan, ayo sarapan!" ajak Shin berseru dengan semangatnya.

Pak Didi menepuk-nepuk perutnya yang buncit. "Kami sudah sarapan duluan tadi, Tuan. Hehe," tawanya merasa tidak enak.

"Alhamdulillah," ucap Shin tersenyum bahagia. "Pak Didi sama Bi Susan jangan sungkan-sungkan. Mau makan lagi juga boleh. Anggap saja ini rumah kalian sendiri."

Bi Susan dan Pak Didi merasa sangat beruntung bisa mengenal bahkan tinggal di rumah Shin yang mewah ini. Mereka tidak tahu harus bagaimana lagi, mereka hanya bisa membuktikan rasa terima kasih mereka dengan cara bekerja dan melakukan yang terbaik untuk Tuan muda mereka itu. Mereka yang tidak memiliki anak, pun merasa bahwa Shin sudah sangat lebih dari cukup menjadi seperti anak mereka juga.

Sebenarnya, hati Shin merasa sangat sedih. Sudah menikah pun dia tidak melihat istrinya makan bersamanya. "Bi Susan, bisa tolong panggilkan istriku ke sini. Ajak dia sarapan. Sekalian, I'id juga," pinta Shin.

"Biar aku yang panggilkan adiknya," kata Pak Didi yang berniat mencari Idris.

Bi Susan segera bergegas menuju ke kamar berpintu jingga.

Tokkk. Tokkk. Tokkk.

"Nyonya Sabiya, maaf mengganggu. Nyonya disuruh Tuan Shin sarapan," kata Bi Susan, berharap ada jawaban.

Klek.

Sabiya yang sudah berdandan rapi dan anggun pun membuka pintu dan menatap canggung pada Bi Susan. "Aku ga mood sarapan!" ucap Sabiya ketus.

"Jangan begitu, Nyonya. Nyonya harus sarapan biar dapat energi banyak. Terus, kasihan Tuan Shin yang nanyain Nyonya terus," jelas Bi Susan sedih.

Sabiya jadi merasa kasihan melihat Bi Susan memohon padanya. "Ya sudah, aku mau makan sedikit aja."

Sementara itu, Pak Didi menemukan Idris yang tidur menganga di atas sofa lebar sambil berselimut tebal. "Ya Allah, nih bocah. Bangun, hoi! Pagi bukannya udah mandi malah ngorok!"

Idris merasa kesal karena seseorang membangunkannya secara paksa. "Aiiih! Aku masih ngantuk! Jangan sentuh aku. Jijiks!"

"Apalah jijiks-jijiks! Salat subuh ga tadi?" tanya Pak Didi keheranan sambil menarik selimut Idris.

"Salat, lah!" jawab Idris masih dengan mata terpejam dan rambut super acakan.

Pak Didi terus-terusan menarik lengan Idris yang masih lemah. Dia memaksa anak itu agar ikut ke meja makan.

Sabiya dan Bi Susan sudah berjalan menuju ke ruang makan. Dari arah sana terdengar suara berat nan merdu yang menyejukkan hati siapa saja yang mendengarnya.

“Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah...

Shalaatullaah Salaamullah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah...”

Sabiya merasa adem mendengarnya. Energi baik seraya mengitari otak dan jantungnya. "Di ruang makan ada radio ya, Bi? Atau...." tanya Sabiya.

"Oh, itu suara Tuan Shin, Nyonya," jawab Bi Susan tersenyum bahagia.

"Ha?" Sabiya belum mengerti.

"Setiap pagi, sebelum berangkat kerja atau saat ingin sarapan, dia pasti melantunkan shalawat badar," tambah Bi Susan kagum.

"Bohong!" kata Sabiya tidak percaya.

Tibalah mereka berdua di ruang makan. Sabiya yang semula tidak percaya pun mendengar dan melihat langsung bahwa Shin sedang mengambil piring sambil bershalawat merdu, membuat hati bergetar.

Pada tubuh Sabiya seakan terjadi reaksi berantai yang mengarah ke jantung sehingga jantungnya berdebar tiga kali lebih cepat dari biasanya.

Bi Susan tersenyum kecil melihat wajah Sabiya yang tidak bisa menyembunyikan rasa terpesona kepada Shin.

"Istriku, sini sarapan," ajak Shin dengan senyuman manisnya sambil meletakkan piring untuk Sabiya di sebelah piringnya.

Sabiya segera membuang muka. Dia agak tergagap dan berusaha bersikap tenang kembali.

"Aku mau duduk di sini aja!" Sabiya memilih duduk berseberangan dengan Shin, dia tidak mau bersebelahan.

"Ya sudah," kata Shin lembut. "Mau kubantu milih sarapan?" lanjut Shin yang ingin mengambilkan beberapa makanan untuk Sabiya. “Biya, ini ada chicken wings kesukaan kamu.”

"Aku bisa ngambil sendiri," jelas Sabiya cemberut menatap Shin. Namun, saat menyadari ada banyak sayap ayam goreng yang menggoda lidah dan perutnya, mood Sabiya lebih membaik.

Bi Susan merasa bingung dan penasaran, mengapa Shin dan Sabiya terlihat tidak akur? Apalagi dia tahu kalau semalam kedua insan itu tidak satu kamar.

"Ini spesial buat istriku," kata Shin yang menunjukkan sebuah piring dengan nasi, chicken wings, dan telur yang sudah ditata sangat lucu dan manis. Sebuah makanan sederhana yang mengungkapkan rasa cinta Shin yang tulus kepada Sabiya.

Sabiya tercengang tak kuasa melihat sarapannya yang ditata membentuk 'I LOVE U'.

Bi Susan pun berniat membantu Shin, "Nyonya, Tuan Shin tadi udah berjuang keras buat makanan yang ini, spesial untuk Nyonya. Dimakan, ya."

Sabiya menghela napas berat. Dia merasa kalau Shin terlalu lebay dan membuatnya semakin risi. Untuk apa makanan dibentuk seperti itu, pikirnya. Namun, dia pun ingin menikmati makanan itu karena terlihat enak. "Iya, kumakan... dikit," balasnya jutek.

Tak lama dari itu, muncullah Pak Didi yang dengan hebohnya sudah menggendong Idris yang masih mengantuk di belakang punggungnya.

Sabiya tercengang melihat Idris yang begitu lusuh dan berantakan. "Id, bangun! Kamu kok jadi kayak gembel gini?" oceh Sabiya menggeleng.

Idris tidak menghiraukan kata-kata siapa pun. Dia langsung duduk di kursi dengan mata yang masih berat untuk dibuka, lalu dia mencoba mengambil nasi goreng yang ada di dekatnya. Namun, nasi goreng itu tumpah ke meja.

"Ya Allah!" Pak Didi menjadi kesal dan geregetan melihat sikap Idris. Dia pun mengambil sebuah sendok lalu menyuapkan nasi goreng ke mulut Idris secara paksa.

Shin merasa tidak terganggu sama sekali mendengar ocehan Pak Didi dan Idris yang berdebat di depannya. Bagi Shin, ini adalah suasana kehidupan baru yang harus dia syukuri. "Id, jangan terlalu lama natap layar game-nya. Nanti matamu pedih dan berair," Shin menasehati.

"Tuh, dengerin!" kata Pak Didi sambil menjewer telinga kanan Idris.

"Bising, ah!" umpat Idris kesal sambil membaringkan kepalanya ke atas meja makan.

Shin sudah menghabiskan satu telur mata sapi dan dua buah roti selai blueberry. "Biya," panggilnya tiba-tiba.

Sabiya hanya membalas panggilan Shin dengan mendongakkan muka seraya memberikan perlawanan. Mata indah Sabiya semakin membesar menatap Shin yang ingin bicara.

"Kamu ga capek, kan?" tanya Shin gugup.

Sabiya mendelik tak mengerti. "Entah!" jawabnya singkat.

"Malam nanti aku mau...." ucap Shin tidak selesai.

"Mau apa?!" tanya Sabiya yang mulai berpikiran negatif lagi.

Shin kembali berucap dengan kaki yang agak gemetaran di bawah meja, "Aku mau...."

*

Bersambung…

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status