LOGINMisteri yang terdapat di balik ritual yang dilakukan setiap tujuh tahun sekali oleh orang-orang desa di tempat tinggalnya, memancing seorang anak laki-laki bernama Aaron untuk menyelidiki misteri itu. Setelah sahabat dekatnya yang bernama Elena diculik oleh sang makhluk kegelapan, Aaron pun bertekad akan membawa gadis itu kembali, serta mencari tahu penyebab dari hilangnya ingatan semua orang terhadap si gadis bersurai emas. Ketika tahun demi tahun telah berlalu, Aaron yang telah menjadi seorang pemuda tangguh harus kembali ke desa kelahirannya. Dia dan ketiga orang sahabatnya pun terjebak dalam ritual pemujaan yang membuat keempatnya menghilang, masuk ke sebuah pintu menuju dunia yang asing, segalanya mendadak berubah. Aaron dan ketiga orang temannya harus menjalani kehidupan yang berat di dunia yang dipenuhi monster dan makhluk mitologi yang sering diceritakan oleh neneknya di masa lalu. Keempatnya kemudian bergabung ke sebuah organisasi pemburu monster bernama Dark Storm, demi melanjutkan misi pencarian terhadap Elena. Akankah semua yang Aaron rencanakan berjalan lancar sesuai dengan rencananya ataukah ... dia gagal memperoleh Elena kembali? Mampukah mereka melarikan diri dari pengaruh sihir yang lambat laun akan membunuh mereka semua?
View MoreCHAPTER ONE.
It began as a whispering in the air, the rain. The day was beautiful and the sky was a dome of plasma blue, the clouds looked like airy anvils drifting under the gleaming disc of the sun.
A petite lady with long blonde hair and a face that looked like beauty itself looked out the hospital window in the reception hall, star struck by the beauty of nature. The sky darkened as she watched and soon the tapping on the window was heard and then it became a pitter patter.
People ran for cover outside and umbrellas were opened as the clouds spat out their beads of water. Puddles began forming as the rainfall became heavier. The Rain danced upon the roof of cars and she could hear the murmuring of the rain through the window. It sounded like the buzzing of angry bees.
“Ma’am you can come in now,” someone said from behind, tapping her on the shoulder softly. She turned with a tight smile.
"Thank you."
Clutching her bag, she followed the nurse into ward B.
"You have fifteen minutes, we don't want the patient to get emotionally stressed as that would be bad for her treatment," the nurse spoke once they got to the door.
"Of course, thank you." She entered the room.
“Oh Adrianna, you finally came,” her mum said with a wide smile as she spread her arms out wide for an embrace.
“Mum I have missed you,” she cried out, hugging her tightly.
“I have missed you too baby.”
“Tell me, how is your dad?” Linda asked with a soft smile as her daughter took a seat on the visitor's chair.
“He's fine... without you, he doesn’t even care if you are alive or dead, mum, if he found out I was here, he would be mad” Adriana replied, downcast.
“Mum you need to forget about dad, he doesn’t care about you, I mean, look what he did to you,” she said touching her legs.
Tears rolled down her mum’s eyes as she shut them. Adrianna's mum was one of those women who were victims of physical abuse, Adrianna's dad, Adam, treated her mum, Linda, like she was a toy with no feelings, he didn’t care about his actions as he had the money to sought himself out if need be. He had pushed Linda down the stairs during one of their fights which led to her being crippled as the bones in her legs were damaged badly, he didn’t even show sympathy or bother to take her to the hospital, instead, he left her on the floor crying and suffering the pain.
“Anna dear, you would not understand,” she said with a soft smile, cleaning her tears.
She put on a brave face, “So tell me, is he disturbing you with suitors?”Her mum asked.
Adrianna's face fell, “No mum, he hasn’t started harassing me with suitors yet,” she grumbled.
“I smell a lie,” her mum said chuckling.
“Mum!” She rolled her eyes, “Okay maybe he has introduced a few suitors but wasn’t adamant about me choosing them,” she gave in with a sigh, a frown on her face.
“You need to choose fast so he wouldn’t force you to marry a ruthless man like him,” Linda spoke, patting her child’s hair.
“So you know he is ruthless” Adrianna raised a brow, chuckling.
“Of course he is, you can’t deny the truth."
Linda stared at her daughter fondly.
"Why are you looking at me that way?" Adrianna grumbled, feeling uncomfortable with the strange stare.
"You must find a suitor for yourself, Anna. A rich suitor, a billionaire, one of high social standards, and good character so you can spare yourself a bad marriage. Your father will agree to it as far as he is well to do."
“Even if I don't love him?” Adrianna asked with a sad smile.
“We both know that your dad speaks only one language and that is money, every other thing is secondary, he could sell you off to a drug lord as long as there is a huge gain awaiting him, he doesn’t believe in the love language. I mean look at me dear, he doesn’t even care about me, to him I was just collateral damage,” Linda told her.
"I wish you ended up better," Adrianna sighed, "ended up with a better man."
"If I ended up with a better man, I wouldn't have given birth to you," Linda hushed her.
She shrugged, "I don't mind. As far as you get to live good."
"What are you saying?" Linda frowned deeply, "do not tell me that you are beginning to have suicidal thoughts, huh?"
"Of course not!" Adrianna exclaimed, "I'm just saying I love you too much to see you suffer because of me."
"If you don't want to see me suffer, then make sure to live a good life, take care of yourself, and marry a good man. Do you not know that it hurts me more when you're in pain than when I am in pain? How can you wish to not be born, how can you? How can you throw away all the years I spent raising you to be the smart woman you are today? How can you…"
"Mum!" Adrianna exclaimed, seeing the tears running down her mother's cheek, "I'm sorry, forgive me. I did not mean to make you cry. I'm happy you married dad and gave birth to me, I just wish things were different. You don't like seeing me sad, I also don't like seeing you sad, it hurts me too."
Adrianna cleaned off the tears on her mother's face.
"I'm sorry," Linda sniffed, "but you must never speak that way again. I will try my best to live happily now so you can be happy, okay?"
"Good," Adrianna beamed and hugged her.
"Perhaps it's all my fault. I should have changed things, I could have done things differently but now…"
“Mum don’t speak like that, you-”
“Ma’am your visiting time is over, please leave. The patient must have some rest,” the same nurse from earlier interrupted Adrianna as she was about to speak.
“Plea-” Linda squeezed Adrianna's hands tightly stopping her from continuing her sentence.
“Anna, go home. We’ll talk later dear” her mum said reassuringly.
Adrianna kissed her mum on her forehead. Grabbing her handbag she left her mum’s room with a sad face. She was not happy about leaving her mum all alone in a hospital. She sauntered to the elevator and pressed the button. Finally, the elevator dinged and she ventured in, pressing the button for the bottom floor. Seconds before the door shut completely, a carefully polished shoe appeared and stopped it from closing.
Sial! Tadi itu benar-benar mengerikan!Kini aku percaya apa yang nenekku katakan! Semua! Semua yang dia katakan, mulai sekarang aku akan selalu mempercayainya! Tak peduli jika yang dikatakannya itu terdengar mustahil, aku akan tetap percaya terhadap apa yang nenekku yakini!Ya, anggaplah aku ini pengecut! Karena aku memang seorang penakut, pecundang yang memalukan, tapi aku benar-benar ketakutan! Sangat. Ini saja aku sudah berlari tak tentu arah, tak tahu ke mana kaki ini membawa. Aku hanya ingin berlari melarikan diri, menghindar dari mereka yang mungkin saja akan menargetkanku setelah mendapatkan sahabatku.Ah, Elena, maafkan aku yang lemah dan penakut ini. Seharusnya aku tadi melawan mereka dan menyelamatkanmu. Andai saja aku berani dan meraih tanganmu tanpa rasa takut, mungkin kau masih ada di sisiku dan berlari menuju tempat yang sama denganku saat ini.Rasa-rasanya aku seperti seorang iblis berwajah malaikat. Maksudku seperti Samael, dia adalah sala
"Cepat, Len! Kita harus lari lebih cepat!" Aku memberi perintah kepada sahabatku, meneriakinya untuk menambah laju kecepatan kami. Bukan aku saja yang saat ini berlari tergesa-gesa. Di sebelahku ada Elena, sahabatku sejak kecil. Aku membawanya ikut serta dalam pelarian ini, lari dari "mereka" yang begitu mengerikan. Tak bisa kutebak apakah mereka masih ada di belakang dan berlari mengejar kami.Hahh ... hahh ... harus bagaimana lagi ini?! Sendi-sendi di kakiku seperti mau lepas! Tapi aku tak bisa berhenti sekarang! Aku lelah dan haus!"Ayo lari lebih cepat lagi, Len!" Aku menarik tangan Elena lebih kuat, aku bahkan tak sadar telah meremas pergelangan tangan mungilnya."Tu-tunggu, Aaron!" Gadis itu meringis kesakitan, entah karena perbuatanku yang terus menarik tangannya atau karena batu-batu kecil yang menusuk telapak kaki. Aku tahu sepertinya aku terlalu kasar dengannya, tapi aku benar-benar panik sekarang, dan indra pendengaranku seolah ditulikan! Aku tak meme
Aku dan Elena melanjutkan aksi nekat kami dan memilih jalan kaki saja menuju desa. Toh, tak ada alat transportasi lain ke desa kami selain berjalan kaki dan harus kuakui, perjalanan ini akan sangat melelahkan!"Aaron," panggil Elena pelan di sela-sela langkah kaki kami pulang ke desa. Ekspresi gadis itu terlihat cemas. "Apa tak apa pergi sendirian seperti ini tanpa ditemani orang dewasa?"Aku langsung meringis mendengar pertanyaan itu. Jika dipikir-pikir sekali lagi ... apa yang Elena katakan itu ada benarnya juga.Seharusnya tadi aku membangunkan mereka semua dan pulang bersama ke desa, agar dalam perjalanan kami semua akan aman dan tidak perlu merasa takut berada di dalam hutan gelap yang menakutkan. Tapi lihat perbuatanku ini! Aku malah bertindak ceroboh dan malah menempatkan Elena ke dalam bahaya.Aahh, Aaron! Rasanya aku ingin memaki diriku sendiri, tapi itu bukan sesuatu yang baik."Aaron, a-aku takut."Elena menempel padaku dan ingin
"Elena!" Aku berteriak di tengah hutan mencari keberadaan sahabat karibku. Mustahil aku bisa mengabaikan gadis kecil itu, dia jauh lebih penakut dan aku akan menemaninya bersama ketakutannya itu! "Elen!" "Elen! Di mana kau?!" Aku yang telah selesai memeriksa keadaan Deinn, Albert dan juga Ivan dengan segera menuruni panggung dan kemudian memanggil-manggil sahabat perempuanku. Aku tahu, seharusnya sejak awal aku cari dulu Elena baru kemudian beranjak mendatangi ketiga sahabatku yang lain. Sampai saat itu aku belum juga melihat Elena. Aneh, padahal tadi dia sedang bersandar pada pohon dan aku sendirilah yang sudah memindahkannya ke sana, tapi saat aku kembali Elena sudah tidak ada di sana. Aku pun memutari area itu dan tanpa sadar telah menginjak sesuatu. "Elen!" pekikku tanpa sadar. Ternyata yang tak sengaja kuinjak itu adalah tangan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore