LOGINEksel masih sibuk dengan pikirannya. Pujian dari ayahnya beberapa waktu lalu masih membekas hangat di dalam hati.Ia menutup laptopnya perlahan, lalu bergegas menuju kamar."Aku harus segera tidur. Besok hari yang penting," gumamnya pelan.Eksel merebahkan tubuh di atas ranjang sambil tersenyum. Pikirannya melayang pada pertemuan esok hari. Ia akan bertemu ayahnya, dan tentu saja Soraya.Perasaan itu membuatnya sulit menahan senyum."Ziyan... Ziyan..."Suara Karim terdengar memanggil dengan lantang."Astagfirullah, Ziyan!""Eh, Bos! Maaf..." Ziyan tersentak kaget dari lamunannya. "Sudah waktunya pulang ya?"Karim menatapnya dengan kesal."Laporanmu belum selesai. Kalau memang mau pulang, silakan. Sekalian saja mampir ke HRD.""Jangan begitu dong, Tuan. Cari orang seperti saya susah, lho," jawab Ziyan sambil nyengir lebar.Karim hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak buah kepercayaannya itu."Gimana Bunda Zayna?" tanyanya kemudian."Beliau sudah sampai dengan selamat, Tuan. Se
Ziyan masih memikirkan ucapan Karim tentang Eksel. Rasa penasarannya semakin besar. Ia ingin mengetahui sejauh mana kemampuan pemuda itu. "Tapi bagaimana caranya?" gumamnya pelan. Tidak mungkin seseorang dengan kemampuan seperti itu bisa terus-menerus bersembunyi dari perhatian orang lain. Pertanyaan lain juga muncul di benaknya.Apakah Kelvin mengetahui semua ini? Ziyan menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu tersenyum tipis."Hem... aku akan mencobanya."Ia teringat sistem keamanan berlapis yang pernah dipasang untuk melindungi butik Soraya. Dari situlah sebuah ide muncul. Ia sengaja membuat sebuah celah kecil, bukan agar Kelvin menemukannya, melainkan agar dapat menarik perhatian Eksel.Perlahan ia mencoba mengakses jalur komunikasi yang terhubung dengan ponsel Soraya."Semoga Soraya tidak mematikan ponselnya." Menurut perhitungannya, cepat atau lambat Eksel pasti akan mencoba menghubungi Soraya atau mencari tahu keberadaannya. Karena itu, Ziyan memasang sistem pemantauan jarak jauh
Genap sepuluh hari akhirnya keluarga Zayna kembali ke Parepare."Alhamdulillah, akhirnya sebentar lagi kita sampai di rumah," ujar Zayna dengan wajah sumringah."Iya, Bund," jawab Aim sambil tersenyum dan tetap fokus mengemudikan mobil.Zayna teringat semua kebaikan yang mereka terima selama berada di Jakarta, Bogor dan Daerah sekitar pinggiran kota yang menjadi Perjalanan Dinasnya."Tuan Karim benar-benar baik kepada kita. Bahkan semua pakaian yang kita pakai selama di sana dibolehkan untuk dibawa pulang." Yang tidak diketahui oleh Zayna dan keluarganya, pakaian-pakaian tersebut sebenarnya merupakan pesanan khusus dengan kualitas terbaik. Mereka hanya merasakan betapa nyaman dan enaknya pakaian itu dikenakan tanpa mengetahui nilai sebenarnya."Semoga barang-barang yang kita kirim lewat ekspedisi sudah sampai di rumah," kata Zayna."Insya Allah Bund," jawab Aim.Tak lama kemudian mereka memasuki halaman rumah."Yeay... akhirnya sampai!" seru Ana dan Zayan bersamaan. Kedua anak itu ta
Kelvin tetap awasi setiap gerak-gerik Soraya."Baik, Nyonya," jawabnya singkat."Oh iya, bukankah Eksel yang berhasil mengetahui Soraya bertemu dengan Zahra itu?" tanya Sonia."Benar, Nyonya. Kebetulan saat itu dia memang berada di kafe yang sama," jawab Kelvin.Sonia tersenyum. "Mana dia? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.""Dia ada di depan, Nyonya," kata Kelvin, yang merupakan ayah Eksel."Suruh dia masuk. Sudah saatnya dia menerapkan ilmu yang didapatnya selama ini di perusahaan.""Baik, Nyonya."Kelvin segera keluar dan memanggil putranya.Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka."Tante Sonia!" Eksel langsung masuk dengan wajah ceria. Ia menghampiri Sonia dan mencium punggung tangan wanita itu dengan penuh hormat, kedekatan mereka memang sudah terjalin sejak lama. Sonia menganggap Eksel seperti anaknya sendiri, sementara bagi Eksel, Sonia adalah sosok yang selalu memberinya perhatian layaknya seorang ibu."Gimana, Eksel? Siap bekerja di kantor Tante?" tanya Sonia sa
Kelvin yang merasa tidak ada lagi petunjuk yang bisa digali di Parepare akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta untuk menghadap Sonia.Selama beberapa hari terakhir, ia berhasil mengumpulkan cukup banyak informasi. Sedikit demi sedikit, berbagai fakta yang sebelumnya berdiri sendiri mulai saling terhubung. Satu kesimpulan yang paling kuat adalah bahwa Bunda Zayna dan Azzahra kemungkinan besar adalah orang yang sama.Sayangnya, mereka masih belum berhasil menemukan alamat ataupun identitas lengkap wanita itu. Seolah-olah seseorang dengan sengaja menghapus jejaknya.Yang membuat Kelvin semakin yakin adalah pertemuan antara Azzahra dan Soraya di Cafe Mentari dua hari sebelumnya. Selain itu, pakaian yang dikenakan Azzahra juga menimbulkan tanda tanya besar. Pakaian tersebut berasal dari butik pribadi Soraya, sebuah koleksi eksklusif yang tidak dipublikasikan melalui Sonia Collection. Selain jumlahnya yang sangat terbatas, harga pakaian itu juga tidak mungkin dijangkau oleh sembarang orang.
Wisata hari kedua berjalan lancar. Begitu pula dengan pekerjaan Aim. Ternyata perjalanan dinas kali ini jauh lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan.Saat kembali ke penginapan, setelah anak-anak sudah terlelap. Aim melihat istrinya sedang serius menatap layar laptop. "Bund, ada apa? situasi serius?" tanyanya sambil mendekat."Iya, Yah. Saham-saham lagi turun tajam. Untungnya teknik investasi bunda selama ini tidak menyimpan saham terlalu lama untuk posisi tertentu. Tapi nilai saham inti yang bunda pegang untuk investasi jangka menengah ikut berkurang." Zayna menggeser layar laptop agar suaminya bisa melihat."Tadi bunda sempat melakukan pembelian ulang sekitar 10%. Alhamdulillah sekarang sudah naik sedikit dari harga beli, jadi bisa dibilang bunda dapat harga diskon. Nah, untuk dua saham lainnya, harganya hampir mendekati area support kuat. Mungkin bunda akan melepas 50% dulu supaya ada dana alternatif kalau ternyata turun sampai support berikutnya."Aim mengangguk pelan meski







