LOGINSetelah menutup panggilan dengan Ziyan, Soraya masih memandangi layar ponselnya beberapa detik lebih lama.Ia berharap setidaknya Ziyan akan memberinya sedikit petunjuk arah, nama atau… apa pun yang bisa mempercepat langkahnya. Namun yang ia tangkap justru keengganaa, tidak menolak tapi juga bukan bantuan.Soraya menghela napas panjang. “Baiklah…” gumamnya pelan. “Kalau begitu… aku cari sendiri.” Malam mulai turun saat Soraya sudah berada di kamarnya di Hotel Kenari Parepare. Ia memilih kamar tipe Deluxe Room, dengan jendela besar yang langsung menghadap ke lampu-lampu kota Pare-Pare yang mulai menyala satu per satu. Suasana Cukup jauh dari hiruk-pikuk. Tempat yang… pas untuk berpikir.Soraya duduk di tepi tempat tidur, masih dengan pakaian semi formalnya yang belum sempat ia ganti. Ponsel kembali ia genggam. Matanya menatap layar dengan fokus yang berbeda dari sebelumnya.Bukan lagi sekadar penasaran. Tapi… seperti sedang mengejar sesuatu. “Saya akan mulai dari kontennya dulu…” bisik
Tatapannya mantap, tidak goyah sedikit pun. “Dan saya tidak ingin terburu-buru… hanya untuk terlihat siap.” Ia memberi jeda singkat, membiarkan makna itu sampai. “Masalah itu…” ucapnya pelan, “akan kita bahas lebih lanjut.”Soraya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. “Ketika saya sudah benar-benar yakin…” "…bahwa apa yang kita tampilkan nanti bukan hanya selaras dengan market Anda—” “tapi juga mampu membangun kepercayaan mereka.”Tenang saja,” lanjutnya dengan nada menenangkan namun penuh keyakinan. “Saya tidak akan membawa sesuatu yang belum saya yakini sepenuhnya.” Ia bersandar sedikit, namun auranya tetap kuat. “Saya akan berada di sini beberapa hari ke depan.”Wanita itu mengangguk pelan, mulai memahami arah Soraya.“Sambil mendalami karakter brand ini…” lanjut Soraya. “…dan memastikan semuanya selaras.” Ia menatap lurus, kali ini dengan keyakinan yang lebih terasa. " ketika saya kembali ke Anda…" “Saya tidak hanya membawa konsep.” “Tapi juga… kepastian.” Hening......Namun
Soraya menghela napas pelan, lalu duduk kembali dengan posisi lebih tegak. Matanya kembali menatap proposal di meja… tapi kali ini, ada rencana lain yang mulai tersusun di kepalanya.“Hemm…” Setelah cuti minggu ini… aku akan ke Pare-Pare. Ia tersenyum kecil, kali ini sedikit nakal.“Mami tidak mungkin melarang…”Soraya memiringkan kepalanya, mulai memainkan skenario di pikirannya sendiri. “Terpaksa… alasan Karim bisa jadi jalan keluar. Ia tertawa kecil. “Dia punya bisnis resort di sana…” “Dan Mami… pasti sulit menolak itu.”Bukan hanya tidak menolak, bahkan mungkin… akan sangat mendukung. Baginya, itu seperti mendekatkan dua kepentingan sekaligus. Bisnis… dan rencana masa depan yang selama ini ia inginkan.Soraya menutup matanya sejenak, lalu berbisik pelan “Masalah perusahaan di Jakarta…”“Pasti akan Mama handle dengan senang hati…” Senyumnya kembali muncul, kali ini lebih lepas. “Hehehe…” Namun di balik itu, ada sedikit rasa bersalah yang ikut menyelinap.Soraya menatap kosong ke d
Soraya menyandarkan punggungnya perlahan, matanya masih terpaku pada lembar proposal kerja sama yang sejak tadi ia pelajari. Proposal itu bukan sekadar tawaran biasa—datangnya dari salah satu penggemar setianya. Seorang pengusaha butik di Pare-Pare yang dikenal royal, dan hampir tak pernah absen menunggu setiap rilisan desain terbaru dari Sonia Collection.Di sisi lain, bayangan percakapan dengan Ziyan kembali terlintas di benaknya. Rekomendasi model… konsep busana… hingga satu nama yang terus disebut dengan nada penuh keyakinan— Bunda Zayna.Soraya menghela napas pelan. “Hmm… Ziyan terlihat terlalu bersemangat… bukankah ini agak mencurigakan?” Ia memiringkan kepalanya, jemarinya mengetuk ringan meja. “Aku kok merasa… Bunda Zayna ini bukan sosok biasa ya…”Soraya kembali mengingat konten-konten edukasi yang pernah ia lihat—tenang, berkelas, dan penuh kesan. Tanpa wajah, tapi justru terasa kuat. “Gayanya cocok… dengan karakter desain yang Ziyan minta…”Ia terdiam sejenak, lalu tersen
Malam itu, selepas menunaikan salat Isya berjamaah, Karim memilih menghabiskan waktu terakhirnya di mansion sang dede. Ia melangkah pelan menuju tepi laut Bosphorus—sebuah ruang sunyi yang sengaja dibangun, tempat sang dede biasa bermuhasabah.Angin malam berembus lembut, membawa aroma laut yang menenangkan. Namun, ketenangan itu terasa berbeda bagi Karim. Lima tahun terakhir, hidupnya hanya dipenuhi target dan pencapaian. Ia memaksa dirinya untuk selalu melampaui batas—tiga kali lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Tanpa sadar, ia menjelma menjadi sosok yang gila kerja. Waktu, tenaga, bahkan perasaan, semuanya ia korbankan.Keluarga perlahan menjauh, begitu pula dengan cinta… hingga akhirnya ia mengenal Bunda Zayna. Sejak saat itu, ada sesuatu yang berubah. Dalam setiap langkahnya, bayangan tentang keluarga mulai kembali hadir. Tentang kehangatan yang dulu ia abaikan. Tentang rasa memiliki yang sempat ia kubur dalam ambisi.Karim menghela napas panjang. Tanpa sepengetahuan Bunda Zayn
Tidak terasa Karim berada di taman belakang cukup lama. Dede yang pergi sejak pagi kini telah kembali ke mansion. “Sayang, tadi Karim mencarimu dan ingin menyusulmu,” kata Babane.“Karim di mana sekarang?” tanya Dede. “Sejak tadi di taman belakang, mungkin masih di sana.” “Oh...” Dede mengangguk pelan. “Saya bersih-bersih dulu. Tidak lama lagi dzuhur, nanti bertemu saja di musholla.”Babane hanya mengangguk, lalu Dede berlalu ke kamarnya.Tak lama setelah itu, Karim muncul dari taman belakang. Langkahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan sesuatu—seolah masih tertinggal di antara rindang pepohonan dan semilir angin yang tadi menemaninya. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, memandang ke dalam rumah yang terasa hangat. Suara aktivitas dari dapur terdengar samar. Namun hatinya belum sepenuhnya kembali dari perenungan.“Karim...” Suara itu membuatnya menoleh. Dede berdiri tidak jauh darinya, baru saja keluar dari kamar.Karim mendekat. “Aku mencari Dede sejak pagi,” ucapnya tenang
Setelah hidangan terakhir disantap, Karim meletakkan sendoknya dengan tenang. Semua bergerak hampir bersamaan—sebuah kebiasaan yang sudah terlatih tanpa perlu aba-aba. Dede mengangguk pelan, lalu berdiri lebih dulu, diikuti Babaanne, Karim, dan Ziyan.Mereka kemudian berpindah menuju ruang keluarga
Mobil yang dikendarai Ziyan melaju tenang meninggalkan kawasan mansion milik Karim. Jalanan kota yang tadinya ramai perlahan berubah menjadi lebih lengang. Gedung-gedung tinggi mulai tergantikan oleh deretan pohon pinus dan rumah-rumah bergaya klasik dengan taman luas di halamannya.“Sekitar tiga p
Tiga porsi bakso rudal sudah rapi dibungkus. Bunda Zayna, Ana, dan Zayan pun bergegas pulang untuk menikmatinya bersama. “Asyik… bakso… bakso…” Zayan bersenandung riang, suaranya melengking penuh semangat. Bakso memang jadi makanan favoritnya sejak dulu.Ana hanya tersenyum geli melihat tingkah sa
Hari itu, Bunda Zayna hanya berdagang di dua saham. Bukan karena kurang peluang—justru sebaliknya. Ia melihat ada tiga saham lain yang ritmenya mulai “hidup”, namun belum berada di waktu yang tepat untuk masuk. Pergerakannya masih mentah, tapi menjanjikan. Senyum tipis terlukis di wajahnya. “Itu na







