Mag-log inSetelah sholat maghrib dan makan malam bersama mommy, ayah, dede, serta Babaanne dengan percakapan hangat yang sederhana, Karim akhirnya kembali ke kamarnya. Suasana rumah yang tenang sedikit membuat pikirannya lebih ringan setelah seharian penuh dengan urusan yang melelahkan.Begitu pintu kamar tertutup, Karim langsung menguncinya rapat. Ia tidak ingin kejadian sebelumnya terulang kembali. Setelah memastikan semuanya aman, ia duduk di kursi kerjanya lalu mengaktifkan jaringan privat miliknya.Beberapa detik kemudian, layar transparan di hadapannya mulai menyala.“Tuan, silakan masuk. Saya sudah membuka aksesnya.”“Ok, Ziyan.” Karim kembali memasuki ruang virtual itu. Ruangan digital bernuansa gelap kebiruan langsung terbentuk di sekelilingnya, lengkap dengan layar-layar data yang melayang pelan di udara.“Tuan,” sapa Ziyan hormat.“Hemm...” Karim duduk santai sambil menatap laporan di depannya. “Apakah kamu sudah mengirimkan bagi hasil dua puluh lima persen dari perjanjian kontrak ki
Setelah menutup meetingnya, Karim menerima pesan dari pengawalnya yang selama ini diam-diam menjaga keluarga bunda Zayna.“Tuan, ada seseorang yang berhasil menemukan alamat bunda Zayna melalui jasa pengiriman. Informasi itu didapat dari kurir yang beberapa hari lalu mengantarkan paket dari Nona Soraya. Saya baru melaporkannya sekarang karena baru berhasil menemukan alamat IP pelacaknya... dan itu berasal dari perusahaan Sonia Collection, dengan IP atas nama Kelvin.”Karim belum merespon pesan bawahannya karena ibunya masih berada di dekatnya.. “Mommy, terima kasih camilannya...”“Nak... apakah bunda Zayna yang kau temui waktu perjalanan ke Sulawesi itu?” tanya Rima pelan.Karim mengangguk kecil. “Iya, Mom...”“Apakah mereka memiliki anak?” tanya Rima kembali, berusaha terdengar biasa.Karim tersenyum tipis. “Iya, Mom... Ziyan dan Ana. Mereka anak-anak yang manis.”Rima terdiam sejenak. Ia melihat kehangatan yang berbeda di mata Karim saat menyebut keluarga itu. Ya Rabb... sejauh mana
“Nyonya, ada satu hal yang ingin saya sampaikan.” Kelvin berdiri tegak di hadapan Sonia dengan ekspresi serius. “Secara tidak sengaja saya mengikuti Riana, asisten pribadi Nona Soraya. Saat itu dia membawa sebuah paket menuju jasa pengiriman antar pulau.”Sonia mengangkat pandangannya perlahan. “Paket apa?”“Setelah saya selidiki, isi paket itu adalah gaun hasil desain Nona Soraya… desain yang dulu pernah ditampilkan sebagai penutup acara kolaborasi dengan R&K Couture.” Kelvin berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Dan saya sempat melihat sendiri bagaimana antusiasnya Tuan Karim saat model memperagakan gaun itu.”Sonia tampak terkejut. “Benarkah? Karim tertarik dengan desain Soraya?”“Iya, Nyonya.” Kelvin mengangguk pelan. “Awalnya saya sendiri kurang percaya dengan apa yang saya lihat. Setahu saya, putra tunggal Tuan Ismet sangat jarang… bahkan hampir tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada fashion show. Apalagi sampai memperhatikan sedetail itu.”Sorot mata Sonia berubah lebih da
Kalimat itu membuat Karim spontan mengernyit, refleks ia menoleh ke belakang di sana ada Mommynya berdiri. Tangannya masih menggenggam nampan camilan hangat, namun wajahnya tampak membeku. Tatapannya bertemu dengan mata Karim beberapa detik tanpa suara, Karim sedikit terkejut. “Mommy... sejak kapan di sini?” tanyanya cepat sambil melepas headset sebelah. Rima seperti baru tersadar dari lamunannya, Ia berusaha tersenyum tipis, meski senyum itu terasa dipaksakan.“Baru saja,” jawabnya pelan. “Mommy tadi mengetuk pintu... tapi kamu tidak dengar.”Karim langsung berdiri dari kursinya. Ada sedikit rasa bersalah di wajahnya. “Sorry, Mom. Karim terlalu fokus.”Rima menggeleng kecil, lalu menyerahkan nampan itu ke meja dekat laptop. “Tidak apa-apa nak, Babanne membuat camilan untukmu.”“Thanks, Mom.”Suasana sempat hening beberapa saat, di layar monitor, Bunda Zayna yang menyadari perubahan ekspresi Karim hanya menunggu dengan sopan tanpa banyak bicara, sementara Aim yang kebetulan baru masuk
Rima, ibu Karim, berniat membawakan camilan untuk putranya yang sedang melakukan meeting virtual. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu, ia mengetuk pintu kamar Karim. Namun, tak ada jawaban terdengar dari dalam.Rima mencoba mengetuk sekali lagi, sedikit lebih keras, tetapi suasana di balik pintu tetap sunyi. Karena penasaran, ia perlahan memutar gagang pintu dan mendapati pintu itu ternyata tidak terkunci. Akhirnya, ia melangkah masuk ke kamar Karim yang sebagian sudutnya telah diubah menyerupai ruang kerja kecil.Di sana, Karim duduk tegak di depan laptopnya. Tatapannya lurus menembus layar, nyaris tanpa kedipan. Wajahnya terlihat begitu fokus, seolah seluruh kesadarannya tenggelam di dunia lain.“Karim...” panggil Rima pelan. Tak ada jawaban.“Karim...” ulangnya lagi, kali ini sedikit lebih jelas. Namun putranya tetap tak bereaksi.Saat itu Karim memang sedang berada di ruang virtual bersama Ziyan dan Bunda Zayna. Meski raganya tetap duduk di depan laptop, pikirannya sepenuhn
Ruangan meeting virtual itu mendadak terasa jauh lebih tenang. Suara bunda Zayna terdengar lembut, namun setiap kalimatnya penuh keyakinan dan data yang tersusun rapi. Karim memperhatikan lebih serius ketika slide demi slide menampilkan angka pertumbuhan portofolio yang stabil. Ia bahkan perlahan menegakkan tubuhnya, tatapannya benar-benar fokus memperhatikan setiap penjelasan yang ada.“Dalam trading cepat maupun swing,” ujar bunda Zayna tenang, “saya selalu menentukan batas risiko sebelum masuk. Jadi keputusan beli bukan karena rasa yakin semata, melainkan karena rasio risiko dan peluangnya masih masuk akal.”Ziyan membantu mengganti slide berikutnya.“Untuk alokasi dana,” lanjutnya, “sejak awal saya membaginya menjadi tiga bagian utama. Dua puluh persen untuk trading aktif, baik fast trade maupun swing. Kemudian dana investasi untuk membangun pertumbuhan jangka panjang melalui dividen dan capital gain. Sedangkan sebagian lainnya menjadi dana cadangan.”...“Dana cadangan ini tidak d
"Ehm… Karim, jadi kamu berangkat hari ini, nak?” tanya Ismet memecah keheningan setelah sekian lama semua orang terdiam di meja makan. “Jadi, Yah!” jawab Karim cepat, seakan ingin memutus kecanggungan yang baru saja terjadi.Rima yang mengamati wajah sang anak merasa sedikit bersalah. Tanpa sadar
Cahaya matahari lembut khas daerah puncak menembus jendela kamar Ziyan yang berada di Mansion orang tua Karim, Namun pagi itu terasa berbeda. Ziyan berdiri cukup lama di depan pintu kamar Karim. Ia mengetuk pelan, menunggu seperti biasanya. Tetapi tak ada jawaban. Ia mencoba lagi. Tetap sunyi.Keni
Usai menunaikan sholat subuh dan membaca beberapa lembar Al-Qur’an, rumah kecil itu kembali hidup dengan ritme paginya yang khas.Seperti biasa, Bunda Zayna memulai hari di dapur. Tangannya cekatan menyiapkan sarapan sekaligus bekal untuk suami dan kedua anaknya. Aroma masakan sederhana mulai memen
Malam turun perlahan ketika Karim memutuskan kembali ke rumah orang tuanya setelah makan malam bersama sang kakek.Jalanan lengang, lampu-lampu kota berpendar seperti titik-titik cahaya yang menggantung di antara pikirannya yang sesak.Sepanjang perjalanan, nasihat Kakek Hanan terus berputar dalam







