تسجيل الدخولSetelah hampir dua minggu berada di Turki, akhirnya Ismet dan Rima bersiap kembali ke Indonesia. Mereka akan pulang ke Bandung dengan hati yang jauh lebih tenang dibanding saat berangkat.Beban yang selama ini menghimpit pikiran Rima perlahan terangkat. Meski belum mendapatkan semua jawaban yang ia harapkan, setidaknya ia telah memahami isi hati putranya. Kini ia memilih menyerahkan semuanya kepada Allah, terus berdoa agar suatu hari nanti Karim dipertemukan dengan wanita yang mampu mengisi ruang kosong di hatinya.Usai mengantar ayah dan mommy-nya ke bandara, Karim dan Ziyan baru kembali ke apartemen menjelang dini hari. Langit bahkan mulai menampakkan pertanda waktu Subuh akan segera tiba."Ziyan, tidur saja di apartemenku. Biar kamu masih bisa istirahat sebelum mulai bekerja lagi," ujar Karim.Ziyan menatap atasannya beberapa detik sebelum terkekeh pelan. "Bos... kamu lupa ya? Aku juga punya apartemen di lantai yang sama."Karim mengusap tengkuknya sambil tersenyum malu. "Astaghfir
Ziyan memacu kuda besinya lebih cepat dari biasanya. Perjalanan yang normalnya ditempuh hampir dua jam berhasil ia pangkas menjadi sekitar satu jam. Sepanjang perjalanan, Karim hanya terdiam menatap keluar jendela, tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga tak menyadari mobil telah memasuki halaman rumah Dede dan Babanne."Bos, kita sudah sampai.""Hah?" Karim tersentak dan menoleh ke sekeliling. "Sudah sampai?"Ziyan terkekeh pelan. "Dari tadi Anda melamun terus."Karim menarik napas panjang lalu membuka pintu mobil. "Ayo, kamu juga masuk. Mommy pasti ingin bertemu denganmu."Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam ketika mereka melangkah menuju pintu utama. Belum sempat Karim mengetuk, pintu sudah terbuka. Rima berdiri di sana dengan senyum hangat yang selalu membuat Karim merasa pulang."Mommy... Assalamualaikum.""Waalaikumsalam, sayang." Rima langsung memeluk putranya erat, seolah ingin melepas rindu yang tertahan berhari-hari."Tante, Assalamualaikum." Ziyan ikut menyalami
Karim masih memandangi langit malam dari apartemennya. Lampu-lampu kota yang berkilauan di kejauhan tidak mampu mengalihkan pikirannya dari percakapan dengan Ziyan beberapa waktu lalu."Menjaga jarak..."Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.Bukankah selama ini ia justru berusaha menghindari masalah dengan menjaga jarak?Namun semakin ia mencoba menjauh dari Zayna, semakin sering bayangan wanita itu muncul dalam pikirannya. Ia selalu ingin tahu apa yang sedang dikerjakannya, bagaimana keadaannya, bahkan tanpa sadar menunggu laporan-laporan yang berkaitan dengannya.Karim mengembuskan napas panjang. "Atau mungkin caraku yang salah..." gumamnya pelan.Jika terus menghindar, bukankah Zayna justru akan terus menjadi bayangan yang mengikutinya ke mana-mana? Karim menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Mungkin aku harus menganggapnya sebagai bagian dari keluarga saja."Ia terdiam sesaat sebelum kembali bergumam."Dia lebih tua dariku. Anggap saja seperti kakak." Dengan begitu ia tidak perlu
Zayna mulai merapikan portofolionya ke dalam lembar Excel. Sesekali matanya melirik kalender di sudut layar laptop."Hem... masih ada tiga hari perdagangan sebelum akhir bulan," gumamnya pelan.Malam ini ia bertekad menyelesaikan seluruh catatan transaksinya. Laporan harus rapi agar lebih mudah memahami pergerakan dana dan penempatan portofolio yang selama ini dikelolanya. Dari tiga kelompok investasi yang ia pisahkan, pekerjaan kali ini terasa sedikit lebih merepotkan karena sebagian besar dana masih berada dalam posisi cash balance. Kondisi itu membuatnya harus ekstra hati-hati selama melakukan transaksi di sela-sela liburan beberapa hari terakhir.Zayna kembali membuka catatan transaksi yang berserakan di meja."Hem... Alhamdulillah, ternyata laporan kedua ini masih bisa menghasilkan tambahan 'gaji' juga," gumamnya sambil tersenyum tipis.Ia mulai menelusuri satu per satu transaksi yang telah dilakukan.Pada hari pertama, ia sempat menjual lima puluh persen kepemilikannya di saham
Bunda Zayna mulai mengatur kembali portofolionya ketika masa liburan keluarga memasuki hari kelima. Selama empat hari sebelumnya, aktivitas pasar saham berhenti karena bertepatan dengan cuti panjang dan libur nasional bursa. Kesempatan itu benar-benar ia manfaatkan untuk fokus menikmati waktu bersama keluarga tanpa terganggu oleh pergerakan pasar.Memasuki hari pertama perdagangan setelah libur panjang, saldo kas (cash balance) di rekening investasinya bertambah. Sempat terlintas di pikirannya untuk kembali aktif melakukan trading di sela-sela liburan. Namun, karena dana yang dikelolanya kini semakin besar, Zayna menyadari bahwa setiap keputusan membutuhkan konsentrasi yang lebih matang. Ia tidak ingin kesalahan kecil terjadi hanya karena perhatiannya terbagi antara keluarga dan pasar. Karena itu, ia memutuskan untuk lebih fokus menambah dana investasi dan melakukan penyesuaian portofolio seperlunya.Pada hari pertama trading tersebut, Zayna menjual separuh kepemilikan salah satu saha
Eksel masih sibuk dengan pikirannya. Pujian dari ayahnya beberapa waktu lalu masih membekas hangat di dalam hati.Ia menutup laptopnya perlahan, lalu bergegas menuju kamar."Aku harus segera tidur. Besok hari yang penting," gumamnya pelan.Eksel merebahkan tubuh di atas ranjang sambil tersenyum. Pikirannya melayang pada pertemuan esok hari. Ia akan bertemu ayahnya, dan tentu saja Soraya.Perasaan itu membuatnya sulit menahan senyum."Ziyan... Ziyan..."Suara Karim terdengar memanggil dengan lantang."Astagfirullah, Ziyan!""Eh, Bos! Maaf..." Ziyan tersentak kaget dari lamunannya. "Sudah waktunya pulang ya?"Karim menatapnya dengan kesal."Laporanmu belum selesai. Kalau memang mau pulang, silakan. Sekalian saja mampir ke HRD.""Jangan begitu dong, Tuan. Cari orang seperti saya susah, lho," jawab Ziyan sambil nyengir lebar.Karim hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak buah kepercayaannya itu."Gimana Bunda Zayna?" tanyanya kemudian."Beliau sudah sampai dengan selamat, Tuan. Se
Zayna tiba di rumah dengan beban di hatinya yang terasa sedikit berkurang. Begitu memasuki rumah, ia langsung mengucapkan salam."Assalamualaikum..."Suara ramai dari ruang tamu segera menjawab."Waalaikumsalam, Bunda..."Jawaban itu terdengar kompak dari Kak Ana, Zayan, Aim, dan Pak Arman yang ter
"Ayah, Soraya memanggilnya Kak Zahra. Apa Soraya punya kakak dari ibu yang berbeda?" tanya Eksel penasaran.Kelvin yang baru saja menerima pesan dari putranya langsung terdiam. Nama itu kembali muncul dan menjadi bagian dari teka-teki yang selama ini berputar di kepalanya.Bunda Zayna... Azzahra...
Pagi harinya, Zayna keluar dari rumah setelah berpamitan dengan suami dan anak-anaknya.Ia teringat sebuah kafe yang pernah dilihatnya tidak jauh dari tempat tinggal sementara mereka. Dengan ponsel di tangan, ia membuka peta digital dan mencari lokasi terdekat."Hmm... namanya Cafe Mentari ya..." g
Zayna termenung di dalam kamar. Kontrak kerja yang baru saja diperbaruinya masih belum ia bicarakan dengan suaminya."Hemm... sebenarnya juga tidak ada yang perlu didiskusikan lagi," gumamnya pelan.Dana kerja sama itu sudah masuk ke portofolionya, dan tanda tangan digital pun telah ia berikan bebe







