LOGINTak ada senyum merekah, rumah berantakan, anak tak terurus.“Sialan Erik! Dia pasti sengaja ngasi tahu semua ini ... sekarang manusia itu bisa puas tapi aku ndak akan nyerah untuk merebut Angel dari hidupku! Dia pikir aku akan takut dengan dia begitu saja? Cuihhhh!” Amarah Malikh sudah mendidih.“HAHAHHAHAHAAA!” Tasya tertawa lebar tanpa rasa sungkan sedikit.BRAKKK! Malikh menggebuk meja di depannya, rahangnya mengeras tatapannya tajam mengarah ke Tasya.“Apa? Kamu mau marah? Suami macam apa kamu Mas di depan istri sah kamu masih ngarepin mantan istri secara terang-terangan!”“Seorang istri yang secara terang-terangan tidur dengan laki-laki lain ndak pantas membandingkan dirinya dengan kelakuanku! Kamu itu ndak usah sok baik Tasya, kamu pikir kamu adalah orang yang bersih dari dosa?”“Haduh susah ngomong sama orang yang buta hatinya! Kamu ndak pernah ngaca atau bagaimana sih? Kamu lihat dong dirimu sekarang, cacat ndak bisa kerja! Terus kamu mau sok-sokan ngerebut mantan
“Buk aku ke rumah sakit dulu yo! Loh, semua orang pada ke mana kok ndak ada siapa-siapa? Anak-anak juga ndak ada tumben pergi ndak ada bilang-bilang.” Pagi ini Angel tampak kemas namun terburu-buru, ia seperti kebingungan melihat kondisi pagi ini rumahnya sepi melompong tak ada siapa pun yang biasanya pagi-pagi akan diisi suara riuh pertengkaran dari Rafa dan Aira.“Hmm, aku lagi buru-buru anak-anak pasti ikut Ibuk aman! Mudah-mudahan Erik ndak kenapa-napa.” Rupanya yang membuat pagi Angel was-was adalah sesosok yang tengah mengisi hatinya. Pagi-pagi sekali Angel yang panik bergegas pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Erik baik-baik saja. Entah apa yang sebenarnya sedang terjadi, semua orang yang dihubungi Angel pagi ini seakan enggan mengangkat telepon darinya. Ia merasakan ada sesuatu hal yang aneh, pasalnya saat ia pergi ke rumah sakit tak ada nama pasien atas nama Erik di sana, perasaan Angel pun makin tak karuan.TINGG! [Suara pesan masuk]“Loh,
“Astagfirullahalazim Buk! Apa ini? Kok banyak banget dari siapa?”“Loh, bukan kamu yang mesen? Tadi Ibuk kira kamu yang mesen jadi Ibuk terima saja, terus kalau bukan kamu siapa?”Drrrt! Drrrt! Drrrt! [Gawai Angel berdering][Halo, assalamualaikum Rik! Ada apa tumben nelpon pagi-pagi sekali?][Waalaikumsalam, a-anu Ngel ... emmmm][Kamu mau ngomong apa to Rik? Kok ndak jelas gini!][Ekhmm, itu barangnya sudah sampai?][Barang? Maksudmu barang yang pagi ini baru sampai di rumahku itu kamu yang ngirim?][Lebih tepatnya sih Mama Ngel! Aku juga sudah ngasi tahu kalau memang mau ngasi secukupnya saja tapi ya taulah Mama ndak dengerin aku, maaf yo jadi menuh-menuhin rumah kamu.][Yak ampun, aku kira tadi paket nyasar! Ini kok banyak banget, sampai repot-repot begini loh aku jadi ndak enak ... lain kali tolong bilangin mama kamu jangan repot-repot begini lagi!][Aku tahu kamu bakalan bilang kayak begini Ngel makanya aku sudah ngasi tahu Mama duluan tapi tetap saja ya seperti yang kamu lihat
“Aku penasaran deh bagaimana caranya kamu bisa nanganin ini semua? Padahal Malikh itu termasuk orang yang sangat nekat!”“Bagaimana yo jelasinnya? Ya intinya karena itu kamu! Aku rela ngelakuin apa pun itu demi kamu.”“Ndak mungkin karena itu saja kan! Malikh itu bukan orang yang mudah dibodoh-bodohi apa lagi cuma sekadar diancam.” Angel merasa ragu dengan penjelasan sederhana dari Erik.“Hah, panjang ceritanya nanti kamu juga bakalan tahu sendiri pelan-pelan.” Erik masing enggan mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.“Tapi bener kan kamu ndak papa? Kevin, ibuk sama nenek?”“Aku dan mereka semua baik-baik saja Ngel kamu tenang saja!”“Bagaimana aku bisa tenang Rik saat orang-orang terdekatku dalam bahaya! Aku bahkan sampai mikir yang enggak-enggak karena Malikh itu orangnya nekat banget, aku cuma mau mastiin kalau kalian sudah bener-bener aman sekarang!”***“Nduk! Kenapa hal sebesar ini kamu ndak cerita ke Ibuk sih!” sesalnya.“Maaf Buk, bukannya aku ndak mau cerita tapi aku cuma nd
Erik sudah menanti hari ini karena saatnya ia menyudahi pertanyaan-pertanyaan yang telah bersarang di benaknya beberapa hari ini, ia akan segera menyelesaikan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.“Jadi bener to kamu orangnya!” tekannya.Malikh menatap tajam seakan menantang, “Kenapa? Kamu nyariin aku selama ini? Oh selamat akhirnya kita ketemu!”“Jangan banyak basa-basi! Aku ke sini mau menyelesaikan urusanku denganmu! Jauhi Angel!” ucapnya tanpa langsung ke intinya.Dahi Malikh mengerinyit, “Heh! Harusnya kamu yang jauhi Angel karena dia adalah istriku!”“Tepatnya mantan istri! Dia sekarang adalah calon istriku, berhenti menghayal Malikh!”“Kamu yang harusnya berhenti menghayal! Aku dan Angel sudah punya anak dua dan anak-anak itu ingin orang tuanya kembali lengkap! Apa kamu tega merusak kebahagiaan mereka?”“Ini yang aku bilang menghayal! Mereka itu sudah lupakan kamu Malikh, mana mau mereka mengingat kejadian kejam yang sudah menimpa mereka selama hidup sama kamu!”“Dasar lic
“Aku yakin pasti ada yang ndak beres dari Angel! Dia sebelumnya seyakin itu kenapa tiba-tiba ndak ada masalah apa-apa dia kembali ragu? Aku justru semakin khawatir dengan keadaannya sekarang!” Erik mulai curiga.*“Habis dari mana kamu Mas? Kamu ndak tahu ya kalau hari ini aku masih harus pergi kerja, kamu malah asyik keluyuran ke luar!”“Aku ada urusan penting!”“Lebih penting mana dengan kerjaanku? Kamu tinggal disuruh jaga anak saja ndak becus apa lagi kamu yang aku suruh cari nafkah!”“Selama kerjaanmu masih ndak bener jangan coba-coba merendahkan aku Tasya! Kamu sama rendahnya bahkan lebih rendah dari aku!”“Kamu yang harusnya jaga omonganmu Mas! Nih jaga Gavin aku mau pergi!” Tasya lantas pergi.“Tunggu! Kamu masih kerja di sana/” tanyanya sekadar penasaran.“Iya,” jawabnya singkat tanpa menoleh sedikit pun.“Mau sampai kapan? Waktumu tinggal besok!” ucapnya memberi peringatan.“Hari ini aku terakhir kerja!”“Terus, sudah ada penggantinya?”“Ndak ada, lagian ya Mas aku ndak mau
*“Stop-stop! Sampai sini saja pak!”“Dua puluh ribu mbak.”“Mahal banget pak!”“Ini juga sudah murah, bensin sekarang mahal apa lagi malam-malam biasanya jam segini sudah ndak ada ojek!”“Yaudah nih-nih!” Tasya menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah dengan tampang kesal. Wanita yang se
“Mas, kenapa sih sampai sekarang Mas masih suka keluyuran? Ndak pagi, siang malam! Mas ndak ada niatan begitu buat cari kerja mulai dari sekarang?” tanyanya khawatir.“Urusan nanti-nanti lah itu, uang di rekening juga masih!” jawabnya acuh.“Tapi Mas, kalau dipakek kan lama-lama habis juga ... dari
***“Bagaimana Mas? Sudah dapet kerjaan belum?”“Kenapa kamu masih tanya-tanya begitu?”“Loh, memangnya salah to? Wajar dong kalau aku tanya, aku kan istri kamu!”“Mas kan sudah bilang ke kamu kalau kamu tenang saja! Masalah pekerjaan nanti biar Mas yang ngurus, kamu ngurus urusan di rumah saja nda
TOK! TOK! TOK!“Duh, siapa sih?!” ucapnya kesal.“Ini kenapa sih ndak ada yang bukak!” dumel Angel sembari merogoh sesuatu dari tasnya.Klek! Pintu pun dibuka, ternyata Angel masih memegang kunci rumah cadangan, akhirnya ia membuka pintu sendiri karena tak ada yang membukakannya.“Heh, ngapain Mbak







