MasukHalo readers >3 Semoga kalian sehat selalu di mana pun kalian berada ya >3 Maaf 2 hari ini absen nulis cerita ini karena kondisi lagi nggak enak badan :( Pokoknya terima kasih banyak untuk kalian yang sudah sudi mampir ke ceritaku yang ketiga >3 Happy reading :)
“Mas, aku ke Ibuk.”Erik tertegun, ia mematung sejenak, “Kamu manggil aku apa tadi?”“Mas?” jawabnya pelan.Erik menutup mulutnya, seakan ia tak menyangka hal ini terjadi, “Kamu udah bisa manggil aku Mas?”Angel mengangguk, “Bagaimana? Cocok ndak aku manggil kamu Mas?”Erik tersenyum lebar, “Senang sekali, ini yang aku tunggu-tunggu!” balasnya semangat.“Syukurlah, kalau begitu aku nengok Ibuk dulu yo.”“Aku anterin ya, sekalian berangkat kerja.”“Iya, Mas.”*“Bagaimana Buk? Sudah mendingan, kata dokter apa?” Raut muka khawatir Angel sangat tampak, hingga tak bisa disembunyikan sedikit pun.“Ibuk ndak sakit Nduk!” tegasnya pelan.“Ndak sakit? Tumben Ibuk nelpon aku kayak penting sekali, tak kiro Ibuk sakit! Terus Ibuk kenapa nelpon aku sampai ngomong begitu?” Angel penasaran.“Ndak papa, Ibuk cuman kangen sama kamu!”“Tapi kan Angel tiap hari ke sini Buk, anak-anak juga tinggal di sini kan jadi ndak mungkin aku lupain kalian sampai Ibuk khawatir kayak tadi! Ibu sebenarnya kenapa, co
“Kamu kenapa? Kamu masih merasa ndak enak soal kemarin?”Angel senyum tipis, “Dikit.”“Udah ndak usah dipikirin, ayok tidur sudah larut malam.”“Rik, eee lampunya bisa dihidupin ndak?”“Dihidupin? Kenapa, kamu belum bisa tidur?”“Bukan begitu, aku biasanya tidur lampunya dihidupkan karena aku takut gelap.”“Loh, bukannya kalau tidur lebih baik lampunya dimatikan yo? Jadi tidurnya bisa lebih berkualitas dan nyaman, selama ini kamu ngidupin lampunya terus yo?”“Iya aku tahu soal itu tapi aku takut gelap, dari kecil sih lebih tepatnya ndak tahu kenapa,” jelasnya sedikit sungkan.“Kalau begitu kamu ndak usah takut lagi, kamu tidurnya yang tenang kan ada aku sekarang yang bakalan jagain kamu aku ndak akan pergi kok, ndak papa ya?”“Iya, tapi aku perlu terbiasa dulu kalau sekarnag-sekarang aku belum bisa.”“Ya sudah kalau begitu, ndak papa.”“Tapi kamu sendiri ndak papa lampunya dihidupkan? Takutnya malah kamu yang ndak nyaman.”“Aku ndak papa, yang ndak nyaman kan kamu apa lagi sampai taku
“Erik! Jadi ini to istri kamu yang sekarang?”“Iya buk, kenalin namanya Angel.”“Lumayan cantik, terus yang dulu ke mana? Cantik sih yang ini tapi tak lihat-lihat lebih cocok sama yang sebelumnya,” celetuknya tanpa berperasaan sedikit pun.“Astagfirulahalazim buk! Ibuk ini sadar ngomong begini di depan istri saya? Jaga perasaan dikit buk karena ibuk ndak punya hak untuk membanding-bandingkan kehidupan saya dengan istri saya yang sekarang dengan masa lalu saya!” Erik geram.“Loh kok malah marah-marah? Saya kan jujur to, saya cuman mengutarakan pendapat saya lebih baik dari pada saya ngomongin dibelakang mending saya langsung kasi tahu di depan orangnya! Lagian sudah tua masih mikir nikah apa ndak malu sama anak-anaknya? Lihat saya single parent besarin anak sendirian ndak nikah lagi apa itu nikah kalau ujung-ujungnya nanti cerai lagi nanti jadi janda dua kali loh!” ucapnya nyelekit.“Maaf ya buk! Hidup-hidup saya ibuk ndak usah ikut campur dan memaksakan prinsip hidup ibuk ke kehidupan
“Bagaimana para saksi? Sah?”“Sah!” Mentari pagi kala itu terasa sangat hangat di antara kerumunan orang yang menjadi saksi pernikahan dua orang insan yang saling menemukan penyembuhan lukanya masing-masing. Angel terlihat sangat manis dengan balutan gaun putih susu, bermotif simpel namun tampak elegan semakin memancarkan aura ketenangan raut wajah Angel yang memang sejuk, sedangkan Erik tampak gagah dengan tampilan pakaian yang memang diserasikan dengan gaun pasangannya tak banyak pernak-pernik membuat keduanya tampil elegan dengan auranya masing-masing.“Ibuk ndak nyangka kamu bakalan ada di posisi seperti ini lagi Nduk! Maafin Ibuk yo selama ini Ibuk ndak punya kuasa buat nolongin kamu.” Surti menangis haru menyaksikan pernikahan putri pertamanya, bahkan tampilan suasana seperti ini tak pernah singgah dibenaknya setelah kejadian masa lalu yang begitu suram yang terjadi di antara mereka.Angel meraih tangan ibunya, menggenggamnya lembut seakan saling menguatkan, “Buk, ju
Tak ada senyum merekah, rumah berantakan, anak tak terurus.“Sialan Erik! Dia pasti sengaja ngasi tahu semua ini ... sekarang manusia itu bisa puas tapi aku ndak akan nyerah untuk merebut Angel dari hidupku! Dia pikir aku akan takut dengan dia begitu saja? Cuihhhh!” Amarah Malikh sudah mendidih.“HAHAHHAHAHAAA!” Tasya tertawa lebar tanpa rasa sungkan sedikit.BRAKKK! Malikh menggebuk meja di depannya, rahangnya mengeras tatapannya tajam mengarah ke Tasya.“Apa? Kamu mau marah? Suami macam apa kamu Mas di depan istri sah kamu masih ngarepin mantan istri secara terang-terangan!”“Seorang istri yang secara terang-terangan tidur dengan laki-laki lain ndak pantas membandingkan dirinya dengan kelakuanku! Kamu itu ndak usah sok baik Tasya, kamu pikir kamu adalah orang yang bersih dari dosa?”“Haduh susah ngomong sama orang yang buta hatinya! Kamu ndak pernah ngaca atau bagaimana sih? Kamu lihat dong dirimu sekarang, cacat ndak bisa kerja! Terus kamu mau sok-sokan ngerebut mantan
“Buk aku ke rumah sakit dulu yo! Loh, semua orang pada ke mana kok ndak ada siapa-siapa? Anak-anak juga ndak ada tumben pergi ndak ada bilang-bilang.” Pagi ini Angel tampak kemas namun terburu-buru, ia seperti kebingungan melihat kondisi pagi ini rumahnya sepi melompong tak ada siapa pun yang biasanya pagi-pagi akan diisi suara riuh pertengkaran dari Rafa dan Aira.“Hmm, aku lagi buru-buru anak-anak pasti ikut Ibuk aman! Mudah-mudahan Erik ndak kenapa-napa.” Rupanya yang membuat pagi Angel was-was adalah sesosok yang tengah mengisi hatinya. Pagi-pagi sekali Angel yang panik bergegas pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Erik baik-baik saja. Entah apa yang sebenarnya sedang terjadi, semua orang yang dihubungi Angel pagi ini seakan enggan mengangkat telepon darinya. Ia merasakan ada sesuatu hal yang aneh, pasalnya saat ia pergi ke rumah sakit tak ada nama pasien atas nama Erik di sana, perasaan Angel pun makin tak karuan.TINGG! [Suara pesan masuk]“Loh,
“Kapan Tante Tasya bilang begitu?”“Waktu di rumah Bapak tadi Buk,” jawabnya polos. “Apa maksud Tasya menjelaskan hal itu pada Aira?” Angel pun bertanya-tanya dan merasa curiga ada maksud dibaliknya.“Bagaimana Nduk, Malikh ada di rumah?”“Ada Buk, ya dia seperti biasalah di rumah saja memangnya
“Mas! Kenapa kamu babak belur begini?” Tasya keheranan melihat wajah Malikh sudah dihinggapi lebam di mana-mana.“Setsshh, orang lagi sakit bukannya di suruh masuk dulu malah ditanya-tanya!” jawabnya meradang.Tasya menyeka wajah Malikh dengan kain yang sudah dibasahi dengan air hangat.“Ini lah ak
“Mas Rafa, Ira kangen sama Bapak ... Bapak ke mana yo?”“Bapak kan tinggal sama Tante Tasya di rumah kita yang dulu, Ira kangen sekali yo sama Bapak?”“Hek’e Mas.” Sungguh malang nasib kedua bocah itu, di usia mereka yang sangat belia harus merasakan pahitnya perpisahan kedua orang tua
“Mas bangun Mas!”“Ekhhh, masih ngantuk!!!”“Mas memangnya sudah ndak mau uang lagi yo?”“Hah uang?” Malikh sontak terbangun dari tidur lelapnya. “Di mana ada uang?”“Makanya bangun dulu, nanti aku jelaskan!”“Iya-iya!” Malikh pun bangun tanpa keterpaksaan perkara uang.“Nah, jadi gini Mas! Aira su







