Share

Bab 4

Auteur: Bagel
Itu adalah sebuah rumah tepi danau di pinggiran kota Neroku. Pemandangannya indah, tetapi seperti penjara tanpa jeruji.

Aku bersandar di dinding dan merobek halaman lain dari kalender.

Seratus dua puluh tujuh hari telah berlalu sejak aku dikurung di dalam sangkar ini.

Perutku semakin besar dan bulat, berat seperti batu besar yang membuat setiap langkah menjadi perjuangan.

Alex tidak pernah datang.

Sepertinya Alex benar-benar tidak memiliki perasaan lagi untukku, dia hanya ingin menjagaku tetap hidup sampai bayi itu lahir.

Semua tahun-tahun cinta kami terasa seperti mimpi.

Kepala pelayan dan para pembantu menyajikan makanan dan minuman mewah setiap hari, seolah pesta hidangan lezat dan bergizi.

Bahkan, ada tim medis keluarga yang bersiaga di sini.

Tetapi, aku seperti mayat hidup yang hanya bisa menghitung hari. Alex telah memblokir semua sinyal ponsel dan internet. Pelayan baik hati yang bernama Mira, adalah satu-satunya sumber informasiku.

Dari waktu ke waktu, dia akan membawakan kabar tentang Alex yang diselundupkan di koran-koran tua dan lusuh.

Berita utama selalu menampilkan Sang Ketua Mafia yang menakutkan itu, Alex Riswaga.

Dia telah melancarkan "perang pembersihan". Karena provokasi Keluarga Furona, baku tembak di jalanan terus terjadi di kota Neroku.

Dan, di sisinya selalu ada Lila yang mengenakan rompi anti peluru.

Di mata publik, mereka mungkin adalah pasangan dunia mafia yang sempurna.

Aku tampak tenang di permukaan, tetapi di tengah malam, ketika rasa sakit kehamilan membangunkanku, aku masih akan memanggil namanya.

Aku tidak bisa menerimanya. Aku ingin bertanya kepada Alex, "Apa kau benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi?"

"Aku menulis begitu banyak surat untukmu. Mengapa kau tidak pernah membalasnya?"

Aku tidak tahu bahwa setiap teriakan minta tolong yang kutulis di secarik kertas kecil dan kupercayakan kepada Mira, semuanya tersimpan di laci Lila.

Setiap kali Alex rehat dari segudang urusan keluarga, dia akan bertanya tentang kemajuan pengiriman di Pesisir Timur, atau tentang bagaimana keadaanku.

Dan setiap kali, jawaban Lila selalu sama. "Ada beberapa kendala dengan pengiriman, Bos mungkin perlu menanganinya sendiri selama beberapa hari."

"Sedangkan untuk Nyonya, dokter bilang kondisinya stabil. Masih ada waktu untuk membicarakannya saat kembali nanti."

Selama beberapa bulan ini, adegan serupa terjadi berkali-kali.

Setiap kali Alex ingin mengunjungiku, Lila akan "secara kebetulan" memberikan dokumen-dokumen penting yang membutuhkan perhatiannya segera pada saat itu juga.

Kemudian, wanita itu akan mengatakan kepadanya bahwa semua mengenai keadaanku normal saja.

Dan begitulah, waktu pun terus berlalu, hari demi hari. Ketika air ketubanku pecah, itu jauh lebih berbahaya daripada yang kubayangkan.

Mengandung anak kembar berarti perut yang lebih besar dan rasa sakit dua kali lipat.

Rasa sakit menerjang tubuhku dalam gelombang yang tak henti-hentinya. Aku mencengkeram seprai, merasa seolah-olah bagian bawah tubuhku sedang dicabik-cabik.

"Mira, ponselnya ...." Aku bermandikan keringat dingin. Aku meraih pergelangan tangan Mira, kuku menancap ke kulitnya. "Berikan padaku .... Aku harus menelepon Alex! Aku akan mati ...."

Mira menatap wajahku yang pucat pasi, dan air mata mengalir di pipinya. Dia pun menggigit bibir dan mengeluarkan ponsel nomor sekali pakai dari dalam celemeknya, ponsel yang telah lama dia sembunyikan.

"Nyonya, cepat. Anda hanya punya waktu satu menit."

Dengan jari-jari gemetar, aku menekan nomor yang terukir di jiwaku.

Pertama kali, tidak ada jawaban.

Kedua kalinya, panggilan ditolak.

Aku menolak untuk menyerah dan menekan nomor itu lagi.

Sekalipun hanya ada peluang satu banding sejuta, sekalipun dia masih ingin membunuhku, aku tetap harus memberitahunya bahwa anak-anak ini adalah darah dagingnya.

"Halo?" Lila yang menjawab.

"Biarkan aku bicara dengan Alex ...." Aku terengah-engah, suaraku bergetar. "Aku akan melahirkan, aku mohon ... bayi-bayi ini tidak bersalah ...."

Suara lembut Lila terdengar dari ujung telepon. "Nyonya, waktunya tidak tepat."

"Bos tidak punya waktu untukmu sekarang. Aku baru saja tertembak demi dia dalam penyergapan di selatan kota."

"Dia sedikit sibuk memperhatikanku sekarang."

Sebelum aku bisa mencerna kata-katanya, raungan marah dan cemas Alex meletus di latar belakang. "Dokter! Di mana dokter sialan itu?! Lila berdarah."

"Aku baik-baik saja, Bos. Peluru itu hanya menyerempet lenganku. Ini hanya perlu diperban." Suara Lila terdengar sangat lemah. "Nyonya bilang dia akan melahirkan dan butuh dokter ...."

"Apa sudah waktunya melahirkan?" Suara Alex yang tidak sabar memecah kekacauan di rumah sakit. "Bukannya ada dokter keluarga di sana?"

"Dia baik-baik saja sebelumnya, jadi dia pasti baik-baik saja sekarang. Itu pasti cuma trik saja. Lila, kau yang butuh dokter. Kau tertembak demi aku."

"Tapi Nyonya ...."

"Lupakan dia!" Suara Alex penuh amarah. "Dia hanya mencoba menarik perhatianku. Lila, kau sudah melindungiku. Bagaimana aku bisa membiarkan sesuatu terjadi padamu? Hidupmu lebih berharga daripada permainan piciknya."

Isak tangis Lila terdengar di ujung telepon. "Bos, jangan bilang begitu .... Aku yakin Nyonya tidak bermaksud ...."

"Cukup!" Alex memotongnya. "Kau istirahat saja. Aku akan minta semua dokter untuk memeriksamu. Dan, Celia ... dia baik-baik saja. Biarkan dia menunggu!"

Sambungan telepon terputus tanpa ampun.

Pada saat itu, sebagian diriku seakan mati bersamanya.

Dia tidak percaya padaku ....

Di matanya, Lila, orang yang menghadang tembakan demi dia, adalah penyelamatnya. Dan aku hanyalah beban tak tahu malu, yang menimbulkan masalah di saat kritis.

Sebuah pesan teks dari Lila muncul di layar.

Layar hanya menampilkan beberapa baris kalimat: [Aku lupa memberitahumu, Alex tidak pernah melihat suratmu satu pun. Setiap kali dia berencana untuk menemuimu, “krisis keluarga” baru akan muncul di depannya.]

[Saat ini, dia sedang memegang tanganku, dia bilang aku adalah pahlawan sejati Keluarga Riswaga. Sedangkan kau hanya sendirian, Nyonya tersayang.]

Aku menatap kalimat itu, pandanganku kabur.

Benang kewarasanku yang rapuh akhirnya putus.

Rasa sakit yang menusuk merobek perutku, seolah-olah sesuatu di dalam diriku sedang dicabik-cabik dengan keras.

Aku ingin berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Kegelapan menyelimuti seakan menenggelamkanku.

Hanya jeritan ketakutan Mira yang terdengar dari kejauhan.

"Ya Tuhan! Nyonya, Anda mengalami pendarahan hebat! Darahnya terlalu banyak."
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Iris Hitam Yang Terbakar   Bab 11

    Aku pindah bersama Lukas ke sebuah rumah mewah di Menores.Itu adalah kehidupan yang penuh kebebasan, hanya untuk kami berdua.Namun, udara kebebasan selalu membawa aroma cendana yang familiar."Ma, ada bunga lagi di depan pintu."Lukas mengintip dari ambang jendela, menunjuk ke arah bawah.Setiap pagi, buket bunga iris segar dan sekotak kue krim yang baru dipanggang akan muncul di depan pintu kami.Tidak ada nama, tetapi aku tahu dari siapa itu.Alex tidak pernah mencoba memaksa masuk, juga tidak menyuruh orang mengikutiku. Dia hanya menjaga jarak, mengawasi kami seperti bayangan.Lalu suatu hari, Mario mengetuk pintu dan menyerahkan sebuah berkas tebal kepadaku."Nyonya," kata Mario. "Bos memintaku untuk memberikan ini padamu."Aku membuka berkas itu. Itu adalah surat pengalihan semua aset Keluarga Riswaga.Dermaga, kasino, hotel, jalur perdagangan senjata …. Nama penerima manfaat tertulis sebagai Lukas dan aku.Selain aset, ada juga perintah yang menetapkan aturan keluarga baru.Ale

  • Iris Hitam Yang Terbakar   Bab 10

    Sudut Pandang Celia.Aku tidak membukakan pintu hari itu, dan tidak melihat Alex untuk waktu yang lama setelah itu.Rumor mengatakan bahwa perselisihan di dermaga timur milik keluarga membuatnya sangat sibuk.Lalu, suatu hari, aku menerima undangan.Pesta ulang tahun keempat Lukas akan menjadi acara termegah yang pernah diadakan Keluarga Riswaga dalam tiga tahun terakhir.Aku berdiri di depan cermin, menyesuaikan gaun hitam panjangku, sementara Erik duduk di sofa sambil melihat undangan itu."Alex telah mengundang seluruh kepala keluarga di Neroku ke pesta ulang tahun ini.""Tapi undanganmu adalah yang paling istimewa."Aku mengambil undangan itu darinya. Huruf-huruf berhiaskan emas bertuliskan: [Kehadiran Nona Amelia sangat diharapkan pada perayaan ulang tahun keempat Lukas Riswaga]."Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan.""Sebuah akhir." Erik mengangkat bahu. "Dia sudah tahu siapa kau, dia juga sudah memiliki semua bukti melawan Lila.""Jadi, malam ini akan menjadi pertempuran tera

  • Iris Hitam Yang Terbakar   Bab 9

    Dalam rentang waktu tiga hari, Alex melepaskan badai yang tenang namun brutal di dalam Keluarga Riswaga.Anak buah Erik telah membantuku memasang alat penyadap di kediaman Riswaga.Setelah meninggalkan rumah sakit, aku mulai memantau setiap gerak-gerik Alex."Bos, kau harus melihat ini."Asisten pribadi Alex yang bernama Mario, memasuki ruang kerjanya sambil membawa setumpuk dokumen tebal.Alex sedang duduk di kursinya dengan segelas wiski di tangan. "Bicara.""Kami menemukan laporan tes DNA yang asli." Suara Mario bergetar."Ada di brankas pribadi Lila.""Apa?!"Alex langsung bangkit, gelas wiski jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai marmer."Dan ini ...." Mario menyebar dokumen-dokumen itu di atas meja."Catatan transaksi Lila dengan Keluarga Rosano tiga tahun yang lalu.""Dia membocorkan rute pengiriman kita kepada mereka dengan imbalan delapan puluh miliar.""Ada juga foto-foto palsu dan kwitansi untuk menyewa paparazi."Wajah Alex menjadi pucat pasi.Tangannya gemetar saat m

  • Iris Hitam Yang Terbakar   Bab 8

    Alex adalah orang gila.Setelah malam di teras itu, pengejarannya menjadi tanpa henti, dan terasa menyesakkan.Setiap pagi, mawar hitam yang tak ternilai harganya akan datang untuk memenuhi galeriku.Perhiasan edisi terbatas, seluruh restoran dipesan hanya untukku, dia bahkan membeli setiap lukisan di pameranku."Nyonya, Tuan Alex datang lagi," kata pelayan itu dengan hati-hati. "Membawa bunga yang sama."Ini adalah hari kesepuluh berturut-turut.Dia mencoba mengisi kekosongan di hatinya dengan uang, dan mengklaim diriku di depan seluruh Neroku."Katakan padanya aku tidak ada."Aku berbalik dan berjalan menuju ruang ganti.Ada lelang penting hari ini.Erik akan menungguku di sana.Kami perlu membahas langkah selanjutnya.Tetapi saat aku melangkah keluar dari gedung apartemen, aku melihat Alex keluar dari mobil mewahnya."Amelia," panggilnya.Aku tidak berhenti."Sudah kubilang, menjauh dariku.""Kalau begitu, aku akan mengikutimu." Dia berkata sambil melangkah lebar untuk mengejarku. "

  • Iris Hitam Yang Terbakar   Bab 7

    Keesokan harinya, aku menerima undangan dari Lila. Dan, aku tidak merasa terkejut."Aku ingin mengundangmu untuk makan malam bersama.""Tuan Alex sangat terkesan padamu dan berharap bisa mengenalmu lebih dekat."Aku duduk di dekat jendela apartemen yang besar membentang dari lantai hingga ke langit-langit, menatap lampu-lampu dari kediaman Riswaga di kejauhan."Tentu saja." Aku terkekeh. "Aku merasa terhormat."Itu adalah jebakan, dan aku tahu itu.Malam itu, Alex duduk di ujung meja, sedang memutar anggur merah di gelasnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lila duduk di seberangnya, berperan seperti nyonya rumah sambil mengarahkan para pelayan."Nona Amelia, ini risoto makanan laut," kata Lila dengan senyum palsu. "Aku dengar kau menghabiskan banyak waktu di Italina, jadi aku harap ini cukup otentik untuk seleramu."Dia sedang mengujiku.Celia yang dulu sangat alergi terhadap makanan laut. Satu gigitan saja sudah cukup untuk membuatnya mengalami syok anafilaksis dan sesak napas.Aku

  • Iris Hitam Yang Terbakar   Bab 6

    Sudut Pandang Celia."Nona Amelia, suaramu … sangat khas."Di depan cermin rias, penata gaya dengan hati-hati merapikan kalung berlianku, ujung jarinya menyentuh bekas luka bakar yang mengerikan di sisi leherku.Aku menatap wanita di cermin itu.Celia telah menjadi abu dalam kebakaran tiga tahun lalu.Aku menyentuh bekas luka di leher itu. "Tenggorokanku rusak karena asap," kataku dengan suara serak.Malam ini adalah pameran seni modern terbesar di Kota Neroku, dan merupakan proyek besar lain yang telah aku kurasi."Karya ini, 'Burung dalam Sangkar' benar-benar menakjubkan." Seorang kolektor paruh baya berseru kagum di sampingku. "Seniman ini telah menangkap keputusasaan dengan sangat realistis.""Itu karena dia melukis dirinya sendiri.""Dia adalah burung dalam sangkar emas yang mengira sangkar itu adalah seluruh dunia.""Hanya ketika api membakar sangkar itu hingga rata dengan tanah, barulah dia menyadari betapa luasnya langit yang sebenarnya."Sang kolektor mengangguk penuh pemikira

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status