Share

Bab 5

"Bagus!" Bayu segera menarik kertas yang baru selesai ditandatangani Raina. "Ingat, jadi istri yang patuh! Kalau tidak, tanggung sendiri akibatnya."

Raina tak menjawab.

Ucapan Bayu seakan mengandung makna mengerikan.

Apalagi, detik selanjutnya Bayu tiba-tiba beranjak dari sofa, dan berjalan ke arahnya.

Raina segera bersikap waspada.

Hanya saja, Bayu ternyata melewatinya begitu saja.

Langkah Bayu lurus ke arah kamar!

"Di sini hanya ada satu kamar, kamu tidur di ruang tamu untuk malam ini!" ucap Bayu tanpa menoleh.

Raina sontak bernafas lega. "Tidur di sofa jauh lebih baik, sangat empuk."

Sembari merenggangkan otot-otot yang telah bekerja keras di sepanjang hari ini, Raina membaca ulang selebaran berisi peraturan pernikahan kontrak yang ditinggalkan Bayu.

Rupanya tidak seburuk yang ia kira.

Terdapat beberapa hal menguntungkan baginya.

Seperti, selama pernikahan kontrak, mereka bebas menjalani kehidupan masing-masing.

Pekerjaan maupun pergaulan.

Mereka hanya perlu tampil mesra selayaknya suami istri di depan orang lain atau di tempat umum.

Lalu yang terakhir, paling penting bagi Raina, tidak ada hubungan suami-istri.

Mereka akan tidur terpisah!

"Baguslah ada peraturan begini." Raina tersenyum lega.

Meskipun peraturan lainnya lumayan melelahkan ….

Raina wajib bangun pagi-pagi.

Karena tidak ada pembantu, dia yang harus mencuci pakaian, memasak, menyapu, mengepel, membersihkan jendela setiap hari.

Kata setiap hari dipertegas oleh Bayu dengan kalimat, "Aku tidak suka kotor. Jadi, kebersihan harus benar-benar diperhatikan!"

Membayangkannya saja Raina merasa akan sangat kerepotan.

"Tapi nggak apa-apalah, seperti ini sudah sangat bagus," ucapnya menenangkan diri.

Ceklek!

Pintu kamar Bayu tiba-tiba terbuka.

Raina sontak terlonjak kaget dan bangun dari posisinya yang berbaring.

"Mau apa lagi dia?" Wajah Raina menegang saat melihat Bayu keluar dari dalam kamar.

Pria itu sedang berjalan ke arahnya.

Bug!

Tiba-tiba saja, bantal dan selimut dilempar ke arahnya, hingga tangan Raina sigap menangkap.

Tanpa sepatah kata pun, Bayu segera berbalik dan kembali ke kamar.

Lagi-lagi Raina yang terlalu berprasangka tidak baik terhadap Bayu. Namun, perempuan itu tak bisa disalahkan juga karena pertemuan keduanya sangat buruk.

"Belum satu jam tinggal bersama, aku hampir jantungan. Apalagi harus sampai satu tahun?" keluh Raina.

Sungguh, dia belum terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Mereka memang hanya menjalani pernikahan kontrak, tetapi tinggal satu atap tetap saja meresahkan.

"Demi anak-anak, aku pasti bisa melalui semua ini," ucapnya menyemangati diri.

Direbahkannya diri lagi di sofa.

Dalam hitungan kurang dari 5 menit, ia pun terlelap.

Untungnya, Raina masih bisa bangun tepat waktu.

Dia berencana menyelesaikan semua pekerjaan yang menjadi tugasnya pagi itu.

Hanya saja, ia tersadar ada sesuatu yang berbeda: lampu ruangan tampak padam.

Raina sontak kebingungan mencari letak saklar lampu. Dia ingin menghidupkannya kembali supaya bisa memulai bekerja.

Dalam gelap, ia meraba-raba.

Raina hampir mencapai tembok, tetapi rencana tidak berjalan semulus yang diharapkan.

Jedug!

"Arrgh!"

Kepala Raina kepentok benda yang cukup keras.

Klik!

Pada detik yang hampir bersamaan lampu ruangan tiba-tiba menyala.

Raina tersentak kaget karena Bayu yang ternyata menghidupkan lampu.

Dan benda yang ditabrak Raina adalah … siku Bayu.

Perempuan itu reflek memundurkan langkah saat menyadari berada pada posisi yang sangat intim dengan Bayu.

Ia berdiri di depan dada Bayu!

"Kamu ngapain, pagi-pagi sudah berisik?" omelnya.

"Ma-maafkan aku membangunkanmu,” gugup Raina, “aku hanya mau nuntasin pekerjaan, biar nanti tidak telat ke sekolah."

Bayu menatap Raina penuh arti.

Raina tak mau kalah. Dia membalas tatapan Bayu dengan cukup berani.

Perang tatap berlangsung singkat, sampai Bayu melangkah pergi begitu saja–menyisakan Raina seorang diri.

Dia menatap pintu kamar Bayu yang telah tertutup sambil mengernyitkan dahi.

"Dasar orang aneh!" omel Raina yang merasa pria itu dingin dan cuek, tetapi anehnya memiliki hati yang lembut.

Buktinya dia diam-diam mematikan lampu ruang tamu semalam, ketika mendapati Raina terlelap supaya Raina bisa tidur lebih nyenyak, kan?

Ceklek!

Bayu tiba-tiba membuka lagi pintu kamarnya dalam hitungan menit.

Pria itu berjalan mendekatinya.

Raina memundurkan langkah perlahan hingga punggung mentok menyentuh tembok, bersikap waspada takut Bayu memukulnya karena sudah mengumpati pria itu.

"Untukmu!" Bayu tiba-tiba menyodorkan baju padanya.

Raina meraih dengan ragu-ragu.

"A-apa ini?"

"Pakaian ganti, memakai jeans saat tidur pasti tidak nyaman, kan?"

Usai menjelaskan, Bayu lagi-lagi pergi begitu saja.

Raina pun memperhatikan sehelai kaos dikombinasi dengan celana pendek selutut.

Ia sontak menggelengkan kepala.

Seharusnya, Bayu memberikannya saat malam tadi.

Namun, tak dipungkiri, terdapat perasaan hangat menyelimuti hati Raina kala mendapati sikap Bayu yang ternyata lumayan baik terhadapnya.

"Setidaknya nikah kontrak tidak terlalu buruk juga." Raina tersenyum tipis.

Memang sudah beberapa tahun ini, dia hidup seorang diri setelah kematian kedua orang tuanya.

Kakak laki-lakinya yang terjerumus perjudian juga tak pernah kembali. Jadi, Raina sangat kesepian.

Perlakuan kecil dari Bayu ini terasa cukup bermakna.

Akan tetapi, penilaian baik terhadap Bayu segera lenyap dalam hitungan detik.

"Tapi, dia kok punya pakaian perempuan?" bingung Raina.

Raina membuang pakaian yang diberikan Bayu ke tempat sampah, ia merasa enggan mengenakan pakaian itu.

"Tapi, kalo aku membuangnya bajingan itu pasti marah!" batinnya berkonflik, "Ahh!"

Mau tidak mau ia harus memungut kembali pakaian itu, serta pergi menggantinya.

Bersambung ….

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status