Share

Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai
Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai
Author: Maidina Asifa

Buka Mata

Author: Maidina Asifa
last update publish date: 2026-07-16 21:23:25

"Kamu yakin dia tidak akan tahu?"

Suara Larisa menembus dinding kamar tamu. Pelan, berbisik, tapi cukup tajam untuk merobek keheningan malam.

Maya berhenti tepat di depan kamar itu. Jemarinya membeku di atas permukaan dinding yang dingin, sementara dadanya naik-turun menahan detak jantung yang mendadak berdegup liar.

"Dia buta, Lar. Dia bahkan tidak bisa melihat wajahku sendiri," jawab Adrian. Desahan kecil menyertai kalimat itu, menyebarkan rasa mual yang mengaduk perut Maya.

Maya berdiri kaku. Ruang tamu di belakangnya gelap gulita, sengaja tidak ia nyalakan karena orang-orang di rumah ini selalu menganggap seorang tunanetra seperti dirinya tidak membutuhkan cahaya. Selama lima tahun terakhir, kegelapan adalah satu-satunya ruang yang disediakannya untuk dunia. Namun malam ini, kegelapan itu justru berbalik menjadi pelindung terbaiknya.

Di dalam genggamannya yang gemetar, sebuah amplop putih berisi hasil pemeriksaan dari klinik dokter Bagas terasa begitu berat. Kabar keajaiban yang membawa secercah harapan, bahwa koreksi operasi korneanya berhasil dan penglihatannya berangsur pulih.

Belum sempat Maya sampaikan pada siapa pun. Ia sempat membayangkan reaksi bahagia Adrian saat mendengar kabar ini. Kini, kabar itu berubah menjadi pisau yang menusuknya tepat di dada.

Maya melangkah maju, perlahan dan tanpa suara. Setiap inci ubin dingin di bawah telapak kakinya telah ia hafal luar kepala dari hitungan ribuan hari. Namun malam ini, ia tidak butuh lagi hitungan langkah untuk memandu jalan.

Matanya—mata yang mereka sangka telah mati, saat ini menangkap seberkas garis cahaya dari celah pintu kamar yang renggang. Penglihatannya yang belum stabil menyajikan bayangan kabur dengan pinggiran siluet yang tajam.

Di sana, di atas tempat tidur, dua bayangan bergerak terlalu dekat, menyatu tanpa sekat. Maya menahan napas rapat-rapat, memaksa tubuhnya tetap diam dan memainkan peran sebagai wanita buta tak berdaya yang selama ini mereka kenal.

"Kalau Papa tahu—"

"Papa koma, Lar. Dia tidak akan tahu apa-apa lagi." Suara Adrian terdengar sangat datar, begitu dingin dan terbiasa.

Darah Maya serasa berhenti mengalir. Punggung tangannya membekap mulut rapat-rapat, menahan jeritan yang nyaris meledak di tenggorokan. Dari celah sempit itu, bayangan yang tadinya kabur perlahan melurus menjadi kenyataan pahit. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Adrian—suaminya, merengkuh tubuh Larisa. Jemari lelaki itu melingkar mesra di pinggang adik kandungnya sendiri, diselingi bisikan dan sentuhan yang tampak begitu terbiasa.

Tidak mungkin, batin Maya. Matanya memanas saat pandangannya mulai mengabur oleh air mata. Mereka... tega melakukannya di rumah ini? Di kamar yang sama saat Papa masih terbaring lemah di rumah sakit?

"Maya makin aneh belakangan ini," bisik Larisa di sela napasnya yang memburu. Tangannya membelai rahang Adrian dengan keintiman yang menuntut.

"Kemarin dia jalan ke dapur tanpa memegang tembok sama sekali," lanjutnya.

"Dia sudah lima tahun buta, Lar. Orang buta pasti hafal denah rumahnya sendiri," sahut Adrian acuh tak acuh, memiringkan kepalanya seolah menikmati sentuhan itu. "Jangan paranoid."

Bulir-bulir bening akhirnya lolos meniti pipi Maya. Ia terpaksa memejamkan mata sejenak. Rasa perih akibat bayangan menyakitkan itu jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit saat korneanya dioperasi. Penglihatan yang baru kembali ini rasanya bukan lagi berkah, melainkan sebuah kutukan yang meremukkan seluruh hidupnya.

Ingatan Maya melompat mundur ke enam bulan lalu, saat bayangan pernikahan ini belum menjadi mimpi buruk. Bagi Maya, pernikahan bisnis itu hanyalah sebuah bentuk kewajiban demi menyelamatkan nama besar keluarga.

Saat itu, di balik gaun pengantin serba putih yang berat dan kaku, Maya hanya bisa mengandalkan pendengarannya yang tajam. Ia ingat betul bisikan Devan—sahabat kecilnya, di dekat pintu belakang gedung resepsi yang bising.

"Kamu masih bisa mundur, Maya," bisik Devan saat itu dengan nada cemas yang tertahan. "Perusahaan Adrian yang butuh suntikan dana, bukan keluargamu. Kamu tidak harus mengorbankan hidupmu untuk lelaki yang bahkan tidak kamu kenal."

Tetapi Maya saat itu memilih bertahan. "Papa butuh kepastian ini, Devan. Aku sudah biasa menanggung banyak hal, satu lagi tidak akan membunuhku."

Hari itu, Maya memang tidak bisa melihat bagaimana rahang Adrian mengeras kaku saat berdiri di sampingnya di hadapan para tamu undangan. Maya juga tidak tahu bagaimana pandangan mata Adrian saat mengikat janji suci, apakah ada kejujuran di sana, atau sekadar sandiwara. Yang Maya ingat, genggaman tangan Adrian di altar terasa sedingin es, seolah-olah menyentuh benda mati.

Maya baru menyadari sekarang, mungkin selama ini Larisa yang berdiri di barisan depan tamu bukan sekadar adik yang terharu, melainkan wanita yang menatap pengantin pria dengan kepemilikan yang tertahan dan rasa iri yang terpendam.

Dulu, Maya berpikir Adrian hanya lelaki kaku dan pendiam yang terpaksa menikahi wanita cacat demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang terancam bangkrut. Maya memaklumi dinginnya sikap Adrian selama enam bulan ini karena menganggap mereka hanyalah dua orang asing yang dipaksa berbagi tempat tidur. Maya bahkan sering kali menyalahkan dirinya sendiri atas jarak yang membentang di antara mereka.

Namun malam ini, di depan kamar tamu, kebenaran itu menghantamnya tanpa ampun hingga ke dasar.

Maya baru paham, Adrian tidak dingin pada wanita. Adrian hanya dingin padanya. Dan Larisa—adik yang selama lima tahun ini selalu bersikap manis, memeluknya dengan hangat, dan telaten berpura-pura merawatnya, ternyata adalah orang yang menyuapkan racun paling mematikan dalam hidupnya.

Dada Maya bergemuruh hebat. Air matanya telah mengering, menyisakan tatapan tajam yang tak pernah dilihat oleh siapa pun selama lima tahun terakhir. Penglihatannya yang baru pulih dipaksa menyaksikan pengkhianatan paling busuk di dalam rumahnya sendiri.

Maya tidak sanggup lagi berdiri di sana. Ia memutuskan untuk mundur perlahan, berniat pergi sebelum rasa mualnya meluap menjadi jeritan.

Namun, di dalam kegelapan lorong dan gejolak emosi yang membakar kepalanya, ujung kakinya tanpa sengaja menyenggol meja konsol kecil di sudut dinding.

PRANG!

Sebuah vas keramik tersapu jatuh, hancur berkeping-keping menghantam ubin dingin. Suaranya bergema nyaring, membelah keheningan malam rumah besar itu.

Jantung Maya serasa berhenti berdetak. Dalam hitungan detik, gagang pintu kamar tamu berputar kasar. Pintu terbuka lebar, memancarkan cahaya terang dari dalam kamar. Adrian dan Larisa muncul di ambang pintu dengan napas memburu dan raut wajah panik yang tak sempat disembunyikan.

"Maya?!" suara Adrian melengking kaget, matanya melotot menatap sosok istrinya yang berdiri hanya dua langkah di depan pintu.

Di belakang Adrian, Larisa dengan cekatan merapikan gaun tidurnya yang kusut, wajahnya pucat pasi bertatapan langsung dengan sang kakak.

Tepat saat dua pasang mata itu menyapu ke arahnya. Refleks Maya pun bekerja cepat. Sorot matanya yang tajam mendadak meredup, berganti menjadi tatapan kosong, rapuh, dan tanpa fokus.

Dengan gerakan gemetar yang teramat alami, Maya berjongkok ke ubin. Tangannya terulur ke udara, meraba-raba pecahan keramik di sekitarnya seolah-olah ia berada di dalam kegelapan yang pekat.

"A-aw..." bisik Maya serak, sengaja membiarkan jemarinya tergores pecahan vas, hingga meneteskan darah segar. Wajahnya terangkat ke arah suara pintu, menatap lurus ke wajah Adrian tanpa mengedipkan mata, berakting seolah lelaki di depannya hanyalah sekadar bayangan hitam. "Adrian...? Larisa...? Itu kalian?"

Adrian dan Larisa membeku di tempat, mematung menyaksikan reaksi Maya.

"Adrian?" Jari-jari Maya yang berdarah masih berpura-pura meraba ubin dingin. "Aku... aku tadi mendengar suara gaduh dari kamar ini. Aku cuma mau mengecek, tapi malah menyenggol sesuatu."

Larisa mengembuskan napas lega yang begitu kasar, sementara Adrian menghela napas panjang. Ketegangan di wajah lelaki itu berangsur mengendur, berganti kembali menjadi raut dingin dan jengkel yang biasa.

Adrian melangkah maju, menghindari pecahan keramik, lalu mencengkeram pergelangan tangan Maya dengan kaku untuk memaksanya berdiri tanpa sedikit pun kepedulian pada jemari istrinya yang meneteskan darah.

"Iya, aku baru ke sini," kebohongan itu meluncur dingin dari bibir Adrian, sama sekali tidak berniat menenangkan. "Makanya jangan keluyuran malam-malam kalau tidak bisa melihat. Hanya bikin repot."

Di balik wajah rapuhnya yang menunduk pasrah saat dituntun, Maya mengukir senyum samar di balik kegelapan—sebuah senyuman yang menyembunyikan badai di dalam dadanya.

Lelaki yang berdiri di sampingnya ini adalah suaminya. Lelaki yang telah merebut sisa hidupnya, sekaligus lelaki yang kini membagikan kehangatan pada adiknya sendiri.

Kamu pikir aku akan menyerahkan semuanya begitu saja pada Larisa, Adrian? batin Maya saat melangkah kaku mengikuti cengkeraman tangan suaminya. Atau kamu yang akan berlutut memohon saat sadar permainan siapa yang sebenarnya baru saja dimulai?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Layani Aku Menantuku

    "Siapa kalian!"Maya terbangun dengan napas memburu dan kepala yang serasa dihantam beban berat. Efek obat bius yang menyengat masih menyisa di tenggorokannya, meninggalkan rasa pahit, mual, dan pening yang menusuk hingga ke ubun-ubun. Namun, rasa kantuk dan pusingnya seketika sirna berganti ketakutan hebat saat menyadari kedua pergelangan tangan dan kakinya terikat amat erat pada sebuah kursi kayu tebal di tengah ruangan tua berdebu yang minim pencahayaan.Ia menjerit histeris ketika matanya yang buram perlahan menyesuaikan diri dengan kegelapan, menangkap siluet beberapa pria berbadan tegap yang berdiri mengelilinginya dalam sunyi bagai algojo."Tuan Putri sudah bangun rupanya."Sebuah suara berat, serak, dan penuh intrik mengalun dari kegelapan sudut ruangan. Seorang pria tua—berusia sekitar awal lima puluhan, dengan paras yang tampak sedikit lebih muda dari Pak Wijaya—melangkah maju membelah remang cahaya. Wajahnya keras, dihiasi garis-garis kejam dengan kumis tebal yang merawat k

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Tiga Hari Lagi

    "Semua sudah hampir selesai, Pak. Gedung, dekorasi, hingga pengamanan privat untuk Tuan Muda Arka dan Pak Wijaya sudah rampung seratus persen," ujar Rian, orang kepercayaan Devan, melalui sambungan telepon dengan suara mantap."Bagus, Rian. Pastikan tidak ada celah sekecil apa pun. Tiga hari lagi adalah hari terpenting dalam hidupku," balas Devan, suaranya mengalun berat namun sarat akan kebahagiaan murni saat jemarinya memutar kemudi mobilnya membelah gurat jingga sore ibu kota."Siap, Pak Devan. Nona Maya sangat beruntung memiliki Anda," sahut Rian penuh rasa hormat sebelum menutup sambungan telepon.Devan tersenyum tipis, menatap jalanan kota yang dihiasi pendar lampu yang mulai menyala. Tanpa menunda waktu, ia segera menyambungkan ponselnya ke nomor wanita yang kini memenuhi seluruh relung pikirannya."Tiga hari lagi, Maya..." suara Devan mengalun hangat di seberang telepon, terdengar begitu dalam dan sarat akan kerinduan. "Rasanya masih seperti mimpi. Aku takut kalau aku memejamk

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Persiapan Wedding D****e

    "Aku mau pernikahan ini bukan cuma sekadar pesta megah, Devan. Aku mau ini jadi awal dari hidup yang baru untuk kita dan Arka," ujar Maya pelan, menatap lurus ke sepasang mata Devan saat berita pertunangan mereka melesat cepat bak gempuran badai, mendominasi headline media cetak, televisi, hingga portal berita bisnis internasional. Kabar bahwa dua sosok terkuat di balik kejayaan Wijaya Empire akan bersatu tak hanya mengguncang ibu kota, tetapi juga menyebar hingga ke luar daerah dan pelosok negeri. Semua orang membicarakan bagaimana Maya berhasil bangkit dari pengkhianatan masa lalu, menghentikan intrik kejam musuh-musuhnya, dan kini melangkah menuju pelaminan bersama pria yang selalu berdiri di sisinya."Serahkan semuanya padaku, Baby." Di tengah riuk-pikuk pemberitaan yang kian liar, Devan fokus pada satu hal: mewujudkan wedding dream Maya tanpa celah sedikit pun. Bagi Devan, Maya telah terlalu banyak menelan pahitnya penderitaan dan pengkhianatan. Kini, sudah saatnya ia merayakan

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Lamaran Untuk Maya

    "Terima kasih atas perhatian palsumu selama ini, Chandra," potong Maya dingin menembus mikrofon, suaranya mengalun tajam menghentikan langkah pria itu di tengah kerumunan.Layar proyektor raksasa di belakang panggung masih memancarkan dokumen resmi penolakan hak waris klan Wibowo saat dua petugas kepolisian mengunci pergelangan tangan Chandra dan Lavina dengan borgol besi. Bunyi klik logam yang beradu bergema kaku, memutus seluruh ambisi kedua dalang kejahatan itu di hadapan ratusan pasang mata elit London.Devan melangkah perlahan mengikis jarak. Langkah kakinya mantap, penuh dominasi mutlak. Dengan kedua tangan tersimpan santai di saku celana bahan mewahnya, ia menghampiri Chandra yang kini berdiri kaku menahan kemurkaan.Devan menyunggingkan senyum kemenangan yang teramat dingin, menatap lurus ke dalam iris mata Chandra yang menyala oleh rasa benci."Bukan hanya ular cobra yang bisa tertangkap, Chandra," bisik Devan rendah, intonasinya begitu tenang namun meneteskan cemoohan tajam.

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Titik Akhir Dendam Lavina dan chandra

    Layar proyektor raksasa itu memancarkan pendar cahaya terang, menampilkan cuplikan video secara gamblang. Suara Lavina terdengar begitu jernih memantul di setiap sudut grand ballroom, mengakui setiap niat jahatnya, aksinya memancing emosi Maya, hingga tawa ejekannya yang menghina sisa penderitaan keluarga Maya.Belum sempat para tamu memproses rasa terkejut mereka, layar berganti menampilkan dokumen rahasia: lembar demi lembar bukti transfer bank Zurich dengan angka fantastis. Aliran dana rahasia itu mengalir langsung dari rekening cangkang milik klan Wibowo—keluarga yang sudah menjadi rahasia umum di dunia bisnis sebagai musuh bebuyutan yang terobsesi meruntuhkan Maya sejak bertahun-tahun lalu."Bohong! Semua ini rekayasa! Video ini editan!" jerit Lavina histeris. Wajah cantiknya kini merah padam, hancur oleh rasa malu yang teramat sangat. Ia mengamuk tanpa kendali, menghempaskan cangkir dan peralatan makan di mejanya hingga berdenting keras menghantam lantai.Dengan mata memerah ibl

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Pertunjukkan Lukisan

    Malam puncak peringatan ulang tahun Wijaya Empire di grand ballroom hotel Rosewood London berlangsung megah. Ratusan kolega bisnis, investor kelas atas, dan jajaran pemegang saham hadir memenuhi ruangan bernuansa emas tersebut. Di antara kerumunan, Chandra berdiri anggun menggenggam gelas sampanye, sementara Lavina tampil memukau dalam balutan gaun merah, bergelayut manja di lengan Devan yang berpura-pura menikmati sandiwara itu."Tatap semua orang di sini, Devan," bisik Lavina penuh kemenangan di samping Devan. "Malam ini, semua mata tertuju pada kita. Maya bukan lagi siapa-siapa bagimu."Devan menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Fokus saja pada acaranya, Lavina. Jangan sampai karena hal kecil kau merusak malam ini."Tak lama kemudian, Maya melangkah naik ke atas panggung utama dalam balutan gaun hitam polos yang elegan. Tepuk tangan riuh seketika membahana memenuhi ruangan."Selamat malam, para hadirin yang terhormat," sapa Maya anggun di depan mikrofon, suaranya mengalun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status