Share

Tawaran Dari London

Author: Maidina Asifa
last update publish date: 2026-07-21 16:41:35

"Aku harap yang tadi malam adalah kekacauan yang terakhir kamu buat," kata Adrian sembari memasang kancing kemejanya di depan cermin besar.

Maya duduk di tepi ranjang. Jemari tangan kanannya terbebat kasa putih. Rasa nyeri dari bekas sayatan keramik semalam masih menusuk, tetapi ucapan Adrian terasa jauh lebih mematikan. Lelaki itu bahkan tidak menanyakan apakah lukanya serius atau perbannya perlu di ganti.

Maya melirik sekilas dari pantulan cermin, di iris mata hitam legam itu tak ada sedikit pun kehangatan.

"Aku cuma ingin mengambil minum semalam," sahut Maya pelan.

"Ada pelayan, kamu tinggal panggil," balas Adrian tajam. Ia menyambar jam tangan mewahnya dari atas meja. "Jangan bersikap seolah kamu bisa melakukan semuanya sendiri. Kamu buta, Maya. Sadar diri, jangan semakin menjadi beban."

Maya mengepalkan tangan kirinya di atas pangkuan. Ucapan itu menghantam dada, tetapi tidak ada lagi air mata yang lolos. Di balik pandangan redup yang ia tampilkan, matanya yang sebenarnya sudah pulih merekam jelas betapa tidak pedulinya Adrian. Kalimat sederhana itu memantapkan satu hal di dalam benaknya, selama enam bulan ini, Adrian memang tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri, melainkan beban yang harus ditanggung.

Ketika langkah kaki Adrian menjauh dari pintu, Maya menghembuskan napas panjangnya. Ia meraba-raba nakas, mencari tongkat lipatnya, lalu berjalan perlahan menuju ruang makan.

Sementara di meja makan, Larisa sudah duduk rapi. Gaun merah muda yang dikenakannya tampak mencolok, dipadu senyum yang begitu manis dipasangnya kala melihat Maya mendekat.

"Kak Maya! Hati-hati Kak, jangan sampai menyenggol vas lagi," seru Larisa bergegas berdiri dan memegang siku Maya, membimbingnya duduk di kursi. "Ya ampun, tangan Kakak masih dibebat begitu lagi? Tau nggak, Kak, semalam aku takut sekali waktu mendengar suara keramik pecah. Untung Adrian langsung ada di sana untuk menolong Kakak."

Ingin rasanya Maya memutar bola mata malas, terlebih aroma parfum adiknya sangat menusuk indera penciuman. "Kamu di mana semalam, Larisa? Aku tidak mendengar suaramu, padahal aku manggil-manggil kamu," pancing Maya tenang. Matanya menatap lurus ke wajah Larisa yang sontak berekspresi tegang.

Namun hanya beberapa detik, wanita cantik yang berusia lebih muda satu tahun dari Maya itu cepat menguasai diri. Ia menyentuh punggung tangan Maya yang terbalut kasa dengan raut khawatir buatan.

"Aku di kamar mandi bawah, Kak. Setelah keluar, Adrian sudah membawa Kakak kembali ke kamar. Aku lega sekali. Coba kalau Adrian tidak ada, pasti tangan Kakak terluka lebih parah," ujar wanita itu pintar memberikan alasan tanpa cela.

"Begitu ya? Hm, memang Adrian selalu ada di tempat yang tepat," sahut Maya sembari tersenyum mengembang, menyembunyikan badai yang sedang meretakkan sisa-sisa kesabarannya.

Hingga waktu bergeser ke siang hari, rumah besar itu mulai lengang. Adrian pergi ke kantor, sementara Larisa pamit menemui temannya. Maya duduk sendiri di taman belakang, namun di beberapa menit kemudian langkah sepatu yang sangat familiar terdengar mendekat dari arah pintu samping.

"Pakai kaca mata ini untuk menyamarkan matamu, ingat! masih ada pelayan Adrian yang bisa membocorkan rahasiamu kapan saja," bisik Devan cepat seraya menarik kursi untuk duduk di sebelah Maya.

Maya memakai kaca mata hitam tersebut, mengerjapkan mata, ia pun mencoba memfokuskan penglihatan pada Devan yang mengenakan jaket kulit hitam dengan raut wajah tenang. Lelaki itu menyodorkan sebuah map tebal berwarna cokelat ke atas meja glass.

"Apa ini?" tanya Maya seraya membuka map tersebut.

"Kesempatan yang pernah hilang lima tahun lalu," jawab Devan.

Tangan Devan menunjuk pada lembar pertama dokumen berkop bahasa Inggris. "Galeri Saint Martin di London membuka program residensi untuk tiga pelukis Asia. Pemilik galerinya membaca ulang arsip karya-karyamu sebelum kecelakaan itu. Mereka menginginkanmu, Maya."

Maya terpaku pada dokumen itu. Matanya menyapu deretan kalimat tercetak di atas kertas putih. Kenangan masa lalu mendadak berhamburan kembali. Sebelum kecelakaan tragis itu merenggut penglihatannya dan memaksa ayahnya mengatur pernikahan bisnis ini, Maya adalah seorang pelukis muda berbakat. Ia pernah mengurung diri di studio berhari-hari hanya demi menyelesaikan satu kanvas.

"Mereka mau menampungku?" ragu Maya bertanya dengan suaranya yang bergetar. "Tapi aku sudah lima tahun tidak menyentuh kuas. Semua orang pasti mengira aku tidak bisa melukis lagi."

"Dunia seni tidak pernah melupakan namamu, Maya. Cuma kamu yang menguburnya demi pria yang bahkan tidak mau melihat wajahmu selama enam bulan ini," kata-kata Devan terasa tajam. Matanya baru melirik pada perban di tangan Maya. "Siapa yang melukaimu? Adrian lagi?"

"Aku menyenggol vas," potong Maya cepat.

"Jangan bohong padaku. Aku tahu kamu sudah bisa melihat lagi sejak tiga hari lalu," Devan condong ke depan, menyangkal pembelaan Maya. Memeriksa dengan seksama perban di tangan Maya, dia menghembuskan napas kasar saat wanita itu meringis kesakitan.

"Kamu kehilangan lima tahun hidupmu, dan mengubur enam bulannya di rumah ini, Maya. Kamu mau mengorbankan berapa tahun lagi untuk pria yang membagikan tempat tidurnya dengan adikmu sendiri?"

Pertanyaan Devan bak belati yang menancap tepat di jantung. Maya menunduk, jemarinya masih menyentuh erat lembaran proposal itu. Dilema menyerangnya, sebab di dasar hatinya yang paling dalam, masih ada pecahan harapan yang membodohinya—harapan bahwa Adrian mungkin bisa berubah jika mengetahui kebenaran dia sudah bisa menjadi wanita normal.

"Aku masih berstatus istrinya, Devan," gumam Maya pelan.

Devan menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. "Ada hal penting lain yang harus kamu baca di lembar terakhir."

Maya membalik kertas itu cepat. Matanya tertuju pada tanggal batas akhir pendaftaran dan kepastian keberangkatan yang tercetak tebal di bagian bawah.

"Tiga bulan," monolog Maya membaca tulisan itu.

"Ya. Programnya dimulai tepat tiga bulan dari sekarang. Kalau kamu tidak terbang ke London pada tanggal itu, slotmu akan diberikan kepada pelukis lain," jelas Devan tegas. "Batas waktu tiga bulan jadi pertimbangan yang pas untuk pernikahanmu ini, Maya. Dalam waktu tiga bulan kamu harus memilih untuk masa depanmu,."

Maya tertegun. Garis takdir seolah sengaja bersinergi. Ucapan Devan menyentil nurani untuk menguji sang suami apakah masih pantas mendapat toleransi?

"Pikirkan baik-baik. Jangan biarkan mentalmu dibunuh habis-habisan di rumah ini," ucap Devan.

Maya memejamkan erat matanya, bayangan ruangan yang dulu dia isi sebelum kegelapan lima tahun merenggutnya berbaur dengan bau minyak cat. Dari balik jendela kaca besar yang menerangi ruangan, dia bebas mengekspresikan diri pada sebuah kanvas putih.

Tabung-tabung cat, kuas-kuas kayu siap memberikan warna pada kegelapan hidupnya lagi. Batu di dadanya mendadak runtuh. Maya terisak tanpa suara. Air matanya menetes membasahi telapak tangan.

Kali ini Maya tidak menangis karena kalimat kasar Adrian pagi tadi. Ia juga tidak menangis karena melihat Larisa berpura-pura polos di meja makan.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Maya menangis karena menyadari satu hal yang teramat berharga: ia belum mati. Di balik kebutaan buatan dan kehancuran rumah tangganya, jiwa pelukis di dalam dirinya masih berdenyut menuntut untuk dibebaskan.

Maya mengusap air matanya kasar. Tatapannya menajam menembus bayangan kanvas di hadapannya. Tangan kirinya yang bebas merogoh tangan Devan yang siap pergi.

"Devan..." kata Maya serak.

"Ya, Maya? Ada apa?" suara Devan terdengar cemas.

"Aku akan pergi ke London."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Perayaan Kehamilan Maya di Kantor

    Ruang ballroom utama gedung Wijaya Empire dipenuhi riuh tepuk tangan dan tawa riang para karyawan. Banner raksasa bertuliskan Apresiasi & Syukuran Keluarga Besar Wijaya membentang megah di panggung utama.Hari itu, Devan menutup seluruh operasional kantor lebih awal. Pria itu menyewa restoran-restoran bintang lima di sekitar kawasan bisnis untuk menyediakan makan siang gratis bagi seluruh staf, lengkap dengan bingkisan berlogo klan keluarga yang berisi bonus tunai dan perhiasan emas kecil sebagai tanda sukacita."Sekali lagi, terima kasih atas kerja keras kalian selama ini," ujar Devan tegas melalui mikrofon di atas panggung, satu tangannya merangkul rapat pinggang Maya yang berdiri anggun di sampingnya. "Hari ini, saya dan istri ingin membagi kebahagiaan. Mohon doa terbaik untuk kesehatan istri dan calon anak kami."Sorak-sorai dan doa tulus bergema dari ratusan karyawan yang hadir.Maya berdiri di samping Devan dengan mata berkaca-kaca. Jemarinya mencengkeram erat lengan jas suaminy

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Devan! Stop, Jangan!

    Mobil sedan hitam mewah Devan terparkir tepat di seberang kedai es campur durian langganan mereka. Devan tidak membiarkan Maya turun sendiri; pria itu mengawal istrinya ketat, melingkarkan satu tangannya di pinggang Maya dengan protektif saat mereka mendekati meja kayu di sudut kedai.Sesuai kesepakatan, Maya benar-benar menepati janjinya. Ia hanya memakan satu ulas kecil buah durian di atas mangkuk es campurnya."Enak banget, Devan..." gumam Maya riang, menyuap sendok esnya dengan binar mata yang berbinar puas.Devan yang duduk di sampingnya mengusap lembut kepala Maya, meresapi senyum bahagia sang istri. "Sudah kan? Cuma satu ulas. Habiskan esnya saja, duriannya jangan ditambah lagi.""Iya, Papa Devan yang rewel," tawa Maya renyah, meletakkan sendoknya karena mangkuknya sudah bersih.Ketika mereka berdiri dan bersiap melangkah kembali ke mobil, area kedai mendadak ramai oleh rombongan pemuda yang berjalan terburu-buru. Salah satu dari mereka yang sibuk bermain ponsel tidak memperhat

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Seulas Kecil Duren

    Devan mengusap wajahnya kasar. Pria tegap yang biasanya memenangkan setiap negosiasi bisnis bernilai triliunan rupiah itu kini tampak benar-benar kewalahan di hadapan istrinya yang sedang merajuk."Maya, dengarkan aku dulu," bisik Devan lembut, merengkuh jemari dingin Maya walau wanita itu terus berusaha menarik tangannya. "Jangan menangis lagi, ya? Nanti kepalamu makin pusing."Maya bergeming, membelakangi Devan seraya mengusap air matanya dengan ujung lengan baju.Devan menarik napas panjang, mencoba jurus baru. "Bagaimana kalau kita beli tas baru? Kamu mau Hermes edisi terbaru yang kamu lihat di majalah kemarin? Atau kita pesan perhiasan buatan tangan dari Italia? Apa pun yang kamu mau, aku belikan sekarang juga, Sayang. Asal kamu tidak menangis lagi dan mau maafkan aku.""Aku nggak butuh tas atau perhiasan!" pangkas Maya lemas dengan suara yang serak akibat terisak. "Aku cuma mau melukis, tapi kamu malah menguncinya!"Devan mengusap tengkuknya yang mendadak terasa panas. Semua taw

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Suami Posesif

    "Devan, sakit..." bisik Maya parau.Kuas cat berujung kayu di tangan Maya terlepas, jatuh meluncur di atas lantai kayu studio kaca dan meninggalkan bercak warna biru muda. Maya mendadak memegangi perut bagian bawahnya, wajahnya yang tadinya berseri seketika pucat pasi bersimbah keringat dingin.Devan yang baru saja melangkah masuk membawa segelas susu hangat langsung melempar nampan di tangannya ke atas meja. Gelas kaca itu berdenting keras, namun Devan sama sekali tidak peduli.Dalam hitungan detik, Devan sudah berlutut di samping kanvas, menyangga tubuh Maya yang perlahan terkulai lemas."Mana yang sakit, Sayang?! Bagian mana?!" cecar Devan dengan suara bariton yang melengking panik. Napas pria tegap itu memburu parau, matanya membelalak lebar melihat raut kesakitan di wajah istrinya."Perut bawah... agak keram..." meringis Maya, mencengkeram erat kerah kemeja Devan. "Aduh, Devan... sakitnya makin terasa."Tanpa membuang waktu satu detik pun dan tanpa meminta persetujuan, Devan meny

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Studio Lukis Untuk Maya

    "Devan, aku mau tetap bekerja di Wijaya Empire minggu depan, ya," ucap Maya memotong keheningan sarapan pagi mereka dengan nada membujuk manja.Jemari Devan yang sedang memegang cangkir kopi mendadak berhenti di udara. Pria itu meletakkan cangkirnya perlahan ke atas tatakan porselen, lalu menatap Maya dengan raut wajah yang langsung berubah serius."Tidak. Aku sama sekali tidak mengizinkan," pangkas Devan tegas tanpa ragu sedikit pun. "Kamu sedang hamil muda, Maya. Bekerja di kantor dengan tekanan rapat dan tumpukan berkas itu berisiko tinggi. Dokter di Paris kemarin sudah wanti-wanti agar kamu banyak istirahat.""Devan, aku cuma mau bantu Papa mengawasi divisi kreatif!" hela Maya, mencoba bernegosiasi. "Aku nggak bakal lembur, kok.""Tetap tidak, Nyonya Devan," sahut Devan dingin dan tak terbantahkan. "Kesehatanmu dan bayi kita itu prioritas utama. Lagian Papa juga tidak akan mengizinkan kamu bekerja."Maya mendengkus pelan, menyilangkan kedua tangan di dada seraya menawar kembali. "

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Menetap Di Jakarta

    "Arka," panggil Devan sekali lagi tetap dengan suara pelan seraya mengetuk pintu tiga kali secara teratur.Tidak ada jawaban suara, hanya terdengar isak tangis pelan yang diredam di balik selimut.Devan menarik kunci cadangan dari atas kosen pintu, memutar kuncinya perlahan lalu melangkah masuk. Di atas ranjang empuknya, Arka meringkuk membentuk bulatan kecil di bawah selimut gambar dinosaurus. Devan berlutut di tepi ranjang, menarik lembut ujung selimut hingga memperlihatkan wajah kecil Arka yang memerah bersimbah air mata."Kenapa Arka bilang Mama sama Papa jahat?" tanya Devan lembut, mengusap air mata di pipi gembil bocah itu."Karena... kata teman Arka di sekolah, kalau Mama punya bayi baru, Arka nggak bakal dipeluk lagi," bisik Arka sesenggukan, matanya menatap Devan dengan pendar ketakutan murni. "Papa Devan juga pasti cuma sayang sama adik bayi..."Devan tersenyum hangat. Ia merengkuh tubuh kecil Arka ke dalam dekapannya yang kokoh, mengangkat bocah itu lalu mendudukkannya di a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status