MasukKeesokan harinya, perasaan bahagia yang melonjak dua kali lipat di kediamaku. Suasana di dalam mansion kami terasa begitu hidup dan hangat karena semua orang berkumpul di sini. Akhir-akhir ini, para orang tua—baik orang tuaku maupun papa Arturo—memang jauh lebih sering menghabiskan waktu luang mereka di rumah kami alih-alih di kediaman mereka sendiri. Mansion yang dulunya terasa sunyi kini selalu dipenuhi riuh tawa.“Kalau bisa, cepat buatkan adik baru lagi untuk Gabriel, Emelia. Papa masih ingin punya cucu yang banyak agar rumah ini semakin ramai,” ujar papa Arturo tiba-tiba, saat kamu berkumpul di ruang tengah. Raut wajahnya tampak cemberut, mengingat sejak tadi belum kebagian menggendong cucunya.“Lah? Daripada menuntut istriku, kenapa Papa saja tidak menikah lagi?” Bukan aku yang menyahut, melainkan Samuel yang langsung memotong dengan nada santai.Pria itu kemudian bergeser mendekat, merangkul
POV EmeliaAku tidak pernah bisa menolak sentuhan lembut tangan Samuel. Jemari kokoh yang selalu berhasil mengalirkan rasa nyaman, sekaligus benteng pertahanan terkuat yang membuatku merasa terlindungi sepenuhnya semenjak aku menyandang status sebagai istrinya. Beban trauma, ketakutan akan kehilangan, dan bayang-bayang masa lalu seketika menguap setiap kali tubuhku merapat dalam dekapannya.Setelah memastikan Gabriel benar-benar terlelap nyenyak di dalam boks bayinya yang terletak di sudut ruangan, Samuel kembali menghampiriku di atas ranjang. Ia mulai memanjakanku dengan rangkaian kecupan-kecupan kecil yang hangat. Yang membuat tubuhku semakin terbakar akan gairah.Awalnya ia mengecup keningku dengan khidmat, lalu turun ke kedua belah pipi, sebelum akhirnya mengunci bibirku dengan lumatan lembut yang penuh tuntutan manis. Kecupannya perlahan bergeser turun ke ceruk leher, menyesap kulitku di sana dan membuatku refleks mendongak pasrah. Sensa
“Samuel...!”Aku segera menyambut tubuh Emelia ke dalam pelukanku, mendekapnya erat-erat begitu aku melangkah masuk ke dalam ruang keluarga mansion utama. Kuhirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang familier, menyalurkan rasa rindu yang teramat membuncah meski kami sebenarnya hanya berpisah selama beberapa hari saja.“Bahagia sekali istriku ini, hmm?” ujarku lembut sembari mengelus rambut panjangnya yang halus.Emelia mengangguk mantap. Ia mendongak, menatapku dengan sepasang netra yang berbinar penuh kebahagiaan. “Hm! Aku sudah diceritakan oleh Papa Lucas semuanya, Samuel. Aku sangat bahagia karena orang-orang jahat yang menculik dan merencanakan kehancuran bagi keluarga kita sekarang sudah hancur total!”“Benar, Sayang. Sekarang kamu tidak perlu merasa takut lagi. Aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan ada satu pun bajingan yang berani menyentuhmu dan anak kita lagi,” balasku meyakinkan.Emelia kemb
“Rencana apa yang akan kamu ambil selanjutnya, Samuel?” tanya Papa Lucas memecah keheningan malam di ruang kerjanya. Pria paruh baya itu menatapku dengan sorot mata yang sarat akan ketegasan.Aku menyesap cairan alkohol di dalam gelasku perlahan, membiarkan rasa hangatnya membakar tenggorokan sejenak sebelum meletakkannya kembali ke atas meja kaca dengan ketukan yang pelan namun pasti.“Seperti rencana awal kita, Papa,” jawabku dengan nada suara bariton yang teramat tenang namun dingin. “Kita hancurkan Jon Mateo beserta seluruh sekutunya. Kita ratakan semuanya dari akar yang paling dalam. Meskipun akan terasa sedikit berat mengingat dia memiliki jaringan bawah tanah yang cukup besar, tapi... kenapa tidak? Jika kita menggabungkan seluruh pasukan kita, jelas jauh lebih besar dan mengerikan dibandingkan mereka, bukan?” jelasku dengan tenang.Papa Lucas menganggukkan kepalanya pelan, seulas senyuman tipis penuh kebanggaan terukir di wajahnya yang mulai bergaris. “Papa setuju. Eksekusi mat
Aku sengaja membiarkan Bianca bergerak sesuka hatinya di dalam mansion ini. Kuperhatikan setiap detail pergerakannya melalui layar monitor tersembunyi, mengamati bagaimana perempuan sialan itu dengan percaya diri menyusun strategi busuk untuk merebut Gabriel kembali. Aku bahkan tahu persis saat jemari lentiknya menaruh kamera mata-mata berukuran kecil, serta menyebarkan alat penyadap suara di berbagai sudut strategis lantai bawah.Aku hanya tersenyum kecil, menganggap semua upayanya tak lebih dari lelucon murahan. Untungnya, aku sudah menyiapkan rencana lain yang jauh lebih rapi. Benar. Agar mansion ini masih memancarkan atmosfer yang meyakinkan—lengkap dengan sayup suara tangisan bayi yang direkam khusus—aku telah menempatkan seorang wanita dari tim khusus yang postur tubuhnya sangat mirip dengan Emelia. Aku juga meletakkan sebuah boneka yang canggih seberat bayi normal di dalam boks, agar Bianca sama sekali tidak menaruh curiga sedikitpun.Melalui earpiec
Beberapa hari belakangan ini, kehidupan keluarga kecil kami akhirnya diliputi oleh kebahagiaan yang begitu murni. Kondisi psikologis Emelia menunjukkan grafik peningkatan yang luar biasa setelah sesi terapi waktu itu. Ia tidak lagi didera oleh ketakutan yang berlebihan. Hanya saja, jika menyangkut masalah pelayan rumah, Emelia memang masih belum bisa menaruh kepercayaannya begitu saja. Ia masih menolak bayinya disentuh oleh para pekerja domestik di mansion ini. Dan aku sangat memahami serta memaklumi hal itu. Bagiku, tidak masalah sama sekali, meski sebagian besar pelayan di rumah ini sebenarnya sudah bekerja mengabdi bersamaku selama bertahun-tahun.Hingga pada suatu pagi yang cerah, sebuah laporan khusus mendadak mendarat di ponsel pribadiku. Kabar yang sudah lama kunantikan akhirnya tiba. Sinyal pergerakan dari Bianca Perez terdeteksi secara akurat. Dengan penampilan fisik barunya hasil meja operasi plastik, perempuan sialan itu rupanya memilih untuk datang s
Aku benar-benar merasa pria yang kini menjadi suamiku itu gila.Ya, gila! Samuel De Leon sama sekali tidak memiliki perikemanusiaan. Seluruh tubuhku terasa remuk, terutama pinggangku yang serasa ingin patah karena sejak tadi harus memunguti ribuan daun yang berguguran di halaman luas itu.Aku mengh
“Ini kamar Anda, Nyonya...”Aku menatap kamar yang baru saja ditunjukkan pelayan padaku. Ruangannya cukup besar, bahkan sangat luas jika dibandingkan dengan kamarku di rumah lama yang hanya berisi kasur tipis yang membuat sekujur tubuhku pegal setiap pagi.“Aku tidur sendiri?” tanyaku langsung. Men
Pov Emelia “Menikahlah dengan Tuan Samuel, Emelia!”Aku terdiam mendengar Ayah memintaku menikah dengan pria yang sama sekali tidak kukenal. Kutatap wajahnya dengan tenang. Aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres, mengingat selama ini Ayah selalu memanjakan Bianca, adikku, melebihi diriku. Har
Kami baru saja menginjakkan kaki di rumah, bahkan baru beberapa menit memasuki kamar utama kami yang luas dan familier. Namun, saat aku berbalik untuk membantunya melepaskan jaket, aku menyadari sesuatu yang salah. Warna kulit di wajah Samuel tiba-tiba berubah drastis menjadi teramat pucat, nyari







