MasukAku tidak tahu tugas apa lagi yang akan diberikan padaku. Sejak satu jam yang lalu, Samuel hanya terpaku menatap layar laptop di meja kerjanya, sementara aku diperintahkan berdiri mematung di sudut ruangan.
Apa pria ini tidak punya rasa kasihan? Bayangkan saja, kakiku sudah terasa kebas karena berdiri hampir satu jam lebih. Aku merasa kehadiranku di sini tak lebih dari sekadar pajangan atau hantu penunggu ruangan.
Karena rasa lelah dan kantuk yang mulai menyerang, aku berinisiatif untuk menyelinap keluar. Aku melangkah dengan sangat pelan, mengendap-endap di belakang kursi roda Samuel layaknya seorang pencuri yang takut tertangkap basah. Berharap pria yang tampak sangat sibuk itu tidak menyadari pergerakanku.
Namun, harapanku pupus seketika. Suara bariton Samuel yang berat memecah kesunyian, membuatku mematung di tempat.
“Mau ke mana kamu, Emelia?”
Aku berbalik perlahan, menatapnya dengan wajah yang dibuat semelas mungkin. “Aku lelah, Samuel. Aku juga mengantuk. Ini sudah larut malam, apa aku boleh tidur?” jawabku, mencoba memancing simpati dari suamiku yang terkenal kejam itu.
“Tidak. Kamu harus tetap di sini selama aku masih bekerja.”
Aku mengembuskan napas panjang. Sebenarnya aku tidak keberatan jika disuruh duduk atau sekadar menemani, tapi berdiri di pojok ruangan benar-benar menyiksa.
“Kamu ini kenapa tidak punya perikemanusiaan, sih? Minimal, kasihanilah sedikit istrimu ini. Suruh aku duduk atau rebahan jika memang kamu butuh teman di sini,” protesku berani.
Kulihat Samuel menghela napas pelan. Sejenak, ia melepaskan pandangannya dari layar laptop. “Duduklah kalau begitu,” ucapnya singkat.
Aku tersenyum puas. Namun, alih-alih duduk di sofa empuk yang tersedia di sana, aku justru melangkah mendekat. Dengan gerakan provokatif, aku langsung naik dan duduk di atas meja kerjanya, tepat di hadapan pria itu. Aku tidak akan melewatkan satu pun kesempatan untuk meruntuhkan tembok pertahanannya.
“Apa yang kamu lakukan, Emelia?!” bentak Samuel, terkejut melihat tindakanku.
“Lah, katanya kamu menyuruhku duduk. Ya, aku duduk, Samuel.”
“Tapi tidak di atas meja kerja juga!” sahutnya dengan nada kesal yang tertahan.
Aku mengangguk seolah mengerti, namun detik berikutnya aku justru melakukan hal yang lebih gila. Aku berpindah posisi, duduk tepat di pangkuannya. Seketika, Samuel menatapku dengan sorot mata yang sangat tajam, namun aku bisa merasakan tubuhnya menegang.
“Sakit, tidak? Aku tidak berat, kan?” tanyaku dengan nada menggoda.
Samuel diam membisu. Tatapannya menunjukkan kemarahan, tapi aku tidak gentar. Justru dengan sengaja aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya, membawa wajahku semakin dekat dengan wajahnya yang tampan.
“Kenapa diam? Mau mendorongku lagi? Atau... kamu malah menikmati ini?” tantangku saat dia hanya terpaku. “Aku ini sudah menjadi istrimu. Hal seperti ini sudah biasa dilakukan suami istri, Samuel. Atau, kamu mau kita lanjut ke tahap yang lain?”
“Pergi, Emelia...” desisnya rendah.
Aku tidak bergeming. Alih-alih pergi, aku justru semakin mendekatkan wajahku hingga napas kami bersinggungan.
Cup.
Dengan berani, aku mengecup pipinya sekilas. Aku tersenyum tipis karena dia hanya diam tak berkutik. Namun, saat aku hendak mendaratkan ciuman di bibirnya, dia dengan cepat menolehkan wajah ke samping, menolak sentuhanku.
“Pergi, Emelia! Sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran dan memberimu hukuman yang jauh lebih berat!” ancamnya dengan suara yang bergetar menahan emosi.
Melihat kilat amarah yang mulai membara di matanya, aku pun terpaksa berdiri. Aku bisa saja menarik kepalanya dan menciumnya secara paksa, tapi aku tidak ingin terburu-buru. Aku akan meruntuhkan tembok pertahanannya sedikit demi sedikit, sampai dia sendiri yang memohon padaku.
“Selamat malam, Suamiku. Jangan tidur terlalu larut,” ujarku pelan sembari melangkah pergi meninggalkan ruang kerja itu dengan senyum kemenangan yang masih menghiasi bibirku.
***
Pagi itu, aku tidak mendapatkan tugas apa pun dari Samuel. Bahkan hingga siang berganti sore, batang hidung pria itu sama sekali tidak terlihat. Aku mulai merasa bosan karena tidak ada pekerjaan yang bisa kulakukan.
Membantu pelayan lain bersih-bersih rumah? Oh, tentu tidak! Aku tidak akan menyentuh sapu atau kain pel jika bukan Samuel sendiri yang memerintahkannya.
Alhasil, sejak tadi aku hanya bisa mengerecoki pelayan lain, menonton televisi, dan sesekali tidur siang. Meski hidupku kini jauh lebih nyaman, aku merasa ada yang hilang. Aku merindukan wajah dingin dan tatapan tajam Samuel.
Di mana dia? Apakah dia mengurung diri di kamar, di ruang kerja, atau malah pergi keluar? Tidak ada satu pun pelayan yang tahu, atau mungkin mereka memang sengaja merahasiakannya dariku.
Karena tidak tahan lagi, aku keluar dari kamar dan berniat menyusuri istana megah itu. Aku segera menghampiri salah satu pengawal pribadi yang biasanya selalu berada di dekat Samuel.
“Hei, kamu!” panggilku.
“Iya, Nyonya? Apa Anda membutuhkan sesuatu?” tanyanya sopan.
“Di mana suamiku? Kenapa Samuel sejak pagi tidak kelihatan?”
“Tuan ada di kamarnya, Nyonya. Beliau baru saja kembali setelah urusan di luar.”
Mendengar penjelasan itu, aku langsung berlari menuju kamarnya. Masa bodoh jika kehadiranku hanya akan membuahkan tugas baru atau omelan ketus. Aku hanya ingin kembali melihatnya, kembali menggodanya hingga pertahanannya runtuh.
Sesampainya di depan pintu kamar Samuel, aku mengetuk pelan. Karena tidak ada sahutan, aku memberanikan diri membukanya. Kamar itu terasa sunyi. Aku tidak menemukan keberadaan Samuel di atas ranjang maupun di meja sudut.
“Apa dia sedang mandi?” gumamku pelan.
Dugaanku benar. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Samuel keluar dengan kursi roda otomatisnya. Napasku tertahan seketika. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot bidangnya yang masih basah terkena sisa air. Keinginan untuk menyentuh kulitnya yang kokoh itu kembali membuncah di dadaku.
“Apa yang kamu lakukan, Emelia? Sudah kukatakan, jangan pernah masuk ke kamarku!” bentaknya. Suara dinginnya memecah lamunanku.
“Kan aku istrimu,” jawabku santai tanpa rasa takut sedikit pun.
“Kamu tahu sendiri kalau kamu itu…”
“Apa?” potongku cepat sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. “Aku hanya istri jaminan? Aku hanya pelayanmu? Begitu, kan?” Aku mengucapkannya dengan nada mengejek, seolah sudah hafal luar kepala dengan naskah yang akan dia bawakan.
“Sudah tahu, kan? Sekarang keluar dan jangan pernah masuk lagi!”
“Bagaimana kalau aku tidak mau?” tantangku sembari melangkah mendekat.
“Jangan membuatku marah, Emelia!”
“Memangnya kalau kamu marah, apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku dengan nada menantang, kini jarakku hanya tinggal selangkah darinya.
“Kamu tahu sendiri bagaimana aku kalau sudah kehilangan kendali.”
Aku tidak menjawab. Alih-alih mundur, aku justru menggelengkan kepala pelan. “Aku tidak tahu, karena aku belum pernah melihatmu benar-benar marah padaku,” ucapku berani tepat di depan wajahnya.
Samuel terdiam. Aku tersenyum tipis, menatap lekat tubuh atletis yang selama ini hanya bisa kubayangkan. Tanganku sudah gatal ingin menyentuhnya.
“Pergi, atau aku akan memanggil pengawal untuk…”
“Apa? Memberikanku pada mereka?” potongku lagi. Kali ini, aku langsung mendudukkan diriku di pangkuannya, membuat kursi roda itu sedikit bergeser. “Serius mau memberikanku pada mereka? Aku ini istrimu, Samuel. Kenapa tidak kamu saja yang menyentuhku? Kamu tahu, aku belum pernah merasakan ciuman selama ini. Aku ingin tahu rasanya, apa kamu mau mengajariku?” godaku dengan suara rendah yang serak.
Kutatap mata Samuel yang masih mematung. Dengan berani, aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya, menarik wajahnya agar semakin dekat. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang mulai tidak beraturan di permukaan kulitku.
Tanpa menunggu persetujuannya, aku menempelkan bibirku di bibirnya.
Hanya sebuah kecupan...
Namun, aku menekannya lama, mencoba mencari celah di balik kebekuan sikapnya. Aku ingin melihat reaksinya, ingin merasakan gejolak di balik topeng dinginnya. Sayangnya, Samuel hanya diam mematung dengan sorot mata sedingin es yang menusuk, seolah aku hanyalah angin lalu yang tak berpengaruh apa pun baginya.
***
Pov Samuel.“Tuan, perusahaan Pedro Perez tidak bisa melunasi utangnya tepat waktu.”Mendengar laporan orang kepercayaanku, aku hanya diam dengan tatapan mata yang setajam elang. Meskipun aku jarang menampakkan diri di perusahaan sejak kecelakaan tragis tiga tahun lalu, semua orang masih segan dan menakutiku. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa aku telah berubah menjadi monster yang haus darah.“Jika dia tidak bisa membayar, suruh dia bayar dengan nyawanya!” ucapku tegas, tanpa nada belas kasihan sedikitpun.“Tuan, dia... dia menawarkan putrinya sebagai jaminan.”Aku menyunggingkan senyum sinis. Bagaimana bisa seorang ayah begitu tega menjual darah dagingnya sendiri hanya untuk melunasi utang? Benar-benar menjijikkan.“Katakan padanya, anak yang dia tawarkan itu akan menjadi budak di sini selamanya.”“Baik, Tuan,” jawab pengawalku sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan ruang kerjaku.Ruangan ini adalah duniaku selama tiga tahun terakhir. Di sinilah aku memantau seluruh pergera
Aku menarik kepalaku perlahan karena tidak kunjung mendapat balasan dari Samuel. Namun, baru beberapa sentimeter wajahku menjauh, tangan Samuel tiba-tiba menyambar tengkuk leherku. Ia menarikku kembali dengan sentakan kuat, lalu langsung membungkam bibirku dengan ciuman yang penuh nafsu dan memburu.Dalam hati, aku bersorak penuh kemenangan. Aku tidak tinggal diam, kubalas ciuman Samuel dengan gairah yang tak kalah membara. Aku melumat bibirnya, menuntut lebih, sementara tanganku mulai bermain di sela-sela rambutnya. Ini adalah respons yang sangat kunantikan.Ciuman itu terlepas dengan napas yang sama-sama memburu. Namun, saat aku menatap matanya, sorot itu kembali mendingin dan datar, seolah gairah tadi hanyalah ilusi sesaat.“Pergi…” desisnya rendah.Mendengar pengusiran itu, aku menatapnya heran. Bagaimana bisa, setelah ciuman sepanas itu, aku langsung diusir begitu saja? Harusnya Samuel bertanggung jawab. Aku merasakan gejolak lain di dalam dadaku, aku menginginkan lebih dari seka
Aku tidak tahu tugas apa lagi yang akan diberikan padaku. Sejak satu jam yang lalu, Samuel hanya terpaku menatap layar laptop di meja kerjanya, sementara aku diperintahkan berdiri mematung di sudut ruangan.Apa pria ini tidak punya rasa kasihan? Bayangkan saja, kakiku sudah terasa kebas karena berdiri hampir satu jam lebih. Aku merasa kehadiranku di sini tak lebih dari sekadar pajangan atau hantu penunggu ruangan.Karena rasa lelah dan kantuk yang mulai menyerang, aku berinisiatif untuk menyelinap keluar. Aku melangkah dengan sangat pelan, mengendap-endap di belakang kursi roda Samuel layaknya seorang pencuri yang takut tertangkap basah. Berharap pria yang tampak sangat sibuk itu tidak menyadari pergerakanku.Namun, harapanku pupus seketika. Suara bariton Samuel yang berat memecah kesunyian, membuatku mematung di tempat.“Mau ke mana kamu, Emelia?”Aku berbalik perlahan, menatapnya dengan wajah yang dibuat semelas mungkin. “Aku lelah, Samuel. Aku juga mengantuk. Ini sudah larut malam,
Aku benar-benar merasa pria yang kini menjadi suamiku itu gila.Ya, gila! Samuel De Leon sama sekali tidak memiliki perikemanusiaan. Seluruh tubuhku terasa remuk, terutama pinggangku yang serasa ingin patah karena sejak tadi harus memunguti ribuan daun yang berguguran di halaman luas itu.Aku menghembuskan napas panjang sembari merebahkan diri. Setidaknya, ada satu hal yang patut kusyukuri, malam ini aku bisa tidur di atas ranjang yang empuk. Penderitaanku tidak terasa begitu parah dibandingkan saat di rumah orang tuaku. Di sini, aku juga bisa makan sepuasnya tanpa harus menunggu sisa makanan mereka atau izin dari Ibu.“Sepertinya aku memang bukan anak kandung mereka,” gumamku lirih.Pikiran itu selalu melintas setiap kali aku mengingat bagaimana mereka memperlakukanku selama dua puluh lima tahun ini. Namun, aku segera menepisnya. Semuanya sudah menjadi masa lalu. Sekarang aku sudah lepas dari neraka itu dan resmi menjadi bagian dari keluarga De Leon.Kini, fokusku hanya satu, bertaha
“Ini kamar Anda, Nyonya...”Aku menatap kamar yang baru saja ditunjukkan pelayan padaku. Ruangannya cukup besar, bahkan sangat luas jika dibandingkan dengan kamarku di rumah lama yang hanya berisi kasur tipis yang membuat sekujur tubuhku pegal setiap pagi.“Aku tidur sendiri?” tanyaku langsung. Mengingat statusku sudah menjadi istri sah, bukankah seharusnya aku berbagi kamar dengan suamiku?“Iya, Nyonya. Kamar Tuan Samuel ada di lantai tiga,” jawab pelayan itu sopan.Aku mengembuskan napas panjang dan mengangguk. Mataku tertuju pada sudut ruangan, di sana sudah tersusun beberapa setel seragam pelayan. Ah, jadi mereka benar-benar ingin menjadikanku babu di rumah ini.Tiba-tiba sebuah ide cemerlang terlintas di benakku. Tanpa sepatah kata pun, aku langsung melangkah keluar mencari keberadaan kamar suamiku di lantai tiga.Napas kuterengah-engah saat menaiki anak tangga satu per satu. Namun, aku terus menguatkan diri. Sial, kenapa aku naik tangga kalau ada lift? keluhku dalam hati saat ti
Pov Emelia “Menikahlah dengan Tuan Samuel, Emelia!”Aku terdiam mendengar Ayah memintaku menikah dengan pria yang sama sekali tidak kukenal. Kutatap wajahnya dengan tenang. Aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres, mengingat selama ini Ayah selalu memanjakan Bianca, adikku, melebihi diriku. Harusnya Bianca yang diminta, bukan aku.“Kenapa harus aku? Kenapa tidak Bianca saja?” tanyaku dengan wajah datar.“Adikmu masih terlalu muda, Emelia!” sahut Ibu yang baru saja datang membawa secangkir teh hangat untuk Ayah.Mendengar itu, aku tersenyum sinis. Masih muda? Alasan yang sangat tidak masuk akal mengingat kita hanya selisih dua tahun saja. Tahun lalu saja, aku harus merelakan pria yang kusukai demi Bianca yang ternyata juga mencintainya.“Maaf, aku tidak bisa, Ayah. Aku tidak mau menikah,” tolakku langsung.“Berani membantah, Emelia? Kamu harus menikah dengan Presdir Samuel, mau atau tidak! Kamu harus menjadi jaminan karena Ayahmu punya utang besar pada perusahaannya!” ujar Ibu deng







