Share

Kecupan

Author: iindwi_z
last update publish date: 2026-05-12 22:56:00

Aku tidak tahu tugas apa lagi yang akan diberikan padaku. Sejak satu jam yang lalu, Samuel hanya terpaku menatap layar laptop di meja kerjanya, sementara aku diperintahkan berdiri mematung di sudut ruangan.

Apa pria ini tidak punya rasa kasihan? Bayangkan saja, kakiku sudah terasa kebas karena berdiri hampir satu jam lebih. Aku merasa kehadiranku di sini tak lebih dari sekadar pajangan atau hantu penunggu ruangan.

Karena rasa lelah dan kantuk yang mulai menyerang, aku berinisiatif untuk menyelinap keluar. Aku melangkah dengan sangat pelan, mengendap-endap di belakang kursi roda Samuel layaknya seorang pencuri yang takut tertangkap basah. Berharap pria yang tampak sangat sibuk itu tidak menyadari pergerakanku.

Namun, harapanku pupus seketika. Suara bariton Samuel yang berat memecah kesunyian, membuatku mematung di tempat.

“Mau ke mana kamu, Emelia?”

Aku berbalik perlahan, menatapnya dengan wajah yang dibuat semelas mungkin. “Aku lelah, Samuel. Aku juga mengantuk. Ini sudah larut malam, apa aku boleh tidur?” jawabku, mencoba memancing simpati dari suamiku yang terkenal kejam itu.

“Tidak. Kamu harus tetap di sini selama aku masih bekerja.”

Aku mengembuskan napas panjang. Sebenarnya aku tidak keberatan jika disuruh duduk atau sekadar menemani, tapi berdiri di pojok ruangan benar-benar menyiksa.

“Kamu ini kenapa tidak punya perikemanusiaan, sih? Minimal, kasihanilah sedikit istrimu ini. Suruh aku duduk atau rebahan jika memang kamu butuh teman di sini,” protesku berani.

Kulihat Samuel menghela napas pelan. Sejenak, ia melepaskan pandangannya dari layar laptop. “Duduklah kalau begitu,” ucapnya singkat.

Aku tersenyum puas. Namun, alih-alih duduk di sofa empuk yang tersedia di sana, aku justru melangkah mendekat. Dengan gerakan provokatif, aku langsung naik dan duduk di atas meja kerjanya, tepat di hadapan pria itu. Aku tidak akan melewatkan satu pun kesempatan untuk meruntuhkan tembok pertahanannya.

“Apa yang kamu lakukan, Emelia?!” bentak Samuel, terkejut melihat tindakanku.

“Lah, katanya kamu menyuruhku duduk. Ya, aku duduk, Samuel.”

“Tapi tidak di atas meja kerja juga!” sahutnya dengan nada kesal yang tertahan.

Aku mengangguk seolah mengerti, namun detik berikutnya aku justru melakukan hal yang lebih gila. Aku berpindah posisi, duduk tepat di pangkuannya. Seketika, Samuel menatapku dengan sorot mata yang sangat tajam, namun aku bisa merasakan tubuhnya menegang.

“Sakit, tidak? Aku tidak berat, kan?” tanyaku dengan nada menggoda.

Samuel diam membisu. Tatapannya menunjukkan kemarahan, tapi aku tidak gentar. Justru dengan sengaja aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya, membawa wajahku semakin dekat dengan wajahnya yang tampan.

“Kenapa diam? Mau mendorongku lagi? Atau... kamu malah menikmati ini?” tantangku saat dia hanya terpaku. “Aku ini sudah menjadi istrimu. Hal seperti ini sudah biasa dilakukan suami istri, Samuel. Atau, kamu mau kita lanjut ke tahap yang lain?”

“Pergi, Emelia...” desisnya rendah.

Aku tidak bergeming. Alih-alih pergi, aku justru semakin mendekatkan wajahku hingga napas kami bersinggungan.

Cup.

Dengan berani, aku mengecup pipinya sekilas. Aku tersenyum tipis karena dia hanya diam tak berkutik. Namun, saat aku hendak mendaratkan ciuman di bibirnya, dia dengan cepat menolehkan wajah ke samping, menolak sentuhanku.

“Pergi, Emelia! Sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran dan memberimu hukuman yang jauh lebih berat!” ancamnya dengan suara yang bergetar menahan emosi.

Melihat kilat amarah yang mulai membara di matanya, aku pun terpaksa berdiri. Aku bisa saja menarik kepalanya dan menciumnya secara paksa, tapi aku tidak ingin terburu-buru. Aku akan meruntuhkan tembok pertahanannya sedikit demi sedikit, sampai dia sendiri yang memohon padaku.

“Selamat malam, Suamiku. Jangan tidur terlalu larut,” ujarku pelan sembari melangkah pergi meninggalkan ruang kerja itu dengan senyum kemenangan yang masih menghiasi bibirku.

***

Pagi itu, aku tidak mendapatkan tugas apa pun dari Samuel. Bahkan hingga siang berganti sore, batang hidung pria itu sama sekali tidak terlihat. Aku mulai merasa bosan karena tidak ada pekerjaan yang bisa kulakukan.

Membantu pelayan lain bersih-bersih rumah? Oh, tentu tidak! Aku tidak akan menyentuh sapu atau kain pel jika bukan Samuel sendiri yang memerintahkannya.

Alhasil, sejak tadi aku hanya bisa mengerecoki pelayan lain, menonton televisi, dan sesekali tidur siang. Meski hidupku kini jauh lebih nyaman, aku merasa ada yang hilang. Aku merindukan wajah dingin dan tatapan tajam Samuel.

Di mana dia? Apakah dia mengurung diri di kamar, di ruang kerja, atau malah pergi keluar? Tidak ada satu pun pelayan yang tahu, atau mungkin mereka memang sengaja merahasiakannya dariku.

Karena tidak tahan lagi, aku keluar dari kamar dan berniat menyusuri istana megah itu. Aku segera menghampiri salah satu pengawal pribadi yang biasanya selalu berada di dekat Samuel.

“Hei, kamu!” panggilku.

“Iya, Nyonya? Apa Anda membutuhkan sesuatu?” tanyanya sopan.

“Di mana suamiku? Kenapa Samuel sejak pagi tidak kelihatan?”

“Tuan ada di kamarnya, Nyonya. Beliau baru saja kembali setelah urusan di luar.”

Mendengar penjelasan itu, aku langsung berlari menuju kamarnya. Masa bodoh jika kehadiranku hanya akan membuahkan tugas baru atau omelan ketus. Aku hanya ingin kembali melihatnya, kembali menggodanya hingga pertahanannya runtuh.

Sesampainya di depan pintu kamar Samuel, aku mengetuk pelan. Karena tidak ada sahutan, aku memberanikan diri membukanya. Kamar itu terasa sunyi. Aku tidak menemukan keberadaan Samuel di atas ranjang maupun di meja sudut.

“Apa dia sedang mandi?” gumamku pelan.

Dugaanku benar. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Samuel keluar dengan kursi roda otomatisnya. Napasku tertahan seketika. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot bidangnya yang masih basah terkena sisa air. Keinginan untuk menyentuh kulitnya yang kokoh itu kembali membuncah di dadaku.

“Apa yang kamu lakukan, Emelia? Sudah kukatakan, jangan pernah masuk ke kamarku!” bentaknya. Suara dinginnya memecah lamunanku.

“Kan aku istrimu,” jawabku santai tanpa rasa takut sedikit pun.

“Kamu tahu sendiri kalau kamu itu…”

“Apa?” potongku cepat sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. “Aku hanya istri jaminan? Aku hanya pelayanmu? Begitu, kan?” Aku mengucapkannya dengan nada mengejek, seolah sudah hafal luar kepala dengan naskah yang akan dia bawakan.

“Sudah tahu, kan? Sekarang keluar dan jangan pernah masuk lagi!”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?” tantangku sembari melangkah mendekat.

“Jangan membuatku marah, Emelia!”

“Memangnya kalau kamu marah, apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku dengan nada menantang, kini jarakku hanya tinggal selangkah darinya.

“Kamu tahu sendiri bagaimana aku kalau sudah kehilangan kendali.”

Aku tidak menjawab. Alih-alih mundur, aku justru menggelengkan kepala pelan. “Aku tidak tahu, karena aku belum pernah melihatmu benar-benar marah padaku,” ucapku berani tepat di depan wajahnya.

Samuel terdiam. Aku tersenyum tipis, menatap lekat tubuh atletis yang selama ini hanya bisa kubayangkan. Tanganku sudah gatal ingin menyentuhnya.

“Pergi, atau aku akan memanggil pengawal untuk…”

“Apa? Memberikanku pada mereka?” potongku lagi. Kali ini, aku langsung mendudukkan diriku di pangkuannya, membuat kursi roda itu sedikit bergeser. “Serius mau memberikanku pada mereka? Aku ini istrimu, Samuel. Kenapa tidak kamu saja yang menyentuhku? Kamu tahu, aku belum pernah merasakan ciuman selama ini. Aku ingin tahu rasanya, apa kamu mau mengajariku?” godaku dengan suara rendah yang serak.

Kutatap mata Samuel yang masih mematung. Dengan berani, aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya, menarik wajahnya agar semakin dekat. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang mulai tidak beraturan di permukaan kulitku.

Tanpa menunggu persetujuannya, aku menempelkan bibirku di bibirnya.

Hanya sebuah kecupan...

Namun, aku menekannya lama, mencoba mencari celah di balik kebekuan sikapnya. Aku ingin melihat reaksinya, ingin merasakan gejolak di balik topeng dinginnya. Sayangnya, Samuel hanya diam mematung dengan sorot mata sedingin es yang menusuk, seolah aku hanyalah angin lalu yang tak berpengaruh apa pun baginya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Pelajaran sesungguhnya

    POV SamuelMeskipun aku menuruti keinginan Emelia untuk berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan mewah ini, ketahuilah bahwa aku tidak pernah benar-benar melepaskan pengawasanku. Sejak kami melangkah keluar dari gerbang mansion, aku sudah mengerahkan beberapa tim anak buah terbaikku untuk menyamar sebagai pengunjung biasa. Bahkan, Papa Lucas yang dipenuhi naluri protektif juga melakukan hal yang sama saat ini.Kami tidak akan membiarkan, ada satupun celah bahaya yang berpotensi melukai istri dan calon anakku.Itulah mengapa, saat sepasang mataku menangkap sosok Ana—ibu angkat istriku—yang melangkah mendekat dengan gelagat penuh kebencian, aku sudah berada di ambang batas kesabaran. Aku hampir saja melangkah maju untuk memotong jalurnya. Namun, langkah kakiku mendadak terhenti saat mendengar rentetan kalimat lantang yang keluar dari bibir Emelia.Aku mengulas senyum tipis yang tersembunyi di balik masker hitamku. Dadaku bergemur

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Pertemuan yang tidak terduga

    POV EmeliaAku tidak bisa menyembunyikan senyuman yang terus merekah sejak melangkah masuk ke dalam pusat perbelanjaan mewah ini. Jujur saja, sudah sejak lama aku mendambakan momen bisa berbelanja santai dengan Mama—sebuah memori masa kecil yang tidak pernah berkesempatan kukecap dulu. Aku ingin menebus semua waktu yang telah kami lewati terpisah. Membeli baju kembaran, berburu tas yang sama, dan tertawa lepas selayaknya interaksi manis antara ibu dan anak perempuan pada umumnya.Sesekali, aku terkekeh pelan melirik ke arah Samuel yang berjalan konstan beberapa meter di belakang kami. Lihatlah, suamiku itu malah kelihatan persis seperti pengawal pribadi. Dengan setelan jas hitam formal, celana bahan senada, dan wajah yang tertutup masker medis hitam, auranya tampak dingin dan waspada.Aku perlahan melepaskan rangkulan tanganku pada lengan Mama, berbalik memutar tubuh, lalu berlari kecil menghampiri Samuel yang masih setia menatap setiap pergerakanku.

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Memberi perlindungan

    “Katanya mobilmu sempat diadang orang kemarin, Samuel?” tanya Papa Lucas bertubi-tubi. Beliau sengaja langsung datang ke mansion begitu mendengar kabar angin yang berembus di lingkungan keamanan.Aku mengangguk pelan dengan ekspresi sewajar mungkin, tidak ingin memicu kepanikan berlebih. “Mereka hanya orang sipil biasa yang kebetulan mabuk berat sejak semalam, Papa. Tapi aku tidak percaya begitu saja pada laporan awal,” jawabku tenang namun tegas.Papa Lucas mengangguk-angguk paham, guratan kecemasan tercetak jelas di keningnya. “Benar, jangan pernah percaya begitu saja. Kita harus ekstra waspada sekarang. Kalau bisa, untuk sementara waktu Emelia jangan diizinkan keluar rumah dulu. Papa hanya takut ada musuh lama yang mengendus kabar kehamilannya. Mereka pasti akan menggunakan segala cara agar kita kehilangan generasi penerus.”“Iya, Papa. Aku akan memastikan Emelia selalu berada dalam jangkauan pengamanan ketat.”

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Bayang-bayang kecurigaan

    Aku menatap datar para anak buahku. Rasanya sulit dipercaya saat mereka melaporkan bahwa insiden tadi murni kelakuan dua orang pemabuk yang mengendarai mobil dalam kecepatan ugal-ugalan.Sialan, mereka hampir saja membuat istriku celaka karena mengemudi ugal-ugalan di bawah pengaruh alkohol—atau mungkin bahkan obat-obatan terlarang.“Jangan lepaskan mereka begitu saja. Aku merasa bajingan-bajingan itu hanya digunakan sebagai umpan,” ujarku dingin, karena merasa terlalu kebetulan saja. Lagian, orang gila mana yang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk?“Baik, Tuan. Akan kami laksanakan,” jawab anak buahku di seberang sana sebelum memutuskan sambungan.Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan sisa ketegangan. Tadi, aku memang sempat keluar sebentar setelah anak buahku mengetuk pintu kaca untuk memberikan laporan awal. Aku sengaja meninggalkan Emelia sendirian di dalam mobil yang terkunci rapat, aku sama sekali

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Dihadang

    Kelopak mataku perlahan terbuka saat sebersit aromaterapi yang menenangkan menusuk indra penciumanku. Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatanku saat kesadaranku pulih adalah wajah cantik Emelia yang tengah menatapku dengan binar cemas. Tanpa membuang waktu, aku seketika bangkit dari posisi berbaringku dan langsung merengkuh erat tubuh ringkihnya. Aku menenggelamkan wajahku dalam-dalam di ceruk leher istriku, menghirup aroma tubuh alami miliknya yang selalu berhasil menenangkan saraf-sarafku.Sebab aku tahu, tidak ada obat medis di dunia ini yang bisa menyembuhkanku dari siksaan kehamilan simpatik ini. Hanya Emelia. Hanya aroma tubuhnya yang begitu candu yang mampu menjadi penawar rasa mualku dalam sekejap.Aku semakin menenggelamkan wajahku di sana, menikmati rasa nyaman yang kian lengkap saat merasakan elusan lembut dan konstan di punggungku.“Kita pulang saja ya, Sayang?” bisik Emelia lembut di dekat telingaku.Aku perlaha

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Suntikan vitamin pagi

    Dengan tubuh yang terasa jauh lebih sehat dan bugar, aku menuntun Emelia keluar dari kamar. Istri kecilku itu juga terlihat sangat segar, rona bahagia terpancar jelas dari wajah cantiknya saat kami berjalan beriringan menuju ruang makan keluarga.Di sana, para orang tua rupanya sudah duduk berkumpul menunggu kehadiran kami. Aku bisa melihat gurat kebanggaan yang teramat jelas terukir di wajah mereka. Namun, atensiku mendadak teralih sepenuhnya pada beberapa hidangan yang tersaji di atas meja makan panjang tersebut.Semua jenis makanan sehat pencegah morning sickness sudah tertata dengan sempurna, mulai dari potongan buah-buahan segar, susu hangat khusus ibu hamil, roti gandum, hingga daging panggang rendah lemak yang menggugah selera.“Ini Papa yang menyiapkan semuanya,” ujar Papa Lucas tiba-tiba, menepuk dadanya sendiri dengan lagak super bangga.“Enak saja! Aku juga ikut menyiapkannya kalau kamu mendadak lupa, Lucas,&rdqu

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Pertukaran

    Suasana di halaman depan kediamanku berubah mencekam dalam hitungan menit. Langit sore yang mulai menggelap seolah ikut menyambut kedatangan badai. Setelah memastikan Emelia aman bersama tim perlindungan berlapis di bunker bawah tanah, aku melangkah ke teras depan dengan langkah lebar dan tenang.

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Percaya padaku Emelia

    Aku yang sedang menikmati makan bersama Emelia, langsung menoleh saat salah satu anak buahku melangkah masuk dengan terburu-buru. Ia memberi tahu bahwa kedua orang tua Bianca—yang juga orang tua angkat Emelia—saat ini sedang berada di depan rumah untuk mencariku.“Samuel,

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Samuel kamu curang

    Aku sampai di rumah saat malam sudah semakin larut. Tanpa membuang waktu, aku langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhku, membasuh sisa-sisa atmosfer kotor yang sempat melekat setelah pertemuan tadi. Setelah merasa bersih, aku melangkah mendekat ke ranjang untuk bergabung

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Ini apa?

    Suara tawa Lucas menggema di ruangan luas itu, terdengar begitu pongah. Namun, aku sama sekali tidak gentar meskipun saat ini aku hanya seorang diri di dalam sarang macan.“Aku masih memberimu kesempatan, Samuel. Lepaskan Rosalina, dan aku pastikan dia tidak akan mengganggu keluargam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status