Share

Menantang

Author: iindwi_z
last update publish date: 2026-05-12 22:56:57

Aku menarik kepalaku perlahan karena tidak kunjung mendapat balasan dari Samuel. Namun, baru beberapa sentimeter wajahku menjauh, tangan Samuel tiba-tiba menyambar tengkuk leherku. Ia menarikku kembali dengan sentakan kuat, lalu langsung membungkam bibirku dengan ciuman yang penuh nafsu dan memburu.

Dalam hati, aku bersorak penuh kemenangan. Aku tidak tinggal diam, kubalas ciuman Samuel dengan gairah yang tak kalah membara. Aku melumat bibirnya, menuntut lebih, sementara tanganku mulai bermain di sela-sela rambutnya. Ini adalah respons yang sangat kunantikan.

Ciuman itu terlepas dengan napas yang sama-sama memburu. Namun, saat aku menatap matanya, sorot itu kembali mendingin dan datar, seolah gairah tadi hanyalah ilusi sesaat.

“Pergi…” desisnya rendah.

Mendengar pengusiran itu, aku menatapnya heran. Bagaimana bisa, setelah ciuman sepanas itu, aku langsung diusir begitu saja? Harusnya Samuel bertanggung jawab. Aku merasakan gejolak lain di dalam dadaku, aku menginginkan lebih dari sekadar sentuhan di bibir, apalagi saat melihat tubuhnya yang begitu menggoda di depan mataku.

“Pergi, Emelia…!” suaranya meninggi, memberi peringatan.

“Kenapa? Kenapa aku harus pergi? Kenapa kita tidak melakukan hal yang lebih dari ini?” tantangku, menolak untuk beranjak dari pangkuannya.

“Pergi! Aku bilang pergi, ya pergi!” bentaknya dengan amarah yang meledak-ledak.

Aku tertegun sejenak melihat kilatan amarah yang membara di matanya. Nafasnya naik-turun menahan emosi yang sulit kubaca, apakah itu amarah murni, atau ketakutan karena benteng pertahanannya mulai runtuh?

Akhirnya, aku memilih untuk bangkit. Aku melangkah mundur dan memutuskan untuk meninggalkannya sendirian. Toh, suamiku yang kaku itu sudah menyerah dan membalas ciumanku. Itu sudah cukup untuk hari ini. Mungkin besok, aku akan mencoba cara lain yang lebih berani untuk merobohkan temboknya.

***

Aku benar-benar tidak bisa membaca pikiran Samuel. Setiap kali aku melakukan kesalahan, dia pasti menghukumku. Dan sekarang, setelah aku memberanikan diri menciumnya tadi, aku kembali mendapatkan hukuman.

Bayangkan saja, malam-malam begini aku disuruh membersihkan ribuan buku di ruang kerjanya. Aku mengembuskan napas kasar. Alih-alih merapikan buku-buku itu, aku memilih duduk di pojokan. Lagipula, tempat ini sudah sangat bersih, bahkan debu pun tidak ada. Untuk apa dibersihkan lagi? Lebih baik aku membacanya saja.

Namun, dasar aku yang memang tidak suka membaca, baru satu halaman saja mataku sudah terasa berat. Tanpa sadar aku terlelap di lantai perpustakaan itu. Anehnya, saat terbangun pagi ini, aku masih berada di sana, tetapi tubuhku sudah tertutup selimut tebal dan kepalaku beralaskan bantal empuk.

Siapa yang melakukan ini? Apakah Samuel?

Sudut bibirku terangkat. Aku yakin, di balik sikap dingin dan kasarnya, Samuel memiliki sisi lembut yang ia sembunyikan rapat-rapat. Aku segera bangkit dan bergegas menuju kamarnya dengan perasaan berbunga-bunga.

Aku mengetuk pintu kamar Samuel sembari memanggil namanya, namun tidak ada sahutan. Persetan dengan larangannya, aku kembali menerobos masuk ke dalam kamar itu. Ingat, semakin dilarang, aku akan semakin memberontak.

Senyumku semakin lebar saat melihatnya masih tertidur lelap di balik selimut. Dengan gerakan berani, aku menyelinap masuk ke dalam selimut yang sama. Aku memeluk tubuhnya erat, tidak peduli dengan apa pun yang akan terjadi setelah ini.

“Apa yang kamu lakukan, Emelia?!” bentak Samuel seketika saat membuka mata dan mendapati aku menempel padanya seperti koala.

“Tidur di kamar suamiku,” jawabku tenang, tanpa melepaskan pelukanku.

“Pergi!”

“Tidak mau. Aku mau tidur bersamamu.”

“Pergi, Emelia!”

Aku bangkit, namun bukannya pergi, aku malah sengaja memposisikan diriku di atas tubuhnya. “Kenapa harus pergi? Kita ini suami istri, Samuel. Harusnya aku tidur di pelukanmu. Ayo, tidur bareng lagi!”

“Jangan membuatku marah, Emelia,” ujarnya sembari menghela napas panjang, mencoba menahan emosi.

Aku mengangguk dengan senyum nakal. Dengan sengaja, aku mendaratkan kecupan singkat di pipinya, lalu berpindah ke kening, hidung, hingga berakhir di bibirnya. Aku melumat bibirnya pelan, lalu menatap matanya dalam-dalam.

“Cium lagi, ya? Aku mau ciuman, Samuel,” rengekku manja. Tanpa menunggu persetujuannya, aku kembali membungkam bibirnya dengan penuh gairah. Aku mengeksplorasi setiap sudut bibirnya hingga perlahan ciuman itu terbalas. Samuel mencengkeram tengkuk leherku, memperdalam pagutan kami.

Saat ciuman itu terlepas, aku masih betah berada di atas tubuhnya. Kusandarkan kepalaku di atas dada bidangnya yang hangat.

“Samuel, aku tahu kamu orang baik. Terima kasih ya, sudah menikahiku,” ujarku tulus. Bagaimanapun, Samuel adalah orang yang telah membebaskanku dari keluarga yang memperlakukanku seperti budak.

“Aku tidak peduli meski kamu menjadikanku pelayan atau menganggapku hanya istri jaminan. Yang jelas, aku menganggap pernikahan ini sungguhan. Kamu adalah suamiku, Samuel. Jadi, jika kamu ingin melakukan hubungan suami istri... aku siap,” bisikku sembari mulai memainkan jemariku di dadanya.

Aku mendengar suara dehaman pelan dari bibirnya. Dengan berani, tanganku mulai turun, hendak menyentuh area pribadinya. Namun, sebelum tanganku sampai ke sana, Samuel sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tanganku.

“Sudah! Sana keluar dan mandi!” usirnya langsung dengan napas sedikit memburu.

Bibirku mencebik kesal. “Mandi bareng, yuk?”

Samuel menatapku tajam. Aku justru tertawa kecil dan kembali mendekatkan wajah untuk mencuri satu kecupan singkat di bibirnya. Ah, sepertinya aku benar-benar ketagihan dengan bibir pria ini.

“Terima kasih untuk ciumannya. Lain kali, jangan hanya ciuman saja ya. Kalau bisa, kita lakukan yang lebih jauh lagi,” ujarku sembari mengedipkan mata menggoda. Aku pun turun dari ranjang dan melangkah keluar menuju kamarku dengan perasaan menang.

***

Perasaanku begitu riang pagi ini. Aku melangkah ringan menuju dapur yang luas, tempat para koki profesional biasanya sibuk menyiapkan hidangan mewah untuk penghuni istana ini.

“Mau makan apa, Nyonya?” tanya sang koki kepala dengan sopan saat melihatku datang.

“Aku ingin memasak,” jawabku singkat.

“Masak? Nyonya butuh apa? Biar saya saja yang buatkan untuk Anda,” tawarnya sungkan, mungkin takut aku akan mengacaukan dapur mahalnya.

Aku menatap koki itu dengan tajam. Aku ingin membuat sesuatu yang spesial untuk suamiku, bukan sekadar memakan masakan orang lain. “Aku mau masak sendiri. Titik,” putusku tak terbantah.

“Tapi, biar saya saja yang—”

“Tidak! Minggir, aku mau membuat makanan dengan tanganku sendiri!” potongku tegas.

“Biarkan saja dia!”

Sebuah suara bariton menginterupsi perdebatan kami. Samuel baru saja tiba dengan kursi rodanya. “Semua keluar, biarkan dia memasak sendirian di sini,” perintahnya dingin.

Satu per satu para pelayan dan koki meninggalkan dapur, menyisakan aku dan Samuel dalam keheningan yang intim. Aku tersenyum puas, merasa Samuel sengaja mengusir mereka agar kami bisa menghabiskan waktu berdua.

“Hm, kamu mau makan apa? Biar aku masakkan yang paling enak,” tanyaku sembari mulai mengikat rambut dan menyingsingkan lengan baju.

“Tidak perlu aneh-aneh. Aku masih ingin hidup,” sindirnya telak.

Aku melotot mendengar kalimat pedas itu. Masakanku tidak buruk, ya! Apalagi sampai membuat orang mati. “Aku bisa masak, tahu! Aku jamin kamu akan ketagihan dengan masakanku,” tantangku sembari berkacak pinggang.

“Oke. Buktikan saja kalau memang benar ucapanmu itu,” sahutnya sembari menatapku remeh.

Aku tersenyum miring, sebuah ide nakal melintas di otakku. “Kalau masakanku enak, apa aku boleh meminta sesuatu sebagai imbalannya?”

“Apa?”

Aku melangkah mendekat ke arah kursi rodanya, membungkuk sedikit hingga wajah kami sejajar. “Aku... ingin kita melakukan hubungan suami istri yang sesungguhnya!” bisikku dengan tatapan menantang.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Pelajaran sesungguhnya

    POV SamuelMeskipun aku menuruti keinginan Emelia untuk berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan mewah ini, ketahuilah bahwa aku tidak pernah benar-benar melepaskan pengawasanku. Sejak kami melangkah keluar dari gerbang mansion, aku sudah mengerahkan beberapa tim anak buah terbaikku untuk menyamar sebagai pengunjung biasa. Bahkan, Papa Lucas yang dipenuhi naluri protektif juga melakukan hal yang sama saat ini.Kami tidak akan membiarkan, ada satupun celah bahaya yang berpotensi melukai istri dan calon anakku.Itulah mengapa, saat sepasang mataku menangkap sosok Ana—ibu angkat istriku—yang melangkah mendekat dengan gelagat penuh kebencian, aku sudah berada di ambang batas kesabaran. Aku hampir saja melangkah maju untuk memotong jalurnya. Namun, langkah kakiku mendadak terhenti saat mendengar rentetan kalimat lantang yang keluar dari bibir Emelia.Aku mengulas senyum tipis yang tersembunyi di balik masker hitamku. Dadaku bergemur

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Pertemuan yang tidak terduga

    POV EmeliaAku tidak bisa menyembunyikan senyuman yang terus merekah sejak melangkah masuk ke dalam pusat perbelanjaan mewah ini. Jujur saja, sudah sejak lama aku mendambakan momen bisa berbelanja santai dengan Mama—sebuah memori masa kecil yang tidak pernah berkesempatan kukecap dulu. Aku ingin menebus semua waktu yang telah kami lewati terpisah. Membeli baju kembaran, berburu tas yang sama, dan tertawa lepas selayaknya interaksi manis antara ibu dan anak perempuan pada umumnya.Sesekali, aku terkekeh pelan melirik ke arah Samuel yang berjalan konstan beberapa meter di belakang kami. Lihatlah, suamiku itu malah kelihatan persis seperti pengawal pribadi. Dengan setelan jas hitam formal, celana bahan senada, dan wajah yang tertutup masker medis hitam, auranya tampak dingin dan waspada.Aku perlahan melepaskan rangkulan tanganku pada lengan Mama, berbalik memutar tubuh, lalu berlari kecil menghampiri Samuel yang masih setia menatap setiap pergerakanku.

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Memberi perlindungan

    “Katanya mobilmu sempat diadang orang kemarin, Samuel?” tanya Papa Lucas bertubi-tubi. Beliau sengaja langsung datang ke mansion begitu mendengar kabar angin yang berembus di lingkungan keamanan.Aku mengangguk pelan dengan ekspresi sewajar mungkin, tidak ingin memicu kepanikan berlebih. “Mereka hanya orang sipil biasa yang kebetulan mabuk berat sejak semalam, Papa. Tapi aku tidak percaya begitu saja pada laporan awal,” jawabku tenang namun tegas.Papa Lucas mengangguk-angguk paham, guratan kecemasan tercetak jelas di keningnya. “Benar, jangan pernah percaya begitu saja. Kita harus ekstra waspada sekarang. Kalau bisa, untuk sementara waktu Emelia jangan diizinkan keluar rumah dulu. Papa hanya takut ada musuh lama yang mengendus kabar kehamilannya. Mereka pasti akan menggunakan segala cara agar kita kehilangan generasi penerus.”“Iya, Papa. Aku akan memastikan Emelia selalu berada dalam jangkauan pengamanan ketat.”

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Bayang-bayang kecurigaan

    Aku menatap datar para anak buahku. Rasanya sulit dipercaya saat mereka melaporkan bahwa insiden tadi murni kelakuan dua orang pemabuk yang mengendarai mobil dalam kecepatan ugal-ugalan.Sialan, mereka hampir saja membuat istriku celaka karena mengemudi ugal-ugalan di bawah pengaruh alkohol—atau mungkin bahkan obat-obatan terlarang.“Jangan lepaskan mereka begitu saja. Aku merasa bajingan-bajingan itu hanya digunakan sebagai umpan,” ujarku dingin, karena merasa terlalu kebetulan saja. Lagian, orang gila mana yang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk?“Baik, Tuan. Akan kami laksanakan,” jawab anak buahku di seberang sana sebelum memutuskan sambungan.Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan sisa ketegangan. Tadi, aku memang sempat keluar sebentar setelah anak buahku mengetuk pintu kaca untuk memberikan laporan awal. Aku sengaja meninggalkan Emelia sendirian di dalam mobil yang terkunci rapat, aku sama sekali

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Dihadang

    Kelopak mataku perlahan terbuka saat sebersit aromaterapi yang menenangkan menusuk indra penciumanku. Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatanku saat kesadaranku pulih adalah wajah cantik Emelia yang tengah menatapku dengan binar cemas. Tanpa membuang waktu, aku seketika bangkit dari posisi berbaringku dan langsung merengkuh erat tubuh ringkihnya. Aku menenggelamkan wajahku dalam-dalam di ceruk leher istriku, menghirup aroma tubuh alami miliknya yang selalu berhasil menenangkan saraf-sarafku.Sebab aku tahu, tidak ada obat medis di dunia ini yang bisa menyembuhkanku dari siksaan kehamilan simpatik ini. Hanya Emelia. Hanya aroma tubuhnya yang begitu candu yang mampu menjadi penawar rasa mualku dalam sekejap.Aku semakin menenggelamkan wajahku di sana, menikmati rasa nyaman yang kian lengkap saat merasakan elusan lembut dan konstan di punggungku.“Kita pulang saja ya, Sayang?” bisik Emelia lembut di dekat telingaku.Aku perlaha

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Suntikan vitamin pagi

    Dengan tubuh yang terasa jauh lebih sehat dan bugar, aku menuntun Emelia keluar dari kamar. Istri kecilku itu juga terlihat sangat segar, rona bahagia terpancar jelas dari wajah cantiknya saat kami berjalan beriringan menuju ruang makan keluarga.Di sana, para orang tua rupanya sudah duduk berkumpul menunggu kehadiran kami. Aku bisa melihat gurat kebanggaan yang teramat jelas terukir di wajah mereka. Namun, atensiku mendadak teralih sepenuhnya pada beberapa hidangan yang tersaji di atas meja makan panjang tersebut.Semua jenis makanan sehat pencegah morning sickness sudah tertata dengan sempurna, mulai dari potongan buah-buahan segar, susu hangat khusus ibu hamil, roti gandum, hingga daging panggang rendah lemak yang menggugah selera.“Ini Papa yang menyiapkan semuanya,” ujar Papa Lucas tiba-tiba, menepuk dadanya sendiri dengan lagak super bangga.“Enak saja! Aku juga ikut menyiapkannya kalau kamu mendadak lupa, Lucas,&rdqu

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Penjelasan dokter

    Keheningan mencekam sempat terjadi selama beberapa saat di koridor rumah sakit itu. Papa Arturo masih terlalu syok untuk mencerna semuanya, sampai akhirnya Lucas kembali bersuara, membuat Papa dan aku seketika menoleh ke arahnya.“Bagaimana kondisi Emelia?” tanyanya lagi, mengu

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Kehancuran Rosalina

    Pov Lucas.Aku melangkah keluar dari koridor rumah sakit dengan tubuh yang terasa sangat lemas. Separuh darah dari tubuhku baru saja dipindahkan ke tubuh gadis itu—Emelia.Benar, dia adalah putri kandungku yang selama puluhan tahun ini tidak pernah kuketahui keberadaannya. Dar

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Memberi tahu kebernaran

    Aku menatap lurus ke arah kediaman Lucas—sebuah rumah tinggi, megah, dan dikawal ketat oleh puluhan penjaga bersenjata lengkap di halaman depannya. Kehadiranku yang tiba-tiba langsung memicu alarm kewaspadaan mereka.Sebelum ke mari, orang kepercayaanku sempat memberi tahu bahwa pert

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Golongan darah

    Rosalina tiba-tiba merebut paksa senjata api milik salah satu pengawal Lucas. Dengan kedua tangan yang gemetar menahan amarah, ia langsung mengarahkan moncong pistol itu tepat ke arahku.“Aku akan membuatmu membayar semua ini, Samuel!” teriaknya penuh dendam. Ia seolah kehilang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status