MasukAku menarik kepalaku perlahan karena tidak kunjung mendapat balasan dari Samuel. Namun, baru beberapa sentimeter wajahku menjauh, tangan Samuel tiba-tiba menyambar tengkuk leherku. Ia menarikku kembali dengan sentakan kuat, lalu langsung membungkam bibirku dengan ciuman yang penuh nafsu dan memburu.
Dalam hati, aku bersorak penuh kemenangan. Aku tidak tinggal diam, kubalas ciuman Samuel dengan gairah yang tak kalah membara. Aku melumat bibirnya, menuntut lebih, sementara tanganku mulai bermain di sela-sela rambutnya. Ini adalah respons yang sangat kunantikan.
Ciuman itu terlepas dengan napas yang sama-sama memburu. Namun, saat aku menatap matanya, sorot itu kembali mendingin dan datar, seolah gairah tadi hanyalah ilusi sesaat.
“Pergi…” desisnya rendah.
Mendengar pengusiran itu, aku menatapnya heran. Bagaimana bisa, setelah ciuman sepanas itu, aku langsung diusir begitu saja? Harusnya Samuel bertanggung jawab. Aku merasakan gejolak lain di dalam dadaku, aku menginginkan lebih dari sekadar sentuhan di bibir, apalagi saat melihat tubuhnya yang begitu menggoda di depan mataku.
“Pergi, Emelia…!” suaranya meninggi, memberi peringatan.
“Kenapa? Kenapa aku harus pergi? Kenapa kita tidak melakukan hal yang lebih dari ini?” tantangku, menolak untuk beranjak dari pangkuannya.
“Pergi! Aku bilang pergi, ya pergi!” bentaknya dengan amarah yang meledak-ledak.
Aku tertegun sejenak melihat kilatan amarah yang membara di matanya. Nafasnya naik-turun menahan emosi yang sulit kubaca, apakah itu amarah murni, atau ketakutan karena benteng pertahanannya mulai runtuh?
Akhirnya, aku memilih untuk bangkit. Aku melangkah mundur dan memutuskan untuk meninggalkannya sendirian. Toh, suamiku yang kaku itu sudah menyerah dan membalas ciumanku. Itu sudah cukup untuk hari ini. Mungkin besok, aku akan mencoba cara lain yang lebih berani untuk merobohkan temboknya.
***
Aku benar-benar tidak bisa membaca pikiran Samuel. Setiap kali aku melakukan kesalahan, dia pasti menghukumku. Dan sekarang, setelah aku memberanikan diri menciumnya tadi, aku kembali mendapatkan hukuman.
Bayangkan saja, malam-malam begini aku disuruh membersihkan ribuan buku di ruang kerjanya. Aku mengembuskan napas kasar. Alih-alih merapikan buku-buku itu, aku memilih duduk di pojokan. Lagipula, tempat ini sudah sangat bersih, bahkan debu pun tidak ada. Untuk apa dibersihkan lagi? Lebih baik aku membacanya saja.
Namun, dasar aku yang memang tidak suka membaca, baru satu halaman saja mataku sudah terasa berat. Tanpa sadar aku terlelap di lantai perpustakaan itu. Anehnya, saat terbangun pagi ini, aku masih berada di sana, tetapi tubuhku sudah tertutup selimut tebal dan kepalaku beralaskan bantal empuk.
Siapa yang melakukan ini? Apakah Samuel?
Sudut bibirku terangkat. Aku yakin, di balik sikap dingin dan kasarnya, Samuel memiliki sisi lembut yang ia sembunyikan rapat-rapat. Aku segera bangkit dan bergegas menuju kamarnya dengan perasaan berbunga-bunga.
Aku mengetuk pintu kamar Samuel sembari memanggil namanya, namun tidak ada sahutan. Persetan dengan larangannya, aku kembali menerobos masuk ke dalam kamar itu. Ingat, semakin dilarang, aku akan semakin memberontak.
Senyumku semakin lebar saat melihatnya masih tertidur lelap di balik selimut. Dengan gerakan berani, aku menyelinap masuk ke dalam selimut yang sama. Aku memeluk tubuhnya erat, tidak peduli dengan apa pun yang akan terjadi setelah ini.
“Apa yang kamu lakukan, Emelia?!” bentak Samuel seketika saat membuka mata dan mendapati aku menempel padanya seperti koala.
“Tidur di kamar suamiku,” jawabku tenang, tanpa melepaskan pelukanku.
“Pergi!”
“Tidak mau. Aku mau tidur bersamamu.”
“Pergi, Emelia!”
Aku bangkit, namun bukannya pergi, aku malah sengaja memposisikan diriku di atas tubuhnya. “Kenapa harus pergi? Kita ini suami istri, Samuel. Harusnya aku tidur di pelukanmu. Ayo, tidur bareng lagi!”
“Jangan membuatku marah, Emelia,” ujarnya sembari menghela napas panjang, mencoba menahan emosi.
Aku mengangguk dengan senyum nakal. Dengan sengaja, aku mendaratkan kecupan singkat di pipinya, lalu berpindah ke kening, hidung, hingga berakhir di bibirnya. Aku melumat bibirnya pelan, lalu menatap matanya dalam-dalam.
“Cium lagi, ya? Aku mau ciuman, Samuel,” rengekku manja. Tanpa menunggu persetujuannya, aku kembali membungkam bibirnya dengan penuh gairah. Aku mengeksplorasi setiap sudut bibirnya hingga perlahan ciuman itu terbalas. Samuel mencengkeram tengkuk leherku, memperdalam pagutan kami.
Saat ciuman itu terlepas, aku masih betah berada di atas tubuhnya. Kusandarkan kepalaku di atas dada bidangnya yang hangat.
“Samuel, aku tahu kamu orang baik. Terima kasih ya, sudah menikahiku,” ujarku tulus. Bagaimanapun, Samuel adalah orang yang telah membebaskanku dari keluarga yang memperlakukanku seperti budak.
“Aku tidak peduli meski kamu menjadikanku pelayan atau menganggapku hanya istri jaminan. Yang jelas, aku menganggap pernikahan ini sungguhan. Kamu adalah suamiku, Samuel. Jadi, jika kamu ingin melakukan hubungan suami istri... aku siap,” bisikku sembari mulai memainkan jemariku di dadanya.
Aku mendengar suara dehaman pelan dari bibirnya. Dengan berani, tanganku mulai turun, hendak menyentuh area pribadinya. Namun, sebelum tanganku sampai ke sana, Samuel sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tanganku.
“Sudah! Sana keluar dan mandi!” usirnya langsung dengan napas sedikit memburu.
Bibirku mencebik kesal. “Mandi bareng, yuk?”
Samuel menatapku tajam. Aku justru tertawa kecil dan kembali mendekatkan wajah untuk mencuri satu kecupan singkat di bibirnya. Ah, sepertinya aku benar-benar ketagihan dengan bibir pria ini.
“Terima kasih untuk ciumannya. Lain kali, jangan hanya ciuman saja ya. Kalau bisa, kita lakukan yang lebih jauh lagi,” ujarku sembari mengedipkan mata menggoda. Aku pun turun dari ranjang dan melangkah keluar menuju kamarku dengan perasaan menang.
***
Perasaanku begitu riang pagi ini. Aku melangkah ringan menuju dapur yang luas, tempat para koki profesional biasanya sibuk menyiapkan hidangan mewah untuk penghuni istana ini.
“Mau makan apa, Nyonya?” tanya sang koki kepala dengan sopan saat melihatku datang.
“Aku ingin memasak,” jawabku singkat.
“Masak? Nyonya butuh apa? Biar saya saja yang buatkan untuk Anda,” tawarnya sungkan, mungkin takut aku akan mengacaukan dapur mahalnya.
Aku menatap koki itu dengan tajam. Aku ingin membuat sesuatu yang spesial untuk suamiku, bukan sekadar memakan masakan orang lain. “Aku mau masak sendiri. Titik,” putusku tak terbantah.
“Tapi, biar saya saja yang—”
“Tidak! Minggir, aku mau membuat makanan dengan tanganku sendiri!” potongku tegas.
“Biarkan saja dia!”
Sebuah suara bariton menginterupsi perdebatan kami. Samuel baru saja tiba dengan kursi rodanya. “Semua keluar, biarkan dia memasak sendirian di sini,” perintahnya dingin.
Satu per satu para pelayan dan koki meninggalkan dapur, menyisakan aku dan Samuel dalam keheningan yang intim. Aku tersenyum puas, merasa Samuel sengaja mengusir mereka agar kami bisa menghabiskan waktu berdua.
“Hm, kamu mau makan apa? Biar aku masakkan yang paling enak,” tanyaku sembari mulai mengikat rambut dan menyingsingkan lengan baju.
“Tidak perlu aneh-aneh. Aku masih ingin hidup,” sindirnya telak.
Aku melotot mendengar kalimat pedas itu. Masakanku tidak buruk, ya! Apalagi sampai membuat orang mati. “Aku bisa masak, tahu! Aku jamin kamu akan ketagihan dengan masakanku,” tantangku sembari berkacak pinggang.
“Oke. Buktikan saja kalau memang benar ucapanmu itu,” sahutnya sembari menatapku remeh.
Aku tersenyum miring, sebuah ide nakal melintas di otakku. “Kalau masakanku enak, apa aku boleh meminta sesuatu sebagai imbalannya?”
“Apa?”
Aku melangkah mendekat ke arah kursi rodanya, membungkuk sedikit hingga wajah kami sejajar. “Aku... ingin kita melakukan hubungan suami istri yang sesungguhnya!” bisikku dengan tatapan menantang.
***
Pov Samuel.“Tuan, perusahaan Pedro Perez tidak bisa melunasi utangnya tepat waktu.”Mendengar laporan orang kepercayaanku, aku hanya diam dengan tatapan mata yang setajam elang. Meskipun aku jarang menampakkan diri di perusahaan sejak kecelakaan tragis tiga tahun lalu, semua orang masih segan dan menakutiku. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa aku telah berubah menjadi monster yang haus darah.“Jika dia tidak bisa membayar, suruh dia bayar dengan nyawanya!” ucapku tegas, tanpa nada belas kasihan sedikitpun.“Tuan, dia... dia menawarkan putrinya sebagai jaminan.”Aku menyunggingkan senyum sinis. Bagaimana bisa seorang ayah begitu tega menjual darah dagingnya sendiri hanya untuk melunasi utang? Benar-benar menjijikkan.“Katakan padanya, anak yang dia tawarkan itu akan menjadi budak di sini selamanya.”“Baik, Tuan,” jawab pengawalku sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan ruang kerjaku.Ruangan ini adalah duniaku selama tiga tahun terakhir. Di sinilah aku memantau seluruh pergera
Aku menarik kepalaku perlahan karena tidak kunjung mendapat balasan dari Samuel. Namun, baru beberapa sentimeter wajahku menjauh, tangan Samuel tiba-tiba menyambar tengkuk leherku. Ia menarikku kembali dengan sentakan kuat, lalu langsung membungkam bibirku dengan ciuman yang penuh nafsu dan memburu.Dalam hati, aku bersorak penuh kemenangan. Aku tidak tinggal diam, kubalas ciuman Samuel dengan gairah yang tak kalah membara. Aku melumat bibirnya, menuntut lebih, sementara tanganku mulai bermain di sela-sela rambutnya. Ini adalah respons yang sangat kunantikan.Ciuman itu terlepas dengan napas yang sama-sama memburu. Namun, saat aku menatap matanya, sorot itu kembali mendingin dan datar, seolah gairah tadi hanyalah ilusi sesaat.“Pergi…” desisnya rendah.Mendengar pengusiran itu, aku menatapnya heran. Bagaimana bisa, setelah ciuman sepanas itu, aku langsung diusir begitu saja? Harusnya Samuel bertanggung jawab. Aku merasakan gejolak lain di dalam dadaku, aku menginginkan lebih dari seka
Aku tidak tahu tugas apa lagi yang akan diberikan padaku. Sejak satu jam yang lalu, Samuel hanya terpaku menatap layar laptop di meja kerjanya, sementara aku diperintahkan berdiri mematung di sudut ruangan.Apa pria ini tidak punya rasa kasihan? Bayangkan saja, kakiku sudah terasa kebas karena berdiri hampir satu jam lebih. Aku merasa kehadiranku di sini tak lebih dari sekadar pajangan atau hantu penunggu ruangan.Karena rasa lelah dan kantuk yang mulai menyerang, aku berinisiatif untuk menyelinap keluar. Aku melangkah dengan sangat pelan, mengendap-endap di belakang kursi roda Samuel layaknya seorang pencuri yang takut tertangkap basah. Berharap pria yang tampak sangat sibuk itu tidak menyadari pergerakanku.Namun, harapanku pupus seketika. Suara bariton Samuel yang berat memecah kesunyian, membuatku mematung di tempat.“Mau ke mana kamu, Emelia?”Aku berbalik perlahan, menatapnya dengan wajah yang dibuat semelas mungkin. “Aku lelah, Samuel. Aku juga mengantuk. Ini sudah larut malam,
Aku benar-benar merasa pria yang kini menjadi suamiku itu gila.Ya, gila! Samuel De Leon sama sekali tidak memiliki perikemanusiaan. Seluruh tubuhku terasa remuk, terutama pinggangku yang serasa ingin patah karena sejak tadi harus memunguti ribuan daun yang berguguran di halaman luas itu.Aku menghembuskan napas panjang sembari merebahkan diri. Setidaknya, ada satu hal yang patut kusyukuri, malam ini aku bisa tidur di atas ranjang yang empuk. Penderitaanku tidak terasa begitu parah dibandingkan saat di rumah orang tuaku. Di sini, aku juga bisa makan sepuasnya tanpa harus menunggu sisa makanan mereka atau izin dari Ibu.“Sepertinya aku memang bukan anak kandung mereka,” gumamku lirih.Pikiran itu selalu melintas setiap kali aku mengingat bagaimana mereka memperlakukanku selama dua puluh lima tahun ini. Namun, aku segera menepisnya. Semuanya sudah menjadi masa lalu. Sekarang aku sudah lepas dari neraka itu dan resmi menjadi bagian dari keluarga De Leon.Kini, fokusku hanya satu, bertaha
“Ini kamar Anda, Nyonya...”Aku menatap kamar yang baru saja ditunjukkan pelayan padaku. Ruangannya cukup besar, bahkan sangat luas jika dibandingkan dengan kamarku di rumah lama yang hanya berisi kasur tipis yang membuat sekujur tubuhku pegal setiap pagi.“Aku tidur sendiri?” tanyaku langsung. Mengingat statusku sudah menjadi istri sah, bukankah seharusnya aku berbagi kamar dengan suamiku?“Iya, Nyonya. Kamar Tuan Samuel ada di lantai tiga,” jawab pelayan itu sopan.Aku mengembuskan napas panjang dan mengangguk. Mataku tertuju pada sudut ruangan, di sana sudah tersusun beberapa setel seragam pelayan. Ah, jadi mereka benar-benar ingin menjadikanku babu di rumah ini.Tiba-tiba sebuah ide cemerlang terlintas di benakku. Tanpa sepatah kata pun, aku langsung melangkah keluar mencari keberadaan kamar suamiku di lantai tiga.Napas kuterengah-engah saat menaiki anak tangga satu per satu. Namun, aku terus menguatkan diri. Sial, kenapa aku naik tangga kalau ada lift? keluhku dalam hati saat ti
Pov Emelia “Menikahlah dengan Tuan Samuel, Emelia!”Aku terdiam mendengar Ayah memintaku menikah dengan pria yang sama sekali tidak kukenal. Kutatap wajahnya dengan tenang. Aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres, mengingat selama ini Ayah selalu memanjakan Bianca, adikku, melebihi diriku. Harusnya Bianca yang diminta, bukan aku.“Kenapa harus aku? Kenapa tidak Bianca saja?” tanyaku dengan wajah datar.“Adikmu masih terlalu muda, Emelia!” sahut Ibu yang baru saja datang membawa secangkir teh hangat untuk Ayah.Mendengar itu, aku tersenyum sinis. Masih muda? Alasan yang sangat tidak masuk akal mengingat kita hanya selisih dua tahun saja. Tahun lalu saja, aku harus merelakan pria yang kusukai demi Bianca yang ternyata juga mencintainya.“Maaf, aku tidak bisa, Ayah. Aku tidak mau menikah,” tolakku langsung.“Berani membantah, Emelia? Kamu harus menikah dengan Presdir Samuel, mau atau tidak! Kamu harus menjadi jaminan karena Ayahmu punya utang besar pada perusahaannya!” ujar Ibu deng







