공유

3. Syarat?!

작가: Scorpio_Girl
last update 게시일: 2025-02-22 23:18:23

"Jangan berjalan sambil melamun!"

Suara bariton itu memecah keheningan jalanan yang sepi. Aruna tersentak, jantungnya berdebar kencang. Ia menoleh, mendapati Raynar berdiri di sampingnya, tatapannya tajam namun penuh misteri. 'Kenapa Pak Raynar bisa ada di sini?' batin Aruna, matanya menelisik sekeliling, mencari jawaban yang tak terlihat.

"Astaga?!" serunya, terkejut dengan kehadiran Raynar yang tiba-tiba.

"Ada apa?" tanya Raynar, melihat kebingungan di wajah Aruna.

"Ti-tidak," jawab Aruna gugup. "Emmm, bagaimana Anda bisa sampai di sini, Pak?" tanyanya hati-hati, berusaha menyembunyikan rasa penasarannya. Daerah ini dekat dengan rumah keluarganya, sementara kediaman Raynar berada di kawasan elit yang jauh dari sini.

Raynar memasukkan sebelah tangannya ke saku celana, tatapannya dingin namun penuh pesona. "Tentu saja, saya datang untuk menagih janji Anda," jawabnya datar, suaranya mengalun seperti beludru.

DEG.

Jantung Aruna berdebar semakin kencang. Ia ingat perjanjian itu, tawaran yang menggoda namun penuh risiko. Pikirannya kosong, kata-kata yang sudah ia susun rapih menghilang begitu saja.

"Bagaimana? Apa Anda sudah memikirkan tawaran saya?" tanya Raynar, berdiri tepat di depannya, tatapannya mengunci mata Aruna.

'Pliss, Aruna, jangan biarkan ketampanannya mengalihkan perhatianmu!' batin Aruna, berusaha keras untuk tetap fokus. Ia memejamkan mata sejenak, mencari kekuatan untuk menjawab. "P-Pak Raynar, sebelum saya menerima tawaran ini, apa saya boleh mengajukan beberapa syarat?"

"Syarat?" tanya Raynar, alisnya terangkat.

'Ya Tuhan, kenapa aku mengucapkan itu?' batin Aruna menyesal. Ia merasa bodoh, berani-beraninya mengajukan syarat kepada atasannya.

Raynar terdiam sejenak, tatapannya menyelidik. Aruna merasa seperti sedang diinterogasi, setiap gerak-geriknya diamati dengan seksama.

"Syarat apa?" tanya Raynar akhirnya, suaranya dingin namun penuh minat.

Aruna menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia tahu, ini adalah kesempatan langka, namun ia juga sadar, ia harus melindungi dirinya sendiri.

Pertama," ucap Aruna, suaranya bergetar namun tegas, "hubungan ini hanya sebatas kerja sama. Tidak ada perasaan pribadi yang terlibat."

Raynar tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya yang sedingin es. "Tentu saja," jawabnya, suaranya datar, memecah keheningan malam yang sunyi. "Itu sudah jelas dari awal."

Aruna mengangguk, merasa lega di tengah dinginnya malam. "Kedua," lanjutnya, "saya ingin ada batasan yang jelas antara kehidupan pribadi dan profesional. Saya ingin hubungan ini nanti tetap dirahasiakan dari orang kantor."

"Itu juga masuk akal," kata Raynar, mengangguk setuju, "Saya tidak ingin kehidupan pribadi kita mengganggu pekerjaan."

"Ketiga," ucap Aruna, suaranya semakin mantap, memecah keheningan malam yang dingin, "saya harap, anda bersedia untuk menyembunyikan identitas asli anda nanti, ketika bertemu dengan keluarga saya!"

Raynar terdiam sejenak, tatapannya berubah menjadi serius. "Kenapa?" Singkatnya penasaran, suaranya memecah kesunyian malam.

"Saya tidak ingin anda terlibat terlalu dalam dengan keluarga saya!" Sahut Aruna beralasan. Andai mereka tau siapa Raynar sebenarnya, Aruna takut Raynar akan di manfaatkan oleh mereka. 'Sepertinya ... Memang ini adalah jalan terbaik!' batinnya.

Raynar mengerutkan keningnya, melihat dari ekspresi Aruna, Raynar merasa ada yang gadis itu sembunyikan. Tapi tidak mungkin juga ia bertanya lebih lanjut, takut membuat Aruna tidak nyaman. "Baiklah," akhirnya ia mengangguk, setuju dengan semua syarat yang di ajukan oleh Aruna, "besok saya akan mengirimkan kontrak kerja sama ini!"

Aruna mengangguk, ia akhirnya merasa lega. "Baiklah," ucap Aruna, menarik napas dalam-dalam. "Saya menerima tawaran Anda."

Raynar tersenyum tipis, senyum yang penuh kemenangan di bawah cahaya bulan yang pucat. "Bagus," katanya, suaranya mengalun seperti musik, memecah kesunyian malam. "Kita akan mulai besok."

Setelah mengatakan kalimat itu, Raynar mulai melangkah membuat Aruna bingung dan terdiam di tempatnya seraya menatap punggung Raynar yang telah berdiri beberapa meter darinya di bawah cahaya lampu jalan yang remang-remang, 'Pak Raynar kenapa malah jalan ke sana?' batinnya.

"Kenapa kamu berdiri di sana? Tidak ingin pulang?" Tanya Raynar menyadari Aruna masih berada di tempatnya.

"Bukan begitu, Pak," sahut Aruna, seraya melambaikan tangan di depan dadanya tanda jika dirinya tidak berniat untuk kembali ke kantor malam-malam begini.

Raynar berdiri menatap Aruna dengan sebelah alis yang terangkat, seolah bertanya kenapa Aruna tidak kunjung beranjak?

"Anu, itu ... Apa anda tidak pulang, Pak?" Tanya Aruna terbata, tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.

"Pulang," singkat Raynar, suara beratnya menambah dingin suasana di malam itu. "Tapi, saya akan mengantar mu pulang terlebih dahulu!"

"Hah?!" Aruna terkejut mendengar jawaban dari Raynar. Demi apa? Pak Raynar akan mengantarku pulang? Batinnya tidak percaya. Matanya melebar dan bibir yang sedikit terbuka, menambah kesan menggemaskan di wajah Aruna yang terlihat awet muda di usianya yang menginjak 30 tahun.

"Ehemmm," deham Raynar, mengalihkan pandangan dari wajah Aruna yang terlihat berbeda di malam ini. "Mau pulang, atau kembali ke kantor? Ada banyak kerjaan saya yang-" ucap Raynar, memecah lamunan Aruna. Ia tidak tenang jika harus membiarkan Aruna pulang sendiri, mengingat hari sudah semakin larut.

"Pulang, Pak!" Sahut Aruna, buru-buru ia memotong kalimat Raynar, sebelum pria itu memberinya pekerjaan lagi. Bisa gawat kalau atasannya ini tiba-tiba menyuruhnya untuk kembali ke kantor dan lembur mendadak. Mengingat bagaimana sikap Raynar yang biasanya sering menyuruhnya lembur saat pria itu memiliki pekerjaan yang belum selesai di kantor.

Aruna segera melangkahkan kakinya dengan cepat, melewati Raynar yang masih saja menatapnya dengan tatapan dingin. Tanpa Aruna sadari, Raynar tersenyum kecil ketika melihat dirinya yang terburu-buru melewatinya, seperti seekor ayam yang takut di mangsa oleh buaya.

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Istri Dadakan Sang Presdir   27. Rahasia dibalik layar

    Aruna menutup mulutnya terkejut. Ia tidak menyangka bahwa pria yang menikahinya ini bukan hanya seorang CEO yang mewarisi Wijaya Corporation. Namun, di balik identitasnya itu, ia adalah pemilik tunggal AR Wijaya Satya. Sebuah perusahaan baru yang sedang naik daun, bahkan hampir sebanding—jika tidak lebih inovatif—dari perusahaan milik keluarganya. Di layar laptop, terpampang jelas struktur organisasi, laporan laba-rugi yang fantastis, dan, yang paling mengejutkan, nama Raynar Aksa Wijaya sebagai Founder and CEO.'Tunggu-tunggu. Berarti selama ini... Raynar sudah mempersiapkan semuanya?' batinnya bertanya-tanya. Ekspresinya masih menunjukkan keterkejutan yang amat jelas. Ia menoleh ke Raynar, matanya menuntut penjelasan, seolah baru menyadari bahwa ia menikahi sosok yang jauh lebih kompleks dan cerdas daripada yang ia bayangkan."Kenapa Anda..." Suara Aruna tertahan. "Kenapa Anda tidak pernah bilang? Dan kenapa Anda terus berada di Wijaya Corporation kalau sudah punya ini?"Raynar ters

  • Istri Dadakan Sang Presdir   26. Keputusan akhir

    Raynar menoleh, menatap Aruna. Sekilas ia menatap jari Aruna yang tersemat cincin pernikahan mereka. "Apa kamu bersedia untuk setia, berada di samping saya meskipun saya sudah tidak memiliki apa pun nanti?"Aruna terdiam beberapa saat, melihat tatapan Raynar dan harapan besar yang diberikan pria itu untuknya. Ini bukan lagi sandiwara, ini adalah pengakuan yang menuntut sebuah komitmen. Akhirnya, dengan lantang dan tanpa keraguan, ia mengangguk. "Saya bersedia."Raynar tersenyum lebar, hatinya benar-benar lega apalagi Aruna mengatakannya di depan keluarganya. Keyakinannya untuk terus memperjuangkan hubungan mereka semakin teguh, meskipun ia tahu konsekuensinya nanti ia akan kehilangan segalanya. 'Semuanya boleh hilang, asal jangan Aruna.'"Terima kasih, sayang!" lirihnya, mengecup sekilas kening Aruna, sebuah tindakan keintiman yang membuat Raisa mendidih."Dasar anak durhaka, demi wanita itu kamu berani melawan kami?" marah Bara, melihat respons Aruna di luar prediksinya.Melihat Bara

  • Istri Dadakan Sang Presdir   25. Saling membuka hati

    Langit senja yang biasanya menjadi momen favorit bagi Aruna, kini terasa biasa saja. Entah mengapa. Mungkin karena suasana hatinya yang keruh. Ia merasa bersalah.Aruna duduk seorang diri di bangku taman sebuah vila pribadi milik Raynar. Setelah resmi menikah, mereka memang bersepakat untuk tinggal bersama. Namun, ada beberapa aturan ketat yang diajukan Aruna, salah satunya adalah mereka tidak tidur dalam satu ranjang."Apa aku harus menjelaskan semuanya?" gumam Aruna gelisah. Ia memelintir jemarinya, merasakan kecemasan yang tidak bisa lagi ia tahan. Sejak percakapan 'ujian kesetiaan' yang panas tadi, Raynar tampak kesal. Bahkan sampai sekarang pria itu belum juga pulang, membuat Aruna khawatir."Padahal ini hanya hubungan pura-pura, tapi kenapa aku seperti ini?" gumam Aruna lagi, yang masih saja tidak percaya dengan Raynar tentang hubungan mereka. ia bingung dengan perasaannya sendiri. Piyama tipis menemani kegundahan hatinya. Angin malam yang menyapu halus kulitnya, dan cahaya bula

  • Istri Dadakan Sang Presdir   24. Penuh tekanan

    Bara terbaring lemah di atas brankar mewah ruangan itu. Meskipun begitu, dalam kondisi lemah pun ia masih tersulut emosi setelah mendengar cerita dari Raisa. Bara mengepalkan tangan di balik selimut. Pengumuman Raynar di kantor adalah sebuah deklarasi perang, sebuah penghinaan langsung terhadap otoritasnya. Raynar, putra yang ia didik untuk meneruskan perusahaan miliknya, berani menikahi seorang sekretaris, wanita yang tentu saja dianggapnya tidak setara."Pa, Papa harus tenang," Elisa yang sedari tadi berada di sana, sedikit khawatir melihat bagaimana emosi Bara setelah mendengar kabar dari Raisa tentang putra sematawayang mereka."Tenang?" sahut Bara dengan suara lirih namun kemarahan terpancar jelas di wajahnya. "Bagaimana Papa bisa tenang, Ma. Sedangkan Raynar, satu-satunya putra kita sekaligus penerus perusahaan, bagaimana bisa seenak hatinya melakukan pernikahan? Apalagi dengan wanita yang tidak setara dengan kita."Elisa hanya bisa terdiam. Sebenarnya ada banyak sekali unek-une

  • Istri Dadakan Sang Presdir   23. Pengakuan yang mengejutkan

    Raisa mematung, harga dirinya seakan hancur diinjak-injak. Rasa malu bercampur amarah membakar di dadanya. Tamparan yang gagal mendarat di pipi Aruna kini terasa lebih perih daripada apa pun. Ia menatap Raynar, berharap pria itu akan membelanya, tetapi tatapan dingin Raynar dan kalimatnya yang tajam bagai ribuan pisau menghujamnya."Jangan pernah sentuh istriku lagi. Jika kamu melakukannya, aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkanmu," suara Raynar yang menggelegar penuh ancaman masih terngiang di telinganya.Aruna yang berada di pelukannya hanya bisa terdiam. Walaupun Aruna terlihat santai, namun ia berusaha menahan getaran di tubuhnya. Ia bisa merasakan tatapan seluruh karyawan di kantor itu, menuduh, menghakimi, dan penuh rasa ingin tahu.Raynar mengabaikan Raisa. Ia semakin mengeratkan pelukan itu, seolah ingin melindunginya dari semua mata yang mengawasi. Tiba-tiba, Raynar mengeluarkan ponselnya dan menelepon asistennya. "Siapkan meeting sekarang juga di lantai utama. Kumpul

  • Istri Dadakan Sang Presdir   22. Kegaduhan di Kantor

    Tebakan Jessica meleset. Ia menduga Raynar akan panik dan menangkapnya saat ia pura-pura terjatuh. Tapi tidak. Sedikit pun Raynar tidak bergeming. Ia hanya menatap Jessica yang jatuh dengan tatapan dingin, bahkan sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Sangat santai.BUKK!Tubuh Jessica membentur lantai dengan keras. Rasa sakit menjalari sekujur tubuhnya, tetapi yang lebih sakit adalah harga dirinya. Ia mengangkat kepalanya, menatap Raynar yang masih berdiri dengan santai."Apa yang sedang kamu lakukan?" Suara Aruna tiba-tiba memecah keheningan.'Sialan.' Jessica mengumpat dalam hati. Kesalahpahaman yang ingin ia ciptakan gagal total. Ini adalah momen yang sangat pas, tapi sayangnya tidak sesuai ekspektasinya. Ia masih terduduk di lantai, rasa sakit dan malu membaur menjadi satu.Melihat kedatangan Aruna, Raynar menyambut dengan seulas senyum. Ia melangkah melewati Jessica yang masih terduduk di lantai, seolah Jessica hanyalah batu yang menghalangi jalannya. Raynar menghamp

  • Istri Dadakan Sang Presdir   11. Tarian dan Kecemburuan

    Raynar, tuan muda dari keluarga Wijaya, kini dihadapkan dengan kenyataan yang tidak pernah ia duga. Di depannya berdiri David Alexander, sahabatnya sejak kecil, pria yang begitu ia percayai dan sayangi. David, tuan muda kedua keluarga Alexander, memang mengenal Aruna. Kedekatan hubungan mereka tida

  • Istri Dadakan Sang Presdir   10. Tarian yang tertahan

    Beberapa hari berlalu. Setelah malam itu, Aruna dan Raynar menjaga jarak. Bukan lagi karena pertengkaran, melainkan karena batas yang telah Aruna tetapkan. Hubungan mereka kembali dingin dan kaku, seperti saat Aruna pertama kali bekerja di Wijaya Corporation. Raynar kembali menjadi bos yang tegas d

  • Istri Dadakan Sang Presdir   8. Ketakutan yang berbeda

    "Huftttt," desis Aruna, lega. Setibanya di area lobi hotel yang mewah dan ramai, ia segera melarikan diri dari Raynar dengan alasan klise yang terdengar masuk akal: kamar mandi. Itu adalah satu-satunya tempat yang terlintas di benaknya untuk menenangkan diri dan memproses apa yang baru saja terjadi

  • Istri Dadakan Sang Presdir   7. Amsterdam, Antara tugas dan status palsu

    Cekrikkkk.Suara jepretan kamera, diikuti kilatan cahaya flash, memecah keheningan kantor catatan sipil. Aruna tersentak, jantungnya berdegup kencang. Di tangannya, tergenggam buku nikah berwarna merah, simbol pernikahan kontraknya dengan Raynar, sang atasan. Semua ini terasa seperti mimpi yang ter

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status