Share

Istri Dari Surga
Istri Dari Surga
Penulis: Nona Hujan

Malam Pertama

Aku pikir menikah untuk membayar hutang orang tua hanya terjadi di dalam novel. Tapi ternyata, kisah seperti itu memang ada di dunia nyata dan aku sendiri mengalaminya.

Hari ini aku menikah dengan seorang pria tampan kaya raya yang sebelumnya tidak aku kenal. Dia adalah David Mario Kalingga, putra sulung keluarga Kalingga yang terkenal dengan bisnis real estatenya yang tersebar di seluruh indonesia dan beberapa negara di Asia.

Dulu, bertahun-tahun silam sebelum aku lahir, Ayah dan Ibuku memiliki hutang pada keluarga Kalingga, entah jumlahnya berapa mereka tidak pernah memberitahukannya padaku. Mereka hanya bilang, tidak sanggup membayar hutang dan keluarga Kalingga memberi penawaran sebagai keringanan, yaitu aku harus menikah dan melahirkan keturunan untuk keluarga mereka.

Tentu saja aku menolak, karena aku ingin fokus kuliah dan berkarir. Aku pikir untuk sekelas keluarga Kalingga, mereka akan memilih wanita dari keluarga kaya yang sepadan dengan status sosial mereka, bukan aku yang hanya anak seorang penjual roti.

Arinda Kalingga, yaitu Ibu mertuaku, menjelaskan kalau mereka menginginkan menantu yang mau mengabdikan dirinya pada keluarga serta bersedia mengurus anak. Kebanyakan wanita modern zaman sekarang, menunda-nunda memiliki anak atau bahkan tidak menginginkanya, mereka juga lebih suka memakai jasa baby sitter daripada harus mengasuh anaknya sendiri.

Namun, orang tuaku memperjelas bahwa keluarga Kalingga memiliki trauma pada menantu pertama mereka, David pernah menikah sebelumnya dan hanya bertahan selama tiga tahun. Aku pernah mendengar desas-desus kalau David sulit memiliki keturunan atu mungkin tidak bisa, tapi ada juga rumor yang mengatakan kalau mantan istri David menolak memiliki keturunan dan selingkuh dengan pria dari negara asing.

"Kamu masih melamun? Seharusnya kamu membersihkan diri dan bersiap menyambutku!" Tiba-tiba David datang, dia masih memakai pakaian formal dengan raut wajah yang sama, masam dan menyeramkan.

"Dengar ya, kamu menikah denganku hanya modal tampang dan selangkangan. Beruntung keluargaku memilih kamu, jadi kamu harus lebih tahu diri dan jalankan peranmu sebagai istri dengan baik!"

Aku hanya menghela napas dan mendengarkannya, tidak berani menjawab apalagi menentang. Sungguh, kaki dan pinggulku pegal-pegal karena berjam-jam berdiri menyambut para tamu, tapi pria arogan itu tampaknya tak mau mengerti keadaanku, dia inginnya aku sudah memakai lingerie sexy begitu dia sampai di kamar. Menyebalkan!.

Sesaat kemudian dia berjalan ke arahku dan mengangkat daguku dengan sebelah tangannya. "Aku bicara padamu Bella, apa kamu tuli? Bisu? Kenapa kamu hanya diam saja?" Tanyanya pria itu diiringi geraman yang membuatku merinding.

Dengan lembut aku menepis cengkeraman jemari David dari daguku.

Aku berusaha tenang, tidak mau terpancing emosi, aku bukan gadis penakut yang tidak berani membalasnya hanya saja aku tahu posisiku saat ini, aku menatapnya lalu berkata, "Aku tidak tuli, aku bisa mendengar suaramu dengan sangat jelas jadi tolong pelankan suaramu. Aku bisa bicara tapi aku sedang lelah, aku hanya ingin istirahat sebentar badanku pegal-pegal, tolong mengerti!"

David menyeringai, "Istirahat? Kamu menikah denganku untuk membayar hutang, bukan untuk istirahat dan bersikap seperti seorang ratu. Ketahui posisimu! Cepat bangun, mandi, dan siap-siap melayaniku!"

Mau tidak mau aku harus bangun, aku tidak tahan mendengar bentakkannya.

"Wah, kamu sudah sangat tidak tahan ya? Sudah berapa lama menduda? Sampai-sampai tidak sabar ingin segera bermalam pertama dengan wanita yang kamu sebut tepos ini?" Ujarku sedikit menyindirnya.

Sebelum menikah, di hari pertama kami bertemu untuk makan malam berdua, David mentertawakan aku. Dia bilang, wajahku cantik tapi kampungan, gaya berpakaianku tidak modis dan terlihat membosankan, tubuhku 'tepos' tidak ada yang menonjol.

Dia bilang, menikah denganku adalah mimpi terburuknya. Sebaliknya aku juga menganggap seperti itu, menikah dengan pria angkuh yang suka merendahkan orang adalah mimpi buruk yang tidak pernah aku inginkan.

"Jangan mengajakku berdebat!" Ucap pia itu sambil memalingkan wajah, kemudian dia berjalan menuju lemari di sisi kiri kamar, mungkin dia malu menginginkan sentuhan dari wanita yang tubuhnya sudah dia hina.

Dia melepas jas, memperlihatkan tubuh kekarnya yang seolah sesak dalam balutan kemeja putih. Pundaknya lebar dan terlihat kokoh, punggungnya menyempit ke bagian pinggang disusul kaki panjang yang terlihat kuat.

Jujur, secara fisik pria yang kini menjadi suamiku itu tidak ada celanya, wajahnya tampan karena memiliki darah Pakistan dari Ayahnya.

Alisnya terukir indah, tegas, tidak terlalu tebal, keningnya mulus seperti ditaburi serbuk berlian, hidungnya mancung, bibirnya menggoda dan berwarna kemerahan, rahangnya tegas dihiasi cambang tipis.

Tubuhnya tinggi, tegap, berisi, ototnya pas tidak terlalu besar, aku jamin wanita manapun akan menjerit dalam hati jika melihatnya.

Kalau saja kelakuannya tidak seperti kutu kupret, sudah pasti aku jatuh cinta sejak kami bertemu untuk pertama kalinya.

Aku masih berdiri menatapnya, berharap dia segera membuka kemeja dan memperlihatkan punggungnya yang menawan, tapi dia malah sibuk melepas jam tangannya.

"Kenapa masih berdiri di situ? Kalau ingin melihat tubuhku tidak sekarang, mandi dan bersiaplah!"

"Ya... Ya, baiklah."

Huh, gagal. Ternyata pria itu tahu aku menunggunya menanggalkan pakaian, karena tubuhku sudah lengket aku segera mengambil handuk kemudian melesat ke kamar mandi.

Setelah mengunci diri di dalam kamar mandi, aku menarik napas dalam-dalam, melepaskan rasa tegang yang sedari tadi aku tahan.

Dia mau bermalam pertama denganku? Serius? Astaga, aku tidak tahu harus bagaimana, aku belum siap, aku takut. Bagaimana aku bisa mengimbangi dirinya yang sudah lihai bercinta? Ciuman saja aku tidak bisa, aku harap dia setuju untuk menundanya, agar aku bisa menonton drama korea dan mengasah kemampuan berciumanku dulu, karena jika aku salah atau tidak bisa, dia pasti akan marah dan meledekku.

Aku tidak mau melakukan hubungan suami istri dengannya, tapi aku harus bersedia karena melahirkan keturunan untuk keluarga Kalingga adalah tugas utamaku. Ini sangat rumit, padahal beberapa hari yang lalu aku merasa lega saat dia bilang aku tidak menarik, aku pikir dia tidak akan berselera padaku.

"Ah sial! Sial! Sial!"

Aku segera menyalakan shower dan membasahi seluruh tubuhku yang sudah polos, berusaha mendinginkan pikiran yang mulai kalut.

Sebenarnya aku penasaran rasanya seperti apa, tapi aku tidak yakin akan memberikan kehormatanku pada David, meski dia suamiku dan satu-satunya yang berhak menyentuhku. Aku takut, mungkin saja setelah dia bosan dan aku sudah berhasil memberinya keturunan, dia akan membuangku begitu saja dengan hutang orang tuaku yang dianggap lunas.

"Pernikahan bukan main-main, aku ingin sekali seumur hidup, tapi apa aku akan bertahan? Aku rasa dia tidak mencintaiku atau bahkan tidak akan pernah, jangankan cinta, sekadar tertarik saja tidak. Semua ini hanya formalitas." Bibirku tidak hentinya menggerutu.

Sambil bergelut dengan pemikiranku sendiri, tanganku sibuk membersihkan seluruh tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki, khususnya yang akan aku suguhkan pada pria angkuh yang tengah menungguku seperti hidangan makan malam.

"Apa kamu tidur di dalam sana? Bella!" Suara bariton itu terdengar lagi, sepertinya dia ada di depan pintu kamar mandi.

"Kamu sudah setengah jam di kamar mandi, mau berapa lama lagi? Jangan sampai kamu demam atau flu, karena seminggu ke depan akan ada banyak kerabat yang datang untuk bertemu denganmu!" Peringatnya, aku segera mematikan shower dan mencari handuk. Sial, handuknya aku taruh di dekat wastafel.

Ketika berjalan menuju wastafel dengan tubuh polos yang basah, aku tidak mendengar suara David lagi, mungkin dia sudah pergi, akhirnya aku bisa bernapas dengan lega.

"Aku hitung satu sampai lima, jika tidak keluar juga aku akan mendobrak pintunya!" Ancam David, aku salah ternyata dia masih ada di luar, aku gelagapan mengambil handuk dan memakainya dengan cepat.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status