ANMELDEN"Tuan Duke, cuaca di perbatasan Ashwood ini memang selalu lebih buruk dari prediksi. Haruskah kita mencari tempat berteduh sementara?"Suara derap ratusan kaki kuda yang menghentak tanah basah akibat hujan semalaman. Irama itu diselingi oleh bunyi gemerincing halus dari zirah rantai dan pedang panjang yang beradu di pinggang para ksatria.Mereka bergerak membelah hutan yang berkabut tebal. Pasukan elit yang tidak seharusnya berada di wilayah ini.Di barisan paling depan, memimpin rombongan tersebut, adalah Adrian Goldwyn. Grand Duke Valoria yang baru berusia dua puluh sembilan tahun itu duduk tegak di atas pelana kuda jantan berwarna putih keabu-abuan.Wajahnya yang tegas dan bersudut tajam tampak tidak terpengaruh oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Sorot matanya yang sebiru safir menyapu ke sekeliling dengan kewaspadaan.Adrian baru saja kembali dari sebuah misi diplomatik ra
Emily tidak sempat mengelak. Ia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan hantaman keras di sisi tubuhnya.Jlep.Rasa sakit yang luar biasa seketika meledak dari sisi pinggang kanannya. Emily merasakan sensasi seperti besi membara yang dipaksa masuk ke dalam dagingnya. Napasnya terhenti seketika.Seluruh saraf di tubuhnya seolah berteriak secara bersamaan, melumpuhkan kemampuannya untuk bergerak."Aakh..."Jeritan Emily tertahan di kerongkongan dan yang keluar hanya berupa rintihan pendek. Ia membuka matanya dengan susah payah, menunduk menatap bagian perut dan pinggangnya.Bilah pisau panjang itu masih tertancap di sana, sebelum akhirnya ditarik keluar dengan sentakan kasar oleh tangan si perampok yang gemetar.Darah merah segar langsung keluar dan menodai jubah hitamnya yang basah.Si p
"Aakh! Dasar jalang!"Pemimpin perampok itu melolong kesakitan saat gigi Emily menancap dalam di pangkal ibu jarinya. Emily tidak melepaskannya.Ia menggigit sekuat tenaga hingga rasa anyir darah memenuhi mulutnya. Bersamaan dengan itu, kakinya yang gemetar menendang tulang kering pria itu berulang kali. Adrenalin yang dipicu oleh rasa takut yang luar biasa memberikan Emily kekuatan."Lepaskan aku! Pergi kalian semua!" teriak Emily di sela isakannya setelah berhasil melepaskan gigitannya.Pria itu mundur selangkah, menatap tangannya yang kini berlubang dan mengucurkan darah segar. Wajahnya yang kotor berubah menjadi merah padam. Matanya melotot karena amarah yang memuncak."Berani sekali kau..." desis pria itu.Plak!Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Emily. Kekuatan hantaman tangan pria besar itu membuat kepala Emily terlempar ke samping dan terjerembap ke atas tanah yang dipenuhi kerikil tajam serta akar pohon yang mencuat."Ugh..." Emily mengerang kesakitan.Wajahnya mengh
"Bos! Lihat ini!" teriak si kurus sambil merogoh isi kantong lalu mengeluarkan segenggam koin emas dan perak. "Ini emas murni! Banyak sekali! Kita tidak perlu merampok lagi selama satu tahun!"Si Pemimpin urung melukai Emily saat mendengar ucapan itu lalu berjalan mendekati anak buahnya, mengambil satu koin emas, dan menggigitnya untuk memastikan keasliannya.Matanya mendadak berkilat menatap tumpukan harta di tangannya. Ditatapnya Emily penuh selidik."Dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini, Nona?" tanya sang pemimpin. "Seorang wanita sendirian di tengah hutan membawa satu kantong penuh koin emas? Kau pasti mencurinya, bukan?"Emily menggeleng lemah. Dia mencoba mengatur napasnya yang sesak. "Uang itu diberikan padaku... itu milikku.""Diberikan? Siapa yang sangat bodoh memberikan emas sebanyak ini pada wanita pucat seperti mayat?" perampok kurus itu mencibir seraya memasuk
"Halo, Nona Manis. Hutan ini terlalu berbahaya untuk dilewati sendirian tanpa membayar uang keamanan pada kami."Suara tawa serak yang terdengar memecah keheningan kabut.Emily tersentak, jantungnya seolah melompat ke kerongkongan. Dengan susah payah, dia kembali naik ke atas kudanya. Saat hendak membuat kudanya bergerak lagi, di depannya, kabut putih yang tebal perlahan tersibak, menampakkan tiga siluet pria yang berdiri menghalangi jalan setapak.Emily menarik tali kekang kudanya, membuat hewan lelah itu meringkik kaget."Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" tanya Emily. Suaranya bergetar hebat bahkan nyaris tenggelam oleh deru angin yang berhembus kencang di antara celah pepohonan."Pertanyaan yang bagus," sahut pria yang berdiri di tengah kemudian melangkah maju hingga wajahnya yang kasar terlihat jelas.Pria itu mengenakan pakaian kumal dari kulit domba yang sudah menghitam. Sebuah penutup mata kiri yang kotor menambah kesan mengerikan pada wajahnya yang penuh bekas luka."Ka
Emily berada di atas punggung kuda cokelatnya. Kuda yang kelelahan semalam akhirnya bisa bergerak lagi. Emily tidak lagi memacu hewan itu. Dia tidak sanggup.Semenjak hujan reda semalam, sudah lebih dari dua belas jam dia berkuda tanpa henti, melintasi perbatasan Ashwood menuju arah utara yang tidak menentu. Tangannya kini basah dan kotor oleh lumpur mencengkeram tali kekang dengan sisa-sisa tenaga yang nyaris habis.Jemarinya kaku, membiru karena kedinginan, seolah-olah telah menyatu dengan kulit kekang yang kasar."Ayo, kawan... sedikit lagi," bisik Emily parau. Suaranya nyaris hilang, hanya berupa hembusan napas yang bergetar di udara dingin.Kuda itu meringkik lemah. Hewan malang itu berjalan gontai, kakinya gemetar setiap kali menginjak jalanan setapak yang lembek dan penuh lubang. Langkahnya berat dan tidak stabil.Pandangan Emily mulai mengabur. Kabut di depannya seolah-ol
"Bagaimana ini?" desis Emily pelan.Dia menyandarkan punggungnya ke dinding koridor yang dingin dan mulai berpikir.Jika dia tidak datang, Jordan akan kalang kabut. Penonton yang sudah membayar mahal untuk melihat Si Cantik Bertopeng akan mengamu
“Katakan, Pelayan,” ulang Lucien. “Dari mana kau mendapatkan sabun mahal itu?”Pertanyaan Lucien yang dibisikkan itu membuat jantung Emily serasa berhenti berdetak. Seluruh darah di tubuhnya seolah membeku, dan rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.Dia ketahuan.‘Tida
Untuk sesaat Emily terhanyut. Ciuman kasar yang dipenuhi rasa putus asa itu dibalas Emily dengan kerinduan yang sama besarnya.Dalam kegelapan lorong, Emily lupa siapa dirinya. Dia lupa statusnya, hukumannya, dan kebencian yang seharusnya dia pelihara rapat-rapat di dalam hati.“Emily.”Ilusi itu p
Detak jantung Emily di dalam dadanya berpacu begitu keras.Panik.Dia terjebak.Tubuh besar dan kokoh Lucien menekannya ke dinding batu yang dingin dengan kekuatan yang tidak bisa dilawan oleh tenaga kurusnya.Cen







