ログイン“Oke. Kita ketemu di kafe Square.’ Saat Felicia sampai di sana, Ariella sudah duduk menunggu di sudut kafe. Sejak perdebatan dingin di dalam mobil kemarin, pria itu memang sengaja tidak datang menjemput Felicia. Wajahnya tampak dingin dan sedikit menjaga jarak saat Felicia duduk di hadapannya."Ada apa, Fel? Tumben mengajak bertemu di sini," tanya Ariella sambil mengaduk kopinya perlahan.Felicia menatap wajah pria yang sudah teramat banyak membantunya itu dengan rasa bersalah yang mendalam. "Ar, aku meminta maaf dengan sangat tulus. Aku tahu sikapku yang labil dan membingungkan selama ini sudah sangat melukaimu."Ariella menghentikan gerakan tangannya. Dia bersandar pada kursi, menatap Felicia dalam diam."Tadi Thea datang ke kantorku. Dia melabrakku," lanjut Felicia pelan.Mata Ariella membelalak, gurat cemas seketika muncul di wajahnya. "Apa? Dia melakukan sesuatu padamu? Kamu tidak apa-apa, Fel?"Felicia tersenyum tipis, ada kelegaaan di matanya melihat Ariella masih mencemask
"Menata hidup yang bagaimana, Fel?" potong Ariella lagi, kali ini dengan nada yang sedikit meninggi.Felicia masih diam.“Selama ini aku sudah lakukan banyak hal untukmu. Dan aku merasa, kamu hanya membuatku jadi orang bodoh!” "Ariella! Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu!" Felicia mulai tersulut emosi."Lalu apa namanya jika kamu membiarkan seseorang berjuang memberikan seluruh bahunya, sementara hatimu sendiri terus-menerus digenggam oleh orang lain?" tanya Ariella.Felicia terdiam seribu bahasa. Kata-kata Ariella menghantam logikanya dengan telak. Ariella menyalakan mesin mobilnya. Mobil bergerak pelan.Sepanjang sisa perjalanan, tidak ada lagi suara yang terdengar di antara mereka. Keheningan itu terasa begitu mencekam, mempertegas retakan yang kini mulai melebar di antara harapan Ariella dan masa lalu Felicia yang belum usai.“Aku turun di sini saja, Ar. Ada yang mau aku beli,” pinta Felicia.Tanpa banyak bicara, Ariella kembali menyalakan lampu sein dan menepi.“Makasih
Pagi datang dengan cepat. Ruangan Barney sudah terasa sejuk sejak OB menyalakan pendingin ruangan tadi.“Apa ini?” kata Thea pelan.Napasnya memburu, memandangi layar ponsel Barney yang tergeletak pasrah dalam keadaan menyala. Sebuah notifikasi pop-up dari nama yang sangat dia benci, Felicia, terpampang jelas di sana. Isinya singkat, namun cukup untuk membuat seluruh darah di tubuh Thea mendidih seketika.‘Terima kasih, Barn. Maaf belum bisa sering balas. Akan aku pikirkan.’"Jadi, ini kelakuanmu di belakangku, Barn?" suara Thea bergetar, meninggi karena rasa perih dan cemburu yang membakar dada.Barney yang baru saja kembali dari ruang mesin kopi tertegun di ambang pintu. Dia buru-buru melangkah masuk, lalu merebut ponselnya dari jangkauan pandangan Thea. Gurat tidak suka langsung tercetak jelas di wajah tampannya."Thea, apa yang kamu lakukan? Lancang banget menyentuh ponsel orang lain tanpa izin," ketus Barney.Dia meletakkan gelas kopinya dengan hentakan agak keras di meja."L
Tut! Tut! Tut!Alarm di ponsel Felicia berdering nyaring sejak pukul lima pagi, memaksanya melompat dari tempat tidur meskipun seluruh otot tubuhnya masih terasa kaku akibat pindahan kemarin. Suasana rumah setengah berantakan, ruangan sempit itu masih dikelilingi kardus-kardus yang belum sempat dibongkar."Feli, ini bekal sarapanmu. Ibu baru sempat goreng telur dan roti mentega," kata Ibu dari arah dapur, menyodorkan sebuah kotak bekal stainless steel."Terima kasih, Bu. Feli harus berangkat sekarang, takut terjebak macet. Hari Senin begini biasanya bus kota penuh," sahut Felicia tergesa-gesa sambil mengancingkan blazer kerjanya. Matanya melirik ke arah kamar, tempat Sue masih meringkuk pulas di balik selimut. "Bu, hari ini Sue terpaksa bolos sekolah dulu ya. Feli benar-benar belum sempat mengurus berkas mutasinya ke sekolah baru,” katanya buru-buru.Ibu mengangguk paham, mengusap lengan putrinya dengan lembut. "Iya, jangan khawatirkan Sue. Hati-hati di jalan, Fel."Sepanjang hari,
Sambil melepas lelah, mereka duduk di teras rumah. Menatap bulan yang menggantung di langit dan merasakan embusan angin malam. Percakapan dan canda tawa itu berlanjut hingga larut malam. Mereka mengakhirinya dengan masuk ke kamar masing-masing. Sementara Sue sudah tertidur sejak tadi. **********.Matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan Desa Porteni saat Felicia membuka mata. Dia menguap dan meregangkan otot-ototnya. Sue masih tidur dengan pulas. Felicia membetulkan selimutnya.Ibu sudah di dapur untuk membuat minuman hangat. Kompor, panci dan beberapa gelas sengaja tidak dirapikan bersama yang lain.Wangi teh menguar dari sana. “Bu,” sapa Felicia. “Duduklah” kata Ibu penuh perhatian.Mereka duduk di kursi. Ibu menatap dalam-dalam. Dengan hati-hati dia bertanya, “ gimana dengan Nak Barney? Apa kamu benar-benar sudah melepasnya?” Felicia mengembuskan napas panjang. “Belum, Bu. Aku sendiri masih nggak tahu harus gimana.” “Jangan mempermainkan perasaan orang,
"Maafkan aku, Barn. Mereka adalah duniaku, Sama seperti keluargamu adalah duniamu," kata Felicia lembut. Dia mulai merapikan kertas-kertas di mejanya, menandakan bahwa malam sudah terlalu larut. "Biarkan aku menata hidupku dan keluargaku dulu. Setidaknya aku sudah merasa pantas untuk berdiri di depan keluargamu,” kata Felicia.Barney bangkit dari kursinya, memakai kembali jaket wollnya. Senyumnya kembali, meski kali ini terlihat sedikit dipaksakan demi menenangkan Felicia. "Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Tapi ingat, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan tetap di sini, menunggumu siap.” Barney mengecup kening Felicia dengan lembut.Felicia mendongak, menatap Barney yang kini berdiri di hadapannya.. "Terima kasih karena selalu mengerti.""Ayo pulang. Aku antar kamu sampai ke depan," ajak Barney sambil mengulurkan tangannya.Felicia mematikan monitor layar, mengambil tasnya, lalu menyambut uluran tangan Barney. Di bawah temaram lampu koridor kantor yang mulai padam satu per







