LOGINDi ruang tengah Mansion Ferdinand, atmosfer yang tadinya hangat mendadak berubah mencekam. Morenzo berdiri di ambang pintu dengan tubuh gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, dan napasnya tersengal-sengal seperti orang yang kehabisan oksigen."Maaf Tuan Barney, Nyonya Felicia,” suara Morenzo bergetar, air mata penyesalan mulai mengalir di pipinya yang keriput. "Non Sue tiba-tiba tidak ada di sekolah. Saya lengah sebentar ketika sebuah mobil mundur hampir menabrak, dan saat saya berbalik, Non Sue sudah hilang.""Apa kamu bilang?" Barney langsung bangkit dari sofa, langkahnya lebar menghampiri Morenzo. Cengkeraman tangannya di bahu sopir tua itu mengeras. "Jangan bercanda, Morenzo! Sue selalu keluar bersama gurunya!"“Iya, Tuan, Non Sue keluar bersama gurunya, lalu menunggu saya. Mobil yang mundur menghalangi saya. Tapi begitu saya keluar, Non Sue sudah tak ada di sana,” kata Morenzo.Di sudut ruangan, Ibu Seira yang sedang memegang cangkir teh mendadak melepaskan pegangannya. Cangkir p
Dua bulan telah berlalu sejak adu debat Kitty and Jack di ruang pertemuan.Jalan tengah yang mereka sepakati waktu itu ternyata adalah suatu keputusan paling genius. Strategi mereka meraih sukses besar.Kampanye digital raksasa itu viral di mana-mana, mencetak rekor penjualan tertinggi bagi klien mereka.Di atas panggung perayaan, di hadapan ratusan pasang mata staf dan media, Barney bahkan tak segan merangkul Felicia."Kegalakanmu di ruang pertemuan waktu itu benar-benar menyelamatkan proyek ini, Sayang,” bisiknya di telinga Felicia. Wanita itu hanya tersenyum tipis, menyikut pelan pinggang suaminya sambil bergumam, "Kalau aku nggak tarik urat leher, kau nggak akan percaya." *********“Hem! Kamu boleh tertawa sekarang, lihat aja nanti, apa kamu masih bisa melakukannya!” Angelina mengepalkan tangan kuat-kuat.Dia mengangkat gelas kristal yang ada di tangan dan menyesap pelan wine yang ada di dalamnya. Kepalanya berpikir keras, memutar otak, mencari cara yang tepat.“Menyu
Setelah menghabiskan masa bulan madu, Felicia dan Barney mulai aktif kembali dengan pekerjaannya.“Gimana? Apa kamu udah siap bekerja lagi, Sayang?” tanya Barney setelah sarapan.Felicia tersenyum. “Pasti. Apalagi kali ini adalah kerjasama pertama kita.”Mereka berangkat bersama. Memasuki area perusahaan dengan langkah mantap diikuti tatapan para karyawan lainnya.“Ssst! Akhirnya Felicia ke sini lagi,” bisik salah satu karyawan.“Iya mereka bekerja sama. Emang hebat Felicia, dia pantas mendapatkan pasangan seperti Mr. Barney,” jawab rekannya.Barney, Felicia dan orang-orang yang bersangkutan berkumpul di ruang pertemuan.Namun pagi itu, suhu udara di sana mendadak turun hingga beberapa derajat.Di ujung meja oval, Felicia berdiri tegak dengan pembawaan dingin yang sangat familier bagi orang-orang lama di kantor itu.Rambut pendeknya disibak kasar dan tatapan matanya tajam menghunus lurus ke arah ujung meja satunya, tempat Barney duduk sambil melipat tangan di dada dengan rahang menger
"Harusnya itu aku!" desis Angelina, suaranya parau dan bergetar hebat. Jemarinya mencengkeram tepi meja rias hingga kuku-kukunya memutih. "Kursi itu, gaun itu, senyuman Barney, semuanya harusnya milikku!"Cahaya biru dari layar televisi berukuran besar memantul di bola mata Angelina yang merah. Siaran berita hiburan nasional masih menayangkan potongan gambar kemegahan pesta di gedung pertemuan Eleor. Di dalam kamar yang gelap itu, napasnya memburu. Felicia tersenyum anggun dalam balutan gaun putih tulang, digandeng erat oleh Barney Ferdinand yang gagah dengan setelan tuksedo hitam.Di kepala Angelina, bayangan itu terus berputar bagaikan kaset rusak yang sangat menyiksa.“Brengsek! Dasar brengsek!” teriaknya.Dengan sekali sentakan emosi yang meledak, Angelina meraih botol parfum kaca di dekatnya dan melemparnya tepat ke arah wajah Felicia di layar televisi. Prang! Botol itu pecah berkeping-keping, meninggalkan goresan dalam pada layar, namun gambar kebahagiaan sepasang kekasih i
Gedung pertemuan terbesar di kota Eleor malam itu disulap bagaikan istana cahaya. Karpet merah membentang luas menyambut kedatangan para konglomerat, pejabat tinggi, dan seluruh pengusaha terkemuka dari kota Eleor.Kilatan lampu kamera dari puluhan media ternama terus menyala, mengabadikan momen yang paling dinantikan tahun ini, pengumuman resmi status Felicia di dalam dinasti keluarga Ferdinand.Di ruang tunggu utama, Felicia menarik napas dalam-dalam. Gaun malam berwarna putih tulang rancangan desainer ternama melekat sempurna di tubuhnya, memancarkan keanggunan yang bersahaja. Di sampingnya, Barney yang tampak gagah dengan setelan tuksedo hitam menggenggam tangannya dengan erat."Tanganmu dingin sekali, Sayang," bisik Barney lembut, lalu mengecup punggung tangan Felicia. "Tenanglah. Semua orang di luar sana pasti akan kagum melihat kecantikanmu.”"Aku masih sedikit nggak percaya, Barn," sahut Felicia dengan senyum tipis. "Melihat begitu banyak orang besar yang datang, rasanya sepe
“Kalian tidak akan membicarakannya di sini karena ada saya, tapi di tempat lain. Kalian akan melakukannya lagi. Silakan ke HRD sekarang juga,” kata Barney sebelum dia meninggalkan tempat itu.Cindy dan temannya membisu. Wajahnya pias. Keputusan Barney bagai petir di siang bolong."Dengarkan saya baik-baik, semuanya. Felicia bukan menantu rahasia. Dia adalah wanita yang saya hormati, saya cintai, dan kecerdasannya adalah alasan mengapa Mr. Ferdinand memilihnya tanpa ragu,” Barney sengaja bersuara keras.Orang-orang yang ada di situ menunduk. Baru kali ini mereka melihat aura atasan mereka bagai singa yang terluka.“Siapa saja yang masih berani bergosip atau meragukan posisinya di perusahaan maupun di keluarga saya, silakan ambil pesangon kalian hari ini juga!" tegasnya.Kata-kata final dari Barney menutup perdebatan hari itu. Semua karyawan segera membubarkan diri dengan teratur dan kembali ke meja masing-masing, tidak berani lagi memandang Felicia dengan sebelah mata. Sifat iri dan s







