LOGIN"Harusnya itu aku!" desis Angelina, suaranya parau dan bergetar hebat. Jemarinya mencengkeram tepi meja rias hingga kuku-kukunya memutih. "Kursi itu, gaun itu, senyuman Barney, semuanya harusnya milikku!"Cahaya biru dari layar televisi berukuran besar memantul di bola mata Angelina yang merah. Siaran berita hiburan nasional masih menayangkan potongan gambar kemegahan pesta di gedung pertemuan Eleor. Di dalam kamar yang gelap itu, napasnya memburu. Felicia tersenyum anggun dalam balutan gaun putih tulang, digandeng erat oleh Barney Ferdinand yang gagah dengan setelan tuksedo hitam.Di kepala Angelina, bayangan itu terus berputar bagaikan kaset rusak yang sangat menyiksa.“Brengsek! Dasar brengsek!” teriaknya.Dengan sekali sentakan emosi yang meledak, Angelina meraih botol parfum kaca di dekatnya dan melemparnya tepat ke arah wajah Felicia di layar televisi. Prang! Botol itu pecah berkeping-keping, meninggalkan goresan dalam pada layar, namun gambar kebahagiaan sepasang kekasih i
Gedung pertemuan terbesar di kota Eleor malam itu disulap bagaikan istana cahaya. Karpet merah membentang luas menyambut kedatangan para konglomerat, pejabat tinggi, dan seluruh pengusaha terkemuka dari kota Eleor.Kilatan lampu kamera dari puluhan media ternama terus menyala, mengabadikan momen yang paling dinantikan tahun ini, pengumuman resmi status Felicia di dalam dinasti keluarga Ferdinand.Di ruang tunggu utama, Felicia menarik napas dalam-dalam. Gaun malam berwarna putih tulang rancangan desainer ternama melekat sempurna di tubuhnya, memancarkan keanggunan yang bersahaja. Di sampingnya, Barney yang tampak gagah dengan setelan tuksedo hitam menggenggam tangannya dengan erat."Tanganmu dingin sekali, Sayang," bisik Barney lembut, lalu mengecup punggung tangan Felicia. "Tenanglah. Semua orang di luar sana pasti akan kagum melihat kecantikanmu.”"Aku masih sedikit nggak percaya, Barn," sahut Felicia dengan senyum tipis. "Melihat begitu banyak orang besar yang datang, rasanya sepe
“Kalian tidak akan membicarakannya di sini karena ada saya, tapi di tempat lain. Kalian akan melakukannya lagi. Silakan ke HRD sekarang juga,” kata Barney sebelum dia meninggalkan tempat itu.Cindy dan temannya membisu. Wajahnya pias. Keputusan Barney bagai petir di siang bolong."Dengarkan saya baik-baik, semuanya. Felicia bukan menantu rahasia. Dia adalah wanita yang saya hormati, saya cintai, dan kecerdasannya adalah alasan mengapa Mr. Ferdinand memilihnya tanpa ragu,” Barney sengaja bersuara keras.Orang-orang yang ada di situ menunduk. Baru kali ini mereka melihat aura atasan mereka bagai singa yang terluka.“Siapa saja yang masih berani bergosip atau meragukan posisinya di perusahaan maupun di keluarga saya, silakan ambil pesangon kalian hari ini juga!" tegasnya.Kata-kata final dari Barney menutup perdebatan hari itu. Semua karyawan segera membubarkan diri dengan teratur dan kembali ke meja masing-masing, tidak berani lagi memandang Felicia dengan sebelah mata. Sifat iri dan s
Berita mengenai rencana perjamuan besar Mr. Ferdinand bocor ke publik bagaikan bensin yang menyambar api. Dalam waktu singkat, ruang-ruang obrolan di media sosial dan grup chat kalangan sosialita langsung meledak. Status Felicia yang merupakan seorang single mom mendadak digali dan dikuliti. Mereka menyebut Felicia sebagai "menantu rahasia" Sentimen negatif itu ternyata tidak berhenti di luar pagar rumah mewah Kakek, melainkan merembet hingga ke koridor kantor pusat perusahaan Barney.“Ayo, Fel. Kamu harus ambil berkasnya dulu nanti kita urus kelanjutannya,” ajak Barney setelah membukakan pintu untuk Felicia. Felicia berjalan di samping Barney mengundang lirikan dari beberapa karyawan. Grace yang mendengar kabar tentang kedatangan Felicia ke perusahaan segera berlari keluar ruangan. Dia mencari keberadaan sahabatnya itu. Di lorong, dekat lift, Grace berteriak memanggilnya. “Hai, Fel!”“Grace!” jawab Felicia.Mereka berpelukan dengan mata berbinar.“Waduh, tambah cantik aja, Fel.
“Kamu wanita yang luar biasa. Sekarang, Kakek ingin bertanya langsung padamu,” katanya sambil menatap langsung pada Felicia.Felicia menunggu perkataan Kakek selanjutnya dengan perasaan tak menentu.“Apakah kamu sudah siap dan bersedia menjadi bagian utuh dari keluarga ini? Menjadi istri Barney dan nyonya di rumah ini?"Jantung Felicia berdegup kencang. Pertanyaan itu terdengar begitu sakral. Dia menatap Barney, melihat binar cinta dan pengharapan yang begitu besar di mata pria itu. Wanita cantik itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk mantap sambil tersenyum. "Iya, Kakek. Saya siap. Saya ingin kita melangkah bersama sebagai keluarga.""Bagus!" Mr. Ferdinand tiba-tiba memukul meja makan dengan pelan, wajahnya mendadak berubah menjadi lebih cerah."Kalau begitu, tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda. Barney, Felicia, Kakek sudah mengambil keputusan,” katanya lagi.Barney mengangkat alisnya, tersenyum curiga. "Keputusan apa, Kek? Jangan bilang Kakek mau mempercepat acara in
“Hah!” Mata Felicia membelalak mendengar perkataan Kakek ketika melewatinya. Wajahnya merona.“Siap, Kek. Kakek jaga Sue, ya,” bisik Barney yang disambut tawa pelan orang nomor satu di perusahaannya itu.“Udah dapet lampu hijau dari Kakek, ayo kita lakukan, Fel. Nggak sopan loh menolak permintaan orang tua,” kata Barney cengengesan. “Sst! Pelan dikit, ntar di denger Sue suaramu!” Felicia memelototkan matanya dengan pipi yang masih bersemu. Barney ambil kesempatan, dia mengulum lembut bibir Felicia. Sontak Felicia kelabakan. Debar jantungnya bergemuruh tak karuan.Dia menjauhkan diri dari Barney dan buru-buru mendekat pada Sue.“Sini, Mama. Kita main sama-sama,” kata Sue. Felicia duduk di karpet bersebelahan dengan gadis kecil itu. Melihat apa saja yang ada di sana, dan dia menggeleng pelan dibuatnya.Boneka-boneka bermerk, set permainan peralatan masak limited edition dan beberapa lainnya. “Sue serius mau tidur di sini?” tanya Felicia lagi.Sue mengangguk. “Iya, Ma.”“Baiklah, ta







