Beranda / Romansa / Istri Galak Sang Presdir / Bab 4. Kesalahan Yang Tidak Terduga.

Share

Bab 4. Kesalahan Yang Tidak Terduga.

Penulis: Laut
last update Tanggal publikasi: 2026-08-14 12:03:22

“Mm!”

Felicia terbangun secara alami karena kebiasaan. Namun, yang tidak biasa adalah rasa sakit di seluruh tubuhnya, terutama bagian kepala dan bagian di antara pangkuan.

Ia bisa menebak rasa sakit di kepalanya pastilah karena 2 botol minuman beralkohol yang tanpa sadar ia habiskan semalam. Namun, rasa sakit di antara pangkal paha adalah hal yang tidak mungkin terjadi kalau bukan—

Netra Felicia terbuka mendadak dengan pemikiran itu. Ia terbangun dan langsung mengaduh, “Aduduh! Sialan! Kenapa sakit semua?!”

Tak butuh waktu lama sampai Felicia menyadari bahwa tidak ada sehelai kain pun menutupi tubuhnya, kecuali selimut hotel. Dan suara dengkuran halus mengejutkannya. Begitu menoleh ke samping, wajahnya berubah pucat pasi.

‘Mati! Kenapa aku nggak pakai baju dan ada Barney di sini?!’ jeritnya dalam hati, panik. ‘Gimana nendang anak ini keluar dari kamarku?!’

Felicia mengamati sekitar dan menyadari bahwa ini adalah kamar hotelnya. Satu-satunya tempat ia bisa bersembunyi adalah kamar mandi. Jadi, dengan cepat ia memunguti semua pakaiannya yang terserak di lantai.

Tentu saja gerakan Felicia membangunkan Barney, karena begitu ia berbalik, netra mereka saling terkunci.

“Argh!” pekik Felicia panik dan terkejut melihat Barney pun dalam kondisi yang sama.

Wajah Felicia pias seketika. Tanpa menunggu, ia segera berlari ke kamar mandi.

Lutut Felicia tremor. Beberapa kali dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Ya Tuhan. Bagaimana kalau dia tahu kalau aku sudah bukan gadis lagi? Bodoh! Kamu bodoh, Fel!”

Felicia memukul kepalanya beberapa kali. Jantungnya berdegup lebih kencang. Dia memutar keran shower. Air mengguyur tubuhnya dengan deras, tak ingin Barney mendengar ucapannya dari luar.

Sementara itu Barney yang masih tertegun setelah memandangi punggung Felicia yang terbuka tadi. Semua kejadian semalam seperti ombak deras memenuhi kepalanya. Matanya terbelalak menyadari apa yang sudah mereka perbuat semalam.

“Setan! Apa yang sudah terjadi semalam?!”

Begitu menunduk, wajah Barney menjadi semakin tegang. “Shit! Aku juga nggak pakai baju! Apa benar aku sudah tidur dengan Felicia?!”

Barney kelimpungan. Dia melompat turun dan mengenakan pakaian seadanya, lalu berjalan keluar. Kembali ke kamarnya.

Di atas tempat tidur, Barney memejamkan mata. Dia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi.

Mata pemuda tampan itu terbuka cepat begitu kesadaran memenuhi otaknya. “Ah! Sepertinya dia sudah pernah melakukannya dengan orang lain sebelum bersamaku semalam.”

Dia termenung di tepi tempat tidur. Tangannya merapikan rambut yang acak-acakan.

“Hm! Cewek jutek seperti itu, ternyata—Ah! Bukan urusanku juga!” batin Barney sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

Felicia dan Barney sama-sama dalam perenungan di kamar masing-masing.

Waktu terus berjalan tanpa peduli apa yang terjadi dengan dua insan itu. Jarum jam menunjukkan pukul delapan waktu bagian Vestofia.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kamar Felicia diketuk pelan dari luar. Dia yang tengah duduk di tepi pembaringan meremas kuat tas yang ada di pangkuannya.

“Aduh! Itu pasti Barney!” gumamnya perlahan. “Mau ditaruh mana mukaku?! Bodoh! Dasar bodoh!”

Ketukan itu kembali terdengar. Kali ini disertai seruan dari Barney. “Fel! Kita harus buruan turun. Jangan sampai ketinggalan pesawat!”

Jantung Felicia bertalu-talu. Tangannya berkali-kali digosokkan pada kaos yang dipakai. ‘Tenang, Fel! Tenang!’

Felicia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Lalu dia berjalan ke pintu. Pintu terbuka saat tangan Barney siap untuk mengetuk lagi, sehingga kepalan tangan itu menyentuh dahi Felicia.

“Oh? Eh? Ehm … maaf!” kata Barney sambil menatap Felicia.

Tak seperti biasanya, Felicia yang akan mengamuk dengan semua kelakuan Barney, kali ini wanita itu terdiam. Pipinya terasa hangat. Dia segera membuang muka dan berjalan begitu saja meninggalkan Barney.

Pemuda itu mematung sejenak. Dia perlu beberapa detik untuk mencerna sikap Felicia pagi itu.

“Fel! Tunggu, Feli!” Langkah kaki Barney dipercepat hingga sejajar dengan Felicia.

Felicia bersikap acuh. ‘Sial! Kenapa jantungku masih saja berdetak cepat! Nggak bisa diajak kerja sama sama sekali!’

Sepanjang jalan menuju restoran hotel, tak ada satupun dari mereka yang berniat memecah keheningan. Masing-masing diam dengan pikirannya masing-masing. Bahkan ketika sarapan, mereka menyelesaikannya dengan cepat.

Felicia sama sekali tidak bisa menikmati sarapannya. Yang membuatnya bertambah kesal adalah karena Barney terlihat biasa saja, seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka.

Kini Felicia dan Barney sudah berada dalam kendaraan yang mengantar ke bandara. Lagi-lagi kebisuan adalah pilihan terbaik yang mereka pilih.

Gerimis pagi itu membuat suasana semakin muram. Felicia dan Barney duduk di ruang tunggu.

Tiga puluh menit berlalu, tetapi cuaca semakin buruk. Angin bertiup kencang dan hujan semakin deras.

Di saat bersamaan, sebuah pengumuman terdengar dari corong pengeras suara di seluruh bandara.

“Perhatian, Perhatian! Pengumuman kami sampaikan pada para penumpang Vivantion Airlines dengan tujuan kota Eleor. Dikarenakan cuaca ekstrim, keberangkatan akan ditunda tiga puluh menit dari jadwal yang ditentukan. Sekali lagi kami umumkan ….”

Pengumuman itu diulang dua kali dan membuat Felicia depresi juga dua kali. Padahal ia ingin segera menjauh dari Barney, tetapi malah terjebak selama itu di bandara.

Di saat bersamaan, ponsel Felicia berdering pelan. Melihat sang ibu yang menghubungi, Felicia pun segera pergi ke tempat yang sedikit tersembunyi. Ia tidak mau statusnya yang sudah memiliki anak, kedengaran oleh Barney. Bisa jadi, pria itu menggunakannya untuk melakukan pengancaman.

Namun, Felicia tidak sadar, bahwa Barney mengikutinya. Entah kenapa, Barney sedikit khawatir dengan rivalnya itu.

Ketika merasa sudah berada di tempat yang sepi, Felicia menerima panggilan telepon itu dan menyapa, “Halo, Bu—”

“Mama!” Teriakan itu cukup kencang hingga membuat Barney mendengarnya.

“Astaga! Sue! Kamu sudah sehat, Sayang?” tanya Felicia dengan nada keibuan yang hangat. “Gimana ceritanya kamu bisa jatuh, hm? Apa ada yang luka lagi?”

Barney ternganga melihat satu lagi wajah asli Felicia yang selama ini ditutup rapat dengan topeng keangkuhan dan kejudesannya.

‘Jadi dia seorang ibu?!’ pekik Barney seolah tidak yakin dengan apa yang didengarnya.

“Iya, Nak. Mama pulang deh akhir bulan ini. Gimana? Sue mau mama belikan apa?”

Hati Barney seolah jatuh ke perut mendengar pengakuan itu keluar sendiri dari mulut Felicia.

Mungkin karena terlalu kaget, ia tidak sadar ada kaleng kosong di sebelah kakinya. Ia menginjak kaleng itu, membuat suara yang tidak mungkin tidak didengar Felicia.

Felicia langsung menoleh dan seketika netra mereka kembali saling mengunci. Keduanya sama-sama terlihat kaget, seperti melihat hantu.

“Barn—uhm, Sue, Ma—mama telpon lagi nanti ya?” Tanpa menunggu jawaban putrinya, Felicia mengakhiri percakapan itu dan langsung mengejar Barney.

‘Sial! Sekarang dia malah tahu aku punya anak!’ raung Felicia tanpa suara.

Felicia mencoba mencari Barney untuk meminta lelaki itu tutup mulut soal statusnya sebagai seorang ibu. Namun, ketika menemukannya, Barney tengah dikepung sekelompok orang dengan jas hitam resmi.

Rahang Barney seperti mengeras, menahan marah. “Ngapain kalian di sini?!”

Salah seorang maju ke depan dan mengangguk hormat padanya. “Selamat siang, Tuan Muda. Ketua meminta saya menjemput anda.”

‘Tuan muda?! Apa dia itu orang kaya?!’ batin Felicia dengan kedua alis terangkat.

Tatapan tajam Felicia terarah pada Barney, yang ternyata juga tengah meliriknya dengan canggung.

Belum juga selesai dengan urusan para pria berpakaian hitam-hitam itu, seorang wanita cantik dengan pakaian mahal memanggil dengan kasar. “Barney!”

Yang dipanggil menoleh dan menghela napas lelah. Sepertinya dia mendapat 2 masalah dalam satu waktu.

Wanita itu mulai marah-marah. “Aku ini tunangan resmi kamu, Barn! Kamu tiba-tiba hilang, nggak kasih kabar, kamu kira gimana perasaan aku?!”

Namun, Barney mendengkus geli. “Ha! Tunangan Resmi?! Nggak ada hitam di atas putih, gimana bisa resm—”

Plak!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 113. Runtuhnya Sebuah Harapan.

    Tut! Tut! Tut!Alarm di ponsel Felicia berdering nyaring sejak pukul lima pagi, memaksanya melompat dari tempat tidur meskipun seluruh otot tubuhnya masih terasa kaku akibat pindahan kemarin. Suasana rumah setengah berantakan, ruangan sempit itu masih dikelilingi kardus-kardus yang belum sempat dibongkar."Feli, ini bekal sarapanmu. Ibu baru sempat goreng telur dan roti mentega," kata Ibu dari arah dapur, menyodorkan sebuah kotak bekal stainless steel."Terima kasih, Bu. Feli harus berangkat sekarang, takut terjebak macet. Hari Senin begini biasanya bus kota penuh," sahut Felicia tergesa-gesa sambil mengancingkan blazer kerjanya. Matanya melirik ke arah kamar, tempat Sue masih meringkuk pulas di balik selimut. "Bu, hari ini Sue terpaksa bolos sekolah dulu ya. Feli benar-benar belum sempat mengurus berkas mutasinya ke sekolah baru,” katanya buru-buru.Ibu mengangguk paham, mengusap lengan putrinya dengan lembut. "Iya, jangan khawatirkan Sue. Hati-hati di jalan, Fel."Sepanjang hari,

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 112. Harapan Ariella.

    Sambil melepas lelah, mereka duduk di teras rumah. Menatap bulan yang menggantung di langit dan merasakan embusan angin malam. Percakapan dan canda tawa itu berlanjut hingga larut malam. Mereka mengakhirinya dengan masuk ke kamar masing-masing. Sementara Sue sudah tertidur sejak tadi. **********.Matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan Desa Porteni saat Felicia membuka mata. Dia menguap dan meregangkan otot-ototnya. Sue masih tidur dengan pulas. Felicia membetulkan selimutnya.Ibu sudah di dapur untuk membuat minuman hangat. Kompor, panci dan beberapa gelas sengaja tidak dirapikan bersama yang lain.Wangi teh menguar dari sana. “Bu,” sapa Felicia. “Duduklah” kata Ibu penuh perhatian.Mereka duduk di kursi. Ibu menatap dalam-dalam. Dengan hati-hati dia bertanya, “ gimana dengan Nak Barney? Apa kamu benar-benar sudah melepasnya?” Felicia mengembuskan napas panjang. “Belum, Bu. Aku sendiri masih nggak tahu harus gimana.” “Jangan mempermainkan perasaan orang,

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 111. Siap Pindah Rumah.

    "Maafkan aku, Barn. Mereka adalah duniaku, Sama seperti keluargamu adalah duniamu," kata Felicia lembut. Dia mulai merapikan kertas-kertas di mejanya, menandakan bahwa malam sudah terlalu larut. "Biarkan aku menata hidupku dan keluargaku dulu. Setidaknya aku sudah merasa pantas untuk berdiri di depan keluargamu,” kata Felicia.Barney bangkit dari kursinya, memakai kembali jaket wollnya. Senyumnya kembali, meski kali ini terlihat sedikit dipaksakan demi menenangkan Felicia. "Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Tapi ingat, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan tetap di sini, menunggumu siap.” Barney mengecup kening Felicia dengan lembut.Felicia mendongak, menatap Barney yang kini berdiri di hadapannya.. "Terima kasih karena selalu mengerti.""Ayo pulang. Aku antar kamu sampai ke depan," ajak Barney sambil mengulurkan tangannya.Felicia mematikan monitor layar, mengambil tasnya, lalu menyambut uluran tangan Barney. Di bawah temaram lampu koridor kantor yang mulai padam satu per

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 110. Keinginan Felicia.

    Ariella yang tak berhasil mengajak Felicia keluar, dia memutuskan untuk pulang.“Fel, aku pulang duluan. Usahakan besok kita bisa jalan bareng, ya.” pamit Ariella.Felicia mengangguk dia merasa bersalah. “Iya, Ar. Akan aku usahakan.Ariella melangkah keluar, Felicia sedikit merasa lega. Dia tak harus membuat kebohongan lagi.Tak lama kemudian, Louisa juga berpamitan. “Ms. Feli. Aku pulang, ya,” pamitnya. Felicia tersenyum. “Iya, makasih, ya. Sampai jumpa besok.” Louisa melambaikan tangan dengan senyum lalu melangkah pergi membawa tas laptopnya yang berat.Kini, ruangan lantai empat itu sepenuhnya dihuni oleh Felicia seorang.Wanita cantik itu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Dia mengembuskan napas panjang, membiarkan keheningan malam menyelimuti dirinya. Alih-alih merasa kesepian, dia justru menikmati momen ini. Matanya menatap tumpukan berkas dan layar monitor yang masih menyala, menampilkan grafik pencapaian proyek terbarunya. Dia masih ingin tinggal lebih lama. Bukan k

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 109. Kantor Baru.

    Pertemuan di restoran siang itu bukan sekadar makan bersama. Berawal dari proyek Cleopatra Agency dan C&C Cookies and Cake, nama Felicia mendadak menjadi perbincangan hangat di kalangan pebisnis kelas atas. Strategi periklanan yang dia rancang dinilai segar, berani, dan sangat menyentuh target pasar.Hanya dalam waktu singkat, beberapa perwakilan dari perusahaan besar mulai menghubungi nomor operatornya. Ruang tamu sempit di rumah sewanya yang lama benar-benar sudah tidak memadai lagi.“Fel, kamu serius masih mau bertahan di ruang tamu yang bikin lutut ketemu lutut ini?” tanya Ariella sore itu. Dia bersandar di kusen pintu sambil memperhatikan Felicia yang sedang memeriksa dokumen kontrak baru, sementara Louisa sibuk mengetik di meja sebelah.Felicia mendongak, menghela napas panjang lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Ya mau gimana lagi, Ar? Nyari tempat yang pas itu nggak gampang. Pengeluaran juga harus dihitung matang-matang. Aku baru merangkak naik,” jawab Felicia. Arie

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 108. Kejutan Ariella.

    Tatapan mata Felicia terarah pada tangan Gea yang siap mendarat di wajahnya.Namun Felicia tidak bergeming. Dia semakin tenang. Kepalan tangannya mengendur. Dirinya merasa menang. Di depan para netizen yang siap memberi penilaian. “Ms. Gea, kendalikan emosi Anda, publik sedang mengawasi saat ini,” Suara Felicia merendah sambil mengisyaratkan Gea untuk melihat sekeliling mereka. Satpam bergerak cepat, dia memegang tangan Gea supaya tak menyakiti Felicia. Felicia tersenyum. Wajahnya semakin mencerminkan sikap percaya diri.“Aku bukan perempuan seperti yang kalian tuduhkan. Finno nggak bertanggung jawab atas perbuatannya, dan calon tunanganmu … bukankah kamu yang meninggalkannya?” “Hi–ih!” Gea menggeram kesal. Dia menyeringai sambil menarik kasar tangannya dari cengkeraman satpam. Manajernya datang tepat waktu. Dia menarik Gea lalu segera meninggalkan tempat itu. Kedua orang tua Finno juga bergegas keluar. Tinggal Felicia yang kembali duduk dengan napas memburu. Dadanya turun naik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status