بيت / Romansa / Istri Galak Sang Presdir / Bab 5. Bertemu Kembali.

مشاركة

Bab 5. Bertemu Kembali.

مؤلف: Laut
last update تاريخ النشر: 2026-08-14 12:04:40

“Si Barney abis dari Vestofia, langsung nggak masuk nih!”

Seseorang tiba-tiba berceletuk di tengah pekerjaan mereka.

3 hari berlalu setelah Felicia pulang dari Vestofia. 3 hari pula, Barney tak kunjung hadir di kantor. Menurut informasi dari Ms Carlota, Barney ada urusan keluarga.

“Apa dia kesel karena Feli yang menang tender?” Yang lain mulai meramaikan topik hangat itu.

“Atau malu kali, selama ini dia kan debat melulu sama Feli!” kekeh Grace gemas.

Beberapa dari mereka mengangguk setuju. “Bisa jadi tuh, Grace. Bisa jadi!”

Felicia tahu Barney bukan lelaki seperti yang ditebak teman-temannya barusan. Namun, ia sendiri juga jadi bertanya-tanya. ‘Apa mungkin ada hubungannya terkait status Barney sebagai orang kaya? Atau karena tunangannya yang marah itu?’

“Heh! Udah kalian ini!” tukas Robert yang memang dekat dengan Barney. “Lanjut kerja, woi! Lanjut!”

Mereka cekikikan satu sama lain, tapi tidak lagi melanjutkan pembahasan itu.

Namun, karena memikirkan kejadian di bandara, Felicia jadi teringat kembali pada kenyataan bahwa Barney—pria yang notabene adalah rivalnya dan yang juga tidak sengaja tidur dengannya, sudah memiliki tunangan.

Entah kenapa hati Felicia terasa masam.

Berusaha mengabaikan perasaan aneh itu, ia pun kembali fokus pada pekerjaan. Setelah rapat membahas kemenangan tender di Vestofia dan langkah selanjutnya, kini Felicia harus langsung mengimplementasikan apa yang sudah diputuskan.

Baru saja ia berniat fokus pada pekerjaannya, tiba-tiba pintu dibuka. Membuat semua yang bekerja dalam satu ruangan mengangkat kepala ke arah pintu.

“Weh! Kirain resign abis kalah tender!” seru seorang rekan kerja bernama Aldo.

Robert langsung memukul lengan Aldo. “Jangan dengerin dia Barn! Santai aja! Masih ada tender lain!”

Barney menatap mereka semua kemudian tertawa seperti orang gila. ‘Iya juga ya. Harusnya aku kesal karena Felicia yang menang. Tapi kenapa nggak?’

Melihat Barney malah tertawa-tawa, Celine menggeleng. “Wah, dia jadi gila, Bert! Ati-ati loh!”

“Hahaha! Kalian ngomong apa sih?! Yang menang kan tetep perusahaan kita!” Kemudian pandangannya beralih ke bilik kerja Felicia. “Iya kan, Fel?”

Netra Felicia membulat kaget. Ia tidak menyangka Barney akan tetap menyapa seolah tidak terjadi apapun di antara mereka.

Setengah mati Felicia bersikap biasa saja. Ia mencoba melempar senyum tipis, tapi terlihat seperti raut wajah jijik.

Melihat itu, teman-teman lain langsung mengalihkan pembicaraan.

Sementara itu, Felicia memilih untuk mememfokuskan matanya kembali ke layar laptop. Sayangnya, itu hanyalah angan. Tiba-tiba bilik sebelahnya membicarakan sesuatu yang membuatnya penasaran.

Bilik di sebelah ada meja Robert. Jelas siapa yang sedang bicara dengannya. Barney.

“Eh! Nggak masuk 3 hari, ke mana aja sih, Bro?!” tanya Robert yang penasaran akut.

Barney terkekeh singkat. “Lah, padahal aku udah bilang Ms Carlota kalo ada urusan keluarga.”

Lagi-lagi, Robert dikuasai roh penasaran. Karena ia seperti ingin tahu sekali soal kehidupan Barney. “Ya, urusan apa?! Ada yang meninggal? Atau apa? Atau jangan-jangan kamu lagi diem-diem persiapan nikah?!”

Uhuk!

Felicia sampai terbatuk mendengar tebakan itu. Ia segera mengambil botol minumannya dan segera menyiram tenggorokan dengan air di dalamnya.

Barney berdiri menatap Felicia. Bibirnya menahan senyum saat berkata, “Astaga, Fel. Ati-ati dong!”

Felicia melotot ke arah Barney, tapi dia juga tidak punya kata-kata untuk membalasnya. Namun, ia tidak bisa diam saja setelah dibuat malu begini. Dengan ketus, ia menyentak, “Diem! Kerja sana!”

Anehnya, Barney tak lanjut berdebat. Ia hanya tersenyum kemudian duduk lagi.

‘Sial! Kelakuan dia aneh banget! Apa dia mau ngancem pakai rahasiaku?! Argh! Bagaimana ini?!’ Felicia menjerit dalam hati.

Baru saja suasana di ruang kerja menjadi lebih tenang, Ms Carlota masuk dan berkata, “Feli, Barney, ke ruangan saya!”

Semua mata kini memandang mereka berdua.

“Nah loh, kenapa ya kira-kira?” bisik Grace pada Celine yang duduk bersebelahan.

Aldo pun ikut nimbrung. “Apa mereka ada bikin masalah? Apa mau dikirim lagi ke tender lain? Wah kita kapan nih?!”

Lagi-lagi Aldo mendapat tepukan keras di punggungnya oleh Robert. “Bisa nggak sih kamu nggak nethink?! Pasti Ms Carlota kasih kesempatan ke yang lain lah!”

“Iya nih Aldo! Kompor aja!”

Sementara mereka ribut bisik-bisik, Felicia dan Barney sudah duduk di seberang Ms. Carlota. Pikirannya sama, ‘Ada apa ya, dipanggil begini?’

“Saya denger kemarin presentasi kalian keren banget, Fel, Barn,” ujar Ms Carlota membuka percakapan.

Kemudian kepalanya menoleh ke arah Barney. “Dan katanya, kamu juga gesit bantuin Feli. Saya kagum, Barn!”

“Euh … nggak juga bu. Gimana ya, namanya juga rekan seperusahaan.” Barney terkekeh sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

Ms Carlota menjentikkan jari ke arah Barney sambil berkata tegas. “Itu dia, Barn! Itu yang ibu mau!”

Dahi kedua staf–nya mengernyit tak paham.

“Kalian kan selalu debat,” jelas Ms Carlota, menjawab kebingungan di wajah mereka. “Jadi, waktu tau Barney ikut bantuin Feli, kaget saya. Kalian ternyata bisa jadi tim yang kompak!”

Felicia hanya tersenyum saja mendengar Ms Carlota bicara, sementara Barney terkekeh-kekeh mendapat pujian itu.

Kemudian, Ms. Carlota melanjutkan ucapannya. “Nah, karena itu saya pikir kalian harus kerjain proyek ini bareng-bareng. Gimana?”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 8. Sebuah Permintaan.

    Alis mata Barney terangkat mendengar perkataan kakeknya.“Uhuk!” Barney mengusap mulutnya yang masih mengunyah. “Secepat itu, Kek?” Ferdinand Noir menatap cucunya. “Apa salah kalau Kakek pengen ngobrol santai dengannya?” Glek!Barney susah payah menelan makanannya. Dia meletakkan piring di meja dekat tempatnya berdiri. Pemuda tampan itu memasukkan tangan dalam saku celananya dan menatap Ferdinand Noir dengan pandangan memelas. “Please, Kek. Aku dan dia itu … kami bukan pasangan kerja yang baik. Kami—,” Barney tak bisa menjelaskan bagaimana hubungan kerja dengan Felicia selama ini. Tangannya menggaruk kepala bagian belakang yang sebenarnya tidak terasa gatal.Ferdinand Noir memandang cucunya sekilas. “Hehehe! Entah gimana caramu, aku mau dia datang ke rumah malam ini.” Beliau melangkah menjauh, bergabung dengan pembesar lainnya. Barney menatap punggung kakeknya sambil berpikir, ‘gimana caranya ngajak dia pulang bareng? Yang nggak mencolok di depan semua orang.’Pukul delapan ma

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 7. Acara di Aula.

    Brak!Felicia tersungkur, tangannya tak berhasil meraih sesuatu untuk menopang tubuhnya.“Hahaha!”Sebagian tertawa keras. Barney yang duduk dekat situ langsung berdiri dan menghampiri Felicia. “Gimana sih, Fel? Kok bisa-bisanya jatuh di acara seperti ini?” tanya Barney panik.Felicia terkejut, dia melotot menatap Barney dan sedikit menggeleng. Barney sadar, dia menatap sekeliling, beberapa pasang mata menatap heran. Ini bukan kebiasaannya Dia langsung pasang muka jutek.“Dasar! Jalan yang bener!” bentak Barney sedikit salah tingkah.“Urus saja urusanmu sendiri!” jawab Felicia. Grace dan beberapa rekan mendekat, membantu Felicia berdiri. “Udah tau Feli jatuh, bukannya ditolong malah ngomel. Dasar!” gerutu Grace. Barney yang merasa serba salah menghentakkan kaki dan kembali ke tempat duduknya.Felicia berdiri, dia mengibaskan bagian yang kotor. Lalu berbalik menatap Sophia, seseorang yang selalu merasa paling unggul dan iri pada dirinya.“Apa lihat-lihat?” nyinyir Sophia sambil m

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 6. Bisik-bisik di Ruang Arsip.

    Uhuk! Uhuk!Felicia menutup mulutnya. Dia tersedak mendengar penuturan Ms Carlota. “Anda yakin? Saya rasa itu bukan ide yang bagus, Bu.” Barney melirik Felicia. Dia juga menutup mulutnya dengan tangan. Namun, bukan terkejut, melainkan tertawa geli melihat reaksi si Kitty yang tak lagi jadi rivalnya. Ms Carlota menatap dan tersenyum. “Iya, benar. Saya yakin kalian pasti akan bisa bekerja sama.” “Oke! Saya setuju, Bu. Kami akan mengerjakan proyek ini bersama-sama,” jawab Barney. Felicia melotot pada Barney dan menggeleng pelan. Namun, Barney hanya mengangkat bahu dan kembali tersenyum.“Baiklah. Terima kasih kalian bisa bekerja sama. Jangan lupa nanti sore ada pertemuan.” Ms Carlota mempersilakan mereka kembali bekerja. Felicia dan Barney keluar dari ruangan Ms Carlota. Namun, sebelum sampai di ruangan masing-masing, Felicia menarik ujung lengan pakaian Barney dan mengajak ke ruang arsip yang selalu sepi. “Eeh! Kenapa, Fel?” Mata Barney membelalak karena terkejut. Felicia tak bi

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 5. Bertemu Kembali.

    “Si Barney abis dari Vestofia, langsung nggak masuk nih!”Seseorang tiba-tiba berceletuk di tengah pekerjaan mereka. 3 hari berlalu setelah Felicia pulang dari Vestofia. 3 hari pula, Barney tak kunjung hadir di kantor. Menurut informasi dari Ms Carlota, Barney ada urusan keluarga. “Apa dia kesel karena Feli yang menang tender?” Yang lain mulai meramaikan topik hangat itu. “Atau malu kali, selama ini dia kan debat melulu sama Feli!” kekeh Grace gemas.Beberapa dari mereka mengangguk setuju. “Bisa jadi tuh, Grace. Bisa jadi!”Felicia tahu Barney bukan lelaki seperti yang ditebak teman-temannya barusan. Namun, ia sendiri juga jadi bertanya-tanya. ‘Apa mungkin ada hubungannya terkait status Barney sebagai orang kaya? Atau karena tunangannya yang marah itu?’“Heh! Udah kalian ini!” tukas Robert yang memang dekat dengan Barney. “Lanjut kerja, woi! Lanjut!”Mereka cekikikan satu sama lain, tapi tidak lagi melanjutkan pembahasan itu. Namun, karena memikirkan kejadian di bandara, Felicia j

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 4. Kesalahan Yang Tidak Terduga.

    “Mm!”Felicia terbangun secara alami karena kebiasaan. Namun, yang tidak biasa adalah rasa sakit di seluruh tubuhnya, terutama bagian kepala dan bagian di antara pangkuan.Ia bisa menebak rasa sakit di kepalanya pastilah karena 2 botol minuman beralkohol yang tanpa sadar ia habiskan semalam. Namun, rasa sakit di antara pangkal paha adalah hal yang tidak mungkin terjadi kalau bukan—Netra Felicia terbuka mendadak dengan pemikiran itu. Ia terbangun dan langsung mengaduh, “Aduduh! Sialan! Kenapa sakit semua?!”Tak butuh waktu lama sampai Felicia menyadari bahwa tidak ada sehelai kain pun menutupi tubuhnya, kecuali selimut hotel. Dan suara dengkuran halus mengejutkannya. Begitu menoleh ke samping, wajahnya berubah pucat pasi. ‘Mati! Kenapa aku nggak pakai baju dan ada Barney di sini?!’ jeritnya dalam hati, panik. ‘Gimana nendang anak ini keluar dari kamarku?!’Felicia mengamati sekitar dan menyadari bahwa ini adalah kamar hotelnya. Satu-satunya tempat ia bisa bersembunyi adalah kamar man

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 3. Proyek di Pulau Vestofia.

    “Apa-apaan ini?!”Felicia menatap tiket di tangan dengan pandangan sedikit kecewa. “Bisa-bisanya sistem narik nama dari atas saja. Sistem sialan!” Celine yang tak jadi berangkat juga ikut cemberut. “Mau gimana lagi, Fel. Kita nggak bisa minta ganti.”Entah karena sistem, atau memang pengaturan panitia proyek berubah, tiba-tiba saja Felicia berangkat hanya dengan Barney saja.Felicia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke jendela. Memandang ke bawah sesaat lalu berbalik seraya menghembuskan napas panjang. “Tapi, ya nggak sama tikus curut itu juga kali!” “Memang mereka menambah peserta dan ruangannya terbatas. Jadi yah … entahlah!” Celine mengedikkan bahu.Tok tok tok! “Fel! Kamu di tunggu di bawah tuh! Buruan! Pesawat berangkat sembilan puluh menit lagi!” Rara melambai pada Felicia. “Cel, aku pergi ya!” pamit Felicia yang dibalas dengan lambaian tangan lemas dari Celine. Dengan menghentakkan kaki, Felicia menarik kopernya dan berjalan menuju mobil yang akan mengantar mereka

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status