Home / Romansa / Istri Galak Sang Presdir / Bab 3. Proyek di Pulau Vestofia.

Share

Bab 3. Proyek di Pulau Vestofia.

Author: Laut
last update publish date: 2026-08-14 12:02:09

“Apa-apaan ini?!”

Felicia menatap tiket di tangan dengan pandangan sedikit kecewa. “Bisa-bisanya sistem narik nama dari atas saja. Sistem sialan!”

Celine yang tak jadi berangkat juga ikut cemberut. “Mau gimana lagi, Fel. Kita nggak bisa minta ganti.”

Entah karena sistem, atau memang pengaturan panitia proyek berubah, tiba-tiba saja Felicia berangkat hanya dengan Barney saja.

Felicia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke jendela. Memandang ke bawah sesaat lalu berbalik seraya menghembuskan napas panjang. “Tapi, ya nggak sama tikus curut itu juga kali!”

“Memang mereka menambah peserta dan ruangannya terbatas. Jadi yah … entahlah!” Celine mengedikkan bahu.

Tok tok tok!

“Fel! Kamu di tunggu di bawah tuh! Buruan! Pesawat berangkat sembilan puluh menit lagi!” Rara melambai pada Felicia.

“Cel, aku pergi ya!” pamit Felicia yang dibalas dengan lambaian tangan lemas dari Celine.

Dengan menghentakkan kaki, Felicia menarik kopernya dan berjalan menuju mobil yang akan mengantar mereka ke bandara. Untungnya, ia tidak berangkat bersama Barney ke bandar udara. Katanya, rival Felicia itu langsung menyusul dari rumah.

Tepat tengah hari, pesawat yang Felicia dan Barney tumpangi mendarat di Bandara International Guillon Two, Giovanto, pulau Vestofia. Mereka langsung dijemput menuju hotel yang sudah disediakan dan mendapat kamar bersebelahan.

Tanpa memikirkan Barney. Felicia segera masuk dan membanting diri di atas kasur empuk. Ia kembali mengeluh, “Sial! Kenapa harus sama si curut itu sih!”

Tengah beristirahat, tiba-tiba terdengar dering ponsel Felicia. Dengan malas, ia mengeluarkan ponselnya dan membuka layar.

Melihat siapa yang menghubungi, Felicia segera bangkit dari tempat tidur dan beranjak menuju balkon.

“Halo, Bu? Gimana kabarnya?” sapa Felicia riang.

Mereka berbincang sebentar, tetapi wajah Felicia tiba-tiba menegang. Dia berdiri, memegang pelipisnya sambil berjalan ke kiri dan ke kanan.

“Sue jatuh? Terus gimana? Udah ke rumah sakit? Gimana keadaan Sue sekarang, Bu?!” tanyanya panik.

Entah apa jawaban sang ibu, tetapi Felicia tiba-tiba berhenti bolak-balik. Dia memeriksa tabungan yang ada pada ponselnya, dan mengutak-atik sebentar sebelum melanjutkan pembicaraan.

“Uangnya sudah aku kirim, Bu. Aku titip Sue ya, Bu. Nanti kabari aku lagi.”

Setelah menyudahi panggilan telepon itu, Felicia diam termenung. Tangannya sesekali membelai rambut pendeknya. Ia memandang nanar ke depan.

“Oh Tuhan, semoga Sue baik-baik aja,” harap Felicia dengan suara pelan.

Wanita itu melirik layar ponsel yang masih menampilkan halaman saldo tabungannya, kemudian tersenyum kecut. “Sisa dikit. Nggak apa-apa. Pasti akan ada rejeki lagi.”

“Maafin Feli, Yah. Sejak Ayah pergi, Feli agak kesulitan ngimbangin kebutuhan hidup.” bisik Felicia pada angin yang lewat, mungkin berharap bisa menolongnya membawakan pesan itu pada sang ayah di sorga sana.

Lagi, ia berkata, “Rumah kita di kota dijual. Sekarang, Ibu dan Sue terpaksa tinggal di desa Porteni.”

Felicia menyimpan ponselnya dan bersandar di balkon. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat. Meskipun tak ayal, dia terisak juga. “Feli janji, Ayah. Kalau Feli sukses, Feli akan ajak Ibu dan Sue pindah ke kota lagi.”

Tanpa Felicia sadari, seseorang melihat dan mendengar apa yang dia katakan.

Barney yang memilih duduk selonjor di balkon diam terpekur. Batinnya, ‘Wow! Aku nggak nyangka. Ternyata si jutek punya hati hello kitty juga.’

Suara isak Felicia masih terdengar samar oleh Barney. Hari ini dia menemukan sisi kehidupan Felicia yang lain.

Puas menangis di balkon. Felicia segera masuk dan mandi. Acara akan diadakan pukul empat tepat. Dia tak ingin terlihat suram.

Selesai mandi tubuhnya terasa lebih segar. Dia membaringkan diri sejenak.

Belum ada 10 menit ia berbaring, seseorang mengetuk pintu kamar hotelnya.

Dahi Felicia berkerut seraya beranjak dari tempat tidur. ‘Siapa sih?’

Felicia mengintip sebentar dari lubang pintu dan terkejut melihat siapa yang ada di depan pintunya sekarang. ‘Dih! Ngapain tikus curut itu ada di sini?!’

Terpaksa Felicia membuka pintu, lalu bertanya dengan ketus. “Apa?!”

Barney berdiri dengan sedikit canggung. Dia tidak paham bagaimana memperlakukan wanita bila sedang sedih. Apalagi itu Felicia.

Pemuda tampan itu menggaruk kepala bagian belakangnya. “Uhm, Fel ... ntar tolong kita jangan berdebat ya. Kamu dukung aku. Aku dukung kamu. Oke?”

“Hm!” Hanya itu yang keluar dari mulut Felicia. “Dah ya!”

Baru saja Felicia ingin menutup pintu lagi, tetapi tangan Barney menahan. “Tu—tunggu, Fel!”

Netra Felicia menyipit tajam. “Apa lagi?!”

“Mumpung ini masih jam tiga, keluar sebentar yuk,” ajak Barney.

Alis Felicia mengerut. “Keluar? Maksudmu jalan?”

Barney diam sesaat. Dia mencari alasan yang tepat supaya si Jutek mau diajak keluar. “Iya! Biar presentasi kita semakin bagus, kita harus tahu keadaan sekitar. Jadi, kita punya gambaran. Gimana?”

Felicia berpikir sebentar sebelum menganggukkan kepala. “Oke! Tunggu bentar!”

Setelah berganti pakaian, Felicia segera mengikuti Barney. Mereka berdua jalan melihat situasi dan kondisi kota Giovanto, kota terbesar di pulau Vestofia. Ada beberapa hal yang mereka temukan di sana.

Jam empat tepat, pertemuan dimulai. Pembawa acara mempersilakan satu persatu tamu undangan untuk menyampaikan ide.

Setelah Barney selesai, Felicia maju. Tak ada gentar di wajahnya. Penampilannya maksimal.

Baru kali ini Barney bisa kagum terhadap Felicia.

‘Di bagian tubuh mana kamu menyimpan kekuatanmu ini?’ tanyanya dalam hati. ‘Tak ada sedikit pun kerapuhan seperti yang aku lihat siang tadi.’

“Jadi seperti itu ide, program dan anggaran yang saya ajukan.” Felicia mengakhiri penyampaiannya.

Para penonton pun bertepuk tangan. Seseorang mengangkat tangan. Menyampaikan pertanyaan. Disusul oleh yang lain. Membuat Felicia sedikit kewalahan.

Tiba-tiba Barney berdiri dan meminta ijin untuk membantu menjawab. Dengan ini, presentasi Felicia membuat pihak klien beberapa kali tersenyum puas.

Felica menatap Barney canggung. “By the way, thanks ya! Tadi kamu udah bantuin aku.”

Barney tersenyum, kali ini senyum tulus yang dia pasang. “Yeah. Nggak masalah, Fel. Semoga salah satu dari kita bisa goal ya.”

Felicia menganggukkan kepala. Mereka kembali diam dengan pikirannya masing-masing.

Lima belas menit berlalu. Pihak klien sudah selesai berunding.

“Selamat malam Bapak, Ibu sekalian. Semua ide yang disampaikan sungguh luar biasa. Tapi kami akan memilih satu di antara semua,” kata pembawa acara.

Semua peserta saling melempar pandangan. Felicia meremas kedua tangannya. Denyut jantung terasa berdetak lebih cepat.

“Kami panggil, perwakilan dari, Mom’s Creative, saudari Felicia untuk maju ke depan!”

Rasa nyeri menyeruak di hidung Felicia, membuat netranya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan menjadi yang terpilih dalam proyek besar ini.

Bahkan Barney ikut berseru dengan meriah. “Whoa! Hebat kamu, Fel!”

Tidak tahu kenapa, setelah melihat sisi Felicia yang rapuh, Barney tak lagi melihat wanita itu sebagai rivalnya. Kali ini bahkan pujiannya keluar dari hati yang tulus.

Dengan rasa percaya diri Felicia maju ke depan diiringi tepuk tangan hadirin yang ada di situ.

“Selamat! Program anda luar biasa!’ Pembawa acara menyalami Felicia.

Felicia bagai melayang. Perasaan bangga membuat dia menghapus air di sudut matanya. “Terima kasih! Terima kasih!”

Setelah itu, ternyata pihak klien menyiapkan jamuan makan bersama.

Namun, setelah acara itu berakhir, Felicia dan Barney tidak kembali ke kamar. Mereka memutuskan untuk pergi ke bar yang ada di lantai 9 hotel. Merayakan kemenangan dengan satu atau dua gelas minuman beralkohol.

Entah kenapa, keduanya larut dalam suasana. Tidak hanya segelas dua gelas, tetapi hampir 2 botol mereka habiskan sambil berbincang soal proyek ini.

Saat kembali ke kamar, Barney melihat wajah Felicia dan menganggapnya menarik. Di bawah pengaruh minuman keras, Barney tiba-tiba menciumnya. Mereka masuk ke dalam kamar Felicia yang kebetulan lebih dekat dengan posisi mereka saat itu.

Tak ada dalam mimpi terliar Barney, bahwa ia akan bersentuhan seperti ini dengan rivalnya. Bahkan ciuman itu dibalas penuh antusias oleh Felicia.

“Mmh! Mmh!” Felicia memukul pelan dada Barney mencoba memberitahunya kalau ia kehabisan napas. Membuat Barney terkekeh.

Tak sadar, mereka menyentuh pinggiran ranjang. Barney mendorong pelan tubuh Felicia dan mendekati bibirnya lagi.

“Napas pakai hidungmu, Fel. Aku berniat membuat bibirmu sibuk.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 70. Langkah Senyap Seorang Pembenci

    ‘Cepat, So. Kamu harus bisa!’ Sophia memberi semangat pada dirinya sendiri dalam hati.Fokus utama Sophia hari ini terbagi dua. Separuh otaknya menyelesaikan revisi laporan rutin, sementara separuh lainnya, yang jauh lebih waspada, sedang mencari celah di dalam peladen internal perusahaan. Matanya sesekali melirik ke arah lorong, memastikan tidak ada orang yang berdiri di belakang kursinya. Targetnya hari ini adalah menyalin data laporan keuangan proyek kuartal terakhir dan daftar vendor utama yang menjadi tulang punggung produksi Mom's Creative. Data-data sensitif inilah yang kemarin sore dibicarakan oleh dua bekingannya sebagai peluru pertama untuk merongrong bisnis Mom’s Creative.“Heh, serius amat, So. Awas itu mata jangan melotot terus, nanti copot ke keyboard baru tahu rasa,” seloroh Robert yang lewat dan menengok di pintu sambil membawa segelas es kopi cappucino.Sophia tersentak kecil, buru-buru menekan tombol Alt+Tab untuk menyembunyikan jendela folder rahasia yang baru sa

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 69. Menjalankan Rencana

    “Apa kamu tahu soal Sophia yang melabrakku?” tanyanya.Barney tidak langsung menjawab, dia hanya menatap lekat-lekat wajah Felicia.“Bukan cuma soal Sophia, Fel. Angelina juga datang ke ruanganku tadi siang,” ungkap Barney lirih, suaranya terdengar berat menahan dongkol yang tersisa.“Ah iya, dia tadi juga ke ruanganku bersama Sophia!” seru Felicia dengan mata membelalak. Barney mengerutkan dahinya. “Untuk apa mereka menemui kamu?”Felicia mengangkat bahunya sedikit. “Aku juga nggak tahu. Mereka tak bicara apapun.” Suasana dalam mobil terasa hening. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Perlahan, Barney menyalakan mesin mobil dan menjalankannya perlahan. Selama perjalanan mereka berdua lebih banyak diam. Hingga mobil memasuki area parkir. “Ayo turun, Fel. Masih betah tinggal di sini?” tanya Barney memecah lamunan Felicia. “Eh, udah nyampe, ya. Hihi.” Felicia segera membuka pintu mobil dan turun bersamaan dengan Barney.“Ah sampai juga. Lega rasanya. Emang rumah a

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 68. Aliansi Para Pembenci

    Sore merambat pelan. Mengantar para karyawan pada jam pulang. Sophia berjalan setengah berlari meninggalkan area kantor dengan perasaan kesal.‘Dasar perempuan rendahan. Tambah muak aku melihatnya!’ geram Sophia dalam hati.“So, pulang bareng yuk!” sapa salah seorang rekannya.Namun, Sophia mengabaikan beberapa rekan kerja yang menyapanya di lobi dan langsung menuju mobilnya di area parkir basemen. “Sial! Sial! Kenapa bisa seperti ini. Kenapa mesti dia yang berhasil!” geramnya.Di dalam kendaraan yang tertutup rapat, dia meluapkan seluruh emosinya dengan memukul setir berulang kali hingga tangannya memar.Deert! Ponsel di dalam tasnya bergetar berulang kali, menampilkan nomor tidak dikenal yang terus mendesak untuk diangkat. Dengan napas yang masih memburu dan wajah yang kusam, Sophia akhirnya menekan tombol hijau dengan kesal.“Halo?” jawabnya sedikit kasar.“Hai. Kamu Sophia?” tanya suara dari sana.Huh!Sophia mendengkus kesal. “Iya, kenapa?”“Ini Angelina. Kamu sedang kesal?”

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 67. Cemilan Sore.

    Angelina tak langsung pulang. Dia singgah di kafe ternama yang memiliki bentuk bangunan estetik.Wanita itu mengambil ponsel dan menekan satu nama dalam kontaknya. “Aku ada di Labierine kafe, apa bisa ketemu sekarang?” tanyanya.Tak lama kemudian seorang model cantik berjalan anggun memasuki kafe itu.Suara dentingan gelas kristal beradu pelan di dalam ruangan privat.Angelina menyesap anggurnya dengan elegan, meskipun gurat kekesalan di wajahnya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya dari hadapan Gea. Di seberang meja, Gea mendengarkan dengan saksama, menopang dagunya dengan senyum misterius yang terus mengembang sejak Angelina mulai bercerita. Rencana besar yang mereka susun di kafe waktu itu mendadak mendapatkan angin segar dari arah yang tidak terduga.Angelina meletakkan gelasnya sedikit menghentak, mengingat kembali penolakan Barney yang begitu melukai harga dirinya. Namun, kilat matanya berubah licik saat ia mulai membicarakan kartu as baru yang baru saja didapatkan di koridor

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 66. Hati yang Semakin Bergolak.

    Tatapan dingin wanita cantik itu membuat lutut Sophia sedikit tremor.“M–maaf, maaf saya tidak sengaja,” kata Sophia terbata.Wanita cantik itu membelalak kesal.“Dasar karyawan rendahan! Kalau jalan pakai mata!” semprotnya.“I–iya, Ms.” Sophia menganggukkan kepala tanpa berani menatapnya. Wanita cantik itu melanjutkan langkahnya menuju ke ruang utama.Dua sekretaris yang duduk di depan pintu berdiri dan menganggukkan kepala. Klek!Pintu terbuka dan ditutup perlahan. Barney yang duduk memandang laptopnya langsung menengok ke arah pintu. ‘Angelina?’ “Halo, Sayang. Nih aku bawakan makanan kesukaanmu,” kata Angelina sembari berjalan mendekat ke meja.Dia duduk di sofa dan meletakkan beberapa kotak makanan di atas meja.“Untuk apa kamu datang kemari?” tanya Barney datar.Angelina tersenyum manis. “Tentu saja aku datang untuk menjengukmu.” Barney mengembuskan napas panjang. “Aku kerja dan tak perlu kamu repot-repot datang kemari.”Angelina menyimpan rasa dongkolnya baik-baik. Dia masi

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 65. Amarah Sophia.

    Keheningan yang mencekik mendadak menguasai ruangan Divisi Tim Satu. Felicia masih memegangi dadanya, terbatuk kecil karena tersedak air mineral yang baru saja diteguknya. Di ambang pintu yang terbuka lebar, berdiri Sophia dengan napas memburu dan tatapan mata yang seolah siap menguliti siapa saja di depannya. Wajahnya merah padam menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.Semua mata tertuju pada Sophia, yang kini melangkah masuk dengan angkuh, mengabaikan tatapan bingung orang-orang yang ada di sana.Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi medan perang yang dingin dan menegangkan.“Hebat ya, baru menang proyek kecil aja serombongan sudah bersikap seperti pemenang tender internasional!” sindir Sophia, suaranya melengking tajam dengan nada merendahkan.Felicia meletakkan botol airnya perlahan, berusaha menstabilkan detak jantungnya yang berpacu cepat akibat syok. “Maksudmu apa, Sophia? Kalau ada masalah pekerjaan, kita bisa bicarakan baik-baik tanpa perlu merusak fasil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status