Mag-log inNegara Celestia tempat jodohnya Kayson (anak Anna dan Kaiden) berada :D
Ruangan di sebelah Anna tak lagi berpenghuni. Anak-anak hasil eksperimen itu telah dipindahkan, tetapi suara rintihan kesakitan mereka terus menghantui Anna.Tangisan mereka, teriakan mereka, dan bagaimana mereka terus memohon untuk dibawa keluar—semua itu masih terus terngiang di benaknya.Ia tidak bisa tidur barang sejenak, meskipun tubuhnya lelah luar biasa. Ia terus memikirkan anak-anak itu, tetapi tak ada yang bisa ia lakukan untuk menolong mereka.Jika ia memohon pada ayahnya, ia tahu mereka akan memanfaatkan kesempatan itu agar ia mau bekerja sama. Mereka akan menukar permintaannya dengan menjebak Kaiden agar mereka bisa menghabisinya.Anna tidak bisa. Tidak mungkin ia melakukan itu. Meskipun, ia putus asa ingin menyelamatkan anak-anak itu.Ia bahkan tidak tahu apakah ayahnya akan menepati janjinya. Dia bisa saja menipunya, seperti yang dia sering lakukan di masa lalu. Anna tidak bisa mengambil resiko begitu besar dengan mengorbankan Kaiden dan anak-anak itu sekaligus.Ia harus
Kaiden mondar-mondar di depan barak dengan gelisah. Entah kenapa, perasaannya tidak tenang sama sekali. Ia merasa kalau ada sesuatu yang terjadi.Kenapa Pemimpin Shelton belum tiba di Mosirette?Seharusnya Pemimpin Shelton sudah tiba sekarang.Seminggu telah berlalu sejak mereka terakhir kali berkomunikasi. Setiap kali pergi ke Celestia, perjalanan pulang Pemimpin Shelton selalu memakan waktu 5 hari.Kaiden berasumsi kalau cuaca gurun yang terlalu panas di musim ini membuat perjalanan Pemimpin Shelton sedikit terhambat. Untuk itu, perjalanannya lebih lama dari biasanya.Namun bahkan setelah 7 hari berlalu, tidak ada tanda-tanda bahwa Pemimpin Shelton sudah tiba di area Mosirette. Tidak ada kabar atau informasi apa pun.Kaiden khawatir ini bukan sekadar cuaca, melainkan masalah yang jauh lebih besar. Prajurit yang berjaga di perbatasan luar yang terhubung ke gurun mengatakan bahwa tidak ada tanda-tanda rombongan mobil yang akan lewat. Padahal, dari teropong, mereka seharusnya sudah ter
Anna tidak tahu sudah berapa kali Dokter Marcus memberinya suntikan cairan. Ia tidak tahu berapa hari telah berlalu. Rasanya pandangannya terus terhalang oleh kabut dan ia tidak bisa melihat apa pun. Ia hanya mendengar beberapa percakapan ayahnya dan Dokter Marcus tentang Pemimpin Shelton dan rencana Panthera Kroy, tetapi itu semua terasa samar-samar. Sehari mungkin telah berlalu, atau tiga hari, atau mungkin seminggu. Ia tidak tahu. Ruangan itu tidak memiliki jam. Ia tidak bisa menebak apakah sedang pagi, siang, atau malam. Mereka memberinya makan, tetapi Anna tidak ingat apakah ia menelan makanan itu atau tidak. Tubuhnya terasa lemas luar biasa dan berkeringat dingin. Mungkin ia demam atau efek dari suntikan racun ular itu telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia takut pada akhirnya ia akan lumpuh dan tak bisa beranjak bangun dari tempatnya lagi. Memikirkan itu membuat Anna terus menangis tanpa henti. Ia mengkhawatirkan bayinya dan bagaimana suntikan ini akan mempengaruhinya.
“Suratnya sudah sampai di tangan Jenderal Kaiden. Mata-mata kita mengatakan bahwa ledakan itu berhasil sesuai rencana. Tiga prajurit tewas dan 10 warga mati mengenaskan.” Baliant menyeringai tipis mendengar laporan Dokter Marcus pagi itu. Ia menyesap anggur di tangannya, lalu menghirup aromanya yang tajam, seolah-olah itu adalah kemenangan yang akan ia cicipi. “Saat Jenderal Kaiden membaca surat itu, aku yakin dia mulai meragukan kesetiaan Anna,” kata Baliant dengan kekehan samar. “Aku tahu benar kalau Jenderal Kaiden adalah pria yang penuh kecurigaan. Setelah kita menghabisi ibunya, dia tidak percaya pada siapa pun lagi. Walaupun dia mencintai Anna, dia akan tetap mencurigainya. Bagaimana pun juga, keamanan Mosirette selalu nomor satu baginya.” Dokter Marcus tersenyum miring dan menghempaskan tubuhnya di samping Baliant. “Ya, aku juga bisa lihat kalau Jenderal Kaiden selalu mencurigai siapa pun. Dengan hilangnya Anna dan bukti bahwa kau adalah ketua Panthera Kroy, Kaiden bisa la
Tidak mungkin. Tidak mungkin Anna yang menyusun strategi penyerangan Panthera Kroy. Kaiden sama sekali tidak percaya. Ini pasti hanya jebakan. Mereka menculik Anna pergi darinya dan memanfaatkannya untuk melemahkan mentalnya. Mereka tahu kalau Anna adalah kelemahan terbesarnya. Kaiden tidak akan terjebak dengan semua ini. Ia yakin Anna tidak akan pernah mengkhianatinya. Kaiden bisa melihat sendiri ketulusan istrinya padanya—seluruh cintanya. Kasih sayang Anna murni datang dari dalam hatinya, bukan kepura-puraan semata. Anna selalu setia padanya. Kaiden tahu benar bagaimana Anna akan terus memegang teguh apa yang dipercayainya. Kaiden meremas kertas surat di tangannya dengan dada terbakar panas. Ia melemparnya ke tanah dan menginjaknya hingga tak berbentuk. Alexander hanya bisa berdiri termangu memperhatikan tanpa berani bicara. Kaiden mendengus keras sebelum menatap prajuritnya itu. “Jika kalian menemukan surat lagi, bakar saja suratnya.” “Baik, Tuan.” “Aku ingin
“Gurun?”Kaiden, Vargaz, dan para mata-mata tercengang ketika menyadari bahwa mereka tiba di gurun terbuka, alih-alih sebuah bunker.Terowongan itu rupanya sebuah jalan menuju gurun luas yang jauh dari wilayah Mosirette. Mereka menoleh, menatap dinding perbatasan yang menjulang beberapa mil di depan sana.“Apa terowongan itu hanya sebuah jalan pintas?” Kaiden bergumam sendiri dengan kening berkerut bingung. Pandangannya mengedar, tetapi ia tidak menemukan tanda-tanda akan adanya jalan masuk menuju sebuah bunker bawah gurun. Satu-satunya pemandangan adalah sebuah pohon besar yang menjulang beberapa kaki di depan mereka. “Ini aneh.”“Kami juga tidak menemukan jebakan apa pun selama di terowongan, Tuan,” sahut Vargaz dan yang lain menimpali setuju.“Ya, sama seperti terowongan yang aku lewati,” jawab Kaiden dengan hela napas kasar. Ia berdiri diam di depan jalan keluar terowongan, sekali lagi menelisik keadaan sekitar dengan cermat. Namun nihil. Tidak ada apa pun yang menunjukkan tanda
“Camila, apa yang Selena lakukan saat dia harus tampil resmi di gedung pemerintahan?”Pagi itu, setelah mendandani Anna, Camila sibuk memilihkan sepatu hak tinggi yang sesuai.Dia mengeluarkan sepatu berwarna perak penuh glitter, sepatu berwarna putih gading dari kain renda yang elegan, dan sepatu
“Camila, kenapa semua heels-ku diganti?” Anna mengernyit menatap sepatu hak tinggi baru yang Camila susun ke dalam lemari. Desain dan warnanya sama dengan heels sebelumnya, dengan hiasan mutiara, glitter, dan bunga. Namun, bagian dalamnya tidak lagi sakit ketika dikenakan. Malah terasa sangat ny
“Seorang prajurit kelas atas akan mengantar Anda ke perpustakaan utama, Nona.” Camila berkata setelah menata sarapan di atas meja. Anna mengangguk dan memperhatikan penampilannya sejenak. Ia kembali memakai gaun sutra yang ketat membentuk tubuh, juga rambut yang disanggul ke belakang. Camila menam
Anna terbelalak. Bibir Kaiden yang dingin menekan bibirnya. Pandangan mereka bertemu. Rasanya seolah ia baru saja dihempas badai. Itu adalah ciuman tanpa hasrat. Ciuman untuk membungkamnya. Hanya beberapa detik dan Kaiden menarik diri. Ada sesuatu yang tampak berkilat di matanya. Kemudian, dia m







