LOGIN
“Kamu sangat memuaskan, Sayang. Aku akan kembali minggu depan, kamu harus bersiap,” ucap seorang Pria berbadan tinggi dengan tubuh sedikit gempal.
“Kembalilah, akan aku tunggu,” jawab wanita seksi berbaju ungu dengan nada manja. Pria itu pun tersenyum lalu meninggalkan kamar VIP setelah pakaian yang ia gunakan rapi seperti semula. “Sungguh melelahkan sekali malam ini,” gumam wanita yang masih betah berbaring di atas ranjang. Tidak lama, ponsel yang ia letakan di nakas berdering. “Di mana kamu, Rani?” tanya wanita paruh baya di seberang sana. “Masih di kamar. Kenapa memangnya?” “Keluarlah, cepat. Datang ke ruanganku, sekarang!” titahnya dengan nada tinggi. Wanita yang di panggil Rani pun beranjak dari ranjang dengan malas. “Pasti akan di omelin lagi!” gerutunya dengan memungut pakaian seksinya yang masih berserakan di lantai. Rani keluar dari kamar VIP lalu berjalan ke arah ruangan yang di tuju. Setelah sampai ia pun membuka pintu dan masuk begitu saja. “Ada apa, Mam?” tanya Rani kepada wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Wanita itu memutar kursinya menghadap ke arah Rani yang berdiri dengan menunduk. “Ini bayaran kamu malam ini,” kata wanita itu dengan melemparkan satu amplop cokelat yang berisi uang. “Apa ini tidak salah, Mami?” Rani bertanya sangat polos. “Tentu saja tidak. Itu untukmu, Rani. Karena jasamu semakin hari semakin bagus. Pertahankan, jika kamu tetap ingin berpenghasilan besar,” ucap Mami Vega dengan senyuman yang lebar. Rani mengangguk. “Siap, Mami. Apa aku boleh pulang sekarang?” “Tent—,” jeda Mami Vega saat pintu ruangannya terbuka. “Ada apa, Lukas?” tanya Mami dingin. “Nyonya, ada dua pria yang ingin menyewa jasa di sini. Yang satu sudah menemukan wanita pilihannya. Namun, yang satunya belum ada yang cocok. Padahal sudah 8 wanita yang saya kenalkan ke pria itu,” terang Lukas menunduk. “Kriteria apa yang dia minta?” tanya Mami Vega dingin. “Kurang tahu, Nyonya,” jawab Lukas menggeleng. Vega tampak geram, membuat ia beranjak dari kursi untuk bertanya langsung kepada pria yang ingin menyewa jasa di tempatnya. “Tunjuk, kamar berapa dia berada,” ucapnya kepada Lukas secara dingin. “Hei, Rani. Kamu ikut saya!” titahnya lalu melangkah keluar dai ruangan. Rani terkejut saat dirinya diajak untuk ikut bersamanya. Padahal ia sudah senang akan pulang lebih awal. “Astaga! Apalagi ini!” gumamnya kesal. Sesampainya di kamar VIP nomor 7. Vega masuk bersamaan dengan Lukas dan juga Rani. “Selamat malam, Tuan. Boleh saya tahu wanita seperti apa yang Anda cari?” tanya Vega tanpa basa basi. Pria itu mendongak ke arah wanita paruh baya yang berdandan begitu menor dan juga glamor. Lalu kedua netranya melihat ke arah pria yang tadi menawarkan beberapa wanita dan juga wanita yang terdiam berdiri di dekat pintu. “Saya mau dia,” tunjuknya ke arah Rani. Vega pun menyunggingkan bibirnya lebar. “Tentu, Tuan. Rani ke sini,” panggilnya lembut. Rani mau tak mau mendekat ke arah dua orang itu. “Kenalkan ini Rani. Dia wanita spesial di sini, jika Anda ingin bersamanya. Harga dia cukup mahal,” terang Vega memancing pria di hadapannya itu. “100 juta?” Vega membelalak saat pria itu menawarkan harga sendiri. “Iya, Tentu. Kalau Anda sanggup?” Rani menggeleng pelan. “Mami itu ter—,” “Diam kamu! biar ini urusanku,” sela Vega berbisik dengan menatap Rani secara tajam. Rani pun hanya bisa mendengkus kesal tanpa membantah. “Terima kasih, Tuan. Semoga malam ini Anda puas, dan bahagia,” kata Vega setelah mengambil cek yang sudah di tanda tangani oleh pria itu. Vega mendekat ke arah Rani sebelum melangkah keluar. Lalu berbisik, “Berikan dia yang terbaik, kalau sampai dia tidak puas. Kamu bakal tahu akibatnya!” ancamnya lalu melangkah ke arah pintu keluar, diikuti oleh Lukas di belakangnya. Kini di kamar VIP nomor 7, tinggallah Rani seorang diri bersama pria paruh baya yang duduk sembari memandangnya. Meski usia pria itu sudah matang, tetapi ketampanannya masih sangat terlihat bak anak muda. “Siapa namamu?” tanya Pria itu kepada Rani yang menunduk. “Cantika Putri Maharani, panggil saja Rani,” jawabnya dengan memosisikan duduknya sebaik mungkin. “Nama yang cantik. Baiklah saya tidak suka berbasa basi, jadi kita langsung saja—,” jeda pria itu karena Rani tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Pria itu pun dibuat salah tingkah oleh sikap Rani yang langsung agresif. Saat Rani hendak mencium ke arah bibir. Pria itu langsung mendorong Rani agar menjauh. “Tolong jangan seperti ini!” kata Pria itu dengan merapikan jasnya seperti semula. Rani tentu saja terkejut. “Apa maksudnya?” “Duduklah, aku ingin menawarkan sesuatu untukmu,” sahut pria itu membuat Rani semakin tak mengerti. Rani pun menurut duduk di tempat semula. Kedua tangannya sengaja ia melipat di atas kedua d**anya. “Aku butuh seorang anak. Apa kamu bersedia memberikan aku anak?” “Anak?” Pria itu mengangguk. Rani tertawa kencang kali ini. “Tuan, aku di sini hanya memberikan kenikmatan, bukan memberikan anak!” ujarnya terheran. “Aku tahu, tetapi di sini aku membutuhkan anak. Akan aku bayar selama kamu mau mengandung anakku,” ucap pria lagi. “Mengandung?” Membayangkan saja Rani sudah tidak sanggup. “Aku tidak mau,” tolak Rani. “Aku bayar 1 Milyar,” kata Pria itu memberi tawaran. Rani membelalak saat mendengar nominal itu. “Apa? 1 Milyar?” Sungguh tidak bisa membayangkan mendapat 1 Milyar hanya dalam semalam. Namun, Rani teringat perkataan pria itu yakni harus mengandung anaknya. Rani pun kembali menggeleng. “Aku tetap tidak mau, Tuan. Maaf, aku bukan pabrik anak! Kenapa tidak meminta saja ke istri Anda?” Rani bertanya sinis. Pria itu terdiam. Lalu menghembuskan napasnya secara pelan dan berkata, “Istriku tidak bisa hamil,” jawabnya lirih. Rani tetap acuh tak mendengarkan. “Sekarang mau Anda apa, Tuan? Aku sudah tidak ada waktu, aku lelah, aku butuh istirahat,” gerutunya kesal. “Aku ingin kamu memberikan aku anak. Hanya itu saja, setelah kamu menyetujui, kamu bebas mau melakukan apa pun,” ucap Pria itu tetap kekeh. Rani pun mendengkus. “Maaf, aku ti—,” “Akan aku beri 2 Milyar untukmu. Bagaimana?” sela Pria itu lagi. Jujur saja, Rani sangat terkejut mendapat tawaran lebih tinggi lagi. Di sisi lain hatinya menjadi bimbang, antara mau menerima atau tidak. “Hanya anak? Apakah setelah anak itu lahir, aku bisa bebas?” tanya Rani serius. Pria itu mengangguk. “Tentu saja.” Rani semakin galau saat ini. Namun, tawaran 2 Milyar untuknya sangat menggiurkan. Apalagi dia masih menanggung hutang kedua orang tuanya ratusan juta. Tanpa berpikir panjang. Rani mengulurkan tangan kanannya ke hadapan pria itu. “Aku terima tawaran Anda, Tuan. Aku mau mengandung anakmu!” Pria itu mengukir bibirnya lebar. “Ini kartu namaku. Temui aku di hotel Golden Star, besok jam 7 malam,” ucapnya dengan memberikan satu kertas kecil berwarna hitam dan koper kecil berwarna silver. “Lalu ini uang untukmu karena sudah menerima tawaranku,” sambung pria itu. Rani memasukkan kartu nama itu ke dalam tas kecilnya. Ia lebih tertarik dengan isi koper berwarna silver. Setelah membukanya, kedua matanya langsung menghijau melihat banyak lembaran uang berwarna merah dan biru. “Oh, my good. Aku kaya raya!” gumamnya lirih. “Ingat, Nona. Jangan lupa besok malam. Persiapkan dirimu, karena kita akan menikah,” kata pria itu lalu beranjak dan meninggalkan kamar VIP. “Apa? Menikah?”Lima tahun berlalu dengan cepat, seperti air sungai yang mengalir tanpa henti. Jakarta tetap menjadi kota yang tidak pernah tidur, dengan gedung-gedung pencakar langit yang terus tumbuh dan jalanan yang selalu dipenuhi kendaraan. Namun bagi Maharani, lima tahun terasa seperti sebuah perjalanan panjang yang mengubah hidupnya selamanya.Pagi itu, matahari bersinar cerah di atas Yayasan Kasih Ibu, sebuah panti asuhan yang berdiri megah di atas tanah seluas dua hektar di kawasan Bogor. Bangunan berwarna putih dengan atap merah itu dikelilingi oleh taman yang hijau dan rindang, tempat anak-anak bermain dengan riang. Di depan gerbang, sebuah papan nama bertuliskan "Yayasan Kasih Ibu—Didirikan oleh Maharani Gunawan" terpampang dengan bangga.Maharani berdiri di beranda kantornya, menatap anak-anak yang sedang bermain di halaman. Wajahnya yang dulu penuh penderitaan kini berseri-seri dengan kebahagiaan yang tulus. Rambutnya yang panjang terura
Tiga Hari KemudianMaharani keluar dari rumah sakit dengan Hartono di pelukannya. Sri sudah menunggu dengan mobil. Kalisa juga ada di sana, meskipun dia masih dalam masa pemulihan."Kau yakin ingin melakukan ini?" tanya Sri dengan suara yang penuh kekhawatiran.Maharani mengangguk. "Ya. Aku harus melakukan ini. Untuk diriku sendiri. Untuk Hartono."Kalisa merangkul Maharani. "Kau tahu di mana aku berada kalau kau butuh aku. Aku akan selalu ada untukmu."Maharani tersenyum tipis. "Terima kasih, Lis."Dia masuk ke mobil dan menatap rumah sakit sekali lagi. Di jendela lantai tiga, dia melihat Galvin berdiri, menatapnya dengan mata yang penuh kesedihan. Maharani mengangkat tangannya, melambaikan salam perpisahan. Galvin membalas lambaian itu dengan tangan yang gemetar.Mobil melaju meninggalkan rumah sakit. Maharani menatap Hartono yang terti
Galvin masih terduduk di lantai lorong rumah sakit ketika Maharani muncul di ambang pintu dengan kursi roda yang didorong oleh seorang perawat. Wanita itu menatap suaminya dengan wajah penuh kekhawatiran."Mas? Ada apa? Kenapa kau di lantai?"Galvin mengangkat kepalanya dan menatap Maharani. Mata mereka bertemu, dan untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar. Galvin melihat wajah Maharani—wajah yang selama ini dia cintai, wajah yang dia pikir dia kenal sepenuhnya. Namun sekarang, wajah itu terasa berbeda. Wajah itu mengingatkannya pada seseorang. Pada Bryan. Pada Hartono."Mas, kau membuatku takut," ujar Maharani dengan suara yang bergetar. "Apa yang terjadi?"Galvin bangkit dengan susah payah. Dia meraih surat yang terjatuh di lantai dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Tangannya gemetar hebat."Rani... kita harus bicara," ujar Galvin dengan suara yang serak.
Di rumah sakit, Maharani langsung dibawa ke ruang bersalin. Galvin berdiri di lorong, tubuhnya gemetar. Dia mencoba menghubungi Sri dan Kalisa, namun tangannya terlalu gemetar untuk menekan tombol dengan benar.Lingga yang melihat kondisi Galvin segera mengambil alih. "Saya akan menghubungi Ibu Sri dan Bu Kalisa, Pak. Bapak tunggu di sini."Galvin mengangguk dan duduk di kursi di lorong rumah sakit. Dia menutup matanya, mencoba menenangkan diri. Namun pikirannya terus melayang ke Maharani—ke wajahnya yang pucat, ke tangannya yang gemetar, ke suaranya yang penuh ketakutan."Tuhan, tolong lindungi mereka," bisik Galvin. "Tolong lindungi istriku dan anakku."Beberapa menit kemudian, Sri dan Kalisa tiba. Sri langsung menghampiri Galvin dengan wajah yang penuh kekhawatiran."Bagaimana kondisi Maharani?" tanya Sri."Dokter masih memeriksa," jawab Galvin. "Mer
Tiga minggu berlalu sejak kematian Frans Gunawan. Jakarta kembali beraktivitas seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi badai besar yang hampir menghancurkan keluarga Gunawan. Namun bagi Galvin dan Maharani, luka-luka yang ditinggalkan badai itu masih terasa segar.Pemakaman Frans berlangsung sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga dekat. Helena menangis sepanjang upacara, tubuhnya yang rapuh seolah kehilangan kekuatan untuk berdiri. Galvin berdiri di samping ibunya, menopang tubuh wanita itu meskipun hatinya sendiri dipenuhi perasaan yang campur aduk. Di barisan belakang, Bryan hadir dengan kursi roda, ditemani dua perawat. Meskipun tubuhnya masih lemah akibat luka tembak, dia bersikeras untuk datang."Kau tidak perlu datang," ujar Galvin saat melihat Bryan di pemakaman.Bryan menatap pusara Frans dengan mata yang sulit dibaca. "Aku datang bukan untuk menghormatinya. Aku datang untuk memastikan bahwa dia benar-benar mati."Galvin tidak membalas. Dia hanya mengangguk dan kembali men
Galvin berdiri di dermaga dengan surat wasiat di tangan yang gemetar. Kata-kata di kertas itu seolah menari di depannya, menolak untuk dipahami. Dia membaca ulang kalimat itu berkali-kali, berharap bahwa matanya sedang menipunya."Galvin, anakku yang kucintai. Kau bukanlah darah dagingku. Kau adalah anak dari sahabatku, Hartono Wijaya—ayah kandung Bryan. Ibumu, Helena, mengandungmu saat hubungan terlarang mereka. Aku menerimamu sebagai anakku karena aku mencintai ibumu dan karena aku berjanji pada Hartono untuk melindungimu. Tapi sekarang, aku harus jujur. Kau adalah saudara kandung Bryan. Maafkan aku karena telah menyembunyikan kebenaran ini selama ini.""Tidak..." bisik Galvin dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Tidak mungkin..."Maharani yang melihat perubahan di wajah suaminya segera menghampiri. "Mas? Ada apa? Apa isi surat itu?"Galvin tidak bisa menjawab. Dia hanya menyerahkan surat itu kepada Maharani dengan tangan yang gemetar. Maharani membacanya dengan mata yang sema







