共有

Bab 2. Digoda

作者: DLaksana
last update 公開日: 2024-06-19 12:46:21

Keesokan harinya. Sesuai perjanjian untuk bertemu di hotel Golden Star. Membuat Rani kini sudah bersiap akan berkunjung ke sana. Dia memakai pakaian terbaiknya, dengan memoles wajahnya secara natural. Namun, tetap terlihat berkharisma dan cantik.

“Aku dengar kamu mendapat banyak uang semalam? Aku ingin meminta uang padamu?” cegah pria yang datang menemui Rani di kediamannya.

“Aku akan melunasi, tetapi tidak hari ini. Hari ini aku sibuk, lusa aku akan ke tempatmu. Aku janji, semua akan ku lunasi!” timpal Rani memohon diberi waktu.

“Alasan apalagi, hah? Aku ngga mau tahu, aku minta uangnya sekarang!” bentak pria itu emosi.

Pria itu langsung mendorong Rani lalu menarik tasnya, ia membuka dan mengambil seluruh uang di dalam dompet Rani. Rani tak bisa memberontak selain pasrah. Setelah pria itu merampas semua isi di dompetnya, dia langsung pergi meninggalkannya begitu saja.

Rani bahkan sampai tersungkur di lantai. Dia sudah muak diperlakukan kasar seperti ini. Ia sudah tidak tahan, dan ingin terlepas dari bayangan pria itu yang selalu merampas dengan mengatasnamakan hutang.

“Aku bersumpah, ini menjadi hari terakhir kita berurusan!” gumam Rani dengan mengusap cairan bening yang turun ke atas pipinya.

Setelah itu, Rani pun beranjak berdiri dan merapikan bajunya yang kusut. Ia juga melihat wajahnya yang sedikit luntur tetapi masih terlihat cantik. Ia tak mempermasalahkan, yang terpenting kali ini ia harus datang ke hotel tempat pertemuannya dengan pria yang akan menjadikannya istri kedua.

Ia pun berjalan keluar dari apartemennya dan turun ke loby untuk menunggu taxi online yang sudah ia pesan.

Di perjalanan. Hati Rani sangat gelisah tak menentu. Dia sudah biasa melayani banyak pria, tetapi entah kenapa pertemuannya dengan pria yang akan menjadikan dirinya istri kedua membuatnya terasa gugup.

“Astaga! Kenapa perasaanku kaya gini sih! Nggak, aku harus bersikap biasa saja. Anggap saja pria itu sedang menyewa jasaku. Tapi, memang benar sih? Dia bukan menyewa jasa melainkan menyewa rahimku!” gumam Rani terkikik sendiri.

Tidak lama, taxi yang ditumpangi Rani kini sudah sampai di tujuan. Ia pun langsung turun setelah membayarnya.

Rani berjalan masuk ke dalam hotel dan tujuannya adalah ke ruang resepsionis untuk meminta petunjuk kamar yang sudah pria itu tentukan.

“Terima kasih,” ucap Rani saat hendak diantar ke kamar tersebut.

Setelah naik menggunakan lift dan sampai di kamar yang sebagai tempat pertemuannya. Rani pun masuk setelah pintu kamar di bukakan.

“Nyonya, tunggu di dalam biar nanti saya panggilan Tuan Galvin ke sini,” titah pegawai hotel dengan sopan.

“Galvin?” gumam Rani menyebut nama calon suaminya itu.

Ia memang belum tahu nama orang yang akan menitipkan benih di rahimnya. Setelah mendudukkan bokongnya di sofa. Rani mengeluarkan satu kartu nama berwarna perpaduan black dan gold.

“Galvin Chandra Hermawan,” ejanya secara pelan.

“Wah, dia ternyata CEO di perusahaan tambang emas. Pantas saja dia berani membayarku dengan harga fantastis,” lanjutnya tak menyangka.

Saat Rani sedang bertarung dengan pikirannya, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ia pun langsung merapikan riasannya dan juga bajunya agar terlihat sempurna.

Setelah pintu terbuka, Rani yang ingin menyapa dibuat tercengang oleh kedatangan pria tak dikenal.

“Siapa kamu?” tanyanya dengan menelisik.

“Tenang, Nona Cantik. Aku di sini hanya ingin menemanimu sebentar. Kebetulan tuan Galvin masih ada meeting,” kata Pria itu tersenyum.

“Ternyata pilihan Galvin bagus juga. Kenapa semalam aku tidak melihatmu?” sambung pria itu dengan tatapan tak biasa.

“Apa maksudmu?”

“Tidak perlu berpura-pura, Manis. Bagaimana kalau kita bersenang-senang sambil menunggu kedatangan tuanmu. Tenang, akan aku bayar. Asal servismu memuaskan!” tawar pria itu menyeringai.

Rani tidak terima dengan ucapan pria di hadapannya saat ini. “Jaga mulutmu, Tuan. Aku tidak sudi melayani pria sepertimu!” desisnya membuang muka.

“Apa kamu bilang? Tidak sudi? Hei, wanita jal*ng. Aku bahkan bisa membayarmu lebih dari yang Galvin berikan padamu!” cecar Pria itu tak terima. Ia pun mendekat ke arah Rani lalu mendorongnya ke atas ranjang.

Rani mencoba memberontak. Namun, tenaga pria itu sangat kuat. Membuat Rani tak bisa berbuat apa pun selain pasrah.

“Lepaskan, Tuan. Aku bisa saja melaporkan dirimu atas tindakan pelec*han!” seru Rani dengan mencoba terlepas dari dekapan pria itu. Rani akhirnya menendang bagian sensitifnya, sampai pria itu meraung kesakitan.

“Biad*p kau wanita murah*an!” teriak pria itu yang tersungkur di lantai.

Rani tak menggubrisnya. Ia pun hendak berlari ke arah pintu. Namun, sayangnya kakinya tersandung tangan pria itu yang menghalangi.

Ia pun terjatuh ke lantai dengan keras hingga akhirnya ia tak bisa bergerak, sebab pria itu sudah mengunci tubuh Rani di atasnya.

“Lepaskan aku!” teriak Rani kencang. “Tolong!” jeritnya berharap ada seseorang yang mendengar dan membantunya.

Pria itu dibuat emosi oleh Rani yang berani berteriak. Tamparan keras, ia layangkan ke wajah mulus Rani hingga bibirnya berdarah.

Rani memegang pipinya yang panas. Buliran bening perlahan turun membasahi pipinya. Baru kali ini dia mendapatkan perlakuan kasar oleh pria tak di kenal selain si penagih hutang.

“Jangan coba-coba melawan diriku! Aku bisa saja berbuat lebih kejam dari ini!” ancam pria itu dengan berbisik di daun telinga Rani dengan menjilat pelan.

Rani benci tindakan pria ini yang lancang padanya. Kedua tangannya yang terkunci membuat dirinya tak bisa berbuat apa pun.

Pria itu menyeringai melihat kedua mata wanita di bawahnya ini mulai sanyup. Ia pun hendak mencium bibir kecilnya yang sedari tadi sangat menggoda.

Namun, belum juga menempel tiba-tiba seseorang mendorong pria itu dan memukul rahangnya dengan keras.

“Brengs*k, kamu apakan wanita ini, hah!” hardik Galvin emosi.

“Dia yang menggodaku, Galvin. Benar ‘kan kau menggodaku!” Pria itu menuduh Rani yang kini sudah berdiri di dekat pintu.

“Bohong! Dia memaksaku untuk melayaninya,” kata Rani jujur.

Emosi Galvin semakin meradang. Ia pun menghajar partner bisnisnya kembali tanpa ampun.

“Maafkan aku, Galvin! Aku bisa jelaskan semuanya!” mohon pria itu tak berdaya.

Galvin pun menghentikan aksinya dengan mendorong patner bisnisnya keras ke lantai.

“Jangan coba-coba menyentuh wanitaku! Apa kamu paham!” ancam Galvin lalu menarik tangan Rani meninggalkan kamar itu.

Sontak saja, Rani dibuat terharu oleh sikap Galvin padanya. Ia hanya bisa menurut mengikuti langkah pria yang akan menyewa rahimnya membawa ke kamar yang berbeda.

Galvin menyuruh Rani untuk duduk di pinggir ranjang. Sementara dia mengambil kotak obat untuk mengobati bibir Rani yang berdarah.

“Maafkan atas kelancangan temanku!” ucap Galvin dengan menempelkan kain kasa ke arah bibir Rani.

Rani memandang Galvin dengan tatapan sendu. Baru kali ini dia diperlakukan baik seperti ini. Tak terasa cairan bening turun secara perlahan ke atas pipinya.

“Terima kasih,” suara Rani bergetar.

Galvin tersenyum. “Kamu akan baik-baik saja sekarang dan pastinya kamu akan aman dari pria itu,” timpalnya merasa bersalah.

Rani hanya mengangguk pelan.

“Kamu tunggu saja, sebentar lagi penata rias akan datang ke sini. Kita menikah hari ini. Aku akan menunggumu di bawah,” ujar Galvin tersenyum. Ia pun beranjak dari ranjang dan juga tidak lupa mengusap kepala Rani secara pelan.

Hal itu sontak membuat Rani terkejut dan terdiam kaku.

“Tidak. Ini jangan sampai terjadi!” ucapnya dengan memegang d*danya yang berdebar.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (3)
goodnovel comment avatar
dindaalestari1310
dasar brengsek,,biar kata Rani seorang wanita bayaran tp bisa di paksa gitu , untung Galvin datang tepat waktu.
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
weh Rani dah mulai jatuh cinta sama Galvin
goodnovel comment avatar
Hanind
gimana rasanya ran?
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 47. Sidang Keputusan

    Seminggu setelah penetapan sebagai tersangka. Kini waktu sidang pun tiba. Suasana di ruang persidangan terasa hening dan penuh ketegangan.Hakim yang memimpin sidang duduk dengan wajah serius di atas kursi tinggi, sementara di sisi terdakwa, Marshel duduk dengan wajah pucat dan pakaian tahanan yang dikenakannya. Matanya sesekali melirik ke arah hadirin, mencari secercah harapan.Di barisan hadirin, Galvin duduk di barisan depan dengan Maharani di sebelahnya. Wajah Galvin tegas namun tenang, sementara Maharani tampak tenang namun ada sedikit keraguan di matanya.Di sebelah mereka, Siska duduk dengan tangan yang saling menggenggam erat di pangkuannya. Matanya tidak lepas dari sosok Marshel, penuh rasa iba, rasa bersalah, dan juga kekhawatiran yang bercampur aduk.Di barisan belakang, Lingga, Kalisa, dan Marko juga hadir. Kalisa memegang tangan Maharani dari belakang sebagai tanda dukungan, sementara Marko menatap Marshel dengan tatapan tajam, siap melihat keadilan ditegakkan.Siska mene

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 46. Permintaan Siska

    Angin malam menerpa lembut melalui pintu balkon yang terbuka, membuat tirai renda putih bergoyang perlahan. Maharani duduk di sofa yang menghadap ke luar, tangan kanannya pelan menyentuh perutnya yang sudah mulai membuncit jelas. Dia sedang memandangi pemandangan kota yang mulai menerangi lampu malam ketika mendengar pintu kamar terbuka dengan suara pelan.Tanpa melihat ke belakang, dia rasa tahu siapa yang datang, namun ketika lengan kuat Galvin menyelimuti pinggangnya dan tubuhnya menempel erat dari belakang, Maharani tetap terkejut dan sedikit menggigil karena sentuhan hangat suaminya yang menyegarkan di malam yang sejuk.“Mas...” ucapnya pelan, menyandarkan pipinya pada lengan Galvin.Galvin tidak langsung berbicara, hanya memeluknya lebih erat dan menghirup aroma parfum favorit Maharani yang menenangkan hatinya. Setelah beberapa saat, dia mulai menceritakan semua yang terjadi, bagaimana Siska datang padanya dengan penuh harapan, meminta untuk mencabut tuntutan terhadap Marshel, h

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 45. Panggilan Kepolisian

    Langit malam tampak mendung dengan angin kencang yang menerpa sebagian wilayah Ibukota.Sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah Marshel yang megah. Dua petugas polisi berpakaian seragam keluar dengan surat panggilan resmi di tangan. Galvin ternyata membatalkan semua kerja sama bisnis dengan Marshel secara sepihak.“Pak Marshel Gunawan?” tanya salah satu petugas dengan sopan namun tegas saat Marshel baru saja keluar dari mobilnya, masih menggunakan perban di hidungnya.“Ya, saya. Ada apa?” tanya Marshel dengan wajah yang sedikit terpana. Dia sudah menduga akan ada konsekuensi dari perbuatannya, tapi tidak menyangka pihak berwenang akan datang dengan cepat.“Saya dari Kepolisian Resor Jakarta Pusat. Kami memiliki surat panggilan untuk Anda terkait kasus penganiayaan yang terjadi pada ibu Maharani beberapa waktu yang lalu di Hotel Grand Sentosa,” jelas petugas polisi sambil menunjukkan surat resmi yang ada di tangannya. “Mohon untuk bisa menyertai kami ke kantor polisi untuk memberik

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 44. Pemeriksaan

    Keesokan harinya, cuaca yang cukup mendung juga udara dingin membuat Maharani yang berada di dalam mobil menatap ke sekeliling dengan perasaan bahagia. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungannya. Setelah menempuh hampir satu jam di perjalanan, akhirnya perjalanan itu sampai di waktu yang tepat.Namun, saat menunggu pemeriksaan tiba, Maharani yang sudah duduk di bangku tunggu selama hampir satu jam, sering kali melihat ke arah pintu masuk dengan ekspresi penuh harapan.Dia juga melihat waktu di jam tangannya menunjukkan pukul 10.30, bertepatan dengan waktu jadwal pemeriksaannya. Maharani menghela napas panjang dan mengeluarkan pesan singkat untuk Galvin: "Mas, aku mulai masuk pemeriksaan, ya. Semoga meetingnya lancar."Setelah mengirim pesan, dia berdiri perlahan dan mulai berjalan menuju loket pendaftaran. Rasa kecewa jelas terlihat di wajahnya, dia sangat berharap Galvin bisa menemaninya pada pemeriksaan penting ini, mengingat bayinya sudah memasuki usia 22 minggu dan mereka aka

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 43. Anniversary

    Hari pun dengan cepat berganti, malam yang indah dengan taburan bintang di angkasa membuat suasana di restoran mewah begitu terasa hangat.Siska telah merencanakan segalanya dengan matang. Restoran yang dulu menjadi tempat pertama mereka berkencan dan kemudian bertunangan telah disewa secara eksklusif untuk malam itu. Dekorasi ruangan dihiasi dengan bunga mawar merah, bunga favorit Galvin untuknya, dan lilin yang menyala memberikan suasana hangat juga romantis.Ketika Galvin datang mengenakan jas hitam yang rapi, wajahnya masih tampak dingin dan tidak beremosi. Dia melihat dekorasi yang indah di sekelilingnya, lalu menatap Siska yang berdiri di tengah ruangan mengenakan gaun malam putih muda yang pernah dikenakannya saat malam tunangan mereka.“Kamu yang mengatur semua ini?” tanya Galvin dengan nada yang datar menatap ke sekeliling.Siska mengangguk pelan dengan senyuman lembut. “Ya, Mas. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita yang kelima. Aku ingin kita bisa merayakannya bersama

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 42. Bicara dengan Kalisa

    Setelah kejadian semalam, kini Maharani duduk di tepi ranjang, tangan kanannya pelan menyentuh perutnya yang semakin membuncit. Pikirannya terus terngiang pada pengakuan Siska tadi malam. Dia tidak bisa membayangkan kalau orang yang selama ini dia anggap kakak perempuan ternyata adalah orang yang ingin menyakiti dirinya dan anaknya.Lebih dari itu, kejutan yang lebih besar datang ketika tahu bahwa Siska bekerja sama dengan Marshel, pria yang pernah mencoba untuk menodainya saat malam pertama setelah akad nikahnya dengan Galvin. Saat itu, Marshel yang masuk begitu saja ke kamar hotel di mana Rani sedang menunggu Galvin, saat itu dia mencoba untuk mendekatinya dengan cara yang tidak senonoh, sebelum akhirnya Galvin datang dan menghalangnya.Tanpa berpikir dua kali, Maharani mengambil ponsel dan menghubungi Kalisa. Panggilan hanya berdering beberapa kali sebelum terhubung.“Ran? Ada apa? Lo terdengar tidak baik-baik saja,” suara Kalisa terdengar khawatir dari ujung telepon.“Sa... Gue pe

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 20. Bayangan Semu

    “Hai, Tante. Apa kabar?” sahut seseorang yang bernama Haris dengan mendekat ke arah Helena. Galvin dan juga Frans ikut berdiri menyambut kedatangan Haris. Namun, berbeda dengan Rani saat ini. Ia sedikit syok saat melihat pria yang kini memandang ke arahnya dengan tatapan yang sama terkejutnya. “Rani

    last update最終更新日 : 2026-03-23
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 18. Sebuah Rencana

    Di perjalanan pulang, Siska sedari tadi menatap jendela mobil dengan tatapan yang kosong. Pikirannya di penuhi oleh ucapan Marshel yang sudah membuat dia berpikir keras memikirkan suaminya. Ucapan yang dikatakan Marshel pun terlintas kembali di mana saat dia sedang memberi tawaran kepadanya. “Bagaim

    last update最終更新日 : 2026-03-22
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 19. Tiba-tiba Berubah

    Galvin terkejut akan sentuhan dari Rani yang memeluknya dari belakang. Apalagi mendengar panggilan Rani kepadanya membuat ia semakin merasa bersalah kepada Siska. “Lepaskan, Rani!” bentak Galvin spontan. Senyum Rani yang lebar, seketika terkejut mendengar suara tinggi dari suaminya. “Maaf, Tuan. Ata

    last update最終更新日 : 2026-03-22
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 17. Pertemuan

    Pergulatan panas antara sepasang suami istri itu pun berlarut hingga pagi. Rani bahkan sampai terkapar tak berdaya melayani Galvin yang ternyata sekuat itu. Hampir empat kali berhubungan yang mereka lakukan. Kini Rani yang masih lemas, ia tersenyum bisa merasakan bercinta dengan perasaan. “Seperti i

    last update最終更新日 : 2026-03-21
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status