LOGINKeesokan harinya. Sesuai perjanjian untuk bertemu di hotel Golden Star. Membuat Rani kini sudah bersiap akan berkunjung ke sana. Dia memakai pakaian terbaiknya, dengan memoles wajahnya secara natural. Namun, tetap terlihat berkharisma dan cantik.
“Aku dengar kamu mendapat banyak uang semalam? Aku ingin meminta uang padamu?” cegah pria yang datang menemui Rani di kediamannya. “Aku akan melunasi, tetapi tidak hari ini. Hari ini aku sibuk, lusa aku akan ke tempatmu. Aku janji, semua akan ku lunasi!” timpal Rani memohon diberi waktu. “Alasan apalagi, hah? Aku ngga mau tahu, aku minta uangnya sekarang!” bentak pria itu emosi. Pria itu langsung mendorong Rani lalu menarik tasnya, ia membuka dan mengambil seluruh uang di dalam dompet Rani. Rani tak bisa memberontak selain pasrah. Setelah pria itu merampas semua isi di dompetnya, dia langsung pergi meninggalkannya begitu saja. Rani bahkan sampai tersungkur di lantai. Dia sudah muak diperlakukan kasar seperti ini. Ia sudah tidak tahan, dan ingin terlepas dari bayangan pria itu yang selalu merampas dengan mengatasnamakan hutang. “Aku bersumpah, ini menjadi hari terakhir kita berurusan!” gumam Rani dengan mengusap cairan bening yang turun ke atas pipinya. Setelah itu, Rani pun beranjak berdiri dan merapikan bajunya yang kusut. Ia juga melihat wajahnya yang sedikit luntur tetapi masih terlihat cantik. Ia tak mempermasalahkan, yang terpenting kali ini ia harus datang ke hotel tempat pertemuannya dengan pria yang akan menjadikannya istri kedua. Ia pun berjalan keluar dari apartemennya dan turun ke loby untuk menunggu taxi online yang sudah ia pesan. Di perjalanan. Hati Rani sangat gelisah tak menentu. Dia sudah biasa melayani banyak pria, tetapi entah kenapa pertemuannya dengan pria yang akan menjadikan dirinya istri kedua membuatnya terasa gugup. “Astaga! Kenapa perasaanku kaya gini sih! Nggak, aku harus bersikap biasa saja. Anggap saja pria itu sedang menyewa jasaku. Tapi, memang benar sih? Dia bukan menyewa jasa melainkan menyewa rahimku!” gumam Rani terkikik sendiri. Tidak lama, taxi yang ditumpangi Rani kini sudah sampai di tujuan. Ia pun langsung turun setelah membayarnya. Rani berjalan masuk ke dalam hotel dan tujuannya adalah ke ruang resepsionis untuk meminta petunjuk kamar yang sudah pria itu tentukan. “Terima kasih,” ucap Rani saat hendak diantar ke kamar tersebut. Setelah naik menggunakan lift dan sampai di kamar yang sebagai tempat pertemuannya. Rani pun masuk setelah pintu kamar di bukakan. “Nyonya, tunggu di dalam biar nanti saya panggilan Tuan Galvin ke sini,” titah pegawai hotel dengan sopan. “Galvin?” gumam Rani menyebut nama calon suaminya itu. Ia memang belum tahu nama orang yang akan menitipkan benih di rahimnya. Setelah mendudukkan bokongnya di sofa. Rani mengeluarkan satu kartu nama berwarna perpaduan black dan gold. “Galvin Chandra Hermawan,” ejanya secara pelan. “Wah, dia ternyata CEO di perusahaan tambang emas. Pantas saja dia berani membayarku dengan harga fantastis,” lanjutnya tak menyangka. Saat Rani sedang bertarung dengan pikirannya, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ia pun langsung merapikan riasannya dan juga bajunya agar terlihat sempurna. Setelah pintu terbuka, Rani yang ingin menyapa dibuat tercengang oleh kedatangan pria tak dikenal. “Siapa kamu?” tanyanya dengan menelisik. “Tenang, Nona Cantik. Aku di sini hanya ingin menemanimu sebentar. Kebetulan tuan Galvin masih ada meeting,” kata Pria itu tersenyum. “Ternyata pilihan Galvin bagus juga. Kenapa semalam aku tidak melihatmu?” sambung pria itu dengan tatapan tak biasa. “Apa maksudmu?” “Tidak perlu berpura-pura, Manis. Bagaimana kalau kita bersenang-senang sambil menunggu kedatangan tuanmu. Tenang, akan aku bayar. Asal servismu memuaskan!” tawar pria itu menyeringai. Rani tidak terima dengan ucapan pria di hadapannya saat ini. “Jaga mulutmu, Tuan. Aku tidak sudi melayani pria sepertimu!” desisnya membuang muka. “Apa kamu bilang? Tidak sudi? Hei, wanita jal*ng. Aku bahkan bisa membayarmu lebih dari yang Galvin berikan padamu!” cecar Pria itu tak terima. Ia pun mendekat ke arah Rani lalu mendorongnya ke atas ranjang. Rani mencoba memberontak. Namun, tenaga pria itu sangat kuat. Membuat Rani tak bisa berbuat apa pun selain pasrah. “Lepaskan, Tuan. Aku bisa saja melaporkan dirimu atas tindakan pelec*han!” seru Rani dengan mencoba terlepas dari dekapan pria itu. Rani akhirnya menendang bagian sensitifnya, sampai pria itu meraung kesakitan. “Biad*p kau wanita murah*an!” teriak pria itu yang tersungkur di lantai. Rani tak menggubrisnya. Ia pun hendak berlari ke arah pintu. Namun, sayangnya kakinya tersandung tangan pria itu yang menghalangi. Ia pun terjatuh ke lantai dengan keras hingga akhirnya ia tak bisa bergerak, sebab pria itu sudah mengunci tubuh Rani di atasnya. “Lepaskan aku!” teriak Rani kencang. “Tolong!” jeritnya berharap ada seseorang yang mendengar dan membantunya. Pria itu dibuat emosi oleh Rani yang berani berteriak. Tamparan keras, ia layangkan ke wajah mulus Rani hingga bibirnya berdarah. Rani memegang pipinya yang panas. Buliran bening perlahan turun membasahi pipinya. Baru kali ini dia mendapatkan perlakuan kasar oleh pria tak di kenal selain si penagih hutang. “Jangan coba-coba melawan diriku! Aku bisa saja berbuat lebih kejam dari ini!” ancam pria itu dengan berbisik di daun telinga Rani dengan menjilat pelan. Rani benci tindakan pria ini yang lancang padanya. Kedua tangannya yang terkunci membuat dirinya tak bisa berbuat apa pun. Pria itu menyeringai melihat kedua mata wanita di bawahnya ini mulai sanyup. Ia pun hendak mencium bibir kecilnya yang sedari tadi sangat menggoda. Namun, belum juga menempel tiba-tiba seseorang mendorong pria itu dan memukul rahangnya dengan keras. “Brengs*k, kamu apakan wanita ini, hah!” hardik Galvin emosi. “Dia yang menggodaku, Galvin. Benar ‘kan kau menggodaku!” Pria itu menuduh Rani yang kini sudah berdiri di dekat pintu. “Bohong! Dia memaksaku untuk melayaninya,” kata Rani jujur. Emosi Galvin semakin meradang. Ia pun menghajar partner bisnisnya kembali tanpa ampun. “Maafkan aku, Galvin! Aku bisa jelaskan semuanya!” mohon pria itu tak berdaya. Galvin pun menghentikan aksinya dengan mendorong patner bisnisnya keras ke lantai. “Jangan coba-coba menyentuh wanitaku! Apa kamu paham!” ancam Galvin lalu menarik tangan Rani meninggalkan kamar itu. Sontak saja, Rani dibuat terharu oleh sikap Galvin padanya. Ia hanya bisa menurut mengikuti langkah pria yang akan menyewa rahimnya membawa ke kamar yang berbeda. Galvin menyuruh Rani untuk duduk di pinggir ranjang. Sementara dia mengambil kotak obat untuk mengobati bibir Rani yang berdarah. “Maafkan atas kelancangan temanku!” ucap Galvin dengan menempelkan kain kasa ke arah bibir Rani. Rani memandang Galvin dengan tatapan sendu. Baru kali ini dia diperlakukan baik seperti ini. Tak terasa cairan bening turun secara perlahan ke atas pipinya. “Terima kasih,” suara Rani bergetar. Galvin tersenyum. “Kamu akan baik-baik saja sekarang dan pastinya kamu akan aman dari pria itu,” timpalnya merasa bersalah. Rani hanya mengangguk pelan. “Kamu tunggu saja, sebentar lagi penata rias akan datang ke sini. Kita menikah hari ini. Aku akan menunggumu di bawah,” ujar Galvin tersenyum. Ia pun beranjak dari ranjang dan juga tidak lupa mengusap kepala Rani secara pelan. Hal itu sontak membuat Rani terkejut dan terdiam kaku. “Tidak. Ini jangan sampai terjadi!” ucapnya dengan memegang d*danya yang berdebar.Lima tahun berlalu dengan cepat, seperti air sungai yang mengalir tanpa henti. Jakarta tetap menjadi kota yang tidak pernah tidur, dengan gedung-gedung pencakar langit yang terus tumbuh dan jalanan yang selalu dipenuhi kendaraan. Namun bagi Maharani, lima tahun terasa seperti sebuah perjalanan panjang yang mengubah hidupnya selamanya.Pagi itu, matahari bersinar cerah di atas Yayasan Kasih Ibu, sebuah panti asuhan yang berdiri megah di atas tanah seluas dua hektar di kawasan Bogor. Bangunan berwarna putih dengan atap merah itu dikelilingi oleh taman yang hijau dan rindang, tempat anak-anak bermain dengan riang. Di depan gerbang, sebuah papan nama bertuliskan "Yayasan Kasih Ibu—Didirikan oleh Maharani Gunawan" terpampang dengan bangga.Maharani berdiri di beranda kantornya, menatap anak-anak yang sedang bermain di halaman. Wajahnya yang dulu penuh penderitaan kini berseri-seri dengan kebahagiaan yang tulus. Rambutnya yang panjang terura
Tiga Hari KemudianMaharani keluar dari rumah sakit dengan Hartono di pelukannya. Sri sudah menunggu dengan mobil. Kalisa juga ada di sana, meskipun dia masih dalam masa pemulihan."Kau yakin ingin melakukan ini?" tanya Sri dengan suara yang penuh kekhawatiran.Maharani mengangguk. "Ya. Aku harus melakukan ini. Untuk diriku sendiri. Untuk Hartono."Kalisa merangkul Maharani. "Kau tahu di mana aku berada kalau kau butuh aku. Aku akan selalu ada untukmu."Maharani tersenyum tipis. "Terima kasih, Lis."Dia masuk ke mobil dan menatap rumah sakit sekali lagi. Di jendela lantai tiga, dia melihat Galvin berdiri, menatapnya dengan mata yang penuh kesedihan. Maharani mengangkat tangannya, melambaikan salam perpisahan. Galvin membalas lambaian itu dengan tangan yang gemetar.Mobil melaju meninggalkan rumah sakit. Maharani menatap Hartono yang terti
Galvin masih terduduk di lantai lorong rumah sakit ketika Maharani muncul di ambang pintu dengan kursi roda yang didorong oleh seorang perawat. Wanita itu menatap suaminya dengan wajah penuh kekhawatiran."Mas? Ada apa? Kenapa kau di lantai?"Galvin mengangkat kepalanya dan menatap Maharani. Mata mereka bertemu, dan untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar. Galvin melihat wajah Maharani—wajah yang selama ini dia cintai, wajah yang dia pikir dia kenal sepenuhnya. Namun sekarang, wajah itu terasa berbeda. Wajah itu mengingatkannya pada seseorang. Pada Bryan. Pada Hartono."Mas, kau membuatku takut," ujar Maharani dengan suara yang bergetar. "Apa yang terjadi?"Galvin bangkit dengan susah payah. Dia meraih surat yang terjatuh di lantai dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Tangannya gemetar hebat."Rani... kita harus bicara," ujar Galvin dengan suara yang serak.
Di rumah sakit, Maharani langsung dibawa ke ruang bersalin. Galvin berdiri di lorong, tubuhnya gemetar. Dia mencoba menghubungi Sri dan Kalisa, namun tangannya terlalu gemetar untuk menekan tombol dengan benar.Lingga yang melihat kondisi Galvin segera mengambil alih. "Saya akan menghubungi Ibu Sri dan Bu Kalisa, Pak. Bapak tunggu di sini."Galvin mengangguk dan duduk di kursi di lorong rumah sakit. Dia menutup matanya, mencoba menenangkan diri. Namun pikirannya terus melayang ke Maharani—ke wajahnya yang pucat, ke tangannya yang gemetar, ke suaranya yang penuh ketakutan."Tuhan, tolong lindungi mereka," bisik Galvin. "Tolong lindungi istriku dan anakku."Beberapa menit kemudian, Sri dan Kalisa tiba. Sri langsung menghampiri Galvin dengan wajah yang penuh kekhawatiran."Bagaimana kondisi Maharani?" tanya Sri."Dokter masih memeriksa," jawab Galvin. "Mer
Tiga minggu berlalu sejak kematian Frans Gunawan. Jakarta kembali beraktivitas seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi badai besar yang hampir menghancurkan keluarga Gunawan. Namun bagi Galvin dan Maharani, luka-luka yang ditinggalkan badai itu masih terasa segar.Pemakaman Frans berlangsung sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga dekat. Helena menangis sepanjang upacara, tubuhnya yang rapuh seolah kehilangan kekuatan untuk berdiri. Galvin berdiri di samping ibunya, menopang tubuh wanita itu meskipun hatinya sendiri dipenuhi perasaan yang campur aduk. Di barisan belakang, Bryan hadir dengan kursi roda, ditemani dua perawat. Meskipun tubuhnya masih lemah akibat luka tembak, dia bersikeras untuk datang."Kau tidak perlu datang," ujar Galvin saat melihat Bryan di pemakaman.Bryan menatap pusara Frans dengan mata yang sulit dibaca. "Aku datang bukan untuk menghormatinya. Aku datang untuk memastikan bahwa dia benar-benar mati."Galvin tidak membalas. Dia hanya mengangguk dan kembali men
Galvin berdiri di dermaga dengan surat wasiat di tangan yang gemetar. Kata-kata di kertas itu seolah menari di depannya, menolak untuk dipahami. Dia membaca ulang kalimat itu berkali-kali, berharap bahwa matanya sedang menipunya."Galvin, anakku yang kucintai. Kau bukanlah darah dagingku. Kau adalah anak dari sahabatku, Hartono Wijaya—ayah kandung Bryan. Ibumu, Helena, mengandungmu saat hubungan terlarang mereka. Aku menerimamu sebagai anakku karena aku mencintai ibumu dan karena aku berjanji pada Hartono untuk melindungimu. Tapi sekarang, aku harus jujur. Kau adalah saudara kandung Bryan. Maafkan aku karena telah menyembunyikan kebenaran ini selama ini.""Tidak..." bisik Galvin dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Tidak mungkin..."Maharani yang melihat perubahan di wajah suaminya segera menghampiri. "Mas? Ada apa? Apa isi surat itu?"Galvin tidak bisa menjawab. Dia hanya menyerahkan surat itu kepada Maharani dengan tangan yang gemetar. Maharani membacanya dengan mata yang sema







