Share

Bab 3. Status Berubah

Penulis: DLaksana
last update Tanggal publikasi: 2024-06-19 12:47:14

Pernikahan Rani dan Galvin sudah diselenggarakan secara tertutup. Rani bahkan masih tak menyangka kinu statusnya sudah berubah menjadi seorang istri. Meski kenyataannya dia hanya menjadi istri kedua.

“Setelah selesai apa aku boleh pulang?” tanya Rani saat berada di dalam satu kamar hotel.

Galvin yang fokus dengan benda pipihnya pun mendongak ke arah Rani yang berdiri di hadapannya.

“Apa? Pulang? Buat apa? Kamu istriku sekarang. Jadi, aku minta kamu tetap di sampingku mulai detik ini,” timpal Galvin dingin.

Rani pun membelalak tak percaya. “Tapi, Tuan. Ada beberapa hal yang ingin aku selesaikan. Aku janji setelah semua tuntas, aku akan kembali ke sini,” ucapnya penuh berharap.

“Seberapa pentingkah hal itu untukmu?” tanya Galvin dengan beranjak dari kursi dan mendekat ke arah istri keduanya.

Rani cukup gugup untuk menjawab. Dia tidak bisa memberitahu kenyataannya jika hal penting itu adalah menyangkut hutang kedua orang tuanya.

Ia tidak ingin melibatkan Galvin ke dalam masalah yang sudah lama tak terselesaikan. Kali ini sesuatu janjinya, Rani akan menemui pria brengs*k itu yang selalu memerasnya dengan dalil hutang orang tuanya selama ini.

“Kenapa kamu diam? Kamu sudah istriku sekarang. Jadi katakan sejujurnya apa yang sedang kamu sembunyikan!” hardik Galvin curiga.

Rani menghela napas panjang sebelum menjawab. Namun, desakan Galvin dengan tatapan tajamnya membuat Rani tak berani melihatnya.

“Maaf, Tuan. Ini masalah pribadiku, aku tidak bisa bicara sejujurnya sekarang. Aku tahu, statusku sudah menjadi istrimu. Tapi, perlu diingat, Tuan. Sebelum aku menjadi istrimu, hal penting itu sudah ada! Aku harap biarkan aku menyelesaikannya sendiri,” pinta Rani memohon.

Galvin sebenarnya tidak setuju dengan ucapan yang dilontarkan istri keduanya. Namun, ia juga sadar akan posisinya. Ia juga tidak mau memaksa wanita itu untuk bicara jujur.

“Baiklah, terserah kamu! Asal, kemana pun kamu pergi harus dijaga ketat oleh pengawal,” titah Galvin tak boleh dibantah.

Mau tak mau, Rani pun mengiyakan. Asalkan urusannya secepatnya selesai.

***

Keesokan harinya. Sesuai permintaan Rani yang meminta pulang. Ia pun kini berada di apartemennya setelah menghabiskan malam seorang diri. Malam yang seharusnya menjadi malam pertama membuatnya merasa berdebar tak terkira.

Padahal ia sudah melayani banyak pria. Namun, entah kenapa saat memikirkan masalah ranjang dengan pria yang sudah menjadi suaminya membuat jiwa Rani terasa berbeda.

“Sial! Kenapa harus seperti ini perasaanku!” gerutunya kesal.

“Tahu ah! Pusing. Mending langsung ke tempat si Brengs*ek itu agar semuanya cepat selesai.”

Rani pun beranjak dari ranjang lalu bersiap untuk pergi ke tujuannya kali ini.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit. Kini Rani sudah sampai di bangunan tua yang menjadi tempat tinggal pria yang memerasnya.

Rani masuk begitu saja ke bangunan tua tanpa rasa takut. Setelah seseorang itu yang ia cari ternyata sedang bersantai di sofa membuat Rani langsung mendekat dengan melempar satu koper silver ke hadapan pria itu.

“Hutangku lunas. Jadi, jangan menggangguku lagi!” gertak Rani menatap tajam pria itu.

Seseorang itu menyeringai dengan mengambil koper di atas mejanya. Setelah dibuka ia mengangguk sinis saat melihat isi di dalamnya berupa lembaran uang merah dan biru.

“Dapat dari mana uang sebanyak ini?” tanya pria itu dingin. Ia bahkan beranjak berdiri lalu mendekat ke arah Rani yang melangkah mundur secara pelan.

“Aku kerja lah. Kamu tahu sendiri pekerjaanku seperti apa!” jawab Rani jutek.

“Oh, ya. Memangnya aku percaya begitu saja? Tentu tidak. Meski urusan kita selesai jangan harap hidupmu akan tenang. Ingat itu!” ancam pria itu menyeringai.

“Cukup, Marko! Jangan ganggu aku lagi. Kalau sampai kamu tetap menganggukku, aku akan laporkan kamu ke polisi!” gertak Rani memberanikan diri.

“Uh! Takut! Ha ha ha, silakan saja laporkan. Aku tidak takut!” sindir Marko dengan menyolek dagu Rani secara kasar.

Rani sangat muak dengan sikap Marko yang selalu kasar padanya. Ia pun tak menggubris, Rani memilih untuk meninggalkan tempat itu yang menurutnya tak pantas dikunjungi.

“Sial! Nggak akan aku biarkan kamu terlepas begitu saja, Rani!” batin Marko penuh emosi.

***

Setelah urusan masalah hutang itu selesai. Kini Rani bersiap merapikan semua barang-barangnya. Siang nanti ia sudah berjanji akan kembali ke hotel.

Ia pun menatap ke sekeliling kamar apartemennya yang sudah menjadi tempat tinggal paling nyaman selama dia keluar dari rumah kedua orang tuanya.

“Aku bakalan rindu sama tempat ini. Setelah urusanku selesai, aku janji akan kembali ke sini,” katanya dalam hati dengan terharu.

“Nona, Tuan Galvin ingin Anda segera ke hotel sekarang,” ucap salah satu pengawal yang ikut dengan Rani.

Rani mengusap cairan bening yang menetes, lalu ia mengangguk pelan.

“Baiklah, kita ke sana sekarang!”

Sesampainya di hotel. Rani langsung menemui Galvin yang sudah siap sedari tadi.

“Maaf, Tuan. Urusan saya baru selesai,” ucapnya lirih.

“Tidak masalah. Jika sudah selesai. Aku akan ajak kamu tinggal di Jakarta,” titah Galvin dengan mengajak Rani keluar dari kamar hotel itu.

“Maaf, Tuan.” Rani melepaskan tangan Galvin yang menggandengnya. Sontak, Galvin langsung menghentikan langkahnya dengan menengok ke arah belakang.

“Kenapa, Rani? Apa ada yang tertinggal?”

Rani menggeleng. “Tuan, jika aku ikut ke Jakarta. Bagaimana dengan pekerjaanku di sini?”

Galvin tersenyum. “Jangan pikirkan. Aku sudah urus semuanya. Jadi, kamu tidak perlu bekerja di tempat haram seperti ini lagi,” katanya terus terang.

“Apa?” Rani sangat terkejut.

“Sudah tidak perlu dipikirkan. Kita harus segera ke Bandara,” ucap Galvin dengan kembali berjalan menggandeng tangan Rani.

Rani pun hanya menurut. Entah kenapa, ia merasa bukan seperti dirinya. Apalagi ia sudah terkenal sebagai wanita pemberontak.

***

Setelah menempuh perjalanan udara kurang lebih 1 jam. Kini Rani dan Galvin sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

“Apa rumah, Tuan. Masih jauh dari sini?” tanya Rani merasa tubuhnya ingin segera rebahan.

“Lumayan. Kalau mau capek, tidur saja. Nanti aku banguni kalo sudah dekat,” titah Galvin lembut.

Rani hanya bisa menurut. Ia pun memejamkan kedua matanya saat sudah berada di mobil yang menjemput mereka.

Tanpa disadari, Galvin sedari tadi memperhatikan istri keduanya yang terlelap. Rambut hitam Rani yang panjang menutupi wajahnya. Membuat Galvin merasa ingin menyingkirkan ke belakang. Namun, ia masih ragu menyentuhnya.

Namun, karena ia risih. Galvin memberanikan diri melakukan hal tersebut. Saat rambut sudah tersisipkan di telinga. Wajah Rani kini terpampang sangat jelas. Entah, kenapa hal itu membuat hati Galvin berdebar. Ia pun langsung memalingkan muka ke arah jendela. Untuk menetralkan kembali perasaannya.

Tidak lama, setelah berperang dalam pikirannya sendiri. Kini mobil yang ditumpangi Galvin dan juga Rani sudah sampai di kediaman megah milik keluarga besar Galvin.

Galvin sengaja membawa Rani ke sini untuk memperkenalkan kepada keluarganya.

Setelah turun dari mobil. Galvin mengajak Rani masuk ke dalam. Namun, kali ini ia tidak menggandeng tangan Rani karena ia ingin menjaga perasaan istri pertamanya, Siska Ayu Lestari.

“Mas!” sapa Siska saat melihat suaminya datang.

Galvin mencium kening Siska, lalu bersalaman bersama kedua orang tuanya yang memang ikut menghampiri.

“Ada yang ingin aku kenalkan ke kalian,” ucap Galvin langsung.

Siska dan kedua orang tua Galvin saling memandang.

“Siapa, Mas?” tanya Siska penasaran.

Rani yang berdiri di balik pintu kini menampakkan diri dan berjalan pelan ke arah mereka.

“Kenalkan ini Rani, istri keduaku,” kata Galvin jujur.

“Apa?” ucap Siska terkejut. Bukan hanya Siska, tetapi seluruh anggota keluarganya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
dindaalestari1310
wah Galvin langsung bawa Rani ke rumah nya bahkan memperkenalkan sama istri pertama nya ,gmn ga kaget coba Siska.
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
Aq kira Galvin menikah karena persetujuan Siska...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 47. Sidang Keputusan

    Seminggu setelah penetapan sebagai tersangka. Kini waktu sidang pun tiba. Suasana di ruang persidangan terasa hening dan penuh ketegangan.Hakim yang memimpin sidang duduk dengan wajah serius di atas kursi tinggi, sementara di sisi terdakwa, Marshel duduk dengan wajah pucat dan pakaian tahanan yang dikenakannya. Matanya sesekali melirik ke arah hadirin, mencari secercah harapan.Di barisan hadirin, Galvin duduk di barisan depan dengan Maharani di sebelahnya. Wajah Galvin tegas namun tenang, sementara Maharani tampak tenang namun ada sedikit keraguan di matanya.Di sebelah mereka, Siska duduk dengan tangan yang saling menggenggam erat di pangkuannya. Matanya tidak lepas dari sosok Marshel, penuh rasa iba, rasa bersalah, dan juga kekhawatiran yang bercampur aduk.Di barisan belakang, Lingga, Kalisa, dan Marko juga hadir. Kalisa memegang tangan Maharani dari belakang sebagai tanda dukungan, sementara Marko menatap Marshel dengan tatapan tajam, siap melihat keadilan ditegakkan.Siska mene

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 46. Permintaan Siska

    Angin malam menerpa lembut melalui pintu balkon yang terbuka, membuat tirai renda putih bergoyang perlahan. Maharani duduk di sofa yang menghadap ke luar, tangan kanannya pelan menyentuh perutnya yang sudah mulai membuncit jelas. Dia sedang memandangi pemandangan kota yang mulai menerangi lampu malam ketika mendengar pintu kamar terbuka dengan suara pelan.Tanpa melihat ke belakang, dia rasa tahu siapa yang datang, namun ketika lengan kuat Galvin menyelimuti pinggangnya dan tubuhnya menempel erat dari belakang, Maharani tetap terkejut dan sedikit menggigil karena sentuhan hangat suaminya yang menyegarkan di malam yang sejuk.“Mas...” ucapnya pelan, menyandarkan pipinya pada lengan Galvin.Galvin tidak langsung berbicara, hanya memeluknya lebih erat dan menghirup aroma parfum favorit Maharani yang menenangkan hatinya. Setelah beberapa saat, dia mulai menceritakan semua yang terjadi, bagaimana Siska datang padanya dengan penuh harapan, meminta untuk mencabut tuntutan terhadap Marshel, h

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 45. Panggilan Kepolisian

    Langit malam tampak mendung dengan angin kencang yang menerpa sebagian wilayah Ibukota.Sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah Marshel yang megah. Dua petugas polisi berpakaian seragam keluar dengan surat panggilan resmi di tangan. Galvin ternyata membatalkan semua kerja sama bisnis dengan Marshel secara sepihak.“Pak Marshel Gunawan?” tanya salah satu petugas dengan sopan namun tegas saat Marshel baru saja keluar dari mobilnya, masih menggunakan perban di hidungnya.“Ya, saya. Ada apa?” tanya Marshel dengan wajah yang sedikit terpana. Dia sudah menduga akan ada konsekuensi dari perbuatannya, tapi tidak menyangka pihak berwenang akan datang dengan cepat.“Saya dari Kepolisian Resor Jakarta Pusat. Kami memiliki surat panggilan untuk Anda terkait kasus penganiayaan yang terjadi pada ibu Maharani beberapa waktu yang lalu di Hotel Grand Sentosa,” jelas petugas polisi sambil menunjukkan surat resmi yang ada di tangannya. “Mohon untuk bisa menyertai kami ke kantor polisi untuk memberik

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 44. Pemeriksaan

    Keesokan harinya, cuaca yang cukup mendung juga udara dingin membuat Maharani yang berada di dalam mobil menatap ke sekeliling dengan perasaan bahagia. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungannya. Setelah menempuh hampir satu jam di perjalanan, akhirnya perjalanan itu sampai di waktu yang tepat.Namun, saat menunggu pemeriksaan tiba, Maharani yang sudah duduk di bangku tunggu selama hampir satu jam, sering kali melihat ke arah pintu masuk dengan ekspresi penuh harapan.Dia juga melihat waktu di jam tangannya menunjukkan pukul 10.30, bertepatan dengan waktu jadwal pemeriksaannya. Maharani menghela napas panjang dan mengeluarkan pesan singkat untuk Galvin: "Mas, aku mulai masuk pemeriksaan, ya. Semoga meetingnya lancar."Setelah mengirim pesan, dia berdiri perlahan dan mulai berjalan menuju loket pendaftaran. Rasa kecewa jelas terlihat di wajahnya, dia sangat berharap Galvin bisa menemaninya pada pemeriksaan penting ini, mengingat bayinya sudah memasuki usia 22 minggu dan mereka aka

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 43. Anniversary

    Hari pun dengan cepat berganti, malam yang indah dengan taburan bintang di angkasa membuat suasana di restoran mewah begitu terasa hangat.Siska telah merencanakan segalanya dengan matang. Restoran yang dulu menjadi tempat pertama mereka berkencan dan kemudian bertunangan telah disewa secara eksklusif untuk malam itu. Dekorasi ruangan dihiasi dengan bunga mawar merah, bunga favorit Galvin untuknya, dan lilin yang menyala memberikan suasana hangat juga romantis.Ketika Galvin datang mengenakan jas hitam yang rapi, wajahnya masih tampak dingin dan tidak beremosi. Dia melihat dekorasi yang indah di sekelilingnya, lalu menatap Siska yang berdiri di tengah ruangan mengenakan gaun malam putih muda yang pernah dikenakannya saat malam tunangan mereka.“Kamu yang mengatur semua ini?” tanya Galvin dengan nada yang datar menatap ke sekeliling.Siska mengangguk pelan dengan senyuman lembut. “Ya, Mas. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita yang kelima. Aku ingin kita bisa merayakannya bersama

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 42. Bicara dengan Kalisa

    Setelah kejadian semalam, kini Maharani duduk di tepi ranjang, tangan kanannya pelan menyentuh perutnya yang semakin membuncit. Pikirannya terus terngiang pada pengakuan Siska tadi malam. Dia tidak bisa membayangkan kalau orang yang selama ini dia anggap kakak perempuan ternyata adalah orang yang ingin menyakiti dirinya dan anaknya.Lebih dari itu, kejutan yang lebih besar datang ketika tahu bahwa Siska bekerja sama dengan Marshel, pria yang pernah mencoba untuk menodainya saat malam pertama setelah akad nikahnya dengan Galvin. Saat itu, Marshel yang masuk begitu saja ke kamar hotel di mana Rani sedang menunggu Galvin, saat itu dia mencoba untuk mendekatinya dengan cara yang tidak senonoh, sebelum akhirnya Galvin datang dan menghalangnya.Tanpa berpikir dua kali, Maharani mengambil ponsel dan menghubungi Kalisa. Panggilan hanya berdering beberapa kali sebelum terhubung.“Ran? Ada apa? Lo terdengar tidak baik-baik saja,” suara Kalisa terdengar khawatir dari ujung telepon.“Sa... Gue pe

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 14. Bumerang Untuk Rani

    Kalisa menepuk jidatnya sendiri setelah mendengar ucapan Rani. Ia pun membuang napas panjang, ia tak habis pikir jika temannya itu benar-benar melakukan pernikahannya dengan perasaan. Padahal sudah jelas, yang dilakukan Rani bisa menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. “Ya, sudahlah. Terserah lo aja

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 15. Mengajak Bertemu

    Rani seketika menggeleng menolak permintaan dari Galvin yang meminta lebih. “Kenapa?” tanya Galvin penasaran. Padahal gair*hnya sudah di ujung puncak. “Maaf, Tuan. Jangan di mobil, kita bisa melakukannya nanti setelah makan. Aku sangat lapar,” jawab Rani dengan polos. Galvin yang tadinya sedikit kec

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 12. Bertemu Tak Sengaja

    Rani pun membereskan sisa sarapannya dan merapikan semua yang ada di atas meja lalu membawanya ke dapur. Saat dirinya sibuk mencuci piring. Terdengar suara ponselnya yang dering. Di sana terlihat nama Marko yang muncul di layar pipihnya yang menyala. Sempat ragu akan menjawab atau tidak. Namun, kare

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 9. Rasa Cemburu

    Rani yang bingung akan pengusiran dari mertuanya itu hanya bisa terdiam dengan wajah polosnya. “Apa yang terjadi, Mas?” Siska yang baru saja datang dibuat bingung oleh ekspresi wajah ibu mertuanya yang tampak kesal. “Suruh wanita j*lang itu pergi, Siska! Aku tidak sudi melihat dia di sini!” usir Hel

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status