LOGINGalvin tiba di rumah sakit tempat ayahnya dirawat dengan napas terengah-engah. Lorong-lorong putih itu terasa begitu panjang, seolah sengaja memperlambat langkahnya menuju ruang gawat darurat. Di depan pintu, Lingga sudah menunggu dengan wajah pucat."Bagaimana kondisi Ayah?" tanya Galvin dengan suara yang tegang.Lingga menundukkan kepalanya. "Dokter masih berusaha, Pak. Peluru mengenai paru-paru kiri. Kondisinya sangat kritis."Galvin merasakan kakinya lemas. Dia bersandar ke dinding, mencoba menenangkan diri. Ayahnya—pria yang selama ini dia anggap kuat dan tak terkalahkan—kini terbaring di ruang operasi dengan nyawa yang dipertaruhkan."Siapa yang melakukannya?" tanya Galvin dengan suara yang bergetar."Kami belum tahu pasti, Pak. Rekaman CCTV di lorong rumah sakit menunjukkan seorang pria berpakaian hitam masuk ke kamar Marko sekitar pukul enam pagi. Wajahnya ter
Langit pagi di atas Jakarta masih kelabu ketika ambulans yang membawa Kalisa tiba di rumah sakit. Galvin duduk di dalam ambulans, tangannya masih menggenggam tangan sahabatnya yang terbaring lemah dengan selang oksigen menempel di hidungnya. Darah yang membasahi perutnya sudah dihentikan sementara oleh tim medis, namun wajah Kalisa tetap pucat seperti kertas."Bertahanlah, Lis," bisik Galvin dengan suara serak. "Kau sudah janji pada Marko. Kau tidak boleh ingkar."Kalisa membuka matanya sedikit, senyum tipis terukir di bibirnya yang kering. "Marko... bagaimana Marko?"Galvin menelan ludah. Dia belum tahu kondisi Marko. Ketika polisi menyerbu bangunan tua itu, Marko ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan luka tembak di bahu kirinya. Pria itu langsung dilarikan ke rumah sakit yang berbeda karena kondisi jalannya yang lebih stabil."Dia sedang dirawat," jawab Galvin dengan suara yang berusaha terdengar meyakinkan. "Dia kuat. Dia pasti bertahan."Kalisa mengangguk lemah, lalu
Sementara itu, di rumah sakit, Maharani merasakan kegelisahan yang luar biasa. Sudah lebih dari dua jam sejak Galvin pergi, dan tidak ada kabar apa pun. Dia mencoba menghubungi ponsel suaminya, namun tidak ada jawaban. Begitu juga dengan Kalisa dan Marko.Maharani bangkit dari ranjang meskipun tubuhnya masih lemah. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Lingga."Lingga, apa kabar Mas Galvin? Apa kau tahu di mana dia?"Suara Lingga di ujung telepon terdengar tegang. "Maaf, Nyonya. Saya juga sedang mencari informasi. Pak Galvin pergi terburu-buru setelah menerima pesan dari Bu Kalisa. Tapi setelah itu, ponselnya tidak aktif. Saya sudah mengirim beberapa orang untuk mencari, tapi belum ada hasil."Maharani merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. "Lingga, aku takut sesuatu terjadi pada mereka. Tolong... tolong temukan mereka.""Saya akan melakukan yang terbaik, Nyonya. Tapi saya
Kepala Galvin berdenyut hebat saat kesadarannya perlahan kembali. Rasa nyeri menjalar dari bagian belakang tengkoraknya, tempat di mana sesuatu yang keras telah menghantamnya. Dia mencoba menggerakkan tangan, namun tali yang mengikat pergelangan tangannya ke kursi kayu menahannya.Matanya berusaha menyesuaikan diri dengan kegelapan di sekelilingnya. Ruangan itu lembap dan berbau tanah basah, dengan satu lampu bohlam yang menggantung rendah dari langit-langit, memancarkan cahaya kuning yang berkedip-kedip. Dinding-dinding beton di sekelilingnya mengingatkannya pada gudang tempat Maharani disekap—namun tempat ini terasa lebih tua, lebih gelap, dan jauh lebih menakutkan."Kau sudah bangun."Suara itu datang dari sudut ruangan yang gelap. Galvin menoleh dengan susah payah, dan sosok pria itu melangkah keluar dari bayang-bayang. Wajah yang keras, mata yang dingin, dan senyum tipis yang penuh perhitungan—Bryan."Kau..." suara Galvin serak. "Kau Bryan. Mantan kekasih Kalisa."Bryan bertepuk
Keesokan paginya, Kalisa terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Dia bermimpi buruk semalam—mimpi tentang seseorang yang mengejarnya di kegelapan, seseorang yang dia kenal namun tidak bisa dia ingat wajahnya.Dia duduk di tepi ranjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. Marko masih tertidur di sampingnya, wajahnya tenang. Kalisa tidak ingin membangunkannya, jadi dia berjalan pelan ke arah jendela dan membuka tirai.Dari jendela kamar hotel tempat mereka menginap sementara, dia bisa melihat rumah sakit di kejauhan. Matahari pagi mulai menyinari kota, memberikan kehangatan yang menenangkan.Namun ketenangan itu tiba-tiba terganggu ketika dia melihat sesuatu yang aneh. Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir dengan mesin menyala. Di dalamnya, seseorang tam
Tiga hari telah berlalu sejak kejadian malam mengerikan di gudang tua itu. Maharani masih dirawat di rumah sakit untuk pemulihan, sementara Galvin hampir tidak pernah meninggalkan sisinya. Setiap malam, dia tidur di kursi lipat di samping ranjang, menolak untuk pulang meskipun Lingga dan Kalisa terus membujuknya.Siska kini berada di tahanan polisi, menunggu proses hukum lebih lanjut. Kedua preman yang membantunya juga telah ditangkap dan sedang diinterogasi. Namun hingga saat ini, tidak ada satu pun dari mereka yang mengungkapkan identitas sosok misterius bernama "B" yang disebut Kalisa.Galvin duduk di samping ranjang Maharani, menatap wajah istrinya yang mulai pulih. Luka-luka di wajahnya sudah mengering, meskipun bekasnya masih terlihat samar. Bayi dalam kandungannya dipastikan sehat oleh dokter, dan itu adalah satu-satunya kabar baik yang membuat Galvin bisa sedikit bernapas lega."Mas..." suara Maharani terdengar l







