공유

Bab 4. Ancaman

작가: DLaksana
last update 게시일: 2024-06-19 12:48:00

Galvin mengangguk pelan. Sementara Rani, ia menunduk takut.

“Kenapa kamu baru memberitahuku, Mas?” Siska bertanya penuh emosi.

“Bukankah ini yang kamu inginkan? Aku menikah lagi?” Galvin berbalik tanya membuat wajah Siska kelicutan.

“Apa maksudmu?” Helena ikut angkat bicara.

“Tanyakan sama menantumu, Bu,” tunjuk Galvin mengarah pada Siska. Helena pun menatap ke arah Siska meminta jawaban.

Siska mengangguk lalu ia pun berkata, “Yang dikatakan mas Galvin benar, Bu. Aku menyuruhnya untuk menikah lagi. Karena aku tidak bisa memberinya anak. Tapi, yang jadi masalahnya kenapa harus diam-diam kamu menikah di belakangku, Mas. Apalagi kita tidak tahu asal usul dia dari mana!” Siska pun bicara jujur.

Sontak Galvin dibuat tercengang saat Siska menanyakan asal usul istri keduanya.

“Jawab Galvin? Dia dari keluarga mana? Apa setara dengan kita atau—,”

“Yang terpenting dia orang baik,” sela Galvin memotong ucapan Helena, Ibu kandungnya.

Siska mendecih. Ia melirik ke arah istri kedua suaminya yang sedari tadi menunduk.

“Apa kamu tidak punya mulut untuk berbicara? Kenapa kamu diam saja?” hardiknya dengan mendekat ke arah Rani.

Jujur saja, Rani sangat muak melihat wajah Siska itu. Andai tidak ada kedua orang tua Galvin. Mungkin saja Rani akan membalas ucapannya.

“Siska! Apa kamu tidak bisa berbicara baik padanya?” desis Galvin merasa tidak enak kepada Rani.

Siska membelalak saat suaminya membela istri keduanya dibandingkan dirinya.

Helena sebagai ibu mertua Siska juga tidak terima akan pembelaan putranya kepada wanita yang dianggap sebagai istri kedua putranya itu.

“Kalau kamu mau tinggal di sini. Jawab pertanyaanku. Dari mana asal usulmu?” tanya Helena mengarah pada Rani.

Rani mendongak, dan ia hendak berbicara. Namun, Galvin lebih dulu menimpali.

“Dia teman rekan bisnisku yang ada di Bali. Kedua orang tuanya sudah meninggal,” ujar Galvin berharap semua keluarganya percaya.

“Tolong! Kalian terima dia, karena pernikahanku dan Rani hanya 10 bulan,” imbuhnya dengan membawa Rani masuk ke dalam menuju kamar tamu.

Semua orang di sana tercengang atas pernyataan Galvin.

“Apa maksudnya 10 bulan?” gumam Siska dengan melihat suaminya pergi bersama istri keduanya.

***

Setelah sampai di dalam kamar tamu. Galvin langsung meminta maaf atas sikap keluarga dan istri pertamanya. Dia sangat menyesal tidak memberitahu lebih awal. Galvin beranggapan Siska akan menerimanya semudah itu, sebab, dialah yang memojokkan dirinya untuk menikah lagi.

“Tenang, Tuan. Aku sudah kebal dengan hinaan seperti itu. Jangan dibuat risau. Aku baik-baik saja,” kata Rani tersenyum tipis.

Galvin tak bisa berkata-kata. Dia sudah mengira Rani akan memakinya karena sikap keluarganya. Namun, dugaannya salah besar.

“Terima kasih. Kamu tenang saja, kita hanya menginap semalam di sini. Besok kita kembali ke rumah utamaku,” ucap Galvin dengan mengusap lembut bahu Rani.

Rani hanya mengangguk pelan. Ia pun memegang dadanya yang berdebar kencang.

“Kamu kenapa?”

Pertanyaan Galvin membuyar lamunan Rani. Rani pun hanya menggeleng pelan sebagai jawabannya.

“Sepertinya aku lelah. Aku mau istirahat,” kata Rani dengan berjalan ke arah ranjang.

Galvin hanya mengangguk. “Baiklah, selamat istirahat.”

Setelah kepergian Galvin dari kamar tamu. Rani yang berbaring kini beranjak dan duduk di pinggir ranjang.

Ia menggerutui dirinya sendiri yang tergiur oleh uang milyaran, tetapi membuat dia masuk dalam kesengsaraan.

“Sial! Baru masuk rumah ini aja sudah dicecar habis-habisan. Aish! Mana 10 bulan masih lama banget!” gerutu Rani menyesal sudah mau menerima tawaran menjadi istri kedua.

“Gue harus siapkan mental menghadapi mereka semua!” sambungnya memberi semangat untuk dirinya sendiri.

Tidak lama, pintu kamar dibuka oleh seseorang yang masuk begitu saja.

“Heh, Kamu! Aku peringatkan! Jangan berlaga seperti nyonya, karena di sini akulah nyonya yang sebenarnya. Dan satu lagi, jangan sampai kamu mencintai suamiku. Jika hal itu sampai terjadi, aku tidak akan tinggal diam!” ancam Siska dengan tatapan tajam.

“Jika kenyataannya suamimu diam-diam mencintaiku, bagaimana?” balas Rani menyeringai.

“Tutup mulutmu! Beraninya kamu melawan ucapanku, hah?” gertak Siska emosi.

“Kita lihat saja nanti. Silakan keluar, aku mau tidur!” usir Rani membuat Siska yang meradang langsung pergi begitu saja meninggalkan kamar tamu.

Siska tak habis pikir. Jika istri kedua suaminya berani melawan ucapannya. Padahal saat ia baru datang, Rani bahkan jarang sekali berbicara. Mengucap satu kata pun tidak.

“Aku harus cari tahu dia dari mana? Aku yakin, dia bukan wanita polos dan lugu,” gumamnya dalam hati.

Ia pun menghubungi seseorang melalui ponselnya. Setelah memberitahu tujuannya, ia kembali menyimpan ponselnya di nakas persis saat Galvin masuk ke dalam kamarnya.

“Sayang!” panggil Galvin lirih. Lalu ia mendekat ke arah istri pertamanya yang membuang muka.

“Maafin aku, Sayang. Aku tahu caraku salah. Tetapi, aku hanya ingin mengabulkan permintaanmu. Aku merasa tersudutkan terus menerus olehmu yang memintaku untuk menikah. Namun, kenapa setelah aku melakukan permintaanmu, kamu marah?” ungkap Galvin dengan mendekat ke arah ranjang.

Siska menghela napas panjang. “Karena aku inginnya, wanita yang kamu nikahi harus aku yang memilihkan bukan menikah secara diam-diam. Itu, Mas. Yang buat aku kecewa sama kamu!”

“Ya, aku minta maaf aku salah. Tapi, tidak mungkin ‘kan, tiba-tiba aku harus menceraikan Rani. Apalagi kita baru menikah kemarin,” terang Galvin menyesal.

“Aku mohon terima dia demi anak kita,” imbuhnya lagi.

Siska mendecih. Ia tak menanggapi ucapan suaminya itu. Ia pun memilih tidur membelakangi sang suami.

***

Keesokan harinya, semua anggota keluarga Galvin sudah bangun dan sedang menikmati sarapan pagi bersama.

Namun, berbeda dengan Rani. Dia yang baru bangun, langsung beranjak dari ranjang dan berjalan ke arah pintu. Tentu hal itu membuat semua orang dibuat terkejut saat ia keluar kamar menggunakan pakaian seksi, yang biasa dia gunakan untuk tidur.

Galvin langsung menutup kedua matanya dan mengkode mata agar Rani masuk ke dalam kamar lagi untuk berganti pakaian yang lebih sopan.

Namun, Rani yang tak paham. Membuat Galvin beranjak dari kursi lalu menghampiri dan membawanya masuk ke dalam kamar tamu lagi.

“Kenapa, Tuan? Aku hanya ingin menyapa keluargamu,” ucap Rani polos.

“Lihat pakaianmu? Apa pantas berpakaian seperti ini?” sindir Galvin.

Rani pun menggeleng. “Tapi, aku biasa berpakaian seperti jika sarapan, Tuan,” terangnya tanpa rasa bersalah.

Lagi-lagi Galvin membuang napas panjang. “Mulai sekarang ubah kebiasaanmu itu. Siang nanti akan aku temani berbelanja baju. Bersiaplah dan berpakaianlah yang sopan,” titahnya dengan meninggalkan Rani yang diam mematung.

Sementara itu, di meja makan. Semua keluarga Galvin saling berbisik membicarakan istri keduanya.

Galvin yang tahu dan paham pun hanya bisa meminta maaf atas sikap Rani.

“Lain kali, ajari berpakaian yang sopan, Galvin,” suara Helena memecah keheningan.

Galvin hanya mengangguk pelan. “Maaf, Bu.”

Dalam hati Siska dia sangat senang. Melihat ibu mertuanya terlihat membenci istri kedua suaminya itu. Ia pun mempercepat menghabiskan makannya karena sudah berjanji akan bertemu dengan seseorang.

Saat sedang menikmati makannya, tidak lama suara notifikasi pesan berbunyi. Siska segera mengambil benda pipihnya itu yang berada di samping piring, lalu membacanya.

Sungguh, Siska dibuat tercengang oleh isi pesan itu yang ia baca.

“Hah? Tidak mungkin!”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
dindaalestari1310
lah knp takut Siska klu Gavin bakal cinta sama Rani kan nanti mereka bakal punya anak pasti seiring berjalannya waktu akan tumbuh benih cinta itu... knp kaget Siska? apa dia tau siapa Rani.
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
Kamu salah Siska pasti lama kelamaan Galvin cinta sama Rani
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 47. Sidang Keputusan

    Seminggu setelah penetapan sebagai tersangka. Kini waktu sidang pun tiba. Suasana di ruang persidangan terasa hening dan penuh ketegangan.Hakim yang memimpin sidang duduk dengan wajah serius di atas kursi tinggi, sementara di sisi terdakwa, Marshel duduk dengan wajah pucat dan pakaian tahanan yang dikenakannya. Matanya sesekali melirik ke arah hadirin, mencari secercah harapan.Di barisan hadirin, Galvin duduk di barisan depan dengan Maharani di sebelahnya. Wajah Galvin tegas namun tenang, sementara Maharani tampak tenang namun ada sedikit keraguan di matanya.Di sebelah mereka, Siska duduk dengan tangan yang saling menggenggam erat di pangkuannya. Matanya tidak lepas dari sosok Marshel, penuh rasa iba, rasa bersalah, dan juga kekhawatiran yang bercampur aduk.Di barisan belakang, Lingga, Kalisa, dan Marko juga hadir. Kalisa memegang tangan Maharani dari belakang sebagai tanda dukungan, sementara Marko menatap Marshel dengan tatapan tajam, siap melihat keadilan ditegakkan.Siska mene

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 46. Permintaan Siska

    Angin malam menerpa lembut melalui pintu balkon yang terbuka, membuat tirai renda putih bergoyang perlahan. Maharani duduk di sofa yang menghadap ke luar, tangan kanannya pelan menyentuh perutnya yang sudah mulai membuncit jelas. Dia sedang memandangi pemandangan kota yang mulai menerangi lampu malam ketika mendengar pintu kamar terbuka dengan suara pelan.Tanpa melihat ke belakang, dia rasa tahu siapa yang datang, namun ketika lengan kuat Galvin menyelimuti pinggangnya dan tubuhnya menempel erat dari belakang, Maharani tetap terkejut dan sedikit menggigil karena sentuhan hangat suaminya yang menyegarkan di malam yang sejuk.“Mas...” ucapnya pelan, menyandarkan pipinya pada lengan Galvin.Galvin tidak langsung berbicara, hanya memeluknya lebih erat dan menghirup aroma parfum favorit Maharani yang menenangkan hatinya. Setelah beberapa saat, dia mulai menceritakan semua yang terjadi, bagaimana Siska datang padanya dengan penuh harapan, meminta untuk mencabut tuntutan terhadap Marshel, h

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 45. Panggilan Kepolisian

    Langit malam tampak mendung dengan angin kencang yang menerpa sebagian wilayah Ibukota.Sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah Marshel yang megah. Dua petugas polisi berpakaian seragam keluar dengan surat panggilan resmi di tangan. Galvin ternyata membatalkan semua kerja sama bisnis dengan Marshel secara sepihak.“Pak Marshel Gunawan?” tanya salah satu petugas dengan sopan namun tegas saat Marshel baru saja keluar dari mobilnya, masih menggunakan perban di hidungnya.“Ya, saya. Ada apa?” tanya Marshel dengan wajah yang sedikit terpana. Dia sudah menduga akan ada konsekuensi dari perbuatannya, tapi tidak menyangka pihak berwenang akan datang dengan cepat.“Saya dari Kepolisian Resor Jakarta Pusat. Kami memiliki surat panggilan untuk Anda terkait kasus penganiayaan yang terjadi pada ibu Maharani beberapa waktu yang lalu di Hotel Grand Sentosa,” jelas petugas polisi sambil menunjukkan surat resmi yang ada di tangannya. “Mohon untuk bisa menyertai kami ke kantor polisi untuk memberik

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 44. Pemeriksaan

    Keesokan harinya, cuaca yang cukup mendung juga udara dingin membuat Maharani yang berada di dalam mobil menatap ke sekeliling dengan perasaan bahagia. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungannya. Setelah menempuh hampir satu jam di perjalanan, akhirnya perjalanan itu sampai di waktu yang tepat.Namun, saat menunggu pemeriksaan tiba, Maharani yang sudah duduk di bangku tunggu selama hampir satu jam, sering kali melihat ke arah pintu masuk dengan ekspresi penuh harapan.Dia juga melihat waktu di jam tangannya menunjukkan pukul 10.30, bertepatan dengan waktu jadwal pemeriksaannya. Maharani menghela napas panjang dan mengeluarkan pesan singkat untuk Galvin: "Mas, aku mulai masuk pemeriksaan, ya. Semoga meetingnya lancar."Setelah mengirim pesan, dia berdiri perlahan dan mulai berjalan menuju loket pendaftaran. Rasa kecewa jelas terlihat di wajahnya, dia sangat berharap Galvin bisa menemaninya pada pemeriksaan penting ini, mengingat bayinya sudah memasuki usia 22 minggu dan mereka aka

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 43. Anniversary

    Hari pun dengan cepat berganti, malam yang indah dengan taburan bintang di angkasa membuat suasana di restoran mewah begitu terasa hangat.Siska telah merencanakan segalanya dengan matang. Restoran yang dulu menjadi tempat pertama mereka berkencan dan kemudian bertunangan telah disewa secara eksklusif untuk malam itu. Dekorasi ruangan dihiasi dengan bunga mawar merah, bunga favorit Galvin untuknya, dan lilin yang menyala memberikan suasana hangat juga romantis.Ketika Galvin datang mengenakan jas hitam yang rapi, wajahnya masih tampak dingin dan tidak beremosi. Dia melihat dekorasi yang indah di sekelilingnya, lalu menatap Siska yang berdiri di tengah ruangan mengenakan gaun malam putih muda yang pernah dikenakannya saat malam tunangan mereka.“Kamu yang mengatur semua ini?” tanya Galvin dengan nada yang datar menatap ke sekeliling.Siska mengangguk pelan dengan senyuman lembut. “Ya, Mas. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita yang kelima. Aku ingin kita bisa merayakannya bersama

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 42. Bicara dengan Kalisa

    Setelah kejadian semalam, kini Maharani duduk di tepi ranjang, tangan kanannya pelan menyentuh perutnya yang semakin membuncit. Pikirannya terus terngiang pada pengakuan Siska tadi malam. Dia tidak bisa membayangkan kalau orang yang selama ini dia anggap kakak perempuan ternyata adalah orang yang ingin menyakiti dirinya dan anaknya.Lebih dari itu, kejutan yang lebih besar datang ketika tahu bahwa Siska bekerja sama dengan Marshel, pria yang pernah mencoba untuk menodainya saat malam pertama setelah akad nikahnya dengan Galvin. Saat itu, Marshel yang masuk begitu saja ke kamar hotel di mana Rani sedang menunggu Galvin, saat itu dia mencoba untuk mendekatinya dengan cara yang tidak senonoh, sebelum akhirnya Galvin datang dan menghalangnya.Tanpa berpikir dua kali, Maharani mengambil ponsel dan menghubungi Kalisa. Panggilan hanya berdering beberapa kali sebelum terhubung.“Ran? Ada apa? Lo terdengar tidak baik-baik saja,” suara Kalisa terdengar khawatir dari ujung telepon.“Sa... Gue pe

  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 24. Hamil?

    Bibir Rani seketika sulit terucap mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Galvin. “M-as!” sapa Rani gugup. “Jawab, ucapanku Rani! Siapa dia?” bentak Galvin terbawa emosi. Marko yang mendengar bentakan Galvin tidak terima, meski ia dulunya kasar kepada Rani. Melihat Rani diperlakukan seperti itu hatin

    last update최신 업데이트 : 2026-03-25
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 25. Sakit Tak Berdarah

    Satu jam pun berlalu. Keluarga Galvin dan istri pertamanya kini telah sampai di rumah sakit. Helena langsung memeluk Rani saat sudah berada di dalam ruang IGD. “Sayang, terima kasih untuk kehamilanmu,” ucapnya dengan lembut. “Iya, Bu. Terima kasih,” jawab Rani terharu. Frans juga mengucapkan selamat

    last update최신 업데이트 : 2026-03-25
  • Istri Kedua Sang Presdir    Ba 23. Tolong, Bantu Sahabatku

    Kalisa yang melihat Rani di depan pintu kamarnya seketika langsung tak sadarkan diri. Hal itu membuat Rani semakin panik, dengan cepat pula ia menghampiri ranjang sahabatnya mencoba membangunkan. “Kalisa! Bangun, Sa!” teriak Rani dengan kencang. Namun, suara Rani tetap tak bisa membangunkan keadaan

    last update최신 업데이트 : 2026-03-24
  • Istri Kedua Sang Presdir    Bab 22. Harus Waspada

    Satu minggu kemudian. Hampir satu bulan Rani menyandang status sebagai seorang istri. Meski hanya sebagai istri kedua, tetapi Rani merasa kehidupannya mulai berubah. Ia pun kini tidak perlu lagi bersusah payah mencari selembar uang untuk menghidupi kesehariannya. Sebab, kini semua kebutuhan sudah te

    last update최신 업데이트 : 2026-03-24
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status