Masuk***
Nika sudah sampai di kantor, ia baru saja menaruh tasnya di atas meja. Kedua temannya baru juga datang, Gendis langsung mendekati Nika, sementara Dean sedang membersihkan meja kerjanya dari debu. “Gimana? Om Herman udah di kasih tau?” tanya Gendis. Nika menggeleng lemah, “Belum, masih bingung harus mulai dari mana.” jawab Nika. “Kayaknya nanti aja kalau libur kerja.” lanjut Nika. “Sebelum kamu ngasih tau, sebaiknya kamu tanya dulu soal poligami, apa pandangan Ayah kamu soal punya istri dua.” saran Dean sambil menatap Nika. “Huh. Sebelum ngasih tau Ayah, aku masih bingung sama diri sendiri.” ucap Nika. “Bingung kenapa?” tanya Gendis sambil mengerutkan keningnya. “Bingung mau terima atau tolak,” jawab Nika. “Tanya sama hati kamu sendiri, kalau kamu terima berarti kamu harus lebih kuat lagi, karena kedepannya bakalan banyak ujian hidupnya,” ucap Dean. “Jujur ya, aku pengen nerima karena pengen mereka bantu pengobatan Ayah, tapi di satu sisi aku takut kehadiran aku malah membuat hubungan Bu Ajeng sama Pak Daniel jadi renggang.” ucap Nika. “Hei, itu udah jadi resikonya mereka, karena yang mulai duluan itu mereka, bukan kamu. Apalagi kalau sudah ada anak, harusnya Bu Ajeng berlapang dada kalau lihat kedekatan suaminya sama anaknya serta sama kamu, yang dekat nanti bukannya anak kalian saja, tapi kamu juga bakalan masuk ke dunia mereka,” ucap Gendis. “Mending sekarang kerja dulu, jangan mikirin soal jadi madu dulu, nanti kalau udah gak kerja baru tuh pikirin lagi.” ucap Dean. Gendis kembali ke tempat duduknya, Nika berusaha untuk tetap fokus dengan pekerjaannya. . Di jam setengah sepuluh pagi, Nika mulai merasakan kantuk. Ia merentangkan kedua tangannya, lalu melirik ke arah teman-temannya. “Aku mau bikin kopi, pada mau nitip gak?” Tanya Nika. Gendis menggelengkan kepalanya, “Nggak dulu, aku belum ngantuk.” Nika menatap Dean, “Mau?” Tanyanya saat mata mereka beradu pandang. “Boleh Kalau gak ngerepotin, punya aku kayak biasa, pake gula dikit.” balas Dean. “Mau pake cup atau gelas?”Tanya Nika lagi. “Cup aja,” jawab Dean. Nika berjalan keluar, tempat membuat kopi ada di lantai dua. Sementara ia kerja di lantai lima, saat mau masuk lift . Ia terkejut, ternyata di dalam lift ada Daniel dan Garu, asisten pribadi nya Daniel. Sekaligus tetangganya dulu. Nika mengangguk dan ikut masuk, ia berdiri di paling depan, sementara kedua pria tersebut di belakangnya. “Kok deg-degan ya? Padahal sebelumnya gak gini deh,” gumam Nika dalam hatinya. Nika merasa di dalam lift begitu lama, padahal biasanya ia tidak merasa seperti ini. Jantungnya juga berdetak lebih kencang. “Kayaknya gara-gara aku di minta jadi istri keduanya, kalau gak di minta pasti gak bakalan deg-degan gini.” ucapnya lagi dalam hatinya. Nika bisa bernapas lega saat pintu lift terbuka, ia buru-buru pergi dari sana, sampai ia tidak menengok ke belakang. Baru juga bernafas lega, eh malah gugup lagi saat tau ternyata bos dan asistennya itu sama-sama mau buat kopi. “Mbak Nika suka minum kopi juga?” tanya Garu. Nika menganggukkan kepalanya, “Lumayan Pak, tapi minumnya pas lagi ngantuk.” jawab Nika. Ia membuat kopi untuk Dean dulu. “Sedikit amat mbak gulanya,” ucap Garu. “Oh ini bukan untuk saya, ini titipan Dean. Kalau saya malah nggak suka pake gula.” balas Nika. Tangannya sedikit bergetar saat menuangkan air panas, beruntungnya tidak sampai tumpah. Dan ia juga takut ada yang lihat Kalau tangannya bergetar. “Kalau gitu saya juga sama, suka kopi yang pahit-pahit tanpa gula.” ucap Garu. “Pahitnya gak kerasa ya pak, soalnya hidup ini sudah terlalu pahit.” ucap Nika. Garu terkekeh, “Mbak bisa aja, tapi benar sih udah terlalu pait, jadi pas makan atau minum yang pahit-pahit malah jadi suka.” ucapnya. Nika sudah menyelesaikan membuat kopi nya, “Punya saya sudah selesai, kalau gitu saya duluan ya, mari pak.” pamit Nika. Tanpa Nika sadari, dari tadi sebenarnya Daniel terus memperhatikan dirinya. Bahkan Daniel sampai terkekeh pelan saat matanya tidak sengaja melihat tangan Nika yang sedikit bergetar karena gugup. “Kenapa bapak gak ajak ngobrol?” tanya Garu. Ia sudah tau soal rencana keluarga bosnya itu yang ingin menjadikan Nika istri kedua. “Belum waktunya.” jawab Daniel. Pergi dari sana dan diikuti Garu. “Menurut bapak gimana orangnya?” Tanya Garu. Daniel mengangkat bahunya, “Mana saya tau, kan gak kenal dekat.” Kemudian Daniel melirik sekilas ke arah Garu. “Menurut kamu?” tanyanya. “Baik, saya pernah jadi tetangganya waktu Nika SMP. Anaknya mudah bergaul, kerja keras juga, bahkan dia gak malu kalau harus ikut kerja sampingan bantu-bantu di warung makan orang tua saya, padahal waktu itu, anak-anak seusianya kalau libur sekolah pasti bakalan main sama teman-temannya, tapi kalau Nika gak.” jawab Garu. “Kenapa harus kerja? Kan Ayahnya ada,” “Jadi guru honorer itu bayarannya gak gede, masih bersyukur bisa buat makan, Ayahnya Nika juga kerja sampingan, kayak ngajar les di setiap hari sabtu minggu, terus pulang ngajar kadang ikut bantu-bantu di pasar.” jawab Garu lagi. * Di jam istirahat, Kali ini Nika tidak ikut ke kantin atau ke tempat makan yang ada di luar kantor, dirinya bawa bekal jadi ia memilih untuk tetap berada di dalam ruangan. “Makannya di kantin aja, kalau disini kamu gak teman ngobrol,” ajak Gendis. Nika tetap menggelengkan kepalanya, “Aku mau disini, gak akan kenapa-kenapa juga kalau sendirian.” tolak Nika. “Yaudah, kita pergi dulu.” ucap Gendis. Setelah kedua temannya pergi, Nika membuka kotak makannya. menu makan siang kali ini ada tumis capcay sama tempe orek, dan kerupuknya juga yang sengaja ia masukan ke dalam plastik agar saat di makan tetap bunyi. Sebelum makan, Nika mengabari Ayahnya dulu lewat pesan. Nika : (“Ayah sudah makan siang belum? Jangan lupa di makan bekalnya”) pak Herman : (“Belum, Ayah mau shalat dzuhur dulu, baru nanti makan. kamu juga jangan lupa shalat.”) Nika : (“Iya ayah, nanti kalau sudah selesai makan baru Nika shalat dzuhur”) Nika tertawa pelan, Ayahnya selalu mengutamakan ibadah dulu, baru soal perut. Beda lagi dengan dirinya, perut dulu hari ibadah. Katanya sih kalau ibadah dulu takut gak fokus ibadahnya karena perutnya bunyi. Senyum di wajah nya luntur ketika melihat nama Ajeng di layar ponselnya. Ajeng : (“Selamat siang Nika, maaf saya ganggu waktu makan siangnya, saya cuma mau bertanya soal tawaran saya kemarin, apa sudah ada jawaban nya?”) Dengan cepat Nika membalas. Nika : (“Siang Bu Ajeng, maaf Bu. Saya belum bisa memberikan jawabannya, saya juga belum memberitahu Ayah saya, saya sedang mencari waktu yang pas.”) Nika menghela nafasnya, “Berasa kaya di kejar-kejar penagih hutang.” gumamnya.***Di jam pulang, lagi-lagi Nika bertemu dengan Daniel dan Garu. Sebelum kedua pria itu melihatnya, Nika buru-buru mengalihkan pandangannya dan berjalan cepat menuju parkiran khusus motor.“Kenapa harus ketemu lagi sih,” gumamnya.Nika tidak langsung pergi, ia masih duduk di atas motor nya. Sengaja masih disana, soalnya kalau jalan sekarang takut ketemu lagi, apalagi kalau mau keluar area parkiran itu melewati jalan khusus mobil Daniel.“Sudah pergi belum ya?”“Tapi walaupun masih ada, harusnya gak apa-apa kan mereka pasti sudah masuk mobil.” ucapnya pelan.parkiran mulai ramai oleh para karyawan yang akan pulang juga, karena sudah merasa lama disana, akhirnya Nika melajukan motornya.Saat melewati parkiran khusus Daniel, Nika bisa melihat di sana sudah tidak ada mobil milik Daniel. Itu berarti sudah pergi.Ia bisa bernafas lega, namun tetap saja hatinya masih belum tenang karena belum memberitahu Ayahnya soal tawaran jadi istri kedua.Jalan
***Nika sudah sampai di kantor, ia baru saja menaruh tasnya di atas meja. Kedua temannya baru juga datang, Gendis langsung mendekati Nika, sementara Dean sedang membersihkan meja kerjanya dari debu.“Gimana? Om Herman udah di kasih tau?” tanya Gendis.Nika menggeleng lemah, “Belum, masih bingung harus mulai dari mana.” jawab Nika.“Kayaknya nanti aja kalau libur kerja.” lanjut Nika.“Sebelum kamu ngasih tau, sebaiknya kamu tanya dulu soal poligami, apa pandangan Ayah kamu soal punya istri dua.” saran Dean sambil menatap Nika.“Huh. Sebelum ngasih tau Ayah, aku masih bingung sama diri sendiri.” ucap Nika.“Bingung kenapa?” tanya Gendis sambil mengerutkan keningnya.“Bingung mau terima atau tolak,” jawab Nika.“Tanya sama hati kamu sendiri, kalau kamu terima berarti kamu harus lebih kuat lagi, karena kedepannya bakalan banyak ujian hidupnya,” ucap Dean.“Jujur ya, aku pengen nerima karena pengen mereka bantu pengobatan Ayah, tapi di satu sisi a
*** Nika sampai dikontrakan jam delapan malam, saat ia masuk ternyata Ayahnya belum tidur. Biasanya kalau ia lembur Ayahnya kadang masih nunggu dia pulang, kadang juga sudah tidur duluan. “Kenapa belum tidur, yah?” Tanya Nika mencium tangan Ayahnya. Nika bisa melihat di atas meja ada beberapa kertas, sepertinya Ayahnya sedang memeriksa tugas anak-anak sekolah. Tidak biasanya Ayahnya memeriksanya sampai malam hari, biasanya sore juga sudah selesai diperiksa. “Belum selesai ini, lima kertas lagi belum diperiksa. Ayah juga belum ngantuk” jawab Pak Herman tangannya memegangi bolpoin. “Kamu sudah makan malam?” Tanya Pak Herman sambil menatap Putrinya. Nika menganggukkan kepalanya, “Sudah tadi bareng Gendis sama Dean, kalau Ayah udah makan belum?” Tanyanya. “Ayah juga udah, kamu bersih-bersih sana terus istirahat.” titah Pak Herman. “Ayah juga, jangan begadang.” ucap Nika. “Iya, lagian baru juga jam delapan.” balas Pak Herman. Nika masuk ke kamar untuk menaruh tas dan mengambil pa
***Di jam lima sore kurang lima menit, Nika, Dean dan Gendis sudah mulai bersiap untuk pulang. Namun kegiatan mereka terhenti ketika pintu ruangan kerja mereka dibuka dari luar.ketiganya terkejut saat tahu siapa yang datang, Ajeng. Istri dari atasan mereka. Dean dan Gendis saling tatap, lalu keduanya melirik ke arah Nika.“Selamat sore!” Sapa Ajeng.“Sore juga, Bu!” Balas mereka bertiga.Jantung Nika sudah berdetak gak karuan, ia takut tiba-tiba kena amuk istri atasannya itu.“Sudah pada mau pulang ya?”“Iya Bu, kebetulan kerjaan kita sudah selesai. Jadi sudah mulai beres-beres,” jawab Gendis.Terlihat Ajeng mengangguk-anggukkan kepalanya, “Saya ada perlu dengan Anika, kalau kalian berdua mau pulang duluan, silahkan.” ucap Ajeng.Gendis dan Dean kembali saling tatap, lalu mereka berdua berpamitan.Dan sekarang di ruangan tersebut hanya ada Nika dan Ajeng, Ajeng mendekat dan berdiri di hadapan meja kerja Nika.“Ada yang mau saya bica
*** Arunika Cahaya, Nika panggilannya. Ia merupakan karyawan staf bagian keuangan di sebuah perusahaan besar yang ada di Jakarta. Di usianya yang baru dua puluh lima tahun, ia bersyukur tidak pernah dipaksa untuk buru-buru menikah oleh Papanya. Sementara Mamanya? Sudah menikah lagi dan tinggal jauh di Pontianak. Nika hanya tinggal berdua dengan Papanya yang bekerja sebagai guru di salah satu SMA di dekat rumah nya. “Aku baru ingat, seminggu lagi ulang tahun perusahaan, kamu mau datang gak?” tanya Gendis. Teman kerja Nika. “Harus datang, kamu udah 3 tahun kerja di sini tapi belum pernah ikut acara kantor,” ucap Dean. Nika menghela napasnya, ia merupakan orang yang mudah bosan, tidak suka datang ke tempat yang begitu ramai. Menurutnya lebih enak tidur di rumah daripada harus datang ke acara seperti itu. “Kita liat aja nanti, kalau mood aku bagus berarti mau datang,” balas Nika. “Yaelah, pokoknya kamu harus datang. Nanti pulang kerja kita ke butik Tante aku,” ucap Gendis. “Gak p







