Masuk***
Nika sampai dikontrakan jam delapan malam, saat ia masuk ternyata Ayahnya belum tidur. Biasanya kalau ia lembur Ayahnya kadang masih nunggu dia pulang, kadang juga sudah tidur duluan. “Kenapa belum tidur, yah?” Tanya Nika mencium tangan Ayahnya. Nika bisa melihat di atas meja ada beberapa kertas, sepertinya Ayahnya sedang memeriksa tugas anak-anak sekolah. Tidak biasanya Ayahnya memeriksanya sampai malam hari, biasanya sore juga sudah selesai diperiksa. “Belum selesai ini, lima kertas lagi belum diperiksa. Ayah juga belum ngantuk” jawab Pak Herman tangannya memegangi bolpoin. “Kamu sudah makan malam?” Tanya Pak Herman sambil menatap Putrinya. Nika menganggukkan kepalanya, “Sudah tadi bareng Gendis sama Dean, kalau Ayah udah makan belum?” Tanyanya. “Ayah juga udah, kamu bersih-bersih sana terus istirahat.” titah Pak Herman. “Ayah juga, jangan begadang.” ucap Nika. “Iya, lagian baru juga jam delapan.” balas Pak Herman. Nika masuk ke kamar untuk menaruh tas dan mengambil pakaian ganti, kemudian keluar kamar lagi dan berjalan ke kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Nika membuka tutup tempat makanan, ternyata ada sayur bening sama tempe goreng. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Nika selalu menyempatkan waktunya untuk pergi ke warung dekat kontrakan yang kebetulan dagang sayuran juga, ia akan membeli beberapa sayur, kadang tambah beli ikan kadang daging ayam, kalau tidak keduanya biasanya beli sayurnya sama tempe atau tahu. Nika hanya akan memasak untuk sarapan, makan siangnya kadang bawa bekal kadang tidak, kalau Ayahnya selalu bawa bekal. Untuk makan malamnya biasanya Ayahnya yang masak, kalau Nika pulang jam empat sore, baru ia yang akan masak. Setelah melihat isinya, baru Nika masuk ke dalam kamar mandi dekat dapur. Selang beberapa menit, Nika baru menyelesaikan Mandinya. Ia ingin kembali ke kamar untuk beristirahat, ternyata Ayahnya juga sudah masuk kamar. Di dalam kamar yang tidak begitu besar, Nika merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang hanya muat untuk satu orang, dua orang juga bisa tapi bakalan agak sempit. Nika menatap langit-langit kamar kontrakannya, “Enaknya ngasih tau ayah kapan ya?” Ucapnya sambil mengetuk-ngetuk dagunya. “Kalau pagi nanti gak mungkin, waktunya mepet, kalau pulang kerja juga gak mungkin.” gumam Nika. Mengubah posisi tidurnya jadi tengkurap. “Apa hari sabtu? Kebetulan kan hari sabtu tanggal merah. Jadi punya waktu banyak buat ngobrol sama Ayah,” ucapnya. Nika mencoba untuk memejamkan matanya, tapi tetap tidak bisa. Sudah beberapa kali mengubah posisi tidurnya juga, tapi tetap sama susah untuk pindah ke alam mimpi. Sampai tak terasa sudah jam sepuluh malam dan Nika masih terus bergerak dari tempat tidurnya. “Kayaknya harus nonton video orang lagi spa,” ucapnya pelan. Karena kamarnya tidak kedap suara, jadi Nika tidak menghidupkan suaranya, hanya melihat video tanpa suara. Dan ternyata berhasil, lama kelamaan Nika mulai memejamkan matanya. Setiap susah tidur kadang Nika selalu melakukan itu, itu juga tips dari Gendis yang katanya selalu nonton video orang yang sedang spa, agar bisa tidur. ** Sementara di sebuah Rumah Besar, atau sering disebut mansion. Di dalam kamar sepasang suami istri, Ajeng baru selesai memeriksa laporan dari butiknya. Butik yang ia rintis saat sebelum menikah dengan Daniel, dan ternyata sampai sekarang masih bertahan. Sementara sang suami, Daniel baru masuk kamar. Beliau baru dari ruangan kerjanya. Ajeng duduk di depan cermin sedang memakai skincare malamnya. Kemudian memutar tubuhnya menghadap suaminya yang sudah naik ke atas ranjang. “Aku udah bicara sama Nika,” Ucap Ajeng. “Terus jawabannya apa? Ingat jangan maksa,” Tanya Daniel. “Gak maksa kok, Nika terkejut dan aku ngasih waktu dia buat memikirkan dulu. Nggak langsung aku suruh jawab sekarang juga,” jawab Ajeng. “Kamu harus pastikan Mama Ageng sama Mentari gak tau siapa perempuan yang kamu pilih jadi madu,” ucap Daniel. “Kalau itu sudah aku wanti-wanti, jadi kamu nggak perlu khawatir.” balas Ajeng. Semuanya sudah ia pikirkan dengan matang, ia tidak mau gegabah apalagi waktu membahayakan Nika. Ia tahu kalau Adik tirinya itu orangnya cukup nekat. Ajeng melanjutkan kegiatannya, setelah itu baru ia ikut naik ke atas ranjang. Suaminya sudah memejamkan matanya. Baru juga ingin memejamkan matanya, sudah terdengar getaran di ponselnya. Saat dicek ternyata dari adik tirinya. Mentari : (“Mbak, kasih tau aku sekarang siapa perempuan yang akan jadi istri keduanya Mas Daniel.”) Ajeng : (“Kepo, kayak dora,”) Ajeng langsung mematikan ponselnya sambil terkekeh, “Kepo banget, pasti habis ini mereka bakalan nyuruh orang buat ngikutin kemana aku sama mas Daniel pergi.” ucapnya pelan. Ajeng sempat ingin melakukan tes DNA dirinya dan sang Mama, tapi di larang keras oleh Papanya. Papanya bahkan sampai memperlihatkan foto-foto Ajeng dari baru lahir sampai tumbuh dewasa. Papanya selalu berada di sampingnya, Papanya selalu membelanya ketika Ajeng kena marah mamanya. Bahkan bisa dibilang, dari keluarga Papa Mamanya, semuanya memihak kepada Ajeng, bukan kepada Mama dan adik tirinya. Ajeng bisa menikah dengan Daniel karena adanya perjodohan, Papa mereka yang merencanakannya. Mamanya sempat tidak setuju dan meminta lebih baik mentari saja yang dijodohkan, karena Mentari sudah lama menyukai Daniel, bahkan dari saat mentari SMP, karena sering bertemu dua keluarga tersebut. Keputusan Papanya Ajeng tidak bisa ada yang larang, Ajeng yang akan menjadi istrinya Daniel. dan sampai sekarang usia pernikahan yang ke sebelas tahun, pernikahan mereka masih bertahan. Walaupun ujiannya cukup banyak, bukan hanya ujian soal keturunan, tapi ujian orang ketiga juga. Beruntungnya komunikasi mereka sangat baik, banyak perempuan di luaran sana mendekati Daniel, tapi Daniel tidak pernah tergoda. **** Pagi hari, baru jam enam pagi Nika baru selesai menghangatkan makanan sisa semalam. Ia memasak makanan baru tapi bukan untuk sarapan, melainkan untuk bekal dirinya dan sang Ayah. “Hari ini bakalan lembur lagi?” Tanya Pak Herman sambil merapikan rambutnya yang sudah mulai ada ubannya. “Kayaknya nggak, kenapa memangnya?” Tanya balik Nika. “Nggak kenapa-kenapa, itu jas hujannya jangan ketinggalan, akhir-akhir ini sering tiba-tiba turun hujan.” ucap Ayahnya. Menunjuk jas hujan milik Nika berada di dekat meja dekat kulkas. Mereka sarapan bersama, selesai sarapan baru berangkat kerja. Nika akan menghantarkan Ayahnya dulu ke sekolah, kalau pulangnya Ayahnya selalu naik ojol atau ikut bareng anak tetangga yang bawa kendaraan. Tak lupa, Nika juga sudah beres-beres rumah, seperti menyapu dan pel lantai serta nyuci pakaian. Kadang pak Herman melarang, katanya biar ayahnya saja nanti saat pulang ngajar. Tapi Nika tetap kekeh ingin beres-beres rumah dulu sebelum berangkat kerja, ia tidak ingin ayahnya kecapean.***Senin siang itu kantor terasa lebih padat dari biasanya. Matahari Jakarta sedang terik-teriknya, cahayanya menembus tirai tipis jendela lantai delapan dan membentuk garis-garis terang di lantai keramik. Suara klakson samar terdengar dari bawah, bercampur dengan dengungan AC dan ketikan keyboard yang tak pernah benar-benar berhenti.Di ruang bagian keuangan, hanya ada tiga meja yang tersusun membentuk huruf U. Tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman untuk mereka bertiga—Nika, Dean, dan Gendis. Rak arsip berdiri penuh map biru dan abu-abu di dinding belakang. Whiteboard kecil di samping pintu dipenuhi catatan deadline dan angka-angka target.Dean sedang fokus di depan layar, mengerjakan rekonsiliasi laporan pengeluaran minggu lalu. Lengan kemejanya digulung sampai siku. Gendis sibuk menghitung ulang data invoice sambil sesekali mengunyah permen karet. Sementara Nika… sejak tadi lebih banyak diam.Ia menatap lembar Excel di hadapannya, tapi pikiran
***Senin siang, Ajeng berdiri di dalam butiknya yang berada di lantai dasar sebuah gedung komersial elite Jakarta Selatan. Ruangan itu wangi kain baru dan parfum lembut. Beberapa karyawan sedang melayani pelanggan, sementara Ajeng fokus memeriksa desain koleksi terbaru di macbook miliknya. Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak ada badai yang sedang menunggu. Pintu butik terbuka cukup keras sehingga lonceng kecil di atasnya berdenting nyaring. Ajeng mendongkak. Mamanya masuk dengan langkah cepat, wajahnya tegang. Di belakangnya, Mentari berjalan dengan ekspresi kesal yang sama sekali tidak bisa disembunyikan. Beberapa pegawai saling melirik, merasakan aura tidak biasa. “Mama?” Ajeng berdiri tegak. “Ada apa?”Tanpa basa-basi, Mamanya langsung berkata dengan suara tertahan namun penuh amarah. “Kamu tidak bilang apa-apa soal pertemuan kemarin!”Ajeng menghela napas pelan. Ia sudah menduga kabar itu tidak akan lama tersembunyi.
***Minggu pagi di villa teras begitu sejuk. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus, sementara sinar matahari perlahan menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar ruang makan. Udara di kawasan puncak Bogor memang selalu membawa ketenangan yang berbeda, dingin, bersih, dan terasa jauh hiruk-pikuk Jakarta. Nika duduk di kursi kayu panjang, secangkir teh hangat di tangannya. Semalam ia hampir tidak bisa tidur nyenyak, terlalu banyak yang dipikirkan. Pernikahan, statusnya nanti, keputusan tetap bekerja sampai hamil. Dan tentu saja, posisinya sebagai istri kedua. Di meja makan, Oma Laila sesekali menyuapkan potongan buah dari piring Opa Remon. Bu Dania berbincang pelan dengan Pak Harman tentang menjadi pengajar, dulu sebelum menikah dengan suaminya, Bu Dania sempat pernah jadi guru TK. Daniel duduk di samping Ajeng, tangannya sesekali akan menyentuh tangan Ajeng. Selesai sarapan, mereka berpindah ke ruangan tengah. Opa Remon duduk di kursi utam
**** Satu Minggu berlalu, Sabtu sore ini Nika dan Ayahnya akan ke puncak Bogor, mereka dijemput oleh salah satu supir keluarga Daniel. Dimana besok, kedua keluarga tersebut akan memulai perkenalan dan membahas soal pernikahan Nika dan Daniel. Sebuah mobil hitam berhenti di depan gang menuju kontrakan yang ditinggal Nika dan Ayahnya. Supir keluarga Daniel membukakan pintu belakang mobil. “Silahkan Mbak Nika, Pak.” ucapnya hormat. Nika menoleh pada Ayahnya, Pak Herman mengenakan kemeja panjang warna abu-abu dan celana bahan hitam, beliau terlihat rapi, meski wajahnya menyimpan sedikit ketegangan. “Siap, Yah?” tanya Nika pelan. Pak Herman tersenyum tipis. “InsyaAllah siap.” Perjalanan menuju kawasan puncak terasa cukup panjang. Mobil melaju meninggalkan hiruk-pikuk kota, perlahan memasuki jalanan berkelok dengan pemandangan pepohonan hijau di kiri-kanan. Udara semakin sejuk, kabut tipis mulai turun saat mereka mendekati area perbukitan.
***Siang itu suasana di mansion Pak Mahardi terasa tenang, disana hanya ada Daniel, Ajeng dan Mamanya. Yang lainnya sedang pergi memancing di pemancingan milik Opa Rendi, Adik dari Oma Laila. Daniel duduk di kursi rotan yang berada di taman belakang mansion, punggungnya tegak ketika Istri dan Mamanya ikut gabung. Tadi Daniel sempat memberitahu mereka, ada yang ingin ia bicarakan. Dan Daniel sengaja memilih tempat terbuka saat ngobrol bersama Istri dan Mamanya. Daniel menghela napas panjang sebelum membuka obrolan. “Mah, Jeng. Aku mau bahas soal Nika,” ucap Daniel. Ajeng menatap Daniel sekelis, lalu kembali memandang ke depan. Menatap berbagai jenis bunga. Bu Dania langsung menoleh, “Soal apa lagi?”“Nika menyampaikan keinginannya, kalau nanti kita menikah. Dia ingin tinggalkan jauh dari Jakarta.” Ajeng langsung menoleh, “Jauh itu maksudnya?”“Bukan di Jakarta, dia ingin hidup tenang dengan Ayahnya.”Bu Dania terdiam sejenak, “
****Malam sudah semakin larut. Hening menyelimuti kontrakan yang dihuni Nika dan Ayahnya. Lampu kamar Nika menyala redup, hanya satu bohlam kuning yang menggantung di tengah ruangan, menerangi dinding kusam. Nika sudah berada di ranjang kecilnya. Ia baru saja mengganti pakaian dengan piyama panjang bermotif bunga kecil. Rambutnya dibiarkan tergerai, tubuhnya terasa lelah padahal hari ini lebih banyak bersantai, tapi tetap saja merasa lelah. Matanya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin terpejam, pikirannya terlalu penuh. Ia memandangi langit-langit kamar, sesekali menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Di dadanya ada perasaan campur aduk yang sulit ia definisikan. Antara berharap, takut dan ragu. Nika teringat percakapannya dengan Daniel beberapa menit yang lalu. Tentang pernikahan dan tentang tempat tinggal nanti setelah menikah. Nika menggigit bibir bawahnya pelan. Ia bukan perempuan bodoh yang tidak memahami konsekuen







