LOGIN***
Di jam lima sore kurang lima menit, Nika, Dean dan Gendis sudah mulai bersiap untuk pulang. Namun kegiatan mereka terhenti ketika pintu ruangan kerja mereka dibuka dari luar. ketiganya terkejut saat tahu siapa yang datang, Ajeng. Istri dari atasan mereka. Dean dan Gendis saling tatap, lalu keduanya melirik ke arah Nika. “Selamat sore!” Sapa Ajeng. “Sore juga, Bu!” Balas mereka bertiga. Jantung Nika sudah berdetak gak karuan, ia takut tiba-tiba kena amuk istri atasannya itu. “Sudah pada mau pulang ya?” “Iya Bu, kebetulan kerjaan kita sudah selesai. Jadi sudah mulai beres-beres,” jawab Gendis. Terlihat Ajeng mengangguk-anggukkan kepalanya, “Saya ada perlu dengan Anika, kalau kalian berdua mau pulang duluan, silahkan.” ucap Ajeng. Gendis dan Dean kembali saling tatap, lalu mereka berdua berpamitan. Dan sekarang di ruangan tersebut hanya ada Nika dan Ajeng, Ajeng mendekat dan berdiri di hadapan meja kerja Nika. “Ada yang mau saya bicarakan, mari duduk dulu.” ucap Ajeng berjalan lebih dulu ke arah sofa yang ada di ruangan tersebut. Hanya ada satu sofa panjang. Dengan perasaan takut, Nika duduk di samping Ajeng. Tangannya sudah terasa dingin dan keluar keringat. “Jangan terlalu tegang, saya bukan mau berbuat jahat sama kamu.” ucap Ajeng tersenyum. Nika berusaha untuk tenang, walaupun Ajeng mengatakan begitu, tetap saja Nika merasa takut. “Nika, saya bukan mau marah karena Minggu lalu kamu diantar pulang oleh suami saya, suami saya sudah memberitahu saya alasannya, jadi saya tidak akan marah.” ucapnya. Ajeng menghela napasnya, “Nika, sebelumnya saya sudah mencari tahu tentang kamu, tentang keluarga kamu, dan ternyata hasilnya cukup baik dan membuat saya semakin yakin dengan apa yang akan saya dan keluarga saya putuskan.” Nika mengernyitkan keningnya, “Maksud Bu Ajeng?” Ajeng menggenggam tangan Nika, “Kamu sudah tahu kalau saya dan suami sampai sekarang belum dikaruniai anak, usia pernikahan kami sudah masuk di tahun ke sebelas, dua tahun lalu saat kami melakukan pemeriksaan lagi di luar negeri, ternyata yang bermasalah itu saya, saya divonis tidak akan mempunyai keturunan. Saya sudah meminta suami untuk menikah lagi agar bisa punya keturunan, tapi suami saya menolak, saya juga sempat memberikan saran agar mengadopsi anak, tapi lagi-lagi ditolak bahkan keluarga saya juga.” “Setelah melihat kamu dan tau kamu orangnya seperti apa, akhirnya saya dan kedua mertua saya meminta suami untuk menikah lagi dengan kamu, suami akhirnya setuju, jadi apakah kamu mau menikah dengan suami saya? Menjadi istri kedua,” Seketika tubuh Nika menegang, jujur saja ia sangat terkejut. “Bu...” “Kamu tidak perlu menjawab sekarang, saya akan kasih waktu untuk kamu memikirkan dulu, di sini kamu juga akan mendapatkan keuntungan, semuanya sudah setuju, hanya Mama dan adik tiri saya yang tidak setuju. Mama saya maunya Mentari yang menjadi madu saya, tapi saya serta keluarga yang lain menolak dengan keras, kami sudah tahu Mentari orangnya seperti apa, hubungan kami tidak begitu baik, Mentari selalu mencari kesalahan saya, dan ironisnya, Mama kandung saya malah selalu percaya sama Mentari daripada sama anaknya sendiri.” ucap Ajeng dengan lirih di akhir kalimat. Nika hanya bisa diam, ia bingung harus mengatakan apa. Otaknya tiba-tiba berhenti berpikir. “Saya tau pasti kamu sangat terkejut dengan permintaan saya ini, saya tau saya dan keluarga egois karena meminta kamu menjadi Istri kedua, tapi mau gimana lagi, keluarga suami saya butuh pewaris.” Ajeng melirik jam tangannya, sudah hampir sore, “Kalau gitu saya pamit, saya tunggu jawabannya. Mari,” pamit Ajeng. ketika pintu ruangan tertutup, Nika menjatuhkan tubuhnya pada sofa. Ia menatap langit-langit ruangan kerjanya, entah sudah berapa ia menghela napasnya. “Gila, ini benar-benar gila.” gumamnya. Nika beranjak, ia mengambil tasnya dan keluar untuk Pulang. Tapi bukan pulang ke kontrakan, melainkan ke apartemennya Gendis. Nika tadi siang sudah memberitahu Ayahnya kalau ia akan pulang malam, karena tadi mikirnya Istri atasannya itu akan bertemu malam hari, ternyata datang sore hari. * Nika sudah berada di Apartemennya Gendis, kini mereka bertiga sudah duduk melingkar di ruangan tengah. “Jadi apa hasilnya?” tanya Gendis. Ia sangat penasaran, bahkan dari tadi tubuhnya tidak bisa diam, sampai mondar-mandir menunggu kedatangan Nika. Dean sampai gemas sekali, ia juga sama penasaran, tapi tidak sampai harus mondar-mandir juga. “Bu Ajeng minta aku jadi Istri kedua suaminya.” jawab Nika. Ia memperhatikan ekspresi kedua temannya. Benar dugaannya, mereka malah bengong menatap Nika. Mungkin karena terkejut. Nika mengibaskan tangannya ke arah wajah keduanya membuat mereka tersadar lagi dan menatap Nika serius. “Astaga, terus kamu jawab apa?” Tanya Dean. Menatap Nika serius. “Belum aku jawab, jujur ya. Mau ngomong aja mendadak susah, bibir aku kayak ada yang nahan buat ngomong, Bu Ajeng ngasih aku waktu.” jawab Nika. “Terima aja gak sih, tapi nanti kamu harus minta syarat, minta buat mereka ngebiayain pengobatan ayah kamu, terus minta rumah juga, kalau udah nikah harus pisah rumah sama Bu Ajeng.” ucap Gendis. “Nah aku setuju sama Gendis, jangan mikirin cinta dulu, nanti juga kalau sering berinteraksi bakalan timbul rasa cinta dan nyaman,” ucap Dean sambil menjentikkan jarinya. “Tapi sih balik lagi ke diri kamu sendiri, kita gak akan maksa.” lanjut Dean. “Terus jangan lupa kasih tau Ayah kamu juga, kalau setuju jangan mau nikah siri, harus nikah secara agama dan hukum.” ucap Gendis. “Kita sebagai perempuan jangan mau diajak nikah siri,” lanjut Gendis. Nika memijat keningnya, kepalanya tiba-tiba terasa berat. Bukan hanya memikirkan jawaban untuk Ajeng, tapi memikirkan gimana caranya memberitahu Ayahnya. Kalau ia memberitahu Ayahnya, kira-kira respon seperti apa yang akan diberikan Ayahnya itu?. “Ini aku harus mulai dari mana pas mau ngasih tau Ayah?” tanya Nika. “Ya kamu kasih tau dari dari awal sampai akhir, jangan ada yang kelewat.” jawab Dean. “Kenapa harus aku coba yang jadi istri kedua, padahal di luaran sana banyak perempuan yang cocok jadi istri keduanya Pak Daniel, kenapa harus aku? Secara kasta aja beda jauh.” keluh Nika. “Itu berarti keluarga mereka gak mandang orang dari kastanya, mereka juga gak asal pilih nyari pasangan buat masa depannya Pak Daniel, buat keturunannya kelak, ingat banyak yang bilang anak pintar itu karena turunan dari ibunya, dan kamu termasuk orang yang pintar, makanya mereka lebih milih kamu.” ucap Gendis. Nika kembali menghela napasnya, ia memejamkan matanya sejenak. Sebelumnya hidupnya biasa-biasa aja, berjalan mulus, Sekarang malah dipusingkan dengan tawaran jadi istri kedua. Kenapa tawarannya bukan jabatan aja.***Senin siang itu kantor terasa lebih padat dari biasanya. Matahari Jakarta sedang terik-teriknya, cahayanya menembus tirai tipis jendela lantai delapan dan membentuk garis-garis terang di lantai keramik. Suara klakson samar terdengar dari bawah, bercampur dengan dengungan AC dan ketikan keyboard yang tak pernah benar-benar berhenti.Di ruang bagian keuangan, hanya ada tiga meja yang tersusun membentuk huruf U. Tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman untuk mereka bertiga—Nika, Dean, dan Gendis. Rak arsip berdiri penuh map biru dan abu-abu di dinding belakang. Whiteboard kecil di samping pintu dipenuhi catatan deadline dan angka-angka target.Dean sedang fokus di depan layar, mengerjakan rekonsiliasi laporan pengeluaran minggu lalu. Lengan kemejanya digulung sampai siku. Gendis sibuk menghitung ulang data invoice sambil sesekali mengunyah permen karet. Sementara Nika… sejak tadi lebih banyak diam.Ia menatap lembar Excel di hadapannya, tapi pikiran
***Senin siang, Ajeng berdiri di dalam butiknya yang berada di lantai dasar sebuah gedung komersial elite Jakarta Selatan. Ruangan itu wangi kain baru dan parfum lembut. Beberapa karyawan sedang melayani pelanggan, sementara Ajeng fokus memeriksa desain koleksi terbaru di macbook miliknya. Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak ada badai yang sedang menunggu. Pintu butik terbuka cukup keras sehingga lonceng kecil di atasnya berdenting nyaring. Ajeng mendongkak. Mamanya masuk dengan langkah cepat, wajahnya tegang. Di belakangnya, Mentari berjalan dengan ekspresi kesal yang sama sekali tidak bisa disembunyikan. Beberapa pegawai saling melirik, merasakan aura tidak biasa. “Mama?” Ajeng berdiri tegak. “Ada apa?”Tanpa basa-basi, Mamanya langsung berkata dengan suara tertahan namun penuh amarah. “Kamu tidak bilang apa-apa soal pertemuan kemarin!”Ajeng menghela napas pelan. Ia sudah menduga kabar itu tidak akan lama tersembunyi.
***Minggu pagi di villa teras begitu sejuk. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus, sementara sinar matahari perlahan menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar ruang makan. Udara di kawasan puncak Bogor memang selalu membawa ketenangan yang berbeda, dingin, bersih, dan terasa jauh hiruk-pikuk Jakarta. Nika duduk di kursi kayu panjang, secangkir teh hangat di tangannya. Semalam ia hampir tidak bisa tidur nyenyak, terlalu banyak yang dipikirkan. Pernikahan, statusnya nanti, keputusan tetap bekerja sampai hamil. Dan tentu saja, posisinya sebagai istri kedua. Di meja makan, Oma Laila sesekali menyuapkan potongan buah dari piring Opa Remon. Bu Dania berbincang pelan dengan Pak Harman tentang menjadi pengajar, dulu sebelum menikah dengan suaminya, Bu Dania sempat pernah jadi guru TK. Daniel duduk di samping Ajeng, tangannya sesekali akan menyentuh tangan Ajeng. Selesai sarapan, mereka berpindah ke ruangan tengah. Opa Remon duduk di kursi utam
**** Satu Minggu berlalu, Sabtu sore ini Nika dan Ayahnya akan ke puncak Bogor, mereka dijemput oleh salah satu supir keluarga Daniel. Dimana besok, kedua keluarga tersebut akan memulai perkenalan dan membahas soal pernikahan Nika dan Daniel. Sebuah mobil hitam berhenti di depan gang menuju kontrakan yang ditinggal Nika dan Ayahnya. Supir keluarga Daniel membukakan pintu belakang mobil. “Silahkan Mbak Nika, Pak.” ucapnya hormat. Nika menoleh pada Ayahnya, Pak Herman mengenakan kemeja panjang warna abu-abu dan celana bahan hitam, beliau terlihat rapi, meski wajahnya menyimpan sedikit ketegangan. “Siap, Yah?” tanya Nika pelan. Pak Herman tersenyum tipis. “InsyaAllah siap.” Perjalanan menuju kawasan puncak terasa cukup panjang. Mobil melaju meninggalkan hiruk-pikuk kota, perlahan memasuki jalanan berkelok dengan pemandangan pepohonan hijau di kiri-kanan. Udara semakin sejuk, kabut tipis mulai turun saat mereka mendekati area perbukitan.
***Siang itu suasana di mansion Pak Mahardi terasa tenang, disana hanya ada Daniel, Ajeng dan Mamanya. Yang lainnya sedang pergi memancing di pemancingan milik Opa Rendi, Adik dari Oma Laila. Daniel duduk di kursi rotan yang berada di taman belakang mansion, punggungnya tegak ketika Istri dan Mamanya ikut gabung. Tadi Daniel sempat memberitahu mereka, ada yang ingin ia bicarakan. Dan Daniel sengaja memilih tempat terbuka saat ngobrol bersama Istri dan Mamanya. Daniel menghela napas panjang sebelum membuka obrolan. “Mah, Jeng. Aku mau bahas soal Nika,” ucap Daniel. Ajeng menatap Daniel sekelis, lalu kembali memandang ke depan. Menatap berbagai jenis bunga. Bu Dania langsung menoleh, “Soal apa lagi?”“Nika menyampaikan keinginannya, kalau nanti kita menikah. Dia ingin tinggalkan jauh dari Jakarta.” Ajeng langsung menoleh, “Jauh itu maksudnya?”“Bukan di Jakarta, dia ingin hidup tenang dengan Ayahnya.”Bu Dania terdiam sejenak, “
****Malam sudah semakin larut. Hening menyelimuti kontrakan yang dihuni Nika dan Ayahnya. Lampu kamar Nika menyala redup, hanya satu bohlam kuning yang menggantung di tengah ruangan, menerangi dinding kusam. Nika sudah berada di ranjang kecilnya. Ia baru saja mengganti pakaian dengan piyama panjang bermotif bunga kecil. Rambutnya dibiarkan tergerai, tubuhnya terasa lelah padahal hari ini lebih banyak bersantai, tapi tetap saja merasa lelah. Matanya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin terpejam, pikirannya terlalu penuh. Ia memandangi langit-langit kamar, sesekali menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Di dadanya ada perasaan campur aduk yang sulit ia definisikan. Antara berharap, takut dan ragu. Nika teringat percakapannya dengan Daniel beberapa menit yang lalu. Tentang pernikahan dan tentang tempat tinggal nanti setelah menikah. Nika menggigit bibir bawahnya pelan. Ia bukan perempuan bodoh yang tidak memahami konsekuen
**** Acara ulang tahun yang tadinya akan dilaksanakan di hari Minggu malamnya jadi dimajukan jadi malam Minggu. Dan dihari Sabtu ini para karyawan mendapatkan libur, memang biasanya juga akan libur tapi itu juga kalau pekerjaan sedikit, kalau banyak ataupun lumayan sibuk, pasti hari Sabtu masuk ke
****Setelah melakukan pertemuan dengan Nika, Ajeng cepat-cepat langsung pulang ke mansionnya. Ia ingin segera memberitahu suaminya soal jawaban Nika, suaminya yang akan lebih dulu ia beritahu, habis itu baru mereka akan memberitahu keluarga suaminya dan Papanya Ajeng. Untuk Mama da
***Di tengah-tengah acara, Nika merasa kantung kemihnya sudah penuh. Akhirnya ia pergi ke toilet dengan arahan pelayan disana, Nika juga memberitahu kedua temannya agar nanti mereka tidak mencarinya. Gendis dan Dean sedang berdansa, mereka mendapatkan undian berdansa begitu juga dengan
*** Daniel sudah berada di mansion orang tuanya, sebelumnya ia sudah mengabari mereka untuk berkumpul di mansion orang tuanya. Terlihat sudah ada orang tuanya, Oma Opa nya, dan ada keluarga Tante dan Om nya mau itu dari pihak Papa dan Mamanya. Hanya Ajeng yang b







