Masuk
***
Arunika Cahaya, Nika panggilannya. Ia merupakan karyawan staf bagian keuangan di sebuah perusahaan besar yang ada di Jakarta. Di usianya yang baru dua puluh lima tahun, ia bersyukur tidak pernah dipaksa untuk buru-buru menikah oleh Papanya. Sementara Mamanya? Sudah menikah lagi dan tinggal jauh di Pontianak. Nika hanya tinggal berdua dengan Papanya yang bekerja sebagai guru di salah satu SMA di dekat rumah nya. “Aku baru ingat, seminggu lagi ulang tahun perusahaan, kamu mau datang gak?” tanya Gendis. Teman kerja Nika. “Harus datang, kamu udah 3 tahun kerja di sini tapi belum pernah ikut acara kantor,” ucap Dean. Nika menghela napasnya, ia merupakan orang yang mudah bosan, tidak suka datang ke tempat yang begitu ramai. Menurutnya lebih enak tidur di rumah daripada harus datang ke acara seperti itu. “Kita liat aja nanti, kalau mood aku bagus berarti mau datang,” balas Nika. “Yaelah, pokoknya kamu harus datang. Nanti pulang kerja kita ke butik Tante aku,” ucap Gendis. “Gak perlu ke butik juga, aku punya kok beberapa gaun buat acara nanti,” ucap Nika. Nika harus tetap berhemat, soalnya setiap dua minggu sekali Ayahnya harus cuci darah karena penyakit ginjalnya. Uang dari ngajar jadi guru mana cukup, jadi Nika harus pintar-pintar membagi gajinya untuk ayah dan untuk dirinya sendiri. “Jangan nolak, aku yang bayar,” udah Dean. Mereka sudah tau soal ayahnya Nika yang harus cuci darah setiap minggunya. Nika buru-buru menggelengkan kepalanya, “Nggak ah, jangan terlalu baik sama aku, aku serius kok punya beberapa gaun yang belum sempat aku pakai.” ia tidak bohong, waktu dua tahun lalu pernah mau ikut acara kantor sampai harus menabung dulu untuk beli gaun, tapi setelah waktunya tiba malah jadi malas untuk pergi, dan gaunnya sampai sekarang belum pernah ia pakai. Dean menghela napasnya, “Yaudah kalau kamu gak mau.” Gendis menatap jam yang ada di layar komputernya, “Bentar lagi jam makan siang, pada mau makan di mana?” tanya Gendis. “Beli bakso seberang dekat penjual buah yuk,” ajak Dean. “Aku sih ayok, pengen makan mie ayam baksonya,” balas Nika. Untuk hari ini ia tidak membawa bekal. Biasanya selalu bawa. “Sepuluh menit lagi,” gumam Gendis. Bahkan ia sudah mematikan komputer nya dan bersiap untuk keluar dari ruangan tersebut. “Gak sabaran banget,” ucap Dean. “Takut gak kebagian tempat duduk” balas Gendis. “Kalau gak kebagian bisa makannya dimana aja,” ucap Nika. Sambil merapikan beberapa kertas di atas meja kerjanya. “Malas kalau harus bawa mangkok buat nyari tempat duduk” ucap Gendis. Beberapa menit kemudian, Gendis tersenyum lebar ia buru-buru keluar. Nika dan Dean hanya bisa saling tatap dan mengikutinya dari belakang. Keduanya baru juga keluar dari ruangan kerja mereka, pintu lift nya sudah keburu tutup. “Astaga, Gendis ini ada-ada aja, gak sekalian aja ya pake tangga darurat” ucap Dean geleng-geleng kepala. “Udah biarin, ada untungnya juga kalau dia begitu, jadi kita nanti tinggal duduk” ucap Nika sambil terkekeh dan masuk ke dalam lift. . Kini mereka sudah di warung bakso, benar kata Gendis. Banyak yang beli dan ada yang tidak kebagian tempat duduk. “Tuhkan, apa kata aku juga!” seru Gendis. Pesanan mereka sudah datang, ketiganya sama-sama pesan mie ayam bakso, Gendis dan Dean pesan minumnya teh, sementara Nika pesan air putih. Semenjak Ayahnya sakit, Nika tidak pernah minum minuman yang berwarna, selalu air putih. “Jangan banyak-banyak sambalnya, nanti jam tiga kita ada meeting. Tiba-tiba sakit perut kan gak lucu,” ucap Nika saat melihat Gendis menuangkan beberapa sendok sambal ke dalam mangkuknya. “Iya, cuma empat sendok,” ucap Gendis. “Heran, perut suka mules kalau makan pedas tapi gak kapok-kapok.” ucap Dean. Gendis hanya menatap sinis sekilas, tidak menghiraukan ucapannya Dean. Sudah terlalu sering dinasehati soal yang pedas-pedas, tapi gendis tidak pernah menghiraukannya. Di saat Nika sedang makan mie ayamnya, tiba-tiba saja ada notif masuk. Saat di cek ternyata pesan masuk dari no baru. 0838******: “Selamat siang, maaf mengganggu waktu jam makan siangnya, saya Ajeng. Istrinya Pak Daniel, nanti malam apa kamu ada waktu untuk bertemu?” Nika langsung menghentikan makannya, ia terus menatap layar ponselnya. Bingung dan terkejut. “Kamu kenapa?” tanya Dean saat melihat Nika hanya diam sambil menatap ponselnya. Gendis ikut menatap Nika, “Kenapa? Gak kesambet kan?” Nika tidak menjawab, tapi ia memberikan ponselnya kepada mereka, kebetulan posisi duduknya hanya Nika terpisah, duduk di depan mereka, sementara Dean dan Gendis duduk saling bersebelahan. Gendis dan Dean ikut membaca isi pesan tersebut, keduanya menutup mulutnya. “Waduh ada apa nih? Jangan bilang Bu Ajeng liat kamu sama Pak Daniel pas Minggu lalu,” ucap Gendis pelan agar tidak ada yang mendengar. Nika menghela napasnya, “Minggu lalu aku gak sengaja ketemu, terus ban motorku bocor, jadi aku diantar pulang, lagian kata Pak Daniel sudah ngasih tahu Bu Ajeng” “Harusnya gak jadi masalah,” lanjut Nika. “Terus ini kenapa tiba-tiba ngajak kamu ketemuan?” ucap Gendis. “Ini aku harus balas apa?” tanya Nika. “Ya kamu mau datang apa nggak?” tanya balik Dean. “Gak tau, bingung aku.” jawab Nika pelan. “Datang aja, kamu balas bisa ketemu, jangan takut nanti aku sama Dean ikut tapi mantau dari jauh” saran Gendis. “Nah benar tuh, kalau Bu Ajeng macam-macam nanti kita bantu.” ucap Dean. Gendis memberikan ponselnya lagi kepada Nika, “Nih balas,” Nika mulai mengetikan isi pesan pada Bu Ajeng, ia mengatakan ada waktu, tak lama kemudian ada balas lagi, di mana Bu Ajeng mengirimkan alamat tempat mereka ketemu. “Nanti aku minta izin ke Ayahnya gimana?” Tanya Nika. “Hari ini kita balik jam 5 sore, kamu bilang ke Ayah kamu lembur, jadi nanti ikut ke apartemen aku dulu.” Jawab Gendis. Nika hanya mengangguk, ia jadi deg-degan, takut tiba-tiba di tampar atau dijambak sama Istri bosnya. “Nanti kalau aku dipecat, aku harus nyari kerja dimana?” gumam Nika. “Astaga Nika, jangan terlalu overthinking. Siapa tahu Bu Ajeng ngajak ketemu itu mau ngasih bonus atau nawarin kerjaan yang gaji lebih gede,” ucap Gendis. “Ya kan siapa tahu gak gitu, aku gak mau jadi pengangguran, nanti ayah gak bisa cuci darah kalau aku nganggur,” keluh Nika. “Harus berpikir positif, jangan overthinking,” ucap Dean gemas. “Susah tau kalau begini, kamu juga kalau ada diposisi aku bakalan overthinking,” ucap Nika. “Terserah kamu,” balas Dean. Melanjutkan Makan Baksonya. Nika jadi tidak tenang dan tidak fokus saat makan, pikirannya terus tertuju pada isi pesan barusan.***Di jam pulang, lagi-lagi Nika bertemu dengan Daniel dan Garu. Sebelum kedua pria itu melihatnya, Nika buru-buru mengalihkan pandangannya dan berjalan cepat menuju parkiran khusus motor.“Kenapa harus ketemu lagi sih,” gumamnya.Nika tidak langsung pergi, ia masih duduk di atas motor nya. Sengaja masih disana, soalnya kalau jalan sekarang takut ketemu lagi, apalagi kalau mau keluar area parkiran itu melewati jalan khusus mobil Daniel.“Sudah pergi belum ya?”“Tapi walaupun masih ada, harusnya gak apa-apa kan mereka pasti sudah masuk mobil.” ucapnya pelan.parkiran mulai ramai oleh para karyawan yang akan pulang juga, karena sudah merasa lama disana, akhirnya Nika melajukan motornya.Saat melewati parkiran khusus Daniel, Nika bisa melihat di sana sudah tidak ada mobil milik Daniel. Itu berarti sudah pergi.Ia bisa bernafas lega, namun tetap saja hatinya masih belum tenang karena belum memberitahu Ayahnya soal tawaran jadi istri kedua.Jalan
***Nika sudah sampai di kantor, ia baru saja menaruh tasnya di atas meja. Kedua temannya baru juga datang, Gendis langsung mendekati Nika, sementara Dean sedang membersihkan meja kerjanya dari debu.“Gimana? Om Herman udah di kasih tau?” tanya Gendis.Nika menggeleng lemah, “Belum, masih bingung harus mulai dari mana.” jawab Nika.“Kayaknya nanti aja kalau libur kerja.” lanjut Nika.“Sebelum kamu ngasih tau, sebaiknya kamu tanya dulu soal poligami, apa pandangan Ayah kamu soal punya istri dua.” saran Dean sambil menatap Nika.“Huh. Sebelum ngasih tau Ayah, aku masih bingung sama diri sendiri.” ucap Nika.“Bingung kenapa?” tanya Gendis sambil mengerutkan keningnya.“Bingung mau terima atau tolak,” jawab Nika.“Tanya sama hati kamu sendiri, kalau kamu terima berarti kamu harus lebih kuat lagi, karena kedepannya bakalan banyak ujian hidupnya,” ucap Dean.“Jujur ya, aku pengen nerima karena pengen mereka bantu pengobatan Ayah, tapi di satu sisi a
*** Nika sampai dikontrakan jam delapan malam, saat ia masuk ternyata Ayahnya belum tidur. Biasanya kalau ia lembur Ayahnya kadang masih nunggu dia pulang, kadang juga sudah tidur duluan. “Kenapa belum tidur, yah?” Tanya Nika mencium tangan Ayahnya. Nika bisa melihat di atas meja ada beberapa kertas, sepertinya Ayahnya sedang memeriksa tugas anak-anak sekolah. Tidak biasanya Ayahnya memeriksanya sampai malam hari, biasanya sore juga sudah selesai diperiksa. “Belum selesai ini, lima kertas lagi belum diperiksa. Ayah juga belum ngantuk” jawab Pak Herman tangannya memegangi bolpoin. “Kamu sudah makan malam?” Tanya Pak Herman sambil menatap Putrinya. Nika menganggukkan kepalanya, “Sudah tadi bareng Gendis sama Dean, kalau Ayah udah makan belum?” Tanyanya. “Ayah juga udah, kamu bersih-bersih sana terus istirahat.” titah Pak Herman. “Ayah juga, jangan begadang.” ucap Nika. “Iya, lagian baru juga jam delapan.” balas Pak Herman. Nika masuk ke kamar untuk menaruh tas dan mengambil pa
***Di jam lima sore kurang lima menit, Nika, Dean dan Gendis sudah mulai bersiap untuk pulang. Namun kegiatan mereka terhenti ketika pintu ruangan kerja mereka dibuka dari luar.ketiganya terkejut saat tahu siapa yang datang, Ajeng. Istri dari atasan mereka. Dean dan Gendis saling tatap, lalu keduanya melirik ke arah Nika.“Selamat sore!” Sapa Ajeng.“Sore juga, Bu!” Balas mereka bertiga.Jantung Nika sudah berdetak gak karuan, ia takut tiba-tiba kena amuk istri atasannya itu.“Sudah pada mau pulang ya?”“Iya Bu, kebetulan kerjaan kita sudah selesai. Jadi sudah mulai beres-beres,” jawab Gendis.Terlihat Ajeng mengangguk-anggukkan kepalanya, “Saya ada perlu dengan Anika, kalau kalian berdua mau pulang duluan, silahkan.” ucap Ajeng.Gendis dan Dean kembali saling tatap, lalu mereka berdua berpamitan.Dan sekarang di ruangan tersebut hanya ada Nika dan Ajeng, Ajeng mendekat dan berdiri di hadapan meja kerja Nika.“Ada yang mau saya bica
*** Arunika Cahaya, Nika panggilannya. Ia merupakan karyawan staf bagian keuangan di sebuah perusahaan besar yang ada di Jakarta. Di usianya yang baru dua puluh lima tahun, ia bersyukur tidak pernah dipaksa untuk buru-buru menikah oleh Papanya. Sementara Mamanya? Sudah menikah lagi dan tinggal jauh di Pontianak. Nika hanya tinggal berdua dengan Papanya yang bekerja sebagai guru di salah satu SMA di dekat rumah nya. “Aku baru ingat, seminggu lagi ulang tahun perusahaan, kamu mau datang gak?” tanya Gendis. Teman kerja Nika. “Harus datang, kamu udah 3 tahun kerja di sini tapi belum pernah ikut acara kantor,” ucap Dean. Nika menghela napasnya, ia merupakan orang yang mudah bosan, tidak suka datang ke tempat yang begitu ramai. Menurutnya lebih enak tidur di rumah daripada harus datang ke acara seperti itu. “Kita liat aja nanti, kalau mood aku bagus berarti mau datang,” balas Nika. “Yaelah, pokoknya kamu harus datang. Nanti pulang kerja kita ke butik Tante aku,” ucap Gendis. “Gak p







