Mag-log in“Berani-beraninya kau mengancam kami,” geram Draco. “Kalau sampai ada satu karyawan kami terluka sedikit saja, maka kuhancurkan semua milik Morpheus.”Draco mengaktifkan loudspeaker di ponselnya.Tawa renyah Lucian terdengar dari seberang. “Santai saja, aku tidak sebodoh itu. Kami hanya ingin bertamu.”Draco terdiam sejenak, lalu menjawab singkat, “Naiklah.”Eleora berkeringat dingin.Ia tidak menyangka Draco akan benar-benar mempersilakan Lucian datang ke ruangan ini. Situasi ini terlalu berbahaya. Ia harus segera pergi.“Tuan, saya ingin ke toilet,” ucap Eleora, sambil memegangi perutnya seolah sudah tidak tahan.Nero hanya menggerakkan kepalanya sedikit ke samping. Itu cukup sebagai izin.Eleora segera melangkah cepat menuju lorong kecil di belakang Nero, area yang mengarah ke ruang pribadi sekaligus toilet milik pria itu."Apakah dia ketakutan?" tanya Draco seraya memperhatikan punggung Eleora yang semakin menjauh. Seringai ejekan muncul di bibirnya."Mungkin," jawab Nero singkat.
Setelah sarapan, Nero dan Eleora langsung berangkat ke kantor, begitu juga dengan Draco yang saat ini menjadi sopir mereka. “Ada apa dengan Tuan?” batin Draco, melirik melalui spion tengah. “Sejak kapan dia bisa tersenyum seperti itu?” Sudut bibir Nero terangkat samar, sesuatu yang hampir tak pernah terjadi. Draco sampai mengernyit. Ia yakin, ini bukan sekadar suasana hati yang baik. Draco tanpa sadar menekan pedal gas lebih dalam. Ia merasa hari ini bukan hari biasa. Akan ada pertunjukan, dan ia tidak ingin melewatkannya. Setelah sampai di kantor pusat, mereka turun dan hendak memasuki lobby. Namun, posisi Eleora yang berada di belakang Draco membuat Nero menghentikan langkahnya. "Kenapa kamu berdiri di belakang sendiri? Tempatmu di sini!" Nero menunjuk ruang kosong di sampingnya. Eleora melangkah maju, namun instingnya menahan. Ia tetap berdiri setengah langkah di belakang Nero, menjaga jarak, seolah posisi itu lebih aman daripada berdampingan dengannya. Melihat wajah Eleora
Selama berada di rumah sakit, Eleora terus memikirkan apakah Nero sempat melihatnya bertarung atau tidak.Namun, melihat sikap Nero yang terlihat biasa saja saat mereka sampai di rumah. Eleora meyakini bahwa Nero tidak melihatnya."Besok ikut aku pergi ke kantor," ujar Nero membuyarkan lamunan Eleora."Baik, Tuan.""Sekarang istirahatlah.""Baik, Tuan." Eleora langsung pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Ia tidak melihat Nero yang sedang menyeringai di depan kaca lemari hias.Keesokan harinya...Eleora sarapan terlebih dahulu bersama Elly dan Barbara. Ia berpikir Nero akan bangun siang seperti biasanya.Namun, baru saja ia mencuci piring bekas sarapannya, Nero menelponnya."Kemarilah, sisir rambutku." Suara Nero terdengar datar, namun tidak dengan jantung Eleora yang berdetak kencang."Baik, Tuan," sahut Eleora sembari berpikir dua hari ia tidak menjalani rutinitas itu, entah mengapa ia merasa gugup lagi.Setelah panggilan telepon berakhir, Eleora bergegas pergi ke kamar Nero. Lelak
"Tempat apa ini?" batin Eleora saat mobil berhenti di depan sebuah gedung tua namun terlihat cukup terawat."Bos, sepertinya anak buahnya Edmund ingin bermain-main dengan kita," ujar Draco seraya memperhatikan pintu gudang yang masih tertutup."Kalau begitu turuti saja apa yang mereka inginkan.""Baik, Bos," sahut Draco seraya mengambil sebuah pistol di dalam laci dashboard, lalu menyerahkannya pada Eleora.Eleora yang duduk di samping Nero sejenak tertegun melihat Draco menyerahkan pistol padanya, memikirkan bahwa mungkin Nero mengetahui siapa dirinya, Eleora berkeringat dingin."Cepat ambillah! Kau harus melindungi Tuan," sentak Draco seraya melemparkan pistol ke pangkuan Eleora. Eleora gelagapan. "Tapi, saya--"Draco tidak menghiraukan, ia langsung keluar dari mobil untuk menemui para penjaga gudang.Eleora yang masih berusaha menyembunyikan kemampuannya, ia memegang pistol tersebut dengan tangan gemetar.Sementara Nero yang melihat gelagat Eleora, ia hanya menahan senyum.Tidak l
Setelah acara eksekusi, sore hingga malamnya tidak ada kegiatan lagi di mansion maupun di kebun anggur. Nero meliburkan para pegawainya sebagai bentuk belasungkawa atas kematian Anya dan kedua lelaki itu, walaupun kematian mereka tidaklah wajar."Sekarang wanita di mansion ini hanya tinggal kita bertiga," ujar Elly sembari mengusap air matanya."Iya. Rebecca waktu itu mati karena berani menggoda Tuan Nero, dan hari ini Anya juga harus pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya," sahut Barbara.Eleora yang sedang duduk di antara mereka berdua, ia tidak berkata apa-apa. Eleora hanya mengingat wanita yang meninggal di kamar Nero, dan dirinyalah yang menyingkirkan mayat wanita tersebut."Mungkinkah Nero akan mencari pegawai wanita lagi untuk tinggal di rumah ini?" batin Eleora.Tidak lama kemudian Draco datang, ia hendak memberikan pengumuman penting."Aku akan menyampaikan pesan dari Tuan Nero. Mulai besok dan seterusnya, Bi Elly dan Bibi Barbara hanya bertugas membantu di dapur, Tuan
Keesokan harinya, suasana mansion Aleron terasa sepi dan berbeda dari biasanya. Ini bukan hari libur, namun seperti tidak ada orang yang beraktivitas seperti biasanya."Bi, kenapa suasana di sini terasa jadi lebih menyeramkan ya?" tanya Eleora yang sedang membantu Barbara memasak."Bibi juga nggak tahu, rasanya suasana sekarang sama seperti ...." Barbara teringat dengan peristiwa beberapa tahun silam."Seperti apa, Bi?""Sudahlah, cepat kamu sajikan semuanya di meja makan. Sebentar lagi Tuan pasti turun.""Baik, Bi."Namun, baru saja Eleora mengangkat piring-piring berisi makanan yang akan di bawa ke meja makan, terdengar langkah sepatu memasuki ruang makan."Tuan sudah pergi ke ruang makan, cepat bawa makanannya.""Iya, Bi."Eleora bergegas pergi ke ruang makan, ia segera menyajikan menu sarapan hari ini. Sedangkan di meja makan, Nero sudah duduk dengan mata dan tangan yang hanya fokus pada ponselnya.Di saat menyajikan makanan, Eleora kepikiran dengan Anya. Eleora merasa aneh karena







