Share

2. Menikahlah Denganku

Author: ICARUS
last update Last Updated: 2025-12-13 03:15:26

Lucy membelalak panik, wajahnya seketika pucat begitu menyadari siapa yang baru saja ia tabrak.

Pria itu, Kaelith Vortigan, kaisar muda dari Kekaisaran Velcarion. Pria yang dikenal berkuasa dan kejam di kalangan bangsawan itu menatapnya tanpa ekspresi.

Leon yang berhasil menyusul Lucy pun ikut terbelalak saat menyadari kehadiran pria itu.

“Yang Mulia, saya mohon maaf!” ucap Leon cepat. “Kakak saya tidak melihat jalan dan tanpa sengaja menabrak Anda.” Tangannya refleks menahan bahu Lucy agar tidak jatuh lagi. 

Kaelith tidak langsung menjawab, hanya menatap kedua kakak beradik itu tanpa ekspresi.

Leon menunduk lebih dalam, ia melirik bingung kakaknya yang malah terpaku. “Kak, menunduklah… aku tidak mau melihat kepalamu hilang malam ini”

Lucy mendengarnya. Namun dunia di sekitarnya masih terasa bergema dan kabur. Dan sekarang ia malah dihadapkan dengan kehadiran pria paling berkuasa di kekaisaran.

Pria itu bukan lagi Pangeran Kedua Verlcarion. Apalagi teman masa kecilnya bersama Eldric dan Seraphine.

Sekarang, pria itu telah menguasai seluruh Kekaisaran Velcarion. Kaisar muda yang naik takhta lewat malam berdarah yang memenuhi seluruh penjuru istana kekaisaran.

Kaelith akhirnya menggeser pandangannya ke arah Leon.

“Senang bertemu lagi denganmu, Lord Mortayne.” Lalu ia menatap Lucy lagi, tatapannya dalam dan menusuk. “Kau juga, Lady Lucy.”

Lucy membeku, tak menyangka pria itu masih mengingatnya. Ia menatapnya lama, tidak percaya pada kenyataan yang ada di depan matanya.

“…Kaelith?”

Nama itu lolos dari bibirnya begitu saja, tanpa gelar, tanpa formalitas. Refleks seperti ketika mereka masih berlari-larian di halaman Marquis Montclair saat berusia sembilan tahun.

Sylar, salah satu dari dua Ksatria Pengawal Kaisar yang berdiri tepat di belakang Kaelith, langsung maju dengan wajah keras. 

“Lady! Anda dilarang keras memanggil Yang Mulia Kaisar hanya dengan nama!”

Leon hampir menjatuhkan diri berlutut. “A–ampuni kakak saya! Dia tidak bermaksud untuk bersikap tidak sopan, Yang Mulia!”

Lucy tersentak seolah baru sadar dari mimpi buruk, wajahnya memanas. “M-maaf… S–saya tidak—”

Kaelith mengangkat tangan pelan, menghentikan Lucy dan Leon sekaligus. Hanya satu gerakan ringan, tapi mampu membuat lorong itu langsung sunyi.

Kaelith mengalihkan pandangannya sejenak dari kedua kakak beradik itu. Tatapannya menyapu lorong dengan dingin. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi tatapan itu… sangat berbeda dari apa yang Lucy ingat beberapa belas tahun lalu.

Lucy tersentak saat adiknya perlahan menyentuh lengannya. “Kak, sebaiknya kita segera pergi dari sini…”

Ia melirik sekitar, baru tersadar orang-orang masih melayangkan bisik-bisik tajam, terlebih setelah ia bersikap tak sopan pada kaisar.

Baru saja Lucy ingin pamit, pria itu sudah lebih dulu membuka suara, “Kau baik-baik saja?”

Lucy refleks menggeleng. “Saya baik-baik saja, Yang Mulia. Kami hanya ingin segera pulang sampai tak sengaja menabrak Anda. Kami mohon ampun atas kelancangan kami…”

Lucy menunduk, tapi ia bisa merasakan tatapan menusuk yang berasal dari depannya, tepat di mana Kaelith berdiri.

Tak lama, salah satu Ksatria Pengawal Kaisar yang bernama Xander melangkah ke depan dan menunduk hormat pada Kaelith. “Yang Mulia, para bangsawan utama telah berkumpul di aula kecil timur dan menanti kehadiran Anda.”

Kaelith tidak segera menjawab. Matanya kembali tertuju pada Lucy, seakan sedang menimbang sesuatu. 

“Mereka bisa menunggu lebih lama,” ucap Kaelith akhirnya.

Kaelith terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Sylar yang berdiri di sisi lain. “Sylar, bawa Lord dan Lady Mortayne ke taman di luar,” perintah Kaelith. “Pastikan tidak ada yang mengganggu mereka.”

Sylar menunduk patuh. “Baik, Yang Mulia.”

Ia melangkah mendekat dan membungkuk hormat. “Silakan ikut saya, Lord dan Lady Mortayne.”

Kaelith sedikit mendekat ke arah Lucy, lalu ia berbisik tepat di telinganya, 

“Aku akan menyusulmu. Ada yang harus kita bicarakan.”

***

Taman kediaman Marquis sunyi, berbanding terbalik dengan aula pesta yang begitu ramai. Di sana, hanya ada dirinya dan Sylar, ksatria pengawal kaisar yang berjaga di ujung taman. Sementara Leon, adiknya, menunggu di kereta.

Lucy menghela napas pelan. Ia masih bertanya-tanya mengapa Kaelith memintanya menunggu di sini. Seorang Kaisar tidak punya waktu untuk urusan pribadi, tidak semenjak kudeta berdarah tiga tahun lalu.

“Apa yang dia inginkan dariku…” gumamnya lirih.

Tak lama, langkah kaki terdengar mendekat. Lucy menoleh, menangkap sosok Kaelith muncul dari kegelapan. Jubahnya berderik tertiup angin malam, dan rambut tebalnya ikut menari-nari.

Tanpa sadar, Lucy terpana saat menatapnya.

Tampan sekali…

Lucy tak menyangka kaisar muda itu tumbuh setampan ini. Bahkan Eldric, mantan kekasihnya, tak terlihat setampan ini.

Dan begitu Kaelith berhenti di depan Lucy, ia segera membungkuk memberi hormat.

Sang kaisar terdiam cukup lama menatap Lucy, membuatnya kikuk dan tak tahu harus berbuat apa.

“Aku kira, kau akan baik-baik saja saat aku tak ada,” ucap Kaelith akhirnya. “Ternyata, nasibmu menyedihkan sekali, sampai gagal bertunangan dengan pria buruk rupa itu.”

Lucy tersentak, kepalanya refleks terangkat. “Eldric… tidak buruk rupa…” cicitnya pelan.

Sudut bibir Kaelith terangkat samar. Namun lengkungan itu segera menghilang, berganti ekspresi tenang yang lebih dewasa. “Jadi benar dia mengkhianatimu?”

Lucy terdiam sesaat, kembali mengingat momen pengkhianatan yang baru saja terjadi malam itu. “Benar, Yang Mulia,” jawabnya akhirnya. “Setelah memikirkannya lagi, mereka memang lebih pantas bersama”

Kaelith menatapnya lama, seolah memastikan tidak ada kebohongan di sana. “Eldric memilih Seraphine, dan kau tidak keberatan?”

Dengan ragu, Lucy mengangguk pelan. “Keputusan mereka masih masuk akal.”

“Masuk akal bagi siapa?” tanya Kaelith datar.

Lucy tidak langsung menjawab. Ia sadar betapa kecil posisinya di hadapan dunia yang mengatur segalanya dengan kekuasaan dan nama keluarga. 

“Masuk akal bagi mereka yang berkuasa,” ucap Lucy akhirnya.

Kaelith menghela napas frustasi. “Apakah selama ini kau selalu seperti ini saat aku tak ada?”

Lucy mengangkat wajahnya. “Apa maksud Anda, Yang Mulia?”

“Seperti sekarang,” katanya perlahan. “Selalu mengalah saat Seraphine merebut sesuatu darimu.”

Lucy terkejut mendengar kalimat itu. Kebiasaannya selama ini terlihat jelas oleh orang lain, bahkan oleh seseorang yang lama menghilang dari hidupnya.

“Tidak adil jika saya melawannya. Lagipula, saya tidak pernah merasa punya hak untuk bersaing,” ucapnya lirih.

Kaelith menatapnya datar. “Sejak kapan kau memutuskan keinginanmu tidak layak diperjuangkan?”

Lucy menelan ludah. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi terasa menusuknya dalam. “Sejak saya menyadari dunia tidak memihak orang seperti saya.”

“Orang sepertimu? Memangnya kau orang seperti apa?”

“Seperti saya, putri Baron rendahan.”

Kaelith mendengus pelan. “Dunia memang kejam pada siapapun itu, Lucy. Tapi kau tak bisa terus membiarkannya.”

Lucy mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya malam itu, ada kilau emosi di matanya. Ia sudah tak peduli yang berdiri di hadapannya adalah seorang kaisar yang bisa langsung menebas lehernya.

“Lalu apa yang seharusnya saya lakukan? Menolak keputusan keluarga Grand Duke? Itu bukan keberanian, itu kebodohan, Yang Mulia.”

Kaelith terdiam sesaat. Angin malam tiba-tiba berhembus kencang hingga ujung gaun Lucy dan jubah Kaelith berkibar kencang. Refleks Lucy memeluk dirinya pelan, tak hanya menggigil karena dinginnya angin malam, tapi juga suasana yang seketika menegang.

Tiba-tiba, Kaelith membuka kait jubahnya. Kain merah dengan benang emas itu terlepas dari bahunya, dan sebelum Lucy sempat bereaksi, Kaelith sudah melangkah mendekat.

“Yang Mulia—” Lucy refleks ingin mundur.

Namun Kaelith hanya menyampirkan jubah itu ke pundaknya dengan hati-hati. Seketika tubuhnya menghangat, aroma amber samar yang menenangkan langsung menyelimuti tubuhnya.

“Jangan menolak,” ucap Kaelith rendah. “Anginnya dingin.”

Lucy terdiam. Tangannya perlahan menggenggam tepi jubah itu, seolah baru menyadari betapa dekat jarak mereka sekarang.

“Saya bukan lagi anak kecil yang sering Anda lindungi dulu, Yang Mulia,” katanya lirih.

Kaelith menatapnya. “Memang bukan. Tapi kau sekarang wanita yang membiarkan dirinya diinjak-injak.”

Kalimat yang diucapkan dengan datar, tapi menusuk dalam.

Lucy mendongak. “Yang Mulia…”

“Eldric memilih kekuasaan dengan bertunangan dengan Seraphine,” lanjut Kaelith tanpa emosi. “Dan wanita itu, memilih kemenangan. Mereka semua pasti sekarang tertawa karena mengira kau akan diam saja, seperti yang biasa kau lakukan.”

Kaelith berhenti sesaat, lalu perlaham tangannya terulur menyelipkan rambut Lucy ke belakang telinganya.

Ia menatap Lucy dalam, lalu berkata dengan lembut, “Tapi aku tidak.”

Jantung Lucy berdentum keras. Tatapannya itu… membuatnya sulit bernapas seketika.

“Menikahlah denganku, Lucy.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kesayangan Yang Mulia Kaisar Kaelith   12. Reuni

    Lucy menegang di tempat, jantungnya seperti berhenti sesaat.Suara itu… ia sangat mengenalinya.Ia menoleh perlahan, tubuhnya seketika lemas saat melihat sosok yang ia takutkan terlihat nyata di hadapannya. Perempuan berambut perak itu tampak terkejut, sebelum senyum manis yang penuh racun menyusup ke wajahnya, seolah pertemuan ini adalah kebetulan yang ia nantikan.Seraphine.Beberapa langkah di belakangnya berdiri Eldric, dengan ekspresi terkejut yang cepat disembunyikan di balik sikap bangsawan yang terlatih.Lucy refleks menarik napas. Tangannya tanpa sadar mengepal di sisi tubuh.“Seraphine…” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar di tengah riuh pasar.Namun Seraphine tidak langsung menjawabnya. Pandangannya justru tertuju pada sosok di sisi Lucy.Kaelith.Wajah Seraphine berubah seketika. Senyum kecil yang sempat muncul langsung tertahan. Ia segera melangkah maju setengah langkah, lalu menundukkan kepala dengan anggun.“Hormat kepada Yang Mulia Kaisar, Cahaya Agung Velcarion.”Eld

  • Istri Kesayangan Yang Mulia Kaisar Kaelith   11. Bulan Madu

    Lucy terdiam cukup lama setelah kalimat itu terucap.Pergi bulan madu…Kata-kata itu terasa ringan di mulut Kaelith, seolah ia hanya menawarkan jalan-jalan di hutan pinus, bukan perjalanan bersama seorang kaisar dan istrinya yang baru saja ia nikahi.Lucy menatapnya ragu. “Bulan madu?” ulangnya pelan, seakan memastikan ia tidak salah dengar.Kaelith mengangguk kecil. “Ya.”Nada suaranya datar, tapi matanya tidak. Sorot matanya terlihat seperti… penawaran yang sungguh-sungguh.“Apa… istana tidak akan keberatan?” tanya Lucy hati-hati. “Maksudku, kau baru saja—”“Seorang kaisar juga butuh liburan,” potong Kaelith tenang. “Dan tidak semua urusan harus kuselesaikan sendiri.”Lucy menunduk. Jarinya meremas gaunnya. Ia tak pernah membayangkan dirinya akan diajak pergi berlibur seperti ini. Setelah semua yang terjadi, setelah kehancuran harga dirinya, setelah pernikahan yang lebih terasa seperti penyelamatan daripada kisah cinta yang romantis.Terlebih, ini bukan hanya pergi berlibur biasa. I

  • Istri Kesayangan Yang Mulia Kaisar Kaelith   10. Apakah Kau Ingin Pergi Bulan Madu?

    Sylar mengangguk. “Benar, Nyonya.”Lucy melirik sekeliling, lalu kembali menatapnya.Tentu ia mengenal nama Sylar. Salah satu ksatria terkuat yang selalu berada di sisi Kaelith. Pengalaman perangnya tak terhitung, dan posisinya terlalu penting untuk dilepas begitu saja. Namun mengapa Kaelith menugaskan ksatria seperti itu untuk mendampingi Lucy yang… tak terlalu membutuhkannya?“Mengapa Anda… ditugaskan pada saya?” tanyanya hati-hati. “Bukankah biasanya Anda mendampingi Yang Mulia Kaisar?”Sylar tidak langsung menjawab, tapi raut wajahnya tetap tenang. “Atas perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar, Nyonya.”Lucy menelan liurnya susah payah. Beberapa kemungkinan sempat terlintas, membuat dadanya sedikit menegang.“Di sini… aman, kan?” tanya Lucy lemah di akhir kalimat.“Tentu, Nyonya,” jawab Sylar tanpa ragu. “Yang Mulia hanya ingin memastikan Anda selalu didampingi.”Lucy mengerjap bingung. “...Didampingi?”“Sebagai istri dari seorang kaisar, Anda berhak memiliki ksatria pengawal sen

  • Istri Kesayangan Yang Mulia Kaisar Kaelith   9. Ksatria Pengawal

    Lucy terbangun saat cahaya pagi menyusup tipis dari balik tirai jendela. Untuk sesaat, ia lupa di mana dirinya berada. Langit-langit kamar itu terlalu tinggi, terlalu mewah, tampak begitu asing.Lalu ia teringat.Pernikahan itu. Mansion itu. Dan Kaelith…Ia langsung menoleh ke arah sampingnya. Sisi lain ranjang itu sudah kosong dan dingin.Tatapannya lalu jatuh pada selembar kertas kecil di atas meja samping, dan ia langsung tahu siapa yang meninggalkannya.Ada hal yang harus kuselesaikan. Aku akan segera kembali dan makan malam denganmu. — Kaelith.Tulisan itu singkat, rapi, tanpa embel-embel yang berlebihan.Lucy melipat kertas itu kembali dengan hati-hati, lalu menyimpannya ke laci. Ia pun tak tahu kenapa ia melakukannya. Mungkin karena itu satu-satunya hal sederhana yang terasa… menyenangkan.Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu.Pelayan wanita yang kemarin diperkenalkan Kaelith masuk dengan langkah hati-hati. Lucy sempat terpaku, sebelum refleks hendak bangkit send

  • Istri Kesayangan Yang Mulia Kaisar Kaelith   8. Malam Pertama

    Malam sepenuhnya jatuh saat Lucy berdiri di depan pintu kamar utama.Tangannya terangkat setengah, ragu untuk mengetuk atau tidak. Jantungnya pun berdetak keras, menggema hingga telinga dan nyaris menutupi suara napasnya sendiri.Apakah… kita akan benar-benar melakukannya…Pikiran itu muncul begitu saja, membuat tenggorokannya mengering. Lucy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menenangkan diri. Mereka sudah menikah secara sah di mata dewa. Tidak ada yang salah dengan berada di sini, apalagi jika nantinya harus melakukannya dengan sang suami.Namun tetap saja, rasanya jauh lebih berat dari yang ia duga.Ia menarik napas panjang, sebelum akhirnya mendorong pintu perlahan.Cahaya lampu di dalam menyambutnya lembut. Di sana, Kaelith terlihat bersandar santai di tempat tidur, mengenakan pakaian tidur sederhana berwarna gelap. Sebuah buku terbuka di tangannya, rambut tebalnya terurai, ekspresinya tenang, jauh dari citra kaisar yang selama ini dikenal Lucy.Saat mendengar pintu ter

  • Istri Kesayangan Yang Mulia Kaisar Kaelith   7. Pernikahan Rahasia Velcarion

    “Dengan ini, di hadapan Dewa Cahaya dan saksi yang hadir, Yang Mulia Kaisar Kaelith Rhaelis Vortigan del Velcarion dan Lucy Eleonora Mortayne dinyatakan sah sebagai suami dan istri.”Lucy nyaris tak bernapas saat Imam Agung Kekaisaran mengucapkan doa penutup. Cincin di jari manisnya masih terasa dingin, asing, seolah mengingatkan bahwa semua ini nyata.Ia sudah resmi menjadi istri Kaelith.Hari itu, pernikahan mereka berlangsung khidmat di kuil kecil yang cukup jauh dari ibu kota. Tidak ada bangsawan, tidak ada sorak perayaan hadirin tamu, tidak pula saksi yang berlebihan.Hanya ada Imam Agung Kekaisaran yang berdiri di hadapan altar, memastikan ikatan itu sah di mata Dewa Cahaya dan hukum kekaisaran, sebuah ikatan yang tidak dapat diputuskan oleh kuasa manus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status