LOGINArthur mengembuskan napas kasar mendengar ucapan Kendrick. Kalimat dari asistennya ini benar-benar tidak menenangkannya sama sekali.“Bagaimana bisa dia baik-baik saja, kalau tiba-tiba dia pergi dan tidak bisa dihubungi?” Arthur menoleh pada Kendrick dengan wajah setengah kesal.“Sekarang, percepat saja laju mobilnya agar kita bisa segera tiba di rumah,” perintah Arthur setelah merasa kalau Kendrick mengemudikan mobil dengan sangat lambat.Bukannya segera mempercepat laju mobil ini, Kendrick malah menceramahi. “Tidak baik mengemudi terlalu cepat, Tuan. Jangan sampai terjadi sesuatu pada kita, sebelum kita tahu apa yang terjadi pada Kian.”Arthur melotot, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena Kendrick yang memegang kemudi.Kendrick tetap mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang agak lenggang siang ini, meskipun dia terus mendengar Arthur mengeluh sampai memprotes sikapnya.Kendrick tidak peduli atasannya mengomel, baginya sekarang adalah mengantar Arthur
Di HW. Company.Arthur duduk di balik meja dengan tatapan lurus yang tertuju tajam pada layar tablet digital di hadapannya. Jarinya sesekali bergerak mengusap layar, memeriksa langsung postingan video yang tengah menjadi perbincangan panas dan viral di berbagai platform media sosial sejak semalam. Berita buruk mengenai tuduhan kontaminasi produk makanan kemasan dan mie instan milik HW. Company telah menyebar dengan sangat cepat.Kendrick berdiri tegap di depan meja kerja Arthur. Dia terus memperhatikan raut wajah Arthur yang dingin.Kendrick diam menunggu instruksi selanjutnya untuk mengambil tindakan hukum atau merilis klarifikasi resmi.Namun, keheningan di dalam ruangan itu mendadak terpecah saat ponsel di saku jas Kendrick bergetar.Kendrick mengeluarkan benda pipih itu, dia membaca sebuah pesan singkat yang baru saja didapatnya.Mendapati itu pesan dari Ginny, Kendrick maju selangkah lebih dekat dengan tepian meja Arthur.“Tuan Arthur.” Kendrick memanggil pelan. Begitu tatapan
Kian tersentak mendengar kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Sienna. Kening Kian berkerut dalam. Genggaman tangannya di jemari Sienna semakin mengerat.“Pergi? Apa maksud ucapanmu itu? Kamu mau pergi ke mana?” Kian memastikan, tatapannya begitu serius menunggu penjelasan Sienna.Sienna memaksakan senyumnya terangkat kecil, meski matanya kembali berkaca-kaca. “Tujuanku kembali ke kota ini sejak awal memang hanya untuk mencari tahu siapa orang tua kandung Kaylan, Kian. Aku tahu keterbatasanku, aku tidak akan bisa memberikan masa depan yang layak untuknya.”Sienna mengembuskan napas pelan, lalu kembali bicara. “Sekarang, karena tujuan itu sudah tercapai dan Kaylan sudah berada di tangan yang tepat, tugasku benar-benar sudah selesai. Aku tidak mau kehadiran atau masa laluku justru mengganggu kebahagiaan keluarga kalian.”“Sienna, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kamu sama sekali tidak boleh pergi dari rumah ini!” Kian membalas dengan cepat.Kian menatap lekat wajah Sienna. “Sek
Tangis Kian semakin pecah setelah berhasil melepas sesak di dadanya hingga kini begitu lega.Tubuh Kian bergetar hebat sampai Arron harus merangkul pundaknya. Arron mengusap lengan Kian dengan perlahan untuk menenangkan. Meski Arron sendiri tak mampu membendung rasa hangat yang menjalar di dadanya setelah mengetahui siapa cicitnya.“Kaylan benar-benar bayiku, Kek. Dia bayiku yang hilang.” Suara Kian bergetar.Arron mengangguk-angguk. “Kita menemukannya.”Sienna menatap penuh rasa bersalah. Air matanya ikut luruh melihat tangis Kian yang membuat seluruh tubuhnya ikut bergetar.Sienna benar-benar tidak menyangka bahwa wanita baik hati yang selama ini menolongnya adalah ibu kandung dari bayi yang dia selamatkan lima tahun lalu.Mungkin, inilah yang dinamakan takdir.Dengan tubuh gemetar, Sienna bangkit dari duduknya lalu berlutut di lantai marmer, tepat di dekat kaki Kian.“Kian ... maafkan aku. Demi Tuhan, maafkan aku.” Suara Sienna terisak, dia menatap Kian yang kini memandangnya. “Aku
Arron sangat terkejut mendengar rengekan Kian. Sampai tatapan Arron kini tertuju pada Sienna.Arron menatap Sienna yang diam dan seperti ingin menangis.Arron melihat Kian yang sudah tidak bisa bersikap tenang, sehingga kini Arron yang berusaha menengahi. “Sienna, apa Kaylan benar-benar anak kandungmu? Aku harap kamu jujur, Sienna.” Meski nada suaranya pelan, tapi terselip penekanan di setiap katanya.Sienna menatap pada Arron, air matanya menetes begitu saja saat melihat tatapan penuh harap dari Arron.Sienna meremas jemarinya, ada kilat ketakutan yang menyorot dari matanya.“Soal ini … bisakah kalian mendengarkan penjelasanku?” Setelah bicara, tiba-tiba Sienna menjatuhkan lutut di marmer.Kian dan Arron terkejut melihat sikap Sienna, sampai Sienna kembali bicara.“Aku memang bukan ibu kandungnya. Tapi aku juga tidak tahu siapa orang tua Kaylan. Kumohon kalian percayalah padaku, aku tidak pernah berniat jahat. Aku sudah sangat berusaha selama ini menjaganya. Aku mohon.” Sienna mencen
Sienna dan Kian melangkah keluar dari kamar. Lalu Kian menutup pintu dengan pelan agar tidak mengganggu Kaylan istirahat.Begitu keduanya sudah ada di depan kamar Kaylan, tatapan Kian langsung tertuju pada Sienna. Sorot matanya tak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan dan rasa penasaran yang sedang menguasai hatinya.Kian menatap pada Sienna yang tampak bingung karena ajakannya.Kian lebih dulu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan.“Sienna, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tapi aku harap kamu bisa jujur padaku.” Suara Kian sedikit tertahan. Napasnya seperti mau meledak di dadanya.Melihat perubahan sikap Kian yang biasanya tenang dan lembut menjadi sedikit agresif, Sienna mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Kian.Kian mencoba tenang, lalu dia mulai bertanya, “Sienna, aku ingin tanya soal tanda lahir di lengan kiri Kaylan. Apa tanda kemerahan agak ungu itu memang bawaan sejak dia lahir?”Sienna terkejut. Dia melihat tatapan emosional dari sorot mata Kian set
Dengan kecepatan tinggi. Arthur mengemudikan mobil menembus jalanan yang tidak terlalu padat.Matanya melirik ke layar layar yang sudah disinkron ke GPS lokasi Kendrick kini berada.Tidak peduli bagaimanapun caranya, hari ini Arthur harus bisa mendapatkan Hendra.Memacu mobilnya dengan kecepatan se
Malam hari.Arthur duduk di ruang kerjanya. Dia mengecek laporan dan berkas-berkas yang Kendrick bawa.“Kamu bisa pulang jika lelah.” Arthur bicara tanpa menatap pada Kendrick yang duduk di depan mejanya.Kendrick membantu mengecek laporan kebakaran yang baru saja diserahkan tim penyidik sore tadi.
Arthur terdiam mendengar ucapan Malvin.Tatapannya sejenak tertuju ke dalam rumah, tapi kakinya masih terpaku di tempatnya.“Ada apa dengan Kian?” Arthur memastikan.“Saat saya mencegahnya pergi, saya merasakan tubuhnya yang agak panas. Setelah saya dan Tuan Arron ajak duduk, Nona Kian terlihat gel
Suara Arthur dalam dan penuh penekanan. Dia tidak mau bersikap arogan, tapi mengingat bagaimana orang-orang ini terus menekannya setelah dia mengambil jabatan ini, Arthur tidak bisa lagi hanya diam tunduk pada para pemegang saham yang hanya memikirkan keuntungan pribadi.“Tentu saja kami ingin tah







