Share

Sibuknya Arthur

Penulis: Aldra_12
last update Tanggal publikasi: 2026-04-07 10:49:10

Keesokan harinya.

Kian masuk ke dalam rumah setelah mengantar Arthur yang pergi bekerja lebih awal pagi ini.

“Habis jalan-jalan?”

Pertanyaan Arron mengalihkan tatapan Kian ke arah sang kakek.

“Habis ngantar Arthur sampai ke depan, Kek.” Kian berjalan pelan dan hati-hati karena tubuhnya semakin berat sekarang.

“Mengantar Arthur? Memangnya dia mau ke mana sepagi ini?” Kening Arron sampai berkerut dalam.

Kian mengembuskan napas pelan. Dia berdiri di hadapan Arron.

“Katanya ada pekerjaan yang harus
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Adeena
sapa lagi ini yg ganggu Kian...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Arthur Kesal

    Malam semakin larut.Arthur baru saja tiba di rumah saat pukul sebelas malam.Di dalam kegelapan ruangan karena semua lampu utama padam menyisakan cahaya temaram. Arthur melangkah sambil mengusap tengkuknya yang pegal.Sampai tiba-tiba Arthur menabrak seseorang, membuatnya terkejut tapi juga sigap menangkap pinggang orang yang mendadak melintas di depannya ini.“Kian?” Kening Arthur berkerut dalam saat samar-samar melihat wajah wanita yang ditangkapnya.Tapi menyadari perut wanita ini tidak besar, Arthur segera tahu wanita ini bukan istrinya.Dia segera membantu wanita ini berdiri tegak, sebelum dia melepas pinggang wanita ini.“Kenapa kamu berkeliaran malam-malam di ruang tengah?” Suara Arthur tegas, menyangka wanita ini adalah pelayan rumah.“Maaf, aku hanya mau ambil minum, tapi salah jalan.”Kening Arthur berkerut dalam mendengar suara asing wanita ini.Sampai tiba-tiba lampu utama di ruang tengah menyala.Arthur menoleh ke arah saklar berada, dia terkejut melihat Kian di sana. La

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Terus Saja Iri

    Siska terkejut mendengar ucapan Kian, tapi dia berusaha tenang.“Tapi aku bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Aku juga ada kemampuan, ijazahku memadai.” Siska membela diri dengan cepat.Kian diam menatap Siska yang begitu kukuh ingin bekerja di perusahaan.Meskipun Kian juga tahu kalau status pendidikan Siska lebih tinggi darinya.“Benar, kalau memang belum punya pengalaman, memang harus belajar.” Arron membenarkan. Dia menoleh pada Kian yang hanya diam. “Nanti coba saja bahas dengan Arthur dulu.”Arron menatap ke Siska lagi. “Kalau kamu tidak punya tempat tinggal di kota ini, tinggallah sementara di sini.”Siska mengembangkan senyum. Dia senang, Arron menawarinya tanpa Siska yang harus meminta.“Baik, Kek. Terima kasih banyak.”Siska memperhatikan Arron yang kembali masuk ke dalam rumah.Dia menoleh ke Kian yang ternyata sudah memandangnya.“Kemarin Paman dan Bibi, sekarang kamu. Aku harap niatmu ke sini benar-benar untuk mencari pekerjaan.” Setelah bicara, Kian menutup laptopnya.S

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Ada Maksud

    “Aku Siska, Kian. Masa kamu tidak menyimpan nomor ponselku.”Wajah Kian berubah datar mendengar suara sang sepupu dari seberang panggilan.“Ada apa menghubungi?” Nada bicara Kian sangat datar.Selama ini, baik paman dan bibinya tidak ada yang peduli pada Kian, apalagi sepupunya ini yang sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan Kian walau usia mereka hampir sama.Dan sekarang, tiba-tiba saja Siska menghubunginya.“Kian, aku ada di depan rumahmu, lho. Apa kamu bisa meminta security untuk mengizinkanku masuk?”Kian menegakkan tubuhnya, pandangannya tertuju ke arah gerbang depan.“Mau apa kamu?” Secara spontan Kian mempertanyakan.Seseorang yang tidak pernah terlibat dalam hidupnya, tiba-tiba muncul secara tak terduga. Kian harus waspada.“Ya ampun, Kian. Aku jauh-jauh datang kemari, kamu tidak segera mengizinkanku masuk dan malah tanya mau apa? Apa kamu memperlakukanku begini karena merasa sekarang kita beda kasta?”Kian tersentak mendengar ucapan Siska.Napasnya menghela berat.Deng

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Sibuknya Arthur

    Keesokan harinya.Kian masuk ke dalam rumah setelah mengantar Arthur yang pergi bekerja lebih awal pagi ini.“Habis jalan-jalan?”Pertanyaan Arron mengalihkan tatapan Kian ke arah sang kakek.“Habis ngantar Arthur sampai ke depan, Kek.” Kian berjalan pelan dan hati-hati karena tubuhnya semakin berat sekarang.“Mengantar Arthur? Memangnya dia mau ke mana sepagi ini?” Kening Arron sampai berkerut dalam.Kian mengembuskan napas pelan. Dia berdiri di hadapan Arron.“Katanya ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini, jadi Arthur berangkat lebih awal agar bisa pulang awal juga.” Wajah Kian berubah sendu. Semalam Kian melihat Arthur bangun lalu membuka laptop, begadang sepanjang malam, dan pagi ini Arthur harus berangkat pagi.Arron diam mendengarkan ucapan Kian. “Kek, aku ke kamar dulu.”Arron mengangguk. Dia memperhatikan Kian melangkah ke kamar lebih dulu, sebelum memanggil Malvin.“Ada apa, Tuan.” Malvin sedikit membungkuk ke Arron.“Apa terjadi masalah di perusahaan sampai membua

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Lembur karena Masalah

    Saat malam hari.Arthur belum pulang saat makan malam, bahkan Kian sudah mencoba menghubungi tapi suaminya tidak membalas.“Apa dia lembur? Tapi, kenapa tidak mengabariku?”Kian mulai cemas, apalagi waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam.Kian tidak bisa beristirahat dengan tenang.Dia keluar dari kamar untuk menunggu suaminya pulang.Tepat saat itu, Arron ternyata baru saja akan kembali ke kamar.“Kenapa kamu belum tidur?” Arron menatap Kian yang tampak gelisah.Kian mencoba tersenyum walau sedikit dipaksakan.“Aku mau menunggu Arthur pulang, Kek.” Satu tangan Kian mengusap-usap lembut perut Kian.Arron mengangguk kecil. “Baiklah, tapi tunggu di dalam rumah saja, jangan keluar. Angin malam tidak bagus untuk kesehatanmu saat ini.”Kian mengangguk pelan. “Iya, Kek.”Kian menatap Arron yang melangkah menjauh darinya.Sedangkan Kian duduk di sofa, menunggu kepulangan suaminya.Waktu terus berjalan.Tepat saat pukul sebelas malam, terdengar suara langkah menggema di ruangan.

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Rasa Iri

    Kian mengembuskan napas lega setelah melihat kepergian Rafka dan Linda.Dengan begini, bebannya sedikit berkurang. Kian tidak perlu mencemaskan apa pun lagi tentang paman dan bibinya.“Kian, kamu masih punya nenek yang sekarang sakit-sakitan, kenapa kamu tidak pernah memberitahu Kakek?”Kian tersentak mendengar ucapan Arron.Kian sampai saling tatap dengan Arthur, sebelum kembali menatap ke sang kakek.“Apa Paman dan Bibi yang cerita?” Kian langsung menebak.Arron mengembuskan napas pelan. “Iya, kasihan mereka. Sudah usia lanjut masih memikirkan bekerja untuk pengobatan ibu mereka. Benar-benar anak-anak yang berbakti.”Arron mengangguk-angguk setelah bicara. Bagaimanapun dia juga mendamba anak-anak yang menyayanginya, walau semua itu tidak akan pernah Arron dapatkan.“Kamu tenang saja, Kakek sudah memberi paman dan bibimu uang untuk berobat nenekmu. Jadi, kamu jangan terlalu banyak berpikir, apalagi kamu harus fokus ke kehamilanmu.”Setelah bicara, Arron melangkah masuk lebih dulu.Sed

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Menipu Arron

    Rafka berjalan ke arah ruang keluarga, menghampiri Arron yang sedang duduk sendiri.“Selamat pagi, Tuan Arron.” Rafka menyapa ramah. Dia tersenyum pada Arron.Linda juga melakukan hal yang sama, meski tidak tahu apa yang akan dilakukan suaminya.Arron menoleh pada Rafka dan Linda. Pria tua ini ters

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Mengincar Uang

    Linda dan Rafka terkejut mendengar ucapan Kian.Walau mereka kesal Kian semena-mena, tapi demi rencana mereka. Lindan dan Rafka menahan diri.“Kian, kenapa kamu bilang begitu?” Linda membujuk. “Ya, Bibi tahu sudah salah padamu. Bibi menyesal dulu tidak memberimu kesempatan.”“Betul, Kian. Kamu janga

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Mulai Kesal

    Linda dan Rafka saling lirik mendengar apa yang Arthur katakan.Keduanya tetap tersenyum saat menatap lagi ke Arthur.“Tentu saja kami akan tetap menanyakan kabar kalian.” Linda mengelak.“Betul sekali. Bagaimanapun sekarang, hanya kami yang Kian miliki. Kami juga mencemaskannya, tapi syukurlah ter

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Tak Senang

    Kian terus di kamar setelah kedatangan paman dan bibinya di rumah.Sampai sore hari. Kian menghabiskan waktu mengerjakan pekerjaannya di kamar ketika pintu kamar terbuka.“Ini sudah di luar jam kerja, dan kamu masih duduk menatap laptopmu?”Suara Arthur mengalihkan tatapan Kian.Kian menoleh ke san

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status