LOGIN“Ya Allah … aku mohon selamatkan dia, aku berjanji jika dia selamat aku akan memulai kembali hidup baru bersama dia, sama dengan Leo.” Ucap Andini pelan.Ta berapa lama kemudian, dokter keluar dari ruangan operasi. Dia menatap Andini, dengan wajah yang tegang kemudian tersenyum sambil menepuk pundaknya.“Dia sekarang sudah baik-baik saja, kami berhasil menjalankan operasinya dengan baik. Dan pasien punya keinginan bertahan hidup yang cukup tinggi, sehingga dia bisa melalui masa kritisnya dengan cepat.” “Terima kasih, Dok.” 3 hari kemudian …Andini duduk di kursi besi yang dingin di samping ranjang perawatan, tangan kanannya menggenggam erat tangan Alyas yang masih lemah. Matanya yang merah karena menahan kantuk mulai terpejam, kepala terkulai perlahan di atas ranjang. Suasana ruang perawatan sunyi, hanya terdengar suara alat medis yang berdetak monoton.Tiba-tiba, kelopak mata Alyas terbuka perlahan, menampakkan mata yang masih samar melihat sekeliling. Tatapannya segera tertuju pad
Andini sedang duduk di sofa ruang tamu sambil tertawa kecil melihat Alif yang dengan lincah memainkan mobil-mobilan di lantai. Suara tawa anaknya yang ceria mengisi kehangatan rumah itu. Tiba-tiba, suara dari televisi menarik perhatiannya. Layar menampilkan wajah serius seorang pembawa berita dengan headline kecelakaan yang mencuat di sudut bawah."Alyas Wijaya, pemilik saham terbesar rumah sakit Asyifa mengalami kecelakaan tunggal. Mobilnya masuk jurang. Korban saat ini sudah dibawa ke rumah sakit dalam keadaan kritis," suara itu menggelegar memenuhi ruang tamu.Andini terdiam, matanya membelalak, jari-jarinya yang tadi memegang gelas berhenti bergerak. Detik-detik itu seolah berjalan lambat, dadanya terasa sesak, wajahnya pucat. Alif yang melihat ibunya mendadak berubah murung segera menghampiri, menatap wajah Andini dengan cemas."Ada apa, Bu?" tanya Alif dengan suara kecil dan penuh kekhawatiran.Andini menelan ludah, berusaha menenangkan dirinya. Namun tatapan matanya masih terp
“Kenapa kamu sangat marah? seharusnya yang marah itu saya, kenapa kamu meninggalkan saya? kenapa kamu tidak memberitahu saya kalau kamu mengandung anak saya.” Bentak Alyas sambil menatap Andini dengan tatapan mata elangnya. “Aku ninggalin kamu karena ada alasan, aku nggak mau kamu menganggap aku sebagai pembunuh anak kamu seperti ibu kamu. Ibu kamu terus menerus menyalahkan aku atas meninggalnya Alif, dia minta aku mempertanggungjawabkan semua perbuatanku itu dengan satu cara, yaitu meninggalkan kamu untuk selama-lamanya. Jika tidak dia akan melaporkanku ke polisi, saat itu aku tidak punya pilihan lain, aku tidak melakukan kesalahan apapun tapi aku juga tidak bisa membuktikan kalau aku tidak bersalah.” Keduanya terus saja berdebat sampai-sampai tidak sadar bahwa Mama ada orang di sekeliling mereka, termasuk Haidar yang sedang menggendong anak mereka yaitu Leo. Melihat Andini yang menangis, anak yang baru berusia 5 tahun itu menangisnya jadi-jadinya.“Jangan buat nangis Ibu aku, Om,”
Beberapa hari kemudian, Alyas menerima dokumen penting dari asisten pribadinya. Dokumen itu adalah dokumen rahasia tentang hasil tes DNA antara dirinya dan anaknya Andini. Sebelumnya tim dari Alyas, berhasil membawa rambut milik Leo dengan menyamar sebagai guru pengganti di sekolahnya. “Andini, nasibmu tergantung dari tulisan yang ada di dalam dokumen ini. Maaf jika aku melakukan hal semacam ini sama kamu. Iya aku memang benci sama kamu karena kamu pernah ninggalin aku, tapi sayangnya kebencian itu kalah dengan rasa cinta aku sama kamu. Aku tidak bisa melupakan kamu begitu saja.” Alyas berdiri lalu berjalan perlahan menuju sudut ruangan yang remang, genggaman tangannya mengencang kertas hasil tes DNA itu hingga ujung jarinya memutih. Tatapannya kosong, seolah dunia di sekelilingnya runtuh dalam satu detik. Perlahan, matanya mulai berkaca-kaca, bola matanya menatap angka dan nama yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, sebuah fakta yang selama ini disembunyikan rapat oleh Andini.Ra
Keesokan paginya Andini keluar dari rumah, untuk pengantar Leo ke sekolah. Kebetulan jarak sekolahnya dekat dari rumah, hingga Andini memilih berjalan kaki. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan gerbang rumahnya sendiri, karena di situ dia melihat ada mobil mewah berwarna hitam beserta para pengawalnya. “Mobil siapa yang menghalangi jalan begitu?” tanya Andini tampak kesal.Detik kemudian pintu mobil terbuka, muncul Alyas turun dari mobil sambil mengaitkan kancing jasnya yang lepas. Pria itu berencana untuk menjemput Andini bekerja ke rumah sakit. “Dia lagi,” gumam Andini panik, “gawat, gimana kalau dia melihat Leo?” Alyas berjalan perlahan tambah tersenyum menatap Andini. “Ada apa Bapak kesini?” “Saya mau jemput kamu, kita berangkat bareng ke rumah sakit. Dan tolong jangan panggil saya Bapak terus, saya ini bukan bapak kamu.”“Oke, aku lupa.” Alias menatap Andini dari ujung rambut sampai ujung kaki, dia tampak begitu cantik memakai dress berwarna kuning dengan rambut indahn
Alyas terkejut saat mendengar ungkapan dari Michelle, dia benar-benar tidak menyangka wanita sexi itu serius minta dinikahi. “Gimana, Al?” tanya Michelle sambil mengetuk permukaan meja. Sontak Alyas terhenyak kaget, “apa?”Michelle mengerutkan keningnya heran, “kamu tidak mendengar apa yang saya katakan?” “Aku dengar, kok.” “Oke, kalau gitu jawab pertanyaanku dengan cepat, kapan kamu akan ngelamar aku?” “Michelle, maaf aku tidak bisa ngelamar kamu mendadak seperti ini.” “Kenapa?” “Ya nggak kenapa-napa, aku belum siap aja untuk menikah dalam waktu dekat ini.” “Al, kamu sudah janji sama aku di depan tante Sarah, kalau kamu akan jaga aku.” “Kok bisa jaga kamu walau kita tidak terikat dengan tali pernikahan, jujur untuk saat ini aku belum siap untuk menikah lagi.” Michelle tersenyum lalu menyeringai beberapa detik setelahnya. “Aku yakin alasan kamu tidak mau menikah dengan aku bukan karena tidak siap, tapi karena ada wanita lain, kan?” “Kenapa kamu berpikiran kesitu?” tanya Aly
Mendengar suaminya kembali tidak berpihak padanya, Andini hanya bisa pasrah dan menundukkan kepalanya. Kata orang, biarpun satu dunia menyalakan asalkan suami berpihak pada istri semua akan baik-baik saja. Tapi sayang semua itu tidak pernah terjadi, di kehidupan Andini. Gadis itu tidak punya pegang
“A …,” Andini berteriak dengan sangat keras.Kaki gadis itu menginjak batu kecil hingga tergelincir dan terjatuh di tebing, beruntung tangannya dengan sigap memegang batu. Ia menjerit kesakitan karena tangan yang di buat pegangan ada luka akibat tertusuk duri hingga rasa sakitnya berkali-kali lipat
Alyas yang sedang mengendarai mobil, lantas memasang headset bluetooth di telinganya, kemudian ia menghubungi seseorang dengan sangat serius. “Halo,” sapa Alyas.“Iya hallo, ada apa Pak?” “Ada hal yang sangat penting, harus kita bicarakan.” “Oke, Pak saya on the way ke tempat Bapak.”“Tidak perlu, say
“Saya terima nikah dan kawinnya, Andini Wijaya putri kandung Bapak Wijaya dengan maskawin uang tunai lima ratus juta rupiah dibayar tunai.” Seorang pria tampan bernama Alyas mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang dan tegas. “Bagaimana para saksi, sah?” tanya penghulu. “Sah ….” Seketika tepu







