LOGINDi tengah malam yang sepi, Lucas mengendarai mobilnya sambil menerima telepon. Pandangannya sesekali menatap layar mobil, tempat panggilan teleponnya dengan sang ibu terhubung melalui layar mobil.
"Lucas, ini sudah batasnya," suara Indira terdengar tegas dari speaker mobil. "Kamu tidak punya pilihan lagi. Kalau kamu tidak menikah tahun ini, semua yang kita lakukan akan sia-sia karena jatuh ke tangan Adi. Kamu ingin melihat sainganmu itu jadi penerus perusahaan?" Lucas menghela napas panjang. "Aku akan cari jalan keluarnya, Ma. Tapi aku perlu waktu. Tidak bisa buru-buru." "Tidak ada waktu lagi, Lucas! Kamu tahu betapa kakek tidak main-main dengan ucapannya. Kalau kamu tidak memenuhi syarat ini, semua usaha kita selama ini akan sia-sia. Adi tidak pantas. Kamu yang pantas jadi penerus perusahaan keluarga ini." Lucas memijat pelipisnya sambil menatap jalan, pikiran berkecamuk. "Ma, nanti aku pikirkan caranya, sekarang aku lagi nyetir—" Sebelum Lucas menyelesaika kalimatnya, dia dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba muncul di depan mobilnya, berdiri di tengah jalan. Refleksnya terlambat, dan tanpa sempat menghindar, mobil Lucas orang itu dengan keras. Tubuh Sera terpental dan jatuh di aspal, terdengar bunyi benturan yang membuat jantung Lucas berdegup kencang. Lucas menginjak rem kuat-kuat hingga mobilnya berhenti dengan suara decit ban yang keras. "Astaga ... apa yang kulakukan?" monolog Lucas panik, rasa takut mulai menyelimutinya. Dia menekan tombol di layar mobil untuk memutus panggilan telepon ibunya dan langsung keluar dari mobil. Lucas berlari mendekati Sera yang tergeletak di jalan. Wajahnya penuh luka, dadanya naik-turun dengan napas terputus-putus. "Ya Tuhan ...," Lucas bergumam penuh rasa bersalah dan cemas. Tanpa berpikir panjang, Lucas segera berlari kembali ke mobil, membuka pintu dengan cepat dan meraih ponsel yang tertinggal di dashboard. Sambil menekan nomor darurat, dia kembali pada Sera, berlutut di sampingnya. "Hei, kamu mendengarkanku?" Lucas berbicara pelan, berharap Sera merespons meski kelopak matanya tetap terpejam. Sera tidak bergerak. Lucas menatap wajah Sera dengan perasaan bersalah yang mendalam. "Ambulans akan segera datang. Bertahanlah, oke?" Lucas menunggu kedatangan ambulans dengan cemas. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya suara sirine ambulans terdengar semakin mendekat. Para medis segera memasukkan Sera ke ambulans. Lucas yang panik pun ikut masuk ke ambulans. Selama perjalanan ke rumah sakit, jantung Lucas tidak berhentinya berdebar hebat. Wajahnya tegang karena takut Sera tidak selamat. Perasaan bersalah menghantuinya. Pikiran buruk terus-menerus menghantuinya, mulai dari skandal media hingga bayangan ancaman hukum yang mungkin harus dihadapinya. Lucas baru merasa lega ketika mereka tiba di rumah sakit dan dokter langsung menangani Sera. Namun, tidak dapat dipungkiri kalau Lucas masih merasa takut dan bersalah. Dia semakin tertekan saat melihat ponselnya penuh dengan panggilan tidak terjawab dan pesan dari ibunya yang penuh kemarahan. Setelah beberapa jam, dokter membawa Sera ke ruang perawatan intensif. Kondisinya stabil, tapi masih belum sadar sepenuhnya. Lucas memilih menunggu Sera siuman. Pasalnya dia tidak tahu identitas Sera sebenarnya. Wanita itu tidak memiliki kartu identitas. Sepanjang malam Lucas terjaga, tapi Sera tidak kunjung sadar. Mata Lucas merah karena kurang tidur. Dering ponsel Lucas memecah keheningan di ruang perawatan Sera. Lucas merogoh saku jasnya untuk mengabil ponselnya yang berdering. Nama Andra—asisten Lucas—tertera di layar. Lucas menghela napas panjang sebelum menjawab. "Ya, Andra, ada apa?" suaranya serak, tanda kelelahan. "Pak Lucas, saya hanya ingin mengingatkan. Hari ini Bapak harus pergi ke Novaterra untuk meninjau ulang proyek pembangunan kawasan bisnis. Pertemuan dengan tim lapangan sudah dijadwalkan pukul satu siang," ujar Andra, di seberang telepon sana. Lucas mengusap wajahnya. "Astaga, aku hampir lupa. Oke, aku akan segera bersiap. Pesankan tiket penerbangan pagi ini, aku akan berangkat langsung ke bandara." "Baik, Pak," jawab Andra sebelum panggilan berakhir. Lucas segera mencari perawat untuk meminta mereka menjaga Sera, serta meminta perawat untuk segera menghubunginya kalau Sera sudah sadarkan diri. Lucas melirik Sera untuk terakhir kali melalui pintu kaca. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum berbalik dan berjalan cepat menuju lift, meninggalkan rumah sakit. Lucas kembali ke apartemennya terlebih dahulu untuk berganti pakaian, setelah itu barulah dia pergi ke bandara. Dua hari kemudian. Ruangan rumah sakit begitu hening, hanya suara mesin yang bekerja memastikan kondisi pasien. Perlahan, Sera mulai bergerak pelan. Kelopak matanya berkedip-kedip, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk. Kepalanya terasa berat, seluruh tubuhnya pegal, seolah-olah baru bangun dari tidur yang sangat lama. Saat mata Sera terbuka penuh, dia menatap plafon putih di atasnya. Namun, sebelum Sera sempat memahami situasi di sekitarnya, sebuah suara memecah keheningan. "Akhirnya, kamu sadar juga." Sera menoleh dengan mata melebar. Napasnya tertahan, dadanya berdegup kencang. Tubuhnya terasa membeku di atas tempat tidur.“Apa Kak Lucas tahu kalau ingatanmu sudah kembali, Sera?” Chiara kembali bertanya, membuat Sera tersadar dari pikirannya.“Sepertinya Kak Lucas nggak tahu. Kalau begitu aku akan beritahu Kak Lucas.” Chiara bergegas meninggalkan Sera, tapi Sera dengan cepat meraih tangan Chiara.“Jangan beritahu Lucas.”Chiara menatap Sera dengan kening berkerut. “Kenapa? Bukannya ini kabar bahagia dan dia harus tahu?”“Memang. Tapi sebenarnya ingatanku belum kembali sepenuhnya. Aku hanya ingat samar-samar. Karena itu aku tidak memberi tahu Lucas. Aku tidak ingin mengecewakannya. Aku akan memberi tahu Lucas jika ingatanku sudah sepenuhnya kembali. Tidak hanya kepada Lucas saja, aku juga pasti akan memberi tahu semua orang.”Apa yang dikatakan Sera tentu saja sebuah kebohongan. Bagaimanapun Sera harus bisa membuat Chiara tidak memberi tahu siapa pun mengenai ingatannya kepada semua orang. Jika tidak, Lucas pasti akan marah kepadanya karena sudah teledor.Chiara mengembuskan nap
"Dengan kamu menikahi Lucas, itu artinya kamu sudah menjadi menantu di rumah ini," kata Satria dengan nada yang selalu datar tapi tajam saat berbicara dengan Sera. "Dan sebagai menantu, bukankah kamu seharusnya membantu Lucas mengurus rumah?"Sera tersentak dan refleks melirik Satria.“Lucas sudah sibuk bekerja, apakah dia juga harus mengurus rumah saat pembantu tidak ada di rumah? Di rumah ini, semua orang memiliki kesibukan masing-masing. Apa kamu mengharapkan Lucas atau yang lainnya untuk membeli makan di luar setiap hari selama Rina tidak ada?”Walaupun Satria tidak keluar kamar sejak kemarin, tapi Satria tahu kalau anak dan cucunya pasti akan membeli makanan di luar jika Rina tidak ada. Sebab itu sudah menjadi kebiasaan mereka jika ditinggal Rina pulang atau izin cuti.Sera menggeleng pelan. “Tidak, Kek. Tapi—"“Tapi apa?” Satria memotong dengan cepat ucapan Sera. “Mereka melarangmu untuk masak dan memilih untuk memesan makanan dari luar?”Sera menganggu
Pukul 12.15 siang, Lucas keluar dari kamar. Karena waktunya makan siang, Lucas pun pergi ke dapur untuk membuat bubur.“Apa yang kamu lakukan?” Lucas menghampiri Sera yang ternyata sudah lebih dulu berada di dapur.Sera yang mencuci beras untuk membuat bubur pun menoleh ke arah Lucas. “Saya ingin membuat bubur untuk Kakek.”“Tidak perlu. Biar aku saja.” Lucas pun mengambil alih pekerjaan Sera.Mengingat ekspresi Satria saat memakan bubur tadi pagi, membuat Lucas sedikit meragukan masakan Sera.Sera tidak protes dan membiarkan Lucas yang membuat bubur. Bagaimanapun Satria bukan kakeknya. Sera hanya berpikir jika Lucas mungkin hanya ingin berbakti kepada sang kakek.“Mau saya bantu yang lain?” tanya Sera menawarkan diri.“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.”Karena tidak ada yang bisa dilakukan, Sera pun memilih meninggalkan dapur menuju ruang tengah, membiarkan Lucas memasak sendiri.“Adi,” kata Sera refleks memanggil sang adik ipar saat me
Sera duduk santai di ruang tengah saat Lucas keluar dari kamar Satria.“Bagaimana? Apa Kakek mau makan?” tanya Sera menatap Lucas yang melewati ruang tengah.“Tidak.” Lucas menjawab tanpa menghentikan langkah menuju dapur.“Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Sera yang segera menyusul Lucas ke dapur.“Buburnya sudah dingin, jadi aku mau membuatkan Kakek bubur baru,” kata Lucas sambil memngambil beras, sayuran dan daging ayam. “Mau saya bantu?” Sera menawarkan diri untuk membantu.“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.”Lucas mencuci semuanya, lalu dia memasak nasi sambil memotong sayuran dan daging ayam dengan ukuran kecil-kecil.“Pak,” panggil Andra yang memasuki dapur dengan membawa tas kerja. “Maaf mengganggu waktunya, Pak.”Lucas menatap Andra sekilas sebelum kembali fokus memotong sayuran. “Ada apa?”“Ada beberapa berkas penting yang harus bapak tandatangani sekarang juga.”“Baiklah.” Lucas menghentikan aksinya memotong sayur, di
Indira segera merilekskan tubuhnya. Raut wajahnya pun kembali datar. “Itu bukan urusanmu,” ucapnya ketus.“Kenapa? Apa kamu berpikir kalau aku mengetahuinya, aku akan tetap membela mereka?” Satria berkata sambil menahan amarahnya.Kemarin pagi, setelah semua anak dan cucunya pergi, Devin datang melaporkan hasil penyelidikannya mengenai kecelakaan yang Tristan alami.Berdasarkan keterangan dari Satria bahwa kemungkinan Aidan telah menyelidiki kasus kecelakaan Tristan, Devin pun memulai penyelidikan melalui Aidan. Seperti yang sudah Satria duga, Aidan memang telah menyelidiki kasus kecelakaan Tristan. Sayangnya semua data itu tersimpan rapi dalam komputer Aidan.Untuk bisa membuka file di komputer Aidan yang diberi keamaan, Devin pun meminta bantuan beberapa orang untuk meretas file hasil penyelidikan Aidan. Setelah berhasil meretas komputer Aidan, Devin menemukan banyak dokumen serta rekaman CCTV. Devin membaca dan melihat semua rekaman itu terlebih dahulu sebelum mel
Sera menatap Lucas heran kala melihat pria itu mengenakan pakaian santai di rumah. “Kamu tidak pergi bekerja?” tanya Sera menggoda Lucas yang kemarin keras kepala ingin bekerja. “Tidak.” “Kenapa? Kamu takut dimarahi Mama lagi?” sindir Sera, bagaimanapun Sera masih kesal dengan Lucas yang sudah membuatnya dimarahi oleh Indira kemarin karena sudah membiarkan Lucas bekerja. “Kenapa? Kamu marah padaku karena kemarin Mama memarahimu?” bukannya menjawab, Lucas justru bertanya balik. Sera cemberut dan meninggalkan kamar lebih dulu. Lucas pun buru-buru mengikutinya. Malam tadi Lucas menemui Indira memang untuk meminta maaf pada sang ibu. Lucas memang terkadang muak dengan sikap berlebihan sang ibu, tapi dia tidak bisa melihat Indira mengabaikannya. Sebab di dunia ini hanya Indiralah yang dia punya. Dan karena tidak ingin mengecewakan Indira lagi, Lucas pun menuruti ucapan sang ibu yang memang ingin Lucas benar-b







