LOGIN
"Sah!"
Satu kata itu bergema di seluruh penjuru aula, namun bagi Clara, itu terdengar seperti vonis penjara yang diketuk oleh hakim. Tidak ada sorak-sorai bahagia yang tulus. Hanya ada tepuk tangan formal dari barisan pemegang saham dan relasi bisnis kelas atas yang berpakaian mewah. Di aula megah yang dipenuhi aroma bunga lili yang memuakkan, hidupnya baru saja digadaikan.
Clara merasakan jemarinya membeku saat tangan besar Adrian Wijaya meraihnya. Pria itu tidak menatap matanya sedikit pun. Adrian memasangkan cincin berlian ke jari manis Clara dengan gerakan efisien, seolah sedang menandatangani dokumen pengiriman barang daripada janji suci.
"Tersenyumlah," bisik Adrian rendah tepat di telinga Clara. Aroma mint dan parfum mahal menguar dari tubuhnya. "Para pemegang saham sedang memperhatikan aset baru mereka. Jangan hancurkan investasiku dengan wajah pemakamanmu itu, Clara."
Clara menelan kepahitan di tenggorokannya. Ia memaksakan sudut bibirnya terangkat meski hatinya menjerit. Di atas kertas bermaterai yang mereka tandatangani satu jam lalu, ia bukan lagi wanita merdeka. Ia adalah 'Istri Kontrak' berdurasi dua belas bulan.
"Apa Anda selalu memerintah semua orang seperti ini?" tanya Clara pelan di sela senyum palsunya.
"Aku membayar mahal untuk kepatuhanmu, bukan untuk pertanyaanmu," jawab Adrian tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang dingin.
Begitu prosesi selesai, Adrian langsung melangkah menuju pintu keluar tanpa basa-basi. Ia meninggalkan Clara yang harus berjuang menyeret ekor gaun pengantinnya yang berat sendirian. Tak ada tangan yang terulur membantu; hanya punggung tegap Adrian yang semakin menjauh.
Di dalam limusin yang membawa mereka pergi, keheningan menyelimuti. Adrian langsung membuka tabletnya, membiarkan cahaya layar menerangi wajahnya yang kaku seperti marmer.
"Mulai hari ini, kau akan tinggal di paviliun barat. Kamar kita terpisah," ucap Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari grafik saham di layarnya.
Clara menoleh pelan, menatap profil samping suaminya. "Apa Kakek Anda tahu tentang pengaturan kamar ini?"
"Kakek hanya perlu tahu kita menikah. Urusan di balik pintu kamar adalah urusanku," sahut Adrian tajam. "Satu hal lagi, aku tidak ingin ada gangguan saat bekerja. Jangan pernah masuk ke ruang kerjaku tanpa izin."
Clara menghela napas, mencoba menenangkan debar jantungnya. "Anda tidak perlu terus-menerus mengingatkanku, Tuan Adrian. Aku tahu posisiku. Aku hanyalah barang sewaan yang Anda beli untuk satu tahun."
Adrian akhirnya meletakkan tabletnya. Ia menoleh perlahan, memberikan perhatian penuh pada Clara untuk pertama kali. Tatapannya tajam, menilai, seolah sedang memeriksa kualitas barang di pelelangan. Ia mengikis jarak di antara mereka hingga Clara bisa merasakan hawa dingin yang terpancar dari suaminya.
"Bagus kalau kau sadar diri," bisik Adrian dengan suara yang mengintimidasi. "Sebab bagiku, kau hanyalah tameng untuk menenangkan dewan komisaris yang cerewet tentang status lajangku. Jangan pernah membayangkan ada makan malam romantis atau sentuhan fisik yang tidak perlu di rumah ini."
Ia berhenti sejenak, matanya menatap bibir Clara yang sedikit gemetar sebelum kembali mengunci tatapannya pada mata wanita itu.
"Dan yang paling krusial: jangan pernah jatuh cinta padaku. Cinta adalah variabel cacat yang bisa merusak kontrak bisnis kita. Aku tidak memiliki ruang untuk emosi bodoh semacam itu."
Clara menarik napas dalam, mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia memberikan senyum tipis yang paling elegan namun dingin.
"Jangan terlalu percaya diri, Tuan Adrian," sahut Clara tenang. "Hatiku tidak termasuk dalam aset yang Anda beli dalam kontrak ini. Nilai satu miliar itu tidak akan pernah cukup untuk membuatku mencintai pria tanpa jiwa seperti Anda. Aku di sini untuk bisnis, sama seperti Anda."
Rahang Adrian mengeras. Kilat kemarahan melintas secepat kilat di matanya yang gelap sebelum ia kembali memasang topeng dinginnya.
"Berpeganglah pada kata-katamu itu, Clara. Aku tidak suka orang yang menjilat ludahnya sendiri," ucap Adrian sebelum kembali pada perangkat elektroniknya.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah mansion mewah yang didominasi kaca dan baja. Saat melangkah masuk ke dalam rumah yang lebih mirip museum seni itu, Clara langsung disergap rasa sepi yang luar biasa. Lantai marmer yang mengilap memantulkan bayangan dirinya yang tampak rapuh dalam gaun putih yang kini terasa seperti kain kafan.
Adrian tidak membantunya melepaskan mantel atau menanyakan apakah ia lelah. Pria itu langsung melangkah menuju tangga besar, meninggalkannya sendirian di lobi yang luas.
"Nyonya? Mari saya antar ke paviliun Anda," seorang pelayan tua mendekat dengan sopan.
"Terima kasih," jawab Clara lirih. "Tolong siapkan air hangat. Saya butuh membersihkan diri."
Sambil melangkah, Clara mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun. Adrian Wijaya mengira telah membeli kesetiaannya dengan uang. Pria itu tidak tahu bahwa Clara memiliki motif lain yang jauh lebih gelap.
Ia bersedia masuk ke sarang serigala ini bukan hanya demi menyelamatkan nyawa ibunya yang butuh operasi jantung. Ia mencari bukti tentang keterlibatan keluarga Wijaya dalam kebangkrutan tragis perusahaan kakeknya satu dekade lalu. Sebuah peristiwa yang menghancurkan seluruh keluarganya hingga ayahnya tewas dalam keputusasaan.
Clara menatap punggung Adrian yang menghilang di balik pintu lantai dua. Tatapannya kini tak lagi berisi ketakutan, melainkan tekad yang membara.
"Kau mungkin memiliki ragaku selama setahun ini, Adrian," bisiknya pada kegelapan lobi. "Tapi aku akan memastikan kau membayar setiap air mata yang jatuh dari keluargaku."
Malam memang baru saja dimulai, namun perang dingin di balik pintu mewah ini sudah mencapai titik didih yang mematikan. Ia akan memainkan peran sebagai istri yang patuh di siang hari, namun akan menjadi musuh dalam selimut di malam hari. Karena dalam permainan kontrak ini, hanya ada satu pemenang yang akan bertahan hingga akhir.
Clara tidak membuat keputusan malam itu.Bukan karena ragu.Melainkan karena ia tahu:keputusan yang terburu-buru selalu tampak heroik, tapi jarang bertahan.Pagi datang dengan hujan tipis.Langit abu-abu.Udara lembap.Clara tiba di kantor tanpa tas kerja besar.Hanya membawa notebook kecil dan ponsel.Ia tidak lagi punya agenda rapat.
Langkah itu datang pagi hari.Bukan diumumkan.Bukan dibacakan.Ia hadir dalam bentuk yang paling khas dari sistem yang tidak ingin terlihat represif:perubahan status.Clara mengetahuinya pukul 08.07.Saat ia mencoba mengakses agenda lintas unit—bukan untuk menulis, hanya membaca.Pesan itu muncul dengan nada datar:Akses Anda telah disesuaikan
Dampaknya tidak datang sebagai ledakan.Ia datang sebagai hening yang aneh.Pagi setelah publikasi, Clara bangun lebih awal dari biasanya.Bukan karena gelisah.Justru karena tidurnya terlalu nyenyak—tanda tubuhnya akhirnya berhenti menahan sesuatu.Ia membuka ponsel.Tidak ada banjir notifikasi.Tidak ada ucapan selamat.Tidak ada ancaman langsung.
Kebocoran itu tidak diumumkan.Ia terjadi seperti semua hal penting lain akhir-akhir ini:pelan, lalu sekaligus.Clara menyadarinya pukul 08.19.Bukan dari notifikasi resmi.Melainkan dari tatapan orang-orang yang berhenti terlalu lama ketika ia melintas di koridor.Ada yang ingin bicara.Ada yang ingin menghindar.Dan ada yang—untuk pertama kalinya—tidak lagi
Clara tidak mempublikasikan apa pun pagi itu.Justru karena itulah dampaknya mulai terasa.Ia datang ke kantor seperti biasa.Jam yang sama.Langkah yang sama.Namun sesuatu telah bergeser.Beberapa orang yang biasanya hanya mengangguk kini berhenti.Bukan untuk berbasa-basi.Tapi untuk memastikan satu hal:apakah Clara masih bicara.
Keputusan itu tidak diumumkan pagi-pagi.Tidak juga ditunda berhari-hari.Ia datang di waktu yang paling melelahkan:siang yang menggantung.Pukul 12.47, notifikasi masuk.Satu baris.Tanpa pendahuluan.Hasil Sidang Evaluasi Etik — DitetapkanClara sedang duduk di meja kerja sementara.Ruang kec







