Share

Istri Kontrak Sang CEO
Istri Kontrak Sang CEO
Author: Nana Shina

Bab 1

Author: Nana Shina
last update publish date: 2026-07-25 14:09:41

Jika kesialan adalah tropi penghargaan dia akan memilikinya segudang penuh. Berkali melompat, menghindar, hingga mengubur bulat-bulat nasib buruk. Dia selalu jadi pemenang dalam perlombaan sebagai tumbal.

Anniversary kedua. Saat tangan membawa hadiah dan kue cokelat merah muda Ayu melihat sang calon suami bercumbu mesra dengan adik satu-satunya. Di apartemen yang ia cicil. Di sofa merah marun yang dia beli tahun lalu.

"Jangan salahkan Kak Baskara, Kak! Semua salahku! Maafkan aku...," pinta si adik bersimpuh meminta pengampunan. Dia terisak. Akan tetapi suaranya terasa seperti sebuah tawa kemenangan.

Kaku. Tubuh perempuan yang dikhianati tak mampu memberi respons terbaik. Dia hanya mampu berdiri dengan tatapan hambar. Tak ada makian. Tak ada kekerasan brutal.

"Sayang ayo bangun. Aku enggak mau anak kita yang ada di dalam perutmu kesakitan."

Ucapan calon suami Ayu menyadarkan si wanita dari situasi miris. Perempuan itu buru-buru menoleh. Dia melempar tatapan sinis sekaligus jijik.

"Anak?"

Pandangan Ayu berubah. Telaga matanya beriak dengan menyembunyikan amarah yang tertahan. Baskara menarik tangan Sita untuk berdiri di belakang. Lelaki itu tahu Ayu akan meluapkan kekecewaan sekaligus amarah setelah ini.

"Ayu. Begini,” tutur Baskara dengan tatapan bimbang. Dia tidak sungguh-sungguh tangguh menatap sang tunangan. “Aku dan Sita sudah lama menjalin hubungan. Beberapa bulan setelah pertunangan kita."

"Apa?" Ayu memberi penekanan. Sementara sang pengkhianat tak melanjutkan ucap. Dia berpaling menatap Sita dan menggenggam hangat. Ayu tak menyangka si adik akan sejauh ini. Dia tahu sejak dulu Sita memiliki kebiasaan merebut sesuatu darinya. Tapi seorang kekasih adalah yang terburuk.

Wajah Ayu merah padam. Wanita itu mencengkeram erat paper bag berisi hadiah dan kue anniversary yang seharusnya jadi barang spesial.

Dia berusaha menatap kedua orang tanpa melayangkan tamparan. Dia terus bertanya-tanya. Apa salahnya? Mengapa gadis bergaun cyan itu mempermainkan hidupnya? Mengapa juga kekasih terlalu gampang tergoda?

"Kami saling cinta, Ay.”

"Bullshit, Bas!"

"Sungguh! Sita hamil anakku sekarang!"

Deg! Detak jantung yang tak keruan makin memburu perkara sebuah janin bersarang pada si adik kurang ajar. Ayu menatap lekat calon suami. Lelaki itu sudah buta dan tuli. Memilih si adik daripada bakal istri yang bertahun-tahun menemani.

"Kamu serius mengatakan ini?" tanya Ayu memastikan. Genangan air mata berkumpul dan bersiap luruh. Namun Ayu tidak ingin terlihat lemah. Sekuat tenaga dia menahan emosi sekaligus benci yang memberontak.

"Kamu tahu, Ay? Selama ini kita enggak cocok. Kamu terlalu fokus dengan pekerjaanmu. Aku cuma bagian kecil yang enggak akan terlihat besar di mata kamu,” ungkap Baskara untuk pertama kalinya. Dia menunduk sejenak kemudian menggelengkan kepala tanda tak kuat.

"Dua tahun, Bas. Setelah dua tahun pertunangan kenapa baru bilang kita enggak cocok? Aku nemenin kamu buka usaha mebel dari nol. Aku bantu persiapan bahan dan cek finishing saat kamu belum bisa bayar lebih karyawan. Sekarang kamu bilang kita enggak cocok dan aku kurang perhatian?"

Ayu menggebu. Dia melempar paper bag yang sedari tadi dipegang ke arah Baskara. Lelaki itu kelabakan. Dia mampu menangkap satu tas dan terlihat box jam tangan Hamilton edisi terbaru.

"Katakan sekali lagi kalau kamu selingkuh dengan Sita karena kita enggak cocok," tutur Ayu parau.

Baskara bimbang. Bibirnya terkatup tanpa bisa melawan. Di sisi lain Sita menarik ujung lengan kemeja. Terdengar gumam dengan rona gelisah. Sang calon ayah langsung bereaksi tegas dan siap membela si selingkuhan.

"Aku lebih bahagia dengan Sita, Ay."

"Sungguh?”

“Kamu bukan apa-apa sekarang.”

“Astaga, Bas..."

Ayu mendengkus. Perempuan itu menunduk tajam sambil memegangi kepala yang mulai nyut-nyutan. Dia mengumpat dalam hati. Bukan untuk Baskara ataupun Sita. Tetapi untuk dirinya sendiri. Dia terlambat menyadari semua rahasia. Bertahun dia membangun istana cinta. Lalu segalanya runtuh hanya dalam semalam.

"Kenapa?" tutur Ayu lirih. Dia memberi sorot mata menyayat hati. Anehnya tatapan itu membuat si wanita begitu indah nan memabukkan. Rambut gelombang yang ia tata berjam-jam. Bibir tipis rona peach. Hingga kemeja putih berbalut cardigan soft pink membuatnya begitu menawan. Andai tak ada Sita di sana, Baskara akan kembali hanyut pada pemilik mata indah bola pingpong.

"Aku... aku butuh seorang perempuan yang bisa mendukungku di belakang, Ay. Bukan perempuan yang malah memunggungiku seperti kamu."

"Kapan aku memunggungimu? Jika kamu memang menginginkan Sita kenapa enggak sejak awal kamu pilih dia?" gertak Ayu. Nada bicaranya meninggi. Dia tidak bisa memahami situasinya lagi.

"Saat itu aku kira kamu bisa jadi support sistem-ku. Tapi kenyataannya hampir setiap saat kamu terlihat unggul. Sita yang selalu ada untukku. Dia lembut dan penyayang. Aku lebih nyaman dengan sosok pendamping yang manis dan menghiburku di belakang."

"Baskara Nareindra!"

Panggilan keras ditujukan pada sang kekasih. Ayu sungguh tak mampu melihat sisi baik dari dua orang yang berkhianat. Kini hanya dia yang hancur. Sementara Sita seolah menyeringai senang di balik bahu lelaki yang terjebak cinta palsu.

Ayu yakin Sita menjalani setengah hati. Dia hanya ingin merebut apa yang Ayu miliki. Dia senang jadi pemenang dan melihat Ayu jadi pecundang.

"Pernikahan kita sebulan lagi! Bisa-bisanya kamu bertingkah gila begini?"

"Aku akan membatalkan pertunangan dan menikahi Sita bulan depan," tegas Baskara dengan raut muka meyakinkan.

"Wah, kalian benar-benar mengagumkan. Di situasi ini kalian enggak merasa bersalah padaku?" tanya Ayu tak habis pikir. "Sita, katakan sesuatu! Jangan pura-pura bodoh!" bentak Ayu geram.

"Jangan meneriakinya! Sita hamil dan emosinya enggak stabil," balas Baskara tak kalah lantang.

"Bagaimana denganku? Apa menurutmu emosiku stabil melihat kekasihku berselingkuh dengan adikku sendiri?" ujar Ayu sengit. Perempuan itu memukul dada dengan kepalan tangan.

"Sayang..."

Sita memanggil Baskara pelan. Gadis itu limbung. Dengan sigap tunangan Ayu menangkap tubuh mungil Sita. Sementara sang kakak mengernyitkan dahi. Entah sandiwara apalagi yang akan menyelimuti.

"Jangan pura-pura lemah, Ta," celetuk Ayu kesal.

"Jaga ucapanmu, Ay," balas Baskara seraya melirik tipis.

"Ha?"

"Aku tahu selama ini kamu enggak pernah memandang Sita sebagai adik. Padahal keluarga Sita sudah berbaik hati merawatmu,” celetuk Baskara menyudutkan mantan kekasih.

"Jangan buat masalah melebar, Bas,” ujar Ayu peka. Dia tahu lelaki itu akan mengeluarkan segala hal yang bisa membuat posisi Sita tak berdosa.

"Dari sudut manapun kamu perempuan jahatnya. Sita yang lemah selalu jadi bayang menyedihkan karena kamu."

"Dia? Menyedihkan? Harusnya aku yang mau pingsan sekarang. Kalian berselingkuh di belakangku sampai-sampai si Sita hamil!" tegas Ayu dengan amarah yang tersangkut di tenggorokan. "Ta, kamu tahu dia tunanganku! Kenapa kamu ngelakuin semua ini?"

"Kak Baskara bilang enggak bahagia bareng Kakak,” jawab si adik takut-takut. Dia menekuk wajah dengan kesan sendu dan gelisah yang memuakkan. Ayu menyeringai. Dia hampir tertawa melihat sandiwara si adik yang dia tonton sejak dua puluh tahun belakangan.

"Hebat! Kalian berdua memang serasi,” canda Ayu getir. Wanita itu tak minat menangis maupun meraung seperti betina serigala yang sakit hati. “Oke. Terserah mau kalian. Batalkan saja pertunangannya. Silakan menikah tapi tolong keluar dari sini. Ini apartemenku,” tegas Ayu akhirnya.

"Enggak bisa. Apartemen ini atas namaku, Ay."

"Tapi aku yang mencicil bulanannya, Brengsek! Kuberi waktu tiga hari. Keluar dari apartemen ini atau aku akan membuatnya semakin alot."

Ayu jengah. Dia merapikan pakaian dan berbalik menuju pintu. Dari arah belakang Baskara menyusul. Dia merenggut pundak sang tunangan dengan napas memburu.

"Ay! Kenapa kamu sejahat ini? Apartemen ini akan ditinggali adikmu. Seharusnya kamu berbaik hati."

"Berbaik hati? Setelah semua yang kalian lakukan? Kalian benar-benar enggak waras!"

"Tunggu dulu, Ay! Ayu!”

Baskara coba mencegah kepergian Ayu. Namun Perempuan yang terluka hanya bisa melarikan diri. Marah, sedih, dan sesal mencekik leher hingga napas yang berembus tak benar-benar lebur. Dadanya panas. Sesak. Dia kira sang kekasih akan jadi suami impian tak tergantikan. Nyatanya malah Ayu yang didepak. Calon suami yang dia perjuangkan akan berubah jadi adik ipar. Ditambah dia akan memiliki ponakan dari hubungan menjijikkan yang terjadi di belakang.

"Bodoh!" bentak Ayu sendirian. Dia memencet tombol lift menuju lobi. Saat berada di kotak sunyi itu tanpa sadar air mata turun. Dia menggigit ujung bibir. Kemudian mengertakkan gigi kuat-kuat.

"Sial. Seharusnya aku ambil lavender di studio sebelum pergi,” gerutu Ayu sambil mengusap air mata. Saat keluar lift ekspresinya kembali. Tenang. Anggun. Tak menyiratkan kesan sayu sedikitpun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 89

    Bisik-bisik lirih menyertai orang yang telah duduk di ruang rapat. Suasananya mengingatkan pada rapat pertama Arka sejak menjabat sebagai CEO Scentara. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Berbagai kabar simpang siur yang beredar sejak pagi menambah ketegangan di antara para peserta. Hampir seluruh kursi telah terisi. Hanya tersisa dua tempat duduk masing-masing di bagian ujung tengah meja dan sisi samping nomor dua. Beberapa anggota rapat mulai menduga-duga. Ada seseorang yang telah dilengserkan tanpa banyak pemberitahuan. "HeIen," panggil Hendrik kepada kepala bagian pemasaran. Perempuan itu hanya membalas dengan pandangan tenang. Sesekali ia membuka map di hadapannya kemudian mendongakkan wajah untuk menanggapi Hendrik di seberang. "Kursi wakil kepala itu—" Ucapan Hendrik terhenti ketika pintu ruang rapat mendadak terbuka lebar. Sekretaris Arka masuk lebih dahulu disusul sang CEO, dua staf khusus, dan seorang pemuda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Arka

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 88

    Dering telepon di meja samping ranjang memecah keheningan kamar. Arka yang masih memeluk Ayu erat terpaksa melonggarkan rengkuhannya untuk meraih ponsel dan menerima panggilan. "Halo." Lelaki itu menerima sapaan dan menyimak penjelasan singkat dari seseorang di seberang sambungan. Di sisi lain Ayu menggeliat kecil. Ia membuka mata dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya. "Jam berapa sekarang?" tanyanya lirih. "Jam delapan, Sayang," jawab Arka tanpa melepaskan ponsel dari telinganya. Seseorang di ujung sambungan tiba-tiba menyela. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda bersama Senior Perfumer Ayu." "Tidak masalah. Silakan lanjutkan." Penelepon itu kembali menjelaskan informasi mengenai rapat mendadak yang akan diadakan besok, termasuk kehadiran seseorang dari pihak CEO. Sementara itu Ayu yang semula masih menikmati empuknya kasur dan elusan lembut Arka mendadak membeku. Telinga perempuan itu menangkap jelas bagaimana seseorang di seberang menyebut dirinya. Senior Perfumer A

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 87

    "Aku enggak memaksamu untuk menyerahkan diri sepenuhnya." Suara Arka terdengar rendah. "Tapi setelah kontrak kita selesai, aku enggak akan pernah merasakan Purnama Pertama, Ay. Sampai kapanpun." Ayu berbalik. Ia meninggalkan Arka yang masih berdiri di tempatnya. Sementara dirinya kembali duduk di tepi ranjang. "Tapi kita bukan suami istri sungguhan, Ar. Aku..." Kalimatnya terhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati. Ayu semata-mata menolak bukan karena tak memiliki perasaan terhadap lelaki itu. Akan tetapi ada pertimbangan lain yang membuatnya sulit memberikan persetujuan. Hati kecilnya terusik oleh naluri. Sedangkan ia harus menghargai perempuan yang dicintai oleh suami. Bagaimana jika perempuan itu mengetahui bahwa Arka telah berbagi keintiman dengannya? Jika keadaan dibalik, Ayu tak yakin sanggup menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya memeluk perempuan lain. Di sisi lain Arka ikut berpindah. Ia berjongkok di hadapan Ayu lalu meraih kedua tangan perempua

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 86

    Arka membuka pintu kamar yang telah dipersiapkan di lantai dua. Di dalamnya Ayu duduk tenang membelakangi pintu. Dengan rambut tergerai ia diam di tepi ranjang menghadap jendela.Kamar itu ditata layaknya ruang pengantin baru. Beberapa bunga segar menghiasi vas sementara lilin aromaterapi menyala di meja sudut ruangan. Cahaya lampu yang temaram berpadu dengan dominasi warna putih dan cokelat hangat. Membuat tempat itu terasa lebih rapat nan menenangkan.Dalam remang Ayu tampak begitu bersinar. Tak ada aroma yang terlalu menonjol di sana. Hanya wangi lembut chamomile dan musk dari pelita yang perlahan redup lalu terang.Perhatian Arka makin tertuju pada aroma lain yang jauh lebih menggoda. Manis, lembut, dan mengundang. Tak lain dan tak bukan adalah aroma yang berasal dari istri kontraknya.Perpaduan semerbak mawar, melati, dan rempah hangat menciptakan wangi spesial. Aroma itu menggelitik gairah Arka, seolah mengusik kendali yang sejak tadi berusaha ia pertahankan."Ar?"Ayu mendengar

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 85

    Sekembalinya ke ruang mandi putri Uma mengulang wejangan mengenai Purnama Pertama. Mulai dari pemberian tanda pertama, kedua, bagian inti hingga penyelesaian. Di sela-sela penjelasan tersebut ia juga menyelipkan sejumlah arahan penting mengenai kehidupan suami istri. Sementara itu prosesi ratus bagian bawah dan rambut tetap berlangsung sesuai aturan. Aroma yang menyelimuti Ayu datang silih berganti. Saat ratus rambut semerbak cendana, melati, mawar, dan pandan menguar cukup kuat. Sepuluh menit kemudian wangi yang datang berganti menjadi perpaduan daun sirih, manjakani, kayu rapet, dan kencur. "Uma," panggil Ayu di tengah prosesi ratus bagian bawah. Perempuan itu sudah berganti kemban. Ia duduk di sebuah kursi dengan kain batik panjang yang menutupi tubuh bagian depan. Mulai dari dada, perut, hingga paha. "Ya, Nyonya Muda?" "Tadi Mas Arka ada di kolam pemandian." "Den Arka masuk ke pemandian?" Uma spontan menoleh. Ayu mengangguk pelan. "Apa kami memang harus bersama di

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 84

    Ayu segera menundukkan kepala. Kedua tangannya bertaut di bawah permukaan air, berusaha menyembunyikan kegugupan yang mulai menjalar. Saat ia masih terdiam sebuah tangan perlahan menyentuh bahu. Ayu terkejut hingga tubuhnya sedikit tersentak. "Aku memang harus di sini, Ay. Bersamamu." Satu tangan Arka melingkar di perutnya, sementara bibir lelaki itu mulai menyentuh kulit di antara lekuk leher. "Enggak ada orang lain selain kita. Kamu enggak harus menyentuhku," ucap Ayu lirih. Ia tak berani menoleh, apalagi menatap wajah suami kontrak. Perasaannya sedang tak baik-baik saja. Di satu sisi Ayu mulai menyadari bahwa Arka kembali menjadi sosok yang selama ini ia harapkan. Namun di sisi lain mereka masih terikat kesepakatan yang sama. Ditambah bukan tak mungkin hati Arka kini telah diisi oleh perempuan lain. "Cukup, Ar. Jangan lakukan ini." Napas Ayu mulai terasa lebih berat. Ia memejamkan mata lalu perlahan melepaskan tangan Arka dari tubuhnya. "Kenapa?" "Jangan lakukan sesuat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status