Share

Bab 2

Author: Nana Shina
last update publish date: 2026-07-25 15:03:07

Gemuruh hati tak akan pernah didengar oleh angin. Bukan soal lelaki maupun kekasih. Namun sejak kecil dia sudah mendapat lubang luar biasa besar dari orang yang seharusnya paling dicintai.

Ayu Anindita. Ibu Bapaknya tak pernah menginginkan sebuah kelahiran. Dalam data panti dia tidak sungguh-sungguh ditulis sebagai anak buangan. Tetapi cerita akan pertemuan Suster Endang dengannya yang masih merah dan menginginkan ASI masih jadi legenda tak terbantahkan.

Saat umur sepuluh tahun Ayu diadopsi oleh keluarga Anggara sebagai ritual. Anak mereka tercinta sakit-sakitan sejak bayi. Orang pintar bilang keadaan akan membaik jika ada anak berenergi positif menyertai.

Siapa anak itu? Anak yang disekap di taman bunga tapi hanya berbekal duri dan tanah kotoran? Ya. Tak lain dan tak bukan Ayu.

Sejak masuk ke rumah bak istana dia selalu menancapkan jati diri. Dia tidak akan mengharapkan sebuah keluarga yang utuh. Berkali-kali orang tua angkatnya pun memberi batas serupa.

Dari gurat takdir yang kasar Ayu belajar. Tidak ada keberuntungan. Tidak ada kebaikan yang tulus. Semua yang terjadi adalah buah dari usaha. Kebaikan orang lain akan selalu ada maksud di baliknya. Terasa klise. Termasuk aturan Tuhan. Jika takdir tergambar buruk. Akan selalu ada bagian yang cacat. Jika Tuhan menguji situasi Ayu dengan beragam kesialan. Semua akan menohok tanpa ampun. Bagai panah yang menyerbu satu titik hitam di tengah-tengah papan kayu.

“Sampai kapan?”

Ayu menghembuskan napas panjang. Dia memandang kosong hutan hujan sisi barat. Berteman riak air kolam dan bunga kamboja putih tulang. Semburat merah dari senja menyergap pepohonan menjelma bongkahan emas.

Ayu kembali fokus pada tujuan utama. Saat ini dia berada di kolam dekat resto untuk menikmati suasana asing. Sekadar mampir. Setelah ini dia akan melangkah menuju ruang VVIP impiannya.

Siapa sangka perempuan itu akan menjamu diri sendiri dengan makanan mewah. Sementara selama hidupnya dia hanya makan dengan lauk sederhana demi mewujudkan pernikahan ideal.

Akad yang sakral. Pesta kebun yang tak akan terlupakan. Hunian minimalis nan aesthetic dengan lokasi sesuai incaran.

Dalam satu malam segalanya runtuh. Gedung yang sudah disewa dia batalkan. Gaun yang dirancang apik dia buang di gudang. Apartemen yang harusnya ditinggali bersama Baskara kini jadi bahan keributan.

“Kenapa sulit sekali memberiku bahagia, Tuhan?”

Sejak kecil kalimat itu jadi senjata Ayu untuk menodong sebuah kemurahan pada Sang Pencipta. Terkadang benar-benar berfungsi. Sisanya Sang Maha Kuasa terbahak melihat Ayu menghapus air mata.

“Sial. Bisa-bisanya saat liburan malah kepikiran maceration,” tutur Ayu dengan seringai remeh.

Pikirannya begitu campur aduk. Sesaat lega dengan semua musibah. Sesaat kemudian kecewa pada alur kosong yang menyeretnya di titik nol. Dua hari setelah pengakuan Baskara Ayu mengajuan cuti untuk menenangkan diri. Dia menyewa kamar terbaik di resort alam bintang lima daerah Batu. Terasa janggal. Seorang Ayu yang hampir tiap hari memeluk sampel botol maceration di laboratorium tiba-tiba mengambil jeda. Dia buntu. Wanita tangguh itu perlu meregulasi emosi agar tegak berdiri. Tak runtuh.

Perempuan bermata sembap masih betah mencumbu cakrawala jingga. Sebelum keluar kamar dia bekerja keras merias wajah. Beberapa hari ini jam tidur Ayu berantakan. Dia tidak mampu memejamkan mata dan hanya mematung seperti manusia buatan yang rusak. Lavender, chamomile, frangipani, bahkan cendana. Dia mencoba semua essentials oil yang biasa melunakkan pikirannya. Akan tetapi gagal. Tak berpengaruh sedikitpun. Dia tetap kacau layaknya perempuan biasa yang gagal menikah.

"Cukup. Ayo kita nikmati hadiah terbaik untuk diri sendiri.”

Ayu melepas jingga dengan mata yang terpejam beberapa saat. Dia berbalik ke arah ujung berseberangan. Tempat dimana ruang VVIP yang dia pesan akan jadi ruang makan paling mewah seumur hidupnya.

Langkah kaki si perempuan terdengar tegas. Gesekan antara lantai dan stiletto memberi irama sinkop. Ayu kembali jadi perempuan tegar nan menawan dengan melucuti kenangan busuk Sita dan Baskara.

“Permisi,” tutur Ayu mulus. Dia hanya memberi seulas senyum pada pegawai yang berdiri di depan koridor ruang. Kemudian si pegawai membungkuk halus. Mempersilakan.

Ayu mengangguk tipis. Dia mengikuti si pegawai yang menunjuk satu ruang di deretan level S.

Ayu menata bahu. Dia berdehem sesaat dan bersiap masuk. Malam ini dia penuh persiapan. Beberapa barang yang harusnya dipakai dalam rangkaian acara nikah malah dia pakai sekarang.

"Saatnya tertawa dengan seafood premium dan wine yang enak.”

Ayu melenggang anggun. Dia membuka pintu dengan aura bak anak konglomerat yang terbiasa dengan kemewahan dunia.

Satu, dua, tiga. Langkah si wanita di ruang VVIP amat nyata. Tembok khas warna beige dengan lampu gantung kristal. Meja makan besar dengan rangkaian anggrek putih, mawar krem, dan lilin senada. Semua terlihat sesuai dengan ekspektasi Ayu kecuali keluarga besar yang memulai sebuah acara di ruang VVIP pesanannya.

Wanita itu menyebar pandang dengan alis terangkat. Laki-laki berjas dan perempuan bergaun panjang. Mereka semua memandang ke arah Ayu ketika gadis itu muncul dari pintu kanan ruang.

Ayu mengernyitkan dahi. Gaun satin biru kelasi, jam tangan Seiko Classic, dan stiletto kitten heels warna ivory seolah tak mampu menolong situasi.

"Jadi kamu calonnya Arka?" Laki-laki tua yang duduk di tengah ujung menatap tajam. Di sisinya berdiri seorang ajudan muda dengan tongkat jalan warna kelam. Ayu coba mencerna keadaan. Belum sampai membuka pembelaan seorang lelaki di kursi tengah bangkit dan mendekat.

"Sayang aku menunggu sejak tadi.” Lelaki itu menyimpul bibir bak madu hutan. Manis nan menyenangkan. Ayu kenal baik senyum dan tingkah spontan yang aneh nan menggelitik. Akan tetapi dua hal itu tak ia temui sejak sepuluh tahun lalu. Ayu hanya mampu menghadap dengan tatapan tak wajar. “Tersenyumlah,” bisik si lelaki sambil memeluk Ayu sejenak.

Arkana Banyu. Cinta pertama Ayu sepuluh tahun lalu. Semua yang ada padanya masih sama. Wajah tenang, rahang tegas, dan pandangan teduh amat gampang dirindukan. Kali ini mereka berpadu dalam navy. Entah takdir atau bukan. Malam ini Arka memakai setelan jas biru dan kacamata kelabu.

"Maaf semuanya. Aku menolak perjodohan malam ini!"

Arka tersenyum tipis. Di sisi lain reaksi orang-orang nyaris sama. Mereka langsung memberi tatapan menusuk dan tak percaya pada Arka.

"Jangan macam-macam Arkana Banyu,” ucap seorang wanita bergaun satin dusty rose.

"Aku serius Tante. Perkenalkan calon istriku Ayu Anindita. Kami telah jatuh cinta dan menjalin hubungan rahasia sejak masih mahasiswa."

Hawa panas langsung menguar. Ayu pikir dia hanya salah tempat dan bisa berlalu dengan aman. Nyatanya kini dia jadi tokoh wanita seperti Cinderella.

"Tunggu sepertinya..."

Arka mempererat genggaman bahu. Ucapan Ayu menggantung tanpa ujung. Sejak dulu perempuan itu memahami bahasa tubuh cinta pertamanya. Arka meminta Ayu untuk mengikuti sebuah permainan.

"Mohon jangan terlalu kasar padanya. Lihat? Dia sangat gugup sampai-sampai kebingungan,” tutur Arka dengan senyum kemenangan. Dia menebar pandang. Kemudian beralih pada Ayu yang masih menyuguhkan ekspresi tertekan.

"Kamu batalin perjodohan Yasa Group demi perempuan enggak jelas itu, Ar?" todong sang paman yang duduk bersandingan dengan perempuan gaun dusty rose.

"Bodoh!” komentar perempuan muda yang duduk di sisi ujung. Ia menyeringai. Tatapannya sinis. Meski wajah cerah dan manis. Sorot mata benci lebih dominan ketimbang rona bersahabat.

Berbeda dengan yang lain. Sang kakek malah tertawa. "Baiklah. Aku tidak masalah jika itu maumu, Arka,” tanggap sang kakek.

“Ayah!”

“Kenapa ayah menyetujuinya?”

Rentetan protes datang dari paman dan tante Arka. Sementara orang tua dan si adik sunyi. Mereka malah menanggapi pelayan yang masuk membawa makanan pembuka.

“Toh mereka belum datang. Kita bisa buat kesalahan dari pihak mereka untuk membatalkan perjodohan. Bagaimana menurutmu, Tama?" tanya sang kakek pada ayah Arka.

"Aku ikut apa kata ayah.”

"Kalau begitu lanjutkan maumu cucuku. Lakukan pernikahan segera. Sebelum Kakek berubah pikiran."

"Terima kasih, Kek."

Tangan kiri Arka beralih dari pundak. Kini giliran lelaki itu menawarkan lengan sambil tersenyum tenang. “Kami akan makan di cafe samping taman. Izin undur diri."

"Ya. Pergilah. Tidak ada gunanya juga kau di sini,” jawab sang kakek yang fokus dengan tart mini, beef carpaccio, dan sup.

Arka membungkuk sesaat. Dia pun melirik Ayu untuk mengikuti gerakannya. Setelah itu mereka berjalan keluar sebagai sepasang kekasih yang lolos dari bencana.

"Apa-apaan itu tadi?" protes Ayu sembari mengambil jarak.

“Aku akan menjelaskan semua setelah makan malam. Jadi jangan kabur atau melawan,” tutur Arka seringan kapas.

Tatapan Ayu terpaku. Dia tak percaya pertemuannya dengan cinta pertama seperti sebuah roller coaster. Sedetik ia merasa penasaran dan bahagia. Setelahnya dia ragu dibarengi sesal yang sia-sia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 89

    Bisik-bisik lirih menyertai orang yang telah duduk di ruang rapat. Suasananya mengingatkan pada rapat pertama Arka sejak menjabat sebagai CEO Scentara. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Berbagai kabar simpang siur yang beredar sejak pagi menambah ketegangan di antara para peserta. Hampir seluruh kursi telah terisi. Hanya tersisa dua tempat duduk masing-masing di bagian ujung tengah meja dan sisi samping nomor dua. Beberapa anggota rapat mulai menduga-duga. Ada seseorang yang telah dilengserkan tanpa banyak pemberitahuan. "HeIen," panggil Hendrik kepada kepala bagian pemasaran. Perempuan itu hanya membalas dengan pandangan tenang. Sesekali ia membuka map di hadapannya kemudian mendongakkan wajah untuk menanggapi Hendrik di seberang. "Kursi wakil kepala itu—" Ucapan Hendrik terhenti ketika pintu ruang rapat mendadak terbuka lebar. Sekretaris Arka masuk lebih dahulu disusul sang CEO, dua staf khusus, dan seorang pemuda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Arka

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 88

    Dering telepon di meja samping ranjang memecah keheningan kamar. Arka yang masih memeluk Ayu erat terpaksa melonggarkan rengkuhannya untuk meraih ponsel dan menerima panggilan. "Halo." Lelaki itu menerima sapaan dan menyimak penjelasan singkat dari seseorang di seberang sambungan. Di sisi lain Ayu menggeliat kecil. Ia membuka mata dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya. "Jam berapa sekarang?" tanyanya lirih. "Jam delapan, Sayang," jawab Arka tanpa melepaskan ponsel dari telinganya. Seseorang di ujung sambungan tiba-tiba menyela. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda bersama Senior Perfumer Ayu." "Tidak masalah. Silakan lanjutkan." Penelepon itu kembali menjelaskan informasi mengenai rapat mendadak yang akan diadakan besok, termasuk kehadiran seseorang dari pihak CEO. Sementara itu Ayu yang semula masih menikmati empuknya kasur dan elusan lembut Arka mendadak membeku. Telinga perempuan itu menangkap jelas bagaimana seseorang di seberang menyebut dirinya. Senior Perfumer A

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 87

    "Aku enggak memaksamu untuk menyerahkan diri sepenuhnya." Suara Arka terdengar rendah. "Tapi setelah kontrak kita selesai, aku enggak akan pernah merasakan Purnama Pertama, Ay. Sampai kapanpun." Ayu berbalik. Ia meninggalkan Arka yang masih berdiri di tempatnya. Sementara dirinya kembali duduk di tepi ranjang. "Tapi kita bukan suami istri sungguhan, Ar. Aku..." Kalimatnya terhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati. Ayu semata-mata menolak bukan karena tak memiliki perasaan terhadap lelaki itu. Akan tetapi ada pertimbangan lain yang membuatnya sulit memberikan persetujuan. Hati kecilnya terusik oleh naluri. Sedangkan ia harus menghargai perempuan yang dicintai oleh suami. Bagaimana jika perempuan itu mengetahui bahwa Arka telah berbagi keintiman dengannya? Jika keadaan dibalik, Ayu tak yakin sanggup menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya memeluk perempuan lain. Di sisi lain Arka ikut berpindah. Ia berjongkok di hadapan Ayu lalu meraih kedua tangan perempua

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 86

    Arka membuka pintu kamar yang telah dipersiapkan di lantai dua. Di dalamnya Ayu duduk tenang membelakangi pintu. Dengan rambut tergerai ia diam di tepi ranjang menghadap jendela.Kamar itu ditata layaknya ruang pengantin baru. Beberapa bunga segar menghiasi vas sementara lilin aromaterapi menyala di meja sudut ruangan. Cahaya lampu yang temaram berpadu dengan dominasi warna putih dan cokelat hangat. Membuat tempat itu terasa lebih rapat nan menenangkan.Dalam remang Ayu tampak begitu bersinar. Tak ada aroma yang terlalu menonjol di sana. Hanya wangi lembut chamomile dan musk dari pelita yang perlahan redup lalu terang.Perhatian Arka makin tertuju pada aroma lain yang jauh lebih menggoda. Manis, lembut, dan mengundang. Tak lain dan tak bukan adalah aroma yang berasal dari istri kontraknya.Perpaduan semerbak mawar, melati, dan rempah hangat menciptakan wangi spesial. Aroma itu menggelitik gairah Arka, seolah mengusik kendali yang sejak tadi berusaha ia pertahankan."Ar?"Ayu mendengar

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 85

    Sekembalinya ke ruang mandi putri Uma mengulang wejangan mengenai Purnama Pertama. Mulai dari pemberian tanda pertama, kedua, bagian inti hingga penyelesaian. Di sela-sela penjelasan tersebut ia juga menyelipkan sejumlah arahan penting mengenai kehidupan suami istri. Sementara itu prosesi ratus bagian bawah dan rambut tetap berlangsung sesuai aturan. Aroma yang menyelimuti Ayu datang silih berganti. Saat ratus rambut semerbak cendana, melati, mawar, dan pandan menguar cukup kuat. Sepuluh menit kemudian wangi yang datang berganti menjadi perpaduan daun sirih, manjakani, kayu rapet, dan kencur. "Uma," panggil Ayu di tengah prosesi ratus bagian bawah. Perempuan itu sudah berganti kemban. Ia duduk di sebuah kursi dengan kain batik panjang yang menutupi tubuh bagian depan. Mulai dari dada, perut, hingga paha. "Ya, Nyonya Muda?" "Tadi Mas Arka ada di kolam pemandian." "Den Arka masuk ke pemandian?" Uma spontan menoleh. Ayu mengangguk pelan. "Apa kami memang harus bersama di

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 84

    Ayu segera menundukkan kepala. Kedua tangannya bertaut di bawah permukaan air, berusaha menyembunyikan kegugupan yang mulai menjalar. Saat ia masih terdiam sebuah tangan perlahan menyentuh bahu. Ayu terkejut hingga tubuhnya sedikit tersentak. "Aku memang harus di sini, Ay. Bersamamu." Satu tangan Arka melingkar di perutnya, sementara bibir lelaki itu mulai menyentuh kulit di antara lekuk leher. "Enggak ada orang lain selain kita. Kamu enggak harus menyentuhku," ucap Ayu lirih. Ia tak berani menoleh, apalagi menatap wajah suami kontrak. Perasaannya sedang tak baik-baik saja. Di satu sisi Ayu mulai menyadari bahwa Arka kembali menjadi sosok yang selama ini ia harapkan. Namun di sisi lain mereka masih terikat kesepakatan yang sama. Ditambah bukan tak mungkin hati Arka kini telah diisi oleh perempuan lain. "Cukup, Ar. Jangan lakukan ini." Napas Ayu mulai terasa lebih berat. Ia memejamkan mata lalu perlahan melepaskan tangan Arka dari tubuhnya. "Kenapa?" "Jangan lakukan sesuat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status