MasukAnya hanya bisa pasrah, terdiam tanpa suara. Pijatan lembut di perutnya, dibalur minyak kayu putih yang hangat, perlahan meresap dan menenangkan. Gejolak yang sejak tadi mengaduk perutnya pun berangsur mereda.“Kamu kenapa tidak bilang kalau sedang hamil?” ucap Hanum menatap lembut pada Anya.”Apa mantan suamimu tahu?”Anya memalingkan wajahnya, enggan menjawab. Namun, wajah yang penuh kesedihan menyelimuti tanpa bisa disembunyikan.“Anya, kenapa diam? Apa pertanyaan Ibu melukai hatimu?”Perlahan Anya kembali menatap Hanum. Dengan lidah yang terasa berat ia berucap.”Ini bukan anak mantan suamiku. Ini anak laki-laki lain.”Hanum langsung terdiam membisu mendengar itu. Anya langsung meraih tangannya dan menggenggam erat.”Aku tahu ini kesalahan fatal yang telah aku lakukan, Bu. Aku tidak sengaja berhubungan dengan laki-laki lain. Aku pun tidak ingin menggugurkannya, dua tahun ini aku sangat menunggu kehadiran seorang anak.”Anya menangis terisak-isak. Antar sedih dan takut Hanum akan mara
Anya meneguk teh yang diberikan, cukup membuat tenggorokannya lebih hangat. Perlahan ia meletakkan cangkir itu ke meja.“Selama ini kamu ke mana saja, Nak? Kamu benar-benar menghilang tanpa ada kabar,” ucap wanita paruh baya bernama Hanum itu.“Maafkan aku, Bu. Aku sebenarnya pindah ke kota lain, dan…” Anya tampak sulit melanjutkan ucapannya.”Aku sudah menikah.”Mata Hanum melebar, jelas terkejut. Ia menggenggam tangan Anya.”Kapan kamu menikah? Lalu, di mana suamimu?”“Aku sudah menikah dua tahun yang lalu, Bu. Saat aku pindah kota, aku bertemu dengan dia dan kami mulai hubungan sampai akhirnya menikah. Tapi… aku bercerai darinya.”Anya tak dapat mengendalikan air matanya yang kembali membanjir.”Aku benar-benar sangat hancur, Bu. Dia sudah berkhianat.”Hanum memeluk Anya, berusaha memberikan ketenangan pada perempuan itu. Tangannya dengan lembut menepuk punggung Anya. Merasa sangat iba.“Aku… aku merasa bersalah dengan Ibu. Andai aku tidak nekat pergi ke kota dan–”“Tidak perlu menyes
“Saya mohon, Mbak Anya jangan pergi.” Jumi terus memohon-mohon ketika Anya memasukkan semua pakaiannya ke dalam tas. Entah pilihannya sudah tepat atau tidak.Namun, kebencian dan ketidaksudian Arum atas kehadirannya akhirnya membuat Anya memilih pergi. Ia tak ingin terus bertahan di tempat yang hanya memberinya luka dan harapan semu. Bertahan hanya akan membuat hatinya kian remuk.“Ini pilihanku, Bi,” ucap Anya dengan suara serak.“Aku sadar, sejak awal aku memang tidak seharusnya berada di sini.”Jumi menggeleng.“Lalu… bagaimana jika pak Rayden marah? Beliau meminta saya menjaga Mbak Anya.”Anya tersenyum tipis, senyuman yang lebih mirip upaya terakhir untuk tetap kuat. “Jangan sampaikan apapun pada pak Rayden. Bibi tidak perlu merasa bertanggung jawab. Keputusan ini murni keinginanku.”Kalimat itu justru membuat Jumi runtuh. Ia menundukkan kepala, bahunya terguncang oleh isak tangis yang tak mampu lagi ditahan. Rasa bersalah menyesakkan dadanya, meski Anya berusaha meringankan rasa b
Jumi membuka pintu dan raut wajahnya terlihat khawatir ketika sosok yang kira menghilang kini berdiri di hadapannya. “Mbak Anya ke mana saja?” Nada suara Jumi terdengar lega.”Saya telpon Pak Rayden tadi karna Mbak–”“Aku hanya ke pasar dekat sini,” sela Anya. Perempuan itu langsung masuk ke dalam apartemen, tanpa ingin memperpanjang obrolan mereka termasuk menjawab pertanyaan dari Jumi.Jumi berbalik, memandangi sosok Anya yang menghilang dari balik pintu kamar. Perempuan itu terlihat lesu dan ada kesedihan dari raut wajahnya.Jumi menghela napas panjang, dan kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur. Sementara itu, Anya langsung menjatuhkan dirinya di kasur. Memandangi langit-langit kamar dengan sorot mata yang menjelaskan perasaannya sekarang.Suara gedoran pintu yang sangat keras dari luar pintu kamar membuat Anya terkejut. Ia langsung bangkit dari ranjang dan membuka pintu.Plak!Tamparan melayang di pipi Anya dengan sangat keras, menciptakan kemerahan di pipinya. Perempuan itu
Seorang perempuan melenggak anggun begitu menginjakkan kaki di area kedatangan bandara. Ia perlahan menurunkan kacamata hitamnya saat pandangannya tertuju pada satu sosok yang sangat ia kenal, seseorang yang sejak tadi setia menunggu.Tanpa ragu, perempuan itu melangkah cepat dan langsung memeluk laki-laki tersebut. Pelukan itu segera terbalas, hangat dan penuh kerinduan. Elsa kemudian mengurai pelukannya, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis saat menatap wajah Rayden, pria yang sudah begitu lama tak ia jumpai.Tampan dan semakin gagah.“Apa kamu sudah menunggu lama, Rayden?”Rayden melirik arloji di pergelangannya.”Lumayan.” Ia melirik koper yang tengah dibawa Elsa.”Biar aku yang mau membawanya. Kamu pasti lelah.”Elsa menyerahkan koper itu sambil tersenyum. Ia melingkarkan kedua tangannya di lengan kokoh Rayden. “Terima kasih sudah menjemputku. Aku kira akan pulang sendiri ke rumah. Rasanya sangat melelahkan sekali setelah belasan jam di pesawat.” Elsa mencebikan bibirnya.“
Anya mengusap wajahnya begitu baru terjaga dari tidurnya. Ia memandangi langit-langit kamar dan perlahan melirik jendela kaca yang sudah sangat terang di luar.Sambil merenggangkan tubuhnya ia bangkit dari kasur yang membuatnya sangat nyenyak sekali tiap malam.Anya melangkah keluar dari kamar tanpa mencuci wajahnya yang tampak masih mengantuk. Namun, begitu membuka pintu kamar, ia mencium aroma makanan dari arah dapur. Samar-samar terdengar suara seseorang tengah menggoreng sesuatu.Karna penasaran Anya segera berjalan ke arah dapur, dan terlihat seorang wanita tengah berdiri membelakanginya dan membalik makanan yang tengah digoreng di teflon.“Kamu siapa?”Suara serak Anya sontak membuat wanita itu spontan menoleh dan terpaku sejenak melihatnya.Wanita paruh baya yang sebelumnya terlihat terkejut itu, kini tersenyum canggung.”Ini Mbak Anya, kan?”Anya yang heran dengan wanita itu, menganggukkan kepalanya.”Iya. Aku Anya. Ibu siapa?”“Saya pembantu baru di sini, Mbak. Ini saya sedang







