共有

Istri Palsu Sang Jenderal Perang
Istri Palsu Sang Jenderal Perang
作者: Cheezyweeze

I1. Pengantin Pengganti

作者: Cheezyweeze
last update 公開日: 2026-01-12 08:13:46

Lonceng istana berdentang tiga kali. Elora Avelyne berdiri kaku di ujung aula pernikahan, mengenakan gaun putih gading yang seharusnya melingkari tubuh kakaknya—bukan dirinya. Kain berat itu terasa seperti rantai, menekan dadanya setiap kali ia menarik napas.

Di hadapannya, altar batu marmer menjulang dingin. Dan di sana berdiri tegak tanpa ekspres—adalah Kael Draven. Sang Jenderal perang Valerion.

Pria yang namanya ditakuti musuh, dielu-elukan rakyat, dan … akan menjadi suaminya hari ini.

Elora menelan ludah. Tangannya gemetar di balik lengan panjang gaun yang dipakainya, meski wajahnya dipaksa tetap tenang. Ia tidak boleh menangis. Tidak di hadapan para bangsawan. Tidak di hadapan istana yang sedang menilai apakah kehormatan Keluarga Avelyne masih pantas diselamatkan.

Ia melangkah maju. Setiap langkah terasa salah.

Saat Elora berdiri sejajar di sisi Kael, ia bisa merasakan kehadiran pria itu—dingin, tegas, seperti bilah pedang yang belum ditarik dari sarungnya.

Kael tidak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, rahangnya mengeras. Namun di balik sikap tak bergeming itu, Kael mengetahui sesuatu. Itu sejak detik pertama Elora muncul di aula, Kael tahu bahwa wanita ini bukan Elyssia Avelyne.

Bahunya lebih kecil. Tatapan matanya berbeda—tidak penuh ambisi, melainkan ketakutan yang disembunyikan dengan keberanian rapuh. Bahkan caranya menggenggam jemari sendiri adalah kebiasaan seseorang yang terdesak, bukan wanita yang memilih takdirnya.

Kael tidak bertanya. Bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena istana sedang mengawasi.

Pendeta mulai membacakan sumpah suci dengan suara lantang, menggema di seluruh aula. Kata-kata tentang kehormatan, kesetiaan, dan pengabdian terdengar seperti ejekan di telinga Elora.

Ia ingin berteriak—Ini bukan pilihanku.

Tapi yang keluar dari bibirnya hanyalah keheningan.

"Apakah kau menerima pria ini sebagai suamimu—"

"—Aku menerima."

Jawaban Elora keluar lebih cepat dari yang seharusnya. Pendeta tertegun sejenak, lalu melanjutkan. Tidak ada yang boleh gagal hari ini. Pernikahan ini harus terjadi, apa pun yang terjadi.

Kael akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu ... hanya sesaat.

Mata Kael gelap, tajam, dan penuh pertanyaan yang tidak ia ucapkan. Tidak ada kemarahan di sana dan tidak ada kelembutan pula. Hanya kewaspadaan seorang prajurit yang tahu ia sedang dijebak.

Saat sumpah giliran Kael dibacakan, suara pria itu rendah dan mantap.

"Aku menerima."

Elora hampir goyah.

Bukan karena kata-kata itu indah, melainkan karena Kael mengucapkannya tanpa ragu. Seolah ia tahu persis bahwa pernikahan ini adalah sandiwara, namun tetap memilih masuk ke dalamnya.

Cincin dipasangkan. Sentuhan dingin logam itu membuat Elora tersadar sepenuhnya bahwa ia telah menjadi istri jenderal perang ... istri palsu yang bisa sewaktu-waktu dikorbankan.

Tepuk tangan menggema.

Bagi istana, pernikahan ini adalah kemenangan. Bagi Elora, ini adalah hukuman.

Kael membungkuk sedikit, cukup untuk didengar olehnya saja.

"Jangan takut," ucapnya pelan, tanpa emosi. Elora menatapnya, jantungnya berdegup liar. "Ini bukan pernikahan," lanjut Kael, suaranya dingin seperti baja. "Ini medan perang."

Dan sejak saat itu, Elora tahu—bertahan hidup sebagai istri palsu sang jenderal akan menuntut lebih dari sekadar keberanian.

***

Langkah Kael menjauh lebih dulu, sesuai adat. Sang jenderal perang tidak menggandeng istrinya. Ia hanya berbalik dan berjalan lurus meninggalkan altar, seolah Elora bukan pasangan, melainkan konsekuensi.

Elora mengikutinya. Gaun panjangnya menyapu lantai marmer, menggesek sunyi di antara bisik-bisik bangsawan yang kini tak lagi disamarkan. Tatapan mereka menusuk penuh penilaian, kecurigaan, dan rasa ingin tahu yang kejam. Mereka ingin melihat retakan, air mata, dan ketakutan. Namun, Elora menegakkan punggungnya.

Jika ini medan perang, ia menolak mati di langkah pertama.

Gerbang aula terbuka lebar, memperlihatkan lorong istana yang panjang dan gelap. Obor-obor di dinding menyala tenang, seolah tidak peduli bahwa sebuah sandiwara besar baru saja disahkan atas nama kehormatan.

Di ambang lorong, Kael berhenti mendadak. Elora nyaris menabraknya.

Kael membalilkan badan. Terlalu dekat. Terlalu berbahaya. "ku tidak akan melindungimu dari mereka," lanjutnya datar. "Bukan karena aku kejam, tapi karena di medan perang, yang lemah selalu mati lebih dulu."

Elora mengangkat dagunya, meski tenggorokannya kering. "Lalu apa yang harus kulakukan?"

Hanya sesaat, Kael menatapnya lebih lama. Seolah mencari sesuatu di wajah wanita yang bukan seharusnya berdiri di sini.

"Belajarlah bertahan," jawabnya. "Atau berpura-pura cukup kuat sampai mereka berhenti mencoba membunuhmu."

Kael berbalik lagi dan melangkah pergi. Elora berdiri terpaku, jantungnya berdentum keras. Di balik gaun pengantin yang megah, ia bukan lagi gadis pengganti. Ia adalah bidak yang sudah diletakkan di papan perang.

Dan untuk pertama kalinya sejak lonceng istana berdentang, Elora menyadari satu hal yang lebih menakutkan daripada pernikahan palsu ini—Kael Draven bukan musuh terbesarnya. Istana inilah yang akan mengajarinya bagaimana cara bertahan … atau binasa.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I134. Setelah Takhta (END)

    Musim telah berganti. Salju tipis yang dulu menutup halaman Istana Valerion kini telah mencair, digantikan oleh rerumputan muda yang perlahan tumbuh di antara batu-batu tua. Udara pagi terasa lebih hangat, meski sisa dingin masih sesekali menyusup bersama angin. Kerajaan itu masih berdiri. Namun tidak lagi sama. Rhevan berdiri di balkon tinggi yang menghadap ke halaman utama. Di bawah sana, para prajurit berlatih. Gerakan mereka rapi. Disiplin. Namun jika diperhatikan lebih dalam ada sesuatu yang berbeda. Mereka tidak lagi bertarung untuk kekuasaan. Mereka bertarung untuk bertahan. "Pasukan barat sudah kembali." Suara Elora terdengar dari belakang. Tenang seperti biasa. Rhevan tidak langsung menoleh. "Korban?" "Lebih sedikit dari yang kita perkirakan." Jeda. "Namun masih ada." Rhevan mengangguk pelan. Tidak ada kemenangan tanpa kehilangan. Ia sudah belajar itu. Dengan cara yang paling kejam. "Ada laporan lain?" tanyanya. Elora melangkah mendekat. Kini berdiri di sampingny

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I133. Takhta yang Memilih

    Aula utama Istana Valerion telah berubah. Pilar-pilar retak. Lantai marmer ternodai darah. Singgasana di ujung ruangan berdiri utuh namun sunyi. Tidak ada penjaga. Tidak ada bangsawan. Hanya lima orang. Kael. Elvaris. Rhevan. Aethran. Dan Elora. Angin dingin menyusup dari jendela yang pecah. Membawa bau logam. Dan akhir dari segalanya. Kael melangkah maju. Setiap langkahnya mantap. Tanpa ragu. Pedangnya terangkat. Namun bukan lagi sebagai pengawal. Melainkan sebagai seseorang yang akhirnya memilih. “Ini berakhir di sini.” Sunyi. Elvaris berdiri di hadapannya. Bayangan menyelimuti sebagian wajahnya. Namun matanya tetap sama. Dalam. Dingin. Tak tergoyahkan. “Seharusnya sejak awal,” jawabnya pelan. Ia melangkah maju. “Namun mereka memilih untuk memperpanjang penderitaan ini.” “Ti

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I132. Kael Adalah Penyeimbang

    Pedang mereka berhenti. Hanya beberapa inci dari leher masing-masing. Napas berat terdengar di lorong sempit yang dipenuhi bayangan. Darah menetes dari ujung bilah, jatuh satu per satu ke lantai batu yang dingin. Kael dan Elvaris saling menatap. Tidak ada yang mundur. Tidak ada yang menang. Dan untuk pertama kalinya tidak ada yang tahu harus melanjutkan ke mana. “Cukup.” Suara itu memotong. Tenang. Namun tidak bisa diabaikan. Elora. Ia melangkah maju dari ujung lorong. Langkahnya pelan. Namun setiap pijakannya terasa seperti menekan waktu itu sendiri. “Kalau kalian terus bertarung…” Tatapannya menyapu Kael, lalu Elvaris. “kalian hanya akan mengulang kesalahan yang sama.” Sunyi. Pedang masih terangkat. Namun tidak bergerak. Elora berhenti di antara mereka. Dan untuk pertama kalinya ia tidak berdiri sebagai istri dan bukan sebagai bangsawan. Melainkan satu-satunya orang yang mengetahui seluruh kebenaran. “Malam itu…” katanya pelan. Semua menahan napas. “tidak ada yang bena

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I131. Dua Takdir, Satu Takhta

    Lorong dalam istana dipenuhi bau besi dan darah. Api obor yang tersisa berkelip lemah, menciptakan bayangan panjang di dinding batu yang retak. Di kejauhan, suara pertempuran mulai mereda, digantikan oleh sunyi yang lebih menekan. Langkah kaki terdengar. Pelan. Teratur. Kael tidak perlu menoleh. Ia sudah tahu. “Akhirnya…” ucapnya pelan. Langkah itu berhenti beberapa meter di depannya. “Elvaris.” Sunyi. Lalu suara itu menjawab. “Nama yang indah untuk sesuatu yang seharusnya tidak ada.” Kael memutar tubuhnya perlahan. Dan di sanalah ia berdiri. Adrian—tidak, tapi Elvaris. Tanpa senyum kali ini. Tanpa permainan. Hanya tatapan dingin yang dalam, seperti jurang yang tidak memiliki dasar. “Kau datang untuk menyelesaikan ini?” tanya Kael. “Tidak,” jawab Elvaris tenang. Jeda. “Aku datang untuk mengambil kembali apa yang kau pakai tanpa pernah menjadi milikmu.” Udara terasa lebih berat. Kael menggenggam pedangnya lebih erat. “Kalau itu takhta—” “Bukan hanya takhta.” Poto

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I130. Kematian Lady Mirela

    Darah pertama menetes di lantai aula. Lalu yang kedua. Lalu tidak bisa dihitung lagi. Jeritan menggema di antara pilar yang retak. Api obor bergoyang liar, bayangannya menari seperti iblis yang menertawakan kekacauan. Istana Valerion akhirnya jatuh ke dalam perang. Kael bergerak tanpa ragu. Pedangnya menebas satu pengkhianat, lalu berputar, menahan serangan dari arah samping. Gerakannya cepat. Presisi. Tanpa emosi. Namun matanya tajam. Mengamati. Mencari pola. Dan ia menemukannya. “Ini bukan serangan acak…” gumamnya. “Formasi tiga arah!” teriak Elora dari sisi lain aula. Suaranya tegas. “Lindungi sisi barat—mereka memancing kita ke tengah!” Kael langsung bereaksi. “Rhevan!” “Aku di sini!” Rhevan melompat dari satu bentrokan ke bentrokan lain, darah menodai lengannya. Namun langkahnya tidak goyah. “Ambil sisi kiri. Jangan biarkan mereka memecah barisan!” “Dimengerti!”

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I129. Dendam Pewaris

    Debu masih berjatuhan. Asap memenuhi aula yang retak. Suara batu runtuh, jeritan, dan langkah kaki bercampur menjadi satu kekacauan yang memekakkan telinga. Namun di tengah semua itu waktu terasa melambat. Karena semua orang tahu… ada sesuatu yang lebih penting daripada runtuhnya istana. “E—” Suara itu lemah. Hampir tenggelam. Namun cukup untuk menarik perhatian. Kael menoleh. Rhevan ikut menoleh. Aethran membeku— Mirela. Tubuhnya gemetar. Darah mengalir dari pelipisnya. Namun matanya terkunci pada satu titik kosong. Seolah ia melihat seseorang yang tidak terlihat oleh yang lain. “El…” Napasnya tersendat. “Elvaris…” Sunyi. Nama itu jatuh. Pelan. Namun menghantam lebih keras dari ledakan apa pun. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berbicara. Seolah dunia berhenti. “Elvaris…” ulang Mirela, suaranya pecah. “Dia… anak itu…” “Elvaris…” Rh

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I33. Mahkota Yang Diburu

    Malam tiba, obor menyala di setiap lorong, tetapi cahaya itu tidak mengusir bayangan. Justru memperjelasnya.Cassren Vale berdiri di balkon kecil benteng dalam, mata tajam menatap halaman bawah. Ia tidak bisa tidur sejak kabar tentang Raja menyebar. Bisikan dayang tadi… bukan hal sepele. Di istana

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I31. Raja Alaric Valerion IV

    Lorong-lorong Istana Valerion tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan ketika obor redup dan malam turun, istana tetap hidup… dengan bisikan.Kael Draven baru saja meninggalkan kamar Raja. Langkahnya berat. Bukan karena lelah— tapi karena apa yang ia lihat. Seorang mahkota yang seharusnya berdiri teg

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I27. Jangan Percaya Siapapun

    Kabut pagi masih menggantung di sekitar Biara Nhalis ketika Kael Draven berdiri di lorong sempit, menatap simbol mata tertutup yang terukir di batu. Ordo Malam. Mereka tidak sekadar bersembunyi. Mereka menanam akar. Di belakangnya, Rhevan bergerak gelisah—hal yang jarang terjadi pa

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I25. Penjaga Benteng Sang Pengkhianat

    Malam di utara tidak sama dengan malam di Valerion. Di sini, gelap bukan sekadar ketiadaan cahaya. Gelap adalah sesuatu yang menekan dada, membuat napas terasa lebih berat.Kael Draven berdiri di balik pepohonan rimbun, menatap bangunan batu yang menjulang di kejauhan.Biara Nha

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status