LOGIN
Lonceng istana berdentang tiga kali. Elora Avelyne berdiri kaku di ujung aula pernikahan, mengenakan gaun putih gading yang seharusnya melingkari tubuh kakaknya—bukan dirinya. Kain berat itu terasa seperti rantai, menekan dadanya setiap kali ia menarik napas.
Di hadapannya, altar batu marmer menjulang dingin. Dan di sana berdiri tegak tanpa ekspres—adalah Kael Draven. Sang Jenderal perang Valerion. Pria yang namanya ditakuti musuh, dielu-elukan rakyat, dan … akan menjadi suaminya hari ini. Elora menelan ludah. Tangannya gemetar di balik lengan panjang gaun yang dipakainya, meski wajahnya dipaksa tetap tenang. Ia tidak boleh menangis. Tidak di hadapan para bangsawan. Tidak di hadapan istana yang sedang menilai apakah kehormatan Keluarga Avelyne masih pantas diselamatkan. Ia melangkah maju. Setiap langkah terasa salah. Saat Elora berdiri sejajar di sisi Kael, ia bisa merasakan kehadiran pria itu—dingin, tegas, seperti bilah pedang yang belum ditarik dari sarungnya. Kael tidak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, rahangnya mengeras. Namun di balik sikap tak bergeming itu, Kael mengetahui sesuatu. Itu sejak detik pertama Elora muncul di aula, Kael tahu bahwa wanita ini bukan Elyssia Avelyne. Bahunya lebih kecil. Tatapan matanya berbeda—tidak penuh ambisi, melainkan ketakutan yang disembunyikan dengan keberanian rapuh. Bahkan caranya menggenggam jemari sendiri adalah kebiasaan seseorang yang terdesak, bukan wanita yang memilih takdirnya. Kael tidak bertanya. Bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena istana sedang mengawasi. Pendeta mulai membacakan sumpah suci dengan suara lantang, menggema di seluruh aula. Kata-kata tentang kehormatan, kesetiaan, dan pengabdian terdengar seperti ejekan di telinga Elora. Ia ingin berteriak—Ini bukan pilihanku. Tapi yang keluar dari bibirnya hanyalah keheningan. "Apakah kau menerima pria ini sebagai suamimu—" "—Aku menerima." Jawaban Elora keluar lebih cepat dari yang seharusnya. Pendeta tertegun sejenak, lalu melanjutkan. Tidak ada yang boleh gagal hari ini. Pernikahan ini harus terjadi, apa pun yang terjadi. Kael akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu ... hanya sesaat. Mata Kael gelap, tajam, dan penuh pertanyaan yang tidak ia ucapkan. Tidak ada kemarahan di sana dan tidak ada kelembutan pula. Hanya kewaspadaan seorang prajurit yang tahu ia sedang dijebak. Saat sumpah giliran Kael dibacakan, suara pria itu rendah dan mantap. "Aku menerima." Elora hampir goyah. Bukan karena kata-kata itu indah, melainkan karena Kael mengucapkannya tanpa ragu. Seolah ia tahu persis bahwa pernikahan ini adalah sandiwara, namun tetap memilih masuk ke dalamnya. Cincin dipasangkan. Sentuhan dingin logam itu membuat Elora tersadar sepenuhnya bahwa ia telah menjadi istri jenderal perang ... istri palsu yang bisa sewaktu-waktu dikorbankan. Tepuk tangan menggema. Bagi istana, pernikahan ini adalah kemenangan. Bagi Elora, ini adalah hukuman. Kael membungkuk sedikit, cukup untuk didengar olehnya saja. "Jangan takut," ucapnya pelan, tanpa emosi. Elora menatapnya, jantungnya berdegup liar. "Ini bukan pernikahan," lanjut Kael, suaranya dingin seperti baja. "Ini medan perang." Dan sejak saat itu, Elora tahu—bertahan hidup sebagai istri palsu sang jenderal akan menuntut lebih dari sekadar keberanian. *** Langkah Kael menjauh lebih dulu, sesuai adat. Sang jenderal perang tidak menggandeng istrinya. Ia hanya berbalik dan berjalan lurus meninggalkan altar, seolah Elora bukan pasangan, melainkan konsekuensi. Elora mengikutinya. Gaun panjangnya menyapu lantai marmer, menggesek sunyi di antara bisik-bisik bangsawan yang kini tak lagi disamarkan. Tatapan mereka menusuk penuh penilaian, kecurigaan, dan rasa ingin tahu yang kejam. Mereka ingin melihat retakan, air mata, dan ketakutan. Namun, Elora menegakkan punggungnya. Jika ini medan perang, ia menolak mati di langkah pertama. Gerbang aula terbuka lebar, memperlihatkan lorong istana yang panjang dan gelap. Obor-obor di dinding menyala tenang, seolah tidak peduli bahwa sebuah sandiwara besar baru saja disahkan atas nama kehormatan. Di ambang lorong, Kael berhenti mendadak. Elora nyaris menabraknya. Kael membalilkan badan. Terlalu dekat. Terlalu berbahaya. "ku tidak akan melindungimu dari mereka," lanjutnya datar. "Bukan karena aku kejam, tapi karena di medan perang, yang lemah selalu mati lebih dulu." Elora mengangkat dagunya, meski tenggorokannya kering. "Lalu apa yang harus kulakukan?" Hanya sesaat, Kael menatapnya lebih lama. Seolah mencari sesuatu di wajah wanita yang bukan seharusnya berdiri di sini. "Belajarlah bertahan," jawabnya. "Atau berpura-pura cukup kuat sampai mereka berhenti mencoba membunuhmu." Kael berbalik lagi dan melangkah pergi. Elora berdiri terpaku, jantungnya berdentum keras. Di balik gaun pengantin yang megah, ia bukan lagi gadis pengganti. Ia adalah bidak yang sudah diletakkan di papan perang. Dan untuk pertama kalinya sejak lonceng istana berdentang, Elora menyadari satu hal yang lebih menakutkan daripada pernikahan palsu ini—Kael Draven bukan musuh terbesarnya. Istana inilah yang akan mengajarinya bagaimana cara bertahan … atau binasa.Aula besar di Istana Valerion belum benar-benar pulih dari kekacauan yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Anak panah yang ditembakkan dari balkon masih tergeletak di atas lantai batu, menjadi pengingat bahwa musuh tidak hanya berada di luar tembok istana—tetapi mungkin juga di dalamnya. Obor-obor kembali dinyalakan di sepanjang dinding aula. Cahaya mereka bergoyang tertiup angin malam yang masuk dari pintu besar yang setengah terbuka.Di tengah ruangan, para bangsawan berdiri dalam kelompok kecil, saling berbisik dengan wajah tegang. Di depan tangga singgasana, tiga sosok berdiri dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain. Elora Avelyne berdiri tegak dengan ekspresi tenang, meski matanya terus mengawasi setiap gerakan di ruangan itu. Tidak jauh darinya, Aethran Valerion berdiri dengan sikap kaku. Tatapannya sesekali melirik potret besar Lady Mirela yang masih terpajang di tengah aula. Di sisi lain, Adrian Valerion tampak jauh lebih santai. Ia bersandar pada salah satu pi
Aula kerajaan di Istana Valerion masih diselimuti ketegangan setelah potret besar itu dibuka. Potret Lady Mirela berdiri tegak di tengah ruangan, diterangi cahaya obor yang bergetar. Wajah wanita itu terlihat tenang, bahkan hampir tersenyum—seolah tidak peduli bahwa kemunculannya kembali telah mengguncang seluruh kerajaan. Namun perhatian semua orang kini tidak hanya tertuju pada Mirela. Melainkan pada pria yang berdiri di sampingnya dalam lukisan itu. Seorang panglima kerajaan yang telah lama menghilang.Kael Draven berdiri beberapa langkah dari potret itu, menatapnya dengan mata tajam. “Pedang itu,” gumamnya pelan. Di sampingnya, Cassren Vale menyipitkan mata. “Kau mengenalinya?” Kael mengangguk sedikit. “Lambang di gagang pedangnya adalah lambang komando penjaga istana dua puluh tahun lalu.” Cassren menghembuskan napas perlahan. “Itu berarti dia memimpin penjagaan saat malam kelahiran bayi Ratu Isolde.” Bisikan langsung memenuhi au
Aula kerajaan di Istana Valerion belum sempat kembali tenang sejak kematian Lord Vareon Halbrecht. Tubuh bangsawan tua itu telah dibawa keluar oleh para penjaga, namun bayangan kematiannya masih terasa berat di udara. Empat pewaris masih berdiri di depan tangga singgasana. Elora Avelyne berdiri dengan tangan saling menggenggam untuk menahan kegelisahan. Di sampingnya, Aethran Valerion terlihat semakin tidak sabar. Sedikit di belakang, Rhevan masih menjaga sikap seperti seorang prajurit. Sementara di tengah aula, Adrian Valerion memperhatikan semuanya dengan ketenangan yang sulit ditebak.Di tangan Kael Draven, panah hitam milik pasukan bayangan masih berkilau di bawah cahaya obor. “Pasukan rahasia kerajaan,” gumam Kael. Cassren Vale berdiri di sampingnya. “Pasukan itu seharusnya sudah lama dibubarkan.” Kael menggeleng pelan. “Tidak.” Ia menatap ujung panah itu sekali lagi. “Pasukan seperti itu tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya… menunggu perin
Tubuh Lord Vareon Halbrecht masih terbaring di lantai marmer aula kerajaan Istana Valerion. Darahnya perlahan merambat di antara celah batu putih, membentuk garis merah yang menakutkan di tengah ruangan yang sebelumnya menjadi tempat perdebatan takhta. Tidak ada yang berbicara. Para bangsawan berdiri kaku. Beberapa di antara mereka bahkan tidak berani mendekati tubuh Halbrecht.Sementara di tangga singgasana, empat orang yang kini menjadi pusat nasib kerajaan masih berdiri di tempat mereka. Elora Avelyne menatap tubuh Halbrecht dengan wajah pucat. Di sampingnya, Aethran Valerion terlihat tegang, rahangnya mengeras. Sedikit di belakang mereka, Rhevan berdiri tanpa bergerak. Dan di tengah aula— Adrian Valerion memperhatikan semuanya dengan tatapan tenang yang membuat beberapa bangsawan merasa tidak nyaman.Keheningan itu akhirnya pecah. “Cari pemanahnya!” Suara Cassren Vale menggema keras di aula. Beberapa penjaga langsung berlari menuju jendela besar tempa
Aula kerajaan di Istana Valerion tidak lagi terasa seperti tempat kekuasaan. Tempat itu kini seperti medan perang tanpa pedang. Empat orang berdiri di depan tangga singgasana. Empat nama yang tiba-tiba menjadi pusat masa depan kerajaan.Elora Avelyne berdiri dengan punggung tegak, meski jantungnya masih berdetak keras. Di sampingnya, Aethran Valerion menatap lurus ke arah pria yang baru saja mengklaim takhta. Sedikit di belakang mereka, Rhevan berdiri kaku, tangannya masih menggenggam gagang pedang. Dan di tengah aula— Adrian Valerion berdiri dengan tenang. Seolah kehadirannya di istana bukan sesuatu yang mustahil.Bisikan para bangsawan mulai terdengar di seluruh ruangan. “Empat pewaris…” “Ini gila…”“Kerajaan tidak akan bertahan…” Beberapa bangsawan bahkan sudah mulai bergerak mendekati orang yang mereka anggap paling menguntungkan. Situasi mulai terasa seperti bara yang siap meledak.Di depan tangga singgasana, Cas
Cassren menyipitkan mata. Ia merasa wajah itu familiar. Namun sebelum ia sempat mengingat— pria itu berhenti di tengah aula. Tatapannya menyapu ruangan perlahan. Kemudian berhenti pada tiga orang di tangga singgasana.Elora merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Tatapan pria itu terasa seperti seseorang yang sedang menilai mangsanya. “Menarik,” katanya pelan. Suaranya tenang, namun menggema jelas di aula yang sunyi. “Jadi rumor itu benar.” Ia menunjuk ke arah tangga singgasana. “Tiga pewaris berdiri di satu ruangan.”Aethran tersenyum tipis. “Rumor apa pun yang kau dengar, kau datang ke tempat yang salah.” Pria itu memandangnya dengan tatapan penuh arti. “Aku rasa tidak.” Beberapa penjaga bergerak maju. Cassren mengangkat tangan. “Berhenti di situ.” Pedangnya terangkat. “Siapa kau?”Pria itu tidak langsung menjawab. Sebaliknya ia memandang beberapa bangsawan yang berdiri di sisi aula. Tatapannya berhenti pada salah satu dari mer







