Beranda / Zaman Kuno / Istri Palsu Sang Jenderal Perang / I5. Bayangan di Balik Tirai Istana

Share

I5. Bayangan di Balik Tirai Istana

Penulis: Cheezyweeze
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-13 23:38:02

Elora berdiri di balik tirai jendela kamar istana, menatap halaman dalam yang mulai ramai oleh pelayan dan ksatria. Semua terlihat normal bahkan terlalu normal.

Ia tahu, ketenangan ini palsu. Sejak pernikahannya dengan Kael Draven diumumkan secara resmi di hadapan Dewan Militer dan Bangsawan, gerak istana berubah. Tatapan yang dulu sekadar penasaran kini berubah menjadi perhitungan. Setiap langkahnya diukur. Setiap napasnya dinilai.

Ia tidak lagi hanya Elora. Ia adalah istri Jenderal Perang.

Ketukan di pintu terdengar pelan namun tegas. "Masuk," ucap Elora.

Pintu terbuka dan seorang pelayan wanita masuk dengan kepala tertunduk. "Nyonya, Jenderal Draven memerintahkan agar Anda bersiap. Akan ada jamuan kecil di aula wanita bangsawan."

Jamuan kecil. Elora menahan senyum pahit. Tidak ada jamuan yang kecil di istana.

"Apa Jenderal akan hadir?" tanyanya.

Pelayan itu menggeleng. "Beliau dipanggil Dewan Militer pagi ini."

Elora mengangguk. "Terima kasih."

Saat pelayan itu pergi, Elora menarik napas panjang. Nalurinya berbisik pelan mengingatkab bahwa ini peringatan tanpa suara. Ia memilih gaun sederhana berwarna pucat. Tidak mencolok, tapi cukup layak. Ia tidak berniat memberi mereka celah.

Dua ksatria berdiri di luar kamar saat Elora melangkah keluar. Mereka menunduk hormat.

"Perintah Jenderal," ucap salah satu dari mereka. "Kami akan mengawal Nyonya."

Elora sedikit terkejut. "Ke mana pun?"

"Ke mana pun," kata seorang pengawal. Elora tidak bertanya lagi.

Aula wanita bangsawan dipenuhi aroma teh dan bunga kering. Tawa-tawa lembut terdengar, tapi Elora bisa merasakan ketegangan di baliknya. Beberapa kepala menoleh saat ia masuk. Bisik-bisik langsung muncul, tidak disembunyikan, tapi tidak juga terang-terangan.

Lady Miravel duduk di dekat jendela, dikelilingi dua wanita muda. Gaunnya anggun, senyumnya sempurna.

"Nyonya Draven," sapa Miravel ramah. "Kehormatan akhirnya kau berkenan hadir."

"Aku baru belajar menyesuaikan diri," jawab Elora sopan, lalu duduk di kursi yang ditawarkan.

"Pasti sulit," lanjut Miravel, nada suaranya penuh empati palsu. "Menjadi istri seorang jenderal yang … sibuk."

Elora tersenyum tipis. "Kesibukan adalah bagian dari tanggung jawab."

"Ah, benar sekali." Miravel mengangguk. "Tapi tanggung jawab juga menuntut ketahanan. Terutama bagi seorang wanita yang kini berada dan menjadi pusat perhatian."

Salah satu wanita lain ikut menyela. "Apakah kau sudah mempelajari adat istana? Upacara leluhur akan segera tiba."

Elora mengangkat cangkir tehnya. "Sebagian."

"Upacara itu sakral," ujar Miravel lembut. "Kesalahan kecil bisa dianggap penghinaan besar."

Elora meletakkan cangkirnya. "Maka aku akan belajar lebih cepat."

Miravel menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Ada kilat singkat di matanya itu bukan kekaguman, melainkan pengujian.

"Semoga," katanya akhirnya.

Jamuan berakhir tanpa insiden. Terlalu mulus. Saat Elora melangkah keluar aula, salah satu ksatria mendekat sedikit.

"Nyonya," bisiknya pelan. "Ada seseorang yang mengikuti kita sejak di lorong timur."

Langkah Elora tidak melambat. "Siapa?"

"Kami belum bisa memastikan."

"Teruskan," jawabnya singkat.

Lorong istana bercabang dan berliku. Saat mereka berbelok, Elora sempat merasakan sesuatu, seperti mata yang mengawasi dari balik pilar. Namun, ketika ia menoleh, lorong kosong.

"Percepat langkah," perintah ksatria.

Saat mereka hampir mencapai kamar, Kael muncul dari ujung lorong. Jubah hitamnya masih dikenakan, ekspresinya keras.

"Elora." Nada suaranya membuat para ksatria langsung menepi.

"Ada apa?" tanya Elora.

Kael menatap sekeliling, memastikan lorong aman. "Seseorang menyentuh wilayah dalam tanpa izin. Segel pengaman rusak."

Elora menegang. "Targetnya?"

Kael menatapnya lurus. "Belum pasti." Ia meraih pergelangan tangan Elora, tidak kasar, tapi tegas. "Mulai hari ini, kau tidak bergerak sendiri. Bahkan di dalam istana."

"Apa ancamannya sebesar itu?"

"Lebih besar," jawab Kael dingin. "Karena mereka belum bergerak terang-terangan."

Elora menelan ludah. "Apa mereka ingin aku takut."

"Dan aku tidak akan memberi mereka itu."

Malam turun cepat hari itu. Saat Elora berbaring, pikirannya penuh. Ia tidak tertidur sampai suara langkah ringan terdengar di luar pintu. Lalu … sesuatu meluncur ke bawah pintu.

Sepotong kain kecil bersih dan tidak berbau. Elora mengambilnya dengan tangan gemetar. Di sudut kain itu terukir simbol kecil—buram, tapi jelas.

Simbol yang sama seperti segel lama keluarga Draven. Jantungnya berdentum keras. Di balik dinding istana yang tebal, permainan sudah dimulai.

Dan Elora baru saja dijadikan bidak bukan korban, dan itu belum.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I100. Saksi yang Kembali

    Aula besar di Istana Valerion belum benar-benar pulih dari kekacauan yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Anak panah yang ditembakkan dari balkon masih tergeletak di atas lantai batu, menjadi pengingat bahwa musuh tidak hanya berada di luar tembok istana—tetapi mungkin juga di dalamnya. Obor-obor kembali dinyalakan di sepanjang dinding aula. Cahaya mereka bergoyang tertiup angin malam yang masuk dari pintu besar yang setengah terbuka.Di tengah ruangan, para bangsawan berdiri dalam kelompok kecil, saling berbisik dengan wajah tegang. Di depan tangga singgasana, tiga sosok berdiri dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain. Elora Avelyne berdiri tegak dengan ekspresi tenang, meski matanya terus mengawasi setiap gerakan di ruangan itu. Tidak jauh darinya, Aethran Valerion berdiri dengan sikap kaku. Tatapannya sesekali melirik potret besar Lady Mirela yang masih terpajang di tengah aula. Di sisi lain, Adrian Valerion tampak jauh lebih santai. Ia bersandar pada salah satu pi

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I99. Panglima yang Hilang

    Aula kerajaan di Istana Valerion masih diselimuti ketegangan setelah potret besar itu dibuka. Potret Lady Mirela berdiri tegak di tengah ruangan, diterangi cahaya obor yang bergetar. Wajah wanita itu terlihat tenang, bahkan hampir tersenyum—seolah tidak peduli bahwa kemunculannya kembali telah mengguncang seluruh kerajaan. Namun perhatian semua orang kini tidak hanya tertuju pada Mirela. Melainkan pada pria yang berdiri di sampingnya dalam lukisan itu. Seorang panglima kerajaan yang telah lama menghilang.Kael Draven berdiri beberapa langkah dari potret itu, menatapnya dengan mata tajam. “Pedang itu,” gumamnya pelan. Di sampingnya, Cassren Vale menyipitkan mata. “Kau mengenalinya?” Kael mengangguk sedikit. “Lambang di gagang pedangnya adalah lambang komando penjaga istana dua puluh tahun lalu.” Cassren menghembuskan napas perlahan. “Itu berarti dia memimpin penjagaan saat malam kelahiran bayi Ratu Isolde.” Bisikan langsung memenuhi au

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I98. Potret dari Masa Lalu

    Aula kerajaan di Istana Valerion belum sempat kembali tenang sejak kematian Lord Vareon Halbrecht. Tubuh bangsawan tua itu telah dibawa keluar oleh para penjaga, namun bayangan kematiannya masih terasa berat di udara. Empat pewaris masih berdiri di depan tangga singgasana. Elora Avelyne berdiri dengan tangan saling menggenggam untuk menahan kegelisahan. Di sampingnya, Aethran Valerion terlihat semakin tidak sabar. Sedikit di belakang, Rhevan masih menjaga sikap seperti seorang prajurit. Sementara di tengah aula, Adrian Valerion memperhatikan semuanya dengan ketenangan yang sulit ditebak.Di tangan Kael Draven, panah hitam milik pasukan bayangan masih berkilau di bawah cahaya obor. “Pasukan rahasia kerajaan,” gumam Kael. Cassren Vale berdiri di sampingnya. “Pasukan itu seharusnya sudah lama dibubarkan.” Kael menggeleng pelan. “Tidak.” Ia menatap ujung panah itu sekali lagi. “Pasukan seperti itu tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya… menunggu perin

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I97. Teka-Teki Valerion

    Tubuh Lord Vareon Halbrecht masih terbaring di lantai marmer aula kerajaan Istana Valerion. Darahnya perlahan merambat di antara celah batu putih, membentuk garis merah yang menakutkan di tengah ruangan yang sebelumnya menjadi tempat perdebatan takhta. Tidak ada yang berbicara. Para bangsawan berdiri kaku. Beberapa di antara mereka bahkan tidak berani mendekati tubuh Halbrecht.Sementara di tangga singgasana, empat orang yang kini menjadi pusat nasib kerajaan masih berdiri di tempat mereka. Elora Avelyne menatap tubuh Halbrecht dengan wajah pucat. Di sampingnya, Aethran Valerion terlihat tegang, rahangnya mengeras. Sedikit di belakang mereka, Rhevan berdiri tanpa bergerak. Dan di tengah aula— Adrian Valerion memperhatikan semuanya dengan tatapan tenang yang membuat beberapa bangsawan merasa tidak nyaman.Keheningan itu akhirnya pecah. “Cari pemanahnya!” Suara Cassren Vale menggema keras di aula. Beberapa penjaga langsung berlari menuju jendela besar tempa

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I96. Kematian Sang Saksi Kunci

    Aula kerajaan di Istana Valerion tidak lagi terasa seperti tempat kekuasaan. Tempat itu kini seperti medan perang tanpa pedang. Empat orang berdiri di depan tangga singgasana. Empat nama yang tiba-tiba menjadi pusat masa depan kerajaan.Elora Avelyne berdiri dengan punggung tegak, meski jantungnya masih berdetak keras. Di sampingnya, Aethran Valerion menatap lurus ke arah pria yang baru saja mengklaim takhta. Sedikit di belakang mereka, Rhevan berdiri kaku, tangannya masih menggenggam gagang pedang. Dan di tengah aula— Adrian Valerion berdiri dengan tenang. Seolah kehadirannya di istana bukan sesuatu yang mustahil.Bisikan para bangsawan mulai terdengar di seluruh ruangan. “Empat pewaris…” “Ini gila…”“Kerajaan tidak akan bertahan…” Beberapa bangsawan bahkan sudah mulai bergerak mendekati orang yang mereka anggap paling menguntungkan. Situasi mulai terasa seperti bara yang siap meledak.Di depan tangga singgasana, Cas

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I95. Pria yang Kembali dari Kematian

    Cassren menyipitkan mata. Ia merasa wajah itu familiar. Namun sebelum ia sempat mengingat— pria itu berhenti di tengah aula. Tatapannya menyapu ruangan perlahan. Kemudian berhenti pada tiga orang di tangga singgasana.Elora merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Tatapan pria itu terasa seperti seseorang yang sedang menilai mangsanya. “Menarik,” katanya pelan. Suaranya tenang, namun menggema jelas di aula yang sunyi. “Jadi rumor itu benar.” Ia menunjuk ke arah tangga singgasana. “Tiga pewaris berdiri di satu ruangan.”Aethran tersenyum tipis. “Rumor apa pun yang kau dengar, kau datang ke tempat yang salah.” Pria itu memandangnya dengan tatapan penuh arti. “Aku rasa tidak.” Beberapa penjaga bergerak maju. Cassren mengangkat tangan. “Berhenti di situ.” Pedangnya terangkat. “Siapa kau?”Pria itu tidak langsung menjawab. Sebaliknya ia memandang beberapa bangsawan yang berdiri di sisi aula. Tatapannya berhenti pada salah satu dari mer

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status