MasukElora berdiri di balik tirai jendela kamar istana, menatap halaman dalam yang mulai ramai oleh pelayan dan ksatria. Semua terlihat normal bahkan terlalu normal.
Ia tahu, ketenangan ini palsu. Sejak pernikahannya dengan Kael Draven diumumkan secara resmi di hadapan Dewan Militer dan Bangsawan, gerak istana berubah. Tatapan yang dulu sekadar penasaran kini berubah menjadi perhitungan. Setiap langkahnya diukur. Setiap napasnya dinilai. Ia tidak lagi hanya Elora. Ia adalah istri Jenderal Perang. Ketukan di pintu terdengar pelan namun tegas. "Masuk," ucap Elora. Pintu terbuka dan seorang pelayan wanita masuk dengan kepala tertunduk. "Nyonya, Jenderal Draven memerintahkan agar Anda bersiap. Akan ada jamuan kecil di aula wanita bangsawan." Jamuan kecil. Elora menahan senyum pahit. Tidak ada jamuan yang kecil di istana. "Apa Jenderal akan hadir?" tanyanya. Pelayan itu menggeleng. "Beliau dipanggil Dewan Militer pagi ini." Elora mengangguk. "Terima kasih." Saat pelayan itu pergi, Elora menarik napas panjang. Nalurinya berbisik pelan mengingatkab bahwa ini peringatan tanpa suara. Ia memilih gaun sederhana berwarna pucat. Tidak mencolok, tapi cukup layak. Ia tidak berniat memberi mereka celah. Dua ksatria berdiri di luar kamar saat Elora melangkah keluar. Mereka menunduk hormat. "Perintah Jenderal," ucap salah satu dari mereka. "Kami akan mengawal Nyonya." Elora sedikit terkejut. "Ke mana pun?" "Ke mana pun," kata seorang pengawal. Elora tidak bertanya lagi. Aula wanita bangsawan dipenuhi aroma teh dan bunga kering. Tawa-tawa lembut terdengar, tapi Elora bisa merasakan ketegangan di baliknya. Beberapa kepala menoleh saat ia masuk. Bisik-bisik langsung muncul, tidak disembunyikan, tapi tidak juga terang-terangan. Lady Miravel duduk di dekat jendela, dikelilingi dua wanita muda. Gaunnya anggun, senyumnya sempurna. "Nyonya Draven," sapa Miravel ramah. "Kehormatan akhirnya kau berkenan hadir." "Aku baru belajar menyesuaikan diri," jawab Elora sopan, lalu duduk di kursi yang ditawarkan. "Pasti sulit," lanjut Miravel, nada suaranya penuh empati palsu. "Menjadi istri seorang jenderal yang … sibuk." Elora tersenyum tipis. "Kesibukan adalah bagian dari tanggung jawab." "Ah, benar sekali." Miravel mengangguk. "Tapi tanggung jawab juga menuntut ketahanan. Terutama bagi seorang wanita yang kini berada dan menjadi pusat perhatian." Salah satu wanita lain ikut menyela. "Apakah kau sudah mempelajari adat istana? Upacara leluhur akan segera tiba." Elora mengangkat cangkir tehnya. "Sebagian." "Upacara itu sakral," ujar Miravel lembut. "Kesalahan kecil bisa dianggap penghinaan besar." Elora meletakkan cangkirnya. "Maka aku akan belajar lebih cepat." Miravel menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Ada kilat singkat di matanya itu bukan kekaguman, melainkan pengujian. "Semoga," katanya akhirnya. Jamuan berakhir tanpa insiden. Terlalu mulus. Saat Elora melangkah keluar aula, salah satu ksatria mendekat sedikit. "Nyonya," bisiknya pelan. "Ada seseorang yang mengikuti kita sejak di lorong timur." Langkah Elora tidak melambat. "Siapa?" "Kami belum bisa memastikan." "Teruskan," jawabnya singkat. Lorong istana bercabang dan berliku. Saat mereka berbelok, Elora sempat merasakan sesuatu, seperti mata yang mengawasi dari balik pilar. Namun, ketika ia menoleh, lorong kosong. "Percepat langkah," perintah ksatria. Saat mereka hampir mencapai kamar, Kael muncul dari ujung lorong. Jubah hitamnya masih dikenakan, ekspresinya keras. "Elora." Nada suaranya membuat para ksatria langsung menepi. "Ada apa?" tanya Elora. Kael menatap sekeliling, memastikan lorong aman. "Seseorang menyentuh wilayah dalam tanpa izin. Segel pengaman rusak." Elora menegang. "Targetnya?" Kael menatapnya lurus. "Belum pasti." Ia meraih pergelangan tangan Elora, tidak kasar, tapi tegas. "Mulai hari ini, kau tidak bergerak sendiri. Bahkan di dalam istana." "Apa ancamannya sebesar itu?" "Lebih besar," jawab Kael dingin. "Karena mereka belum bergerak terang-terangan." Elora menelan ludah. "Apa mereka ingin aku takut." "Dan aku tidak akan memberi mereka itu." Malam turun cepat hari itu. Saat Elora berbaring, pikirannya penuh. Ia tidak tertidur sampai suara langkah ringan terdengar di luar pintu. Lalu … sesuatu meluncur ke bawah pintu. Sepotong kain kecil bersih dan tidak berbau. Elora mengambilnya dengan tangan gemetar. Di sudut kain itu terukir simbol kecil—buram, tapi jelas. Simbol yang sama seperti segel lama keluarga Draven. Jantungnya berdentum keras. Di balik dinding istana yang tebal, permainan sudah dimulai. Dan Elora baru saja dijadikan bidak bukan korban, dan itu belum.Aula Sidang Kehormatan dipenuhi cahaya pucat dari jendela-jendela tinggi. Pilar batu menjulang seperti saksi bisu, sementara bangku-bangku bangsawan terisi penuh. Tidak ada bisikan berlebihan hanya ketegangan yang menggantung. Elora melangkah masuk dengan kepala tegak. Gaun sederhana berwarna gading membungkus tubuhnya, tanpa perhiasan berlebihan. Ia tidak datang untuk memamerkan status. Ia datang untuk bertahan dan menyerang. Kael berdiri di sisi aula, tidak diizinkan duduk di lingkar sidang. Tatapannya terkunci pada Elora, rahangnya mengeras. Ia tahu ini medan yang tidak bisa ia lindungi dengan pedang. Di singgasana sidang, Lady Miravel duduk anggun. Wajahnya tenang, nyaris lembut. Seolah ia bukan orang yang memanggil sidang ini. Marsekal Kehormatan mengetukkan tongkat peraknya. "Sidang Kehormatan dimulai. Agenda hari ini-legitimasi dan kelayakan Duchess Draven." Beberapa kepala menoleh ke Elora. Tajam. Menilai. "Lady Miravel," lanjut Marsekal. "Sebagai saksi utama, silakan."
Pengawalan dimulai sejak matahari belum sepenuhnya naik. Elora melangkah keluar dari kamar dengan dua ksatria berdiri di kiri dan kanannya. Baju istana berwarna pucat yang dikenakannya tampak anggun, tapi berat di bahunya. Bukan karena kainnya, melainkan karena makna di baliknya.Ia tidak lagi hanya istri seorang jenderal.Ia adalah sasaran bergerak.Kael berjalan beberapa langkah di depan, jubah hitamnya berkibar pelan. Sejak surat ancaman itu ditemukan, sikapnya berubah-lebih tajam dan lebih waspada. Ia tidak lagi berpura-pura menjaga jarak."Mulai hari ini," ucap Kael tanpa menoleh, "kau tidak bergerak tanpa pengawal. Bahkan di dalam istana."Elora mengangguk. "Aku mengerti.""Kau tidak bertanya?" Kael meliriknya singkat."Apa gunanya bertanya," jawab Elora pelan, "jika jawabannya hanya satu-aku harus bertahan."Kael menatapnya lebih lama kali ini. Tidak ada ejekan. Hanya penilaian ulang.Mereka memasuki aula kecil tempat para wanita bangsawan biasanya berkumpul. Mereka tidak tahu
Istana Valerion tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti wajah dari cahaya emas menjadi bisikan gelap. Lady Miravel berdiri di depan jendela tinggi paviliunnya, memandangi halaman dalam yang masih diselimuti kabut pagi. Gaun gelapnya menjuntai anggun, kontras dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya. Di tangannya, secangkir teh nyaris tak disentuh."Jadi ... dia mulai dilindungi." Suara itu datang dari belakang-pelan dengan hati-hati.Miravel tidak menoleh. "Bukan mulai," ujarnya lembut. "Dia sudah menjadi pusat perhatian di istana."Seorang bangsawan pria melangkah mendekat. "Jenderal Draven menolak beberapa agenda Dewan sejak pernikahan itu."Miravel akhirnya tersenyum. "Bagus.""Bagus ...?" Pria itu ragu."Artinya ia bertindak dengan emosi," jawab Miravel tenang. "Dan laki-laki yang bertindak dengan emosi selalu bisa diarahkan."Ia mengangkat cangkirnya, menyesap pelan. "Sekarang, kita hanya perlu memastikan Dewan Militer melihat istrinya bukan sebagai penguatan, mela
Elora berdiri di balik tirai jendela kamar istana, menatap halaman dalam yang mulai ramai oleh pelayan dan ksatria. Semua terlihat normal bahkan terlalu normal.Ia tahu, ketenangan ini palsu. Sejak pernikahannya dengan Kael Draven diumumkan secara resmi di hadapan Dewan Militer dan Bangsawan, gerak istana berubah. Tatapan yang dulu sekadar penasaran kini berubah menjadi perhitungan. Setiap langkahnya diukur. Setiap napasnya dinilai.Ia tidak lagi hanya Elora. Ia adalah istri Jenderal Perang.Ketukan di pintu terdengar pelan namun tegas. "Masuk," ucap Elora.Pintu terbuka dan seorang pelayan wanita masuk dengan kepala tertunduk. "Nyonya, Jenderal Draven memerintahkan agar Anda bersiap. Akan ada jamuan kecil di aula wanita bangsawan."Jamuan kecil. Elora menahan senyum pahit. Tidak ada jamuan yang kecil di istana."Apa Jenderal akan hadir?" tanyanya.Pelayan itu menggeleng. "Beliau dipanggil Dewan Militer pagi ini."Elora mengangguk. "Terima kasih."Saat pelayan itu pergi, Elora menarik
Pagi datang tanpa kehangatan. Elora duduk tegak di kursi makan panjang yang menghadap taman dalam, dikelilingi pilar batu dan tirai sutra merah tua. Jamuan pagi itu seharusnya sederhana—roti hangat, buah, dan teh kerajaan. Namun, suasananya jauh dari santai.Terlalu banyak mata yang mengamati. Para bangsawan wanita duduk berderet, senyum mereka tipis dan penuh perhitungan. Di ujung meja, Kael Draven duduk tenang, posturnya tegap, wajahnya dingin seperti biasanya. Ia tidak berbicara padanya sejak pagi. Seolah mereka orang asing."Elora Avelyne."Suara itu datang dari seberang meja. Lady Miravel, wanita bangsawan yang dikenal dekat dengan istana. Tersenyum ramah dan keramahan yang tidak bisa dibaca oleh siapapun."Sebagai istri jenderal perang," lanjutnya, "tentu kau paham betapa pentingnya etika istana."Elora mengangguk pelan. "Aku akan berusaha sebaik mungkin.""Berusaha?" Lady Miravel terkekeh. "Atau kau memang tidak dibekali cukup?"Beberapa tawa kecil terdengar. Elora merasakan te
Jadi benar. Ia bukan Elyssia.Kael melangkah maju. Hanya satu langkah, namun cukup untuk membuat bayangannya menelan Elora sepenuhnya. Wanita itu tidak mundur, namun napasnya tertahan sepersekian detik. Terlalu singkat untuk disebut takut, terlalu jelas untuk diabaikan. Kael mencatatnya."Kau tahu apa arti kebohongan ini?" tanyanya pelan.Elora menelan ludah. "Aku tahu apa yang dipertaruhkan.""Tidak," bantah Kael dingin. "Kau tidak tahu."Jika ia mau, Kael bisa mengakhiri semuanya malam ini. Satu perintah, satu keputusan dingin, dan keluarga Avelyne akan runtuh seperti bangunan rapuh yang disapu badai. Nama mereka dihapus dari catatan bangsawan. Kehormatan mereka dilenyapkan tanpa sisa.Namun, sesuatu menahannya.Bukan belas kasihan. Bukan pula keraguan. Melainkan insting seorang jenderal. Insting yang telah lama belajar membedakan dalang dan pion.Wanita di hadapannya ini bukan perencana. Terlalu lurus dalam keteguhannya. Terlalu siap menerima konsekuensi. Tidak ada kilat licik di







