Share

I6. Etika yang Menikam

Penulis: Cheezyweeze
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 11:33:23

Istana Valerion tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti wajah dari cahaya emas menjadi bisikan gelap.

Lady Miravel berdiri di depan jendela tinggi paviliunnya, memandangi halaman dalam yang masih diselimuti kabut pagi. Gaun gelapnya menjuntai anggun, kontras dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya. Di tangannya, secangkir teh nyaris tak disentuh.

"Jadi ... dia mulai dilindungi." Suara itu datang dari belakang-pelan dengan hati-hati.

Miravel tidak menoleh. "Bukan mulai," ujarnya lembut. "Dia sudah menjadi pusat perhatian di istana."

Seorang bangsawan pria melangkah mendekat. "Jenderal Draven menolak beberapa agenda Dewan sejak pernikahan itu."

Miravel akhirnya tersenyum. "Bagus."

"Bagus ...?" Pria itu ragu.

"Artinya ia bertindak dengan emosi," jawab Miravel tenang. "Dan laki-laki yang bertindak dengan emosi selalu bisa diarahkan."

Ia mengangkat cangkirnya, menyesap pelan. "Sekarang, kita hanya perlu memastikan Dewan Militer melihat istrinya bukan sebagai penguatan, melainkan ancaman."

***

Ruang Dewan Militer terasa lebih dingin dari biasanya. Kael Draven berdiri di tengah ruangan batu itu, jubah hitamnya terjatuh lurus tanpa lipatan. Di sekelilingnya, enam kursi tinggi ditempati para petinggi, orang-orang yang terbiasa memberi perintah, bukan ditantang.

"Kau melanggar prosedur," kata Marsekal Tertua, suaranya berat. "Pengamanan pribadi di luar protokol istana. Pembatasan akses. Pengalihan pasukan internal."

Kael mengangkat dagunya. "Aku melindungi wilayahku."

"Wilayahmu?" Salah satu anggota Dewan terkekeh. "Istrimu bukan wilayah militer, Jenderal."

Hening. Kael menatap mereka satu per satu. "Ancaman terhadap Duchess Draven adalah ancaman terhadap stabilitas komando."

"Stabilitas?" Dewan lain menyela tajam. "Atau kepentingan pribadi?"

Kata itu menghantam lebih keras dari pedang.

"Kami menerima laporan," lanjut Marsekal. "Bahwa Dewan Bangsawan mulai mempertanyakan legitimasi pernikahanmu. Dan posisi istrimu."

Kael mengepalkan rahang. "Itu bukan urusan Dewan Militer."

"Justru itu urusan kami," sahut suara dingin dari sisi ruangan.

Lady Miravel melangkah masuk, anggun seperti bayangan racun. "Ketika seorang jenderal mengubah prioritas, seluruh struktur ikut terguncang."

Kael menoleh tajam. "Lady Miravel. Sejak kapan Dewan Militer membuka pintu untuk bisikan istana?"

Miravel tersenyum tipis. "Sejak bisikan itu menyebut nama ibumu."

Ruangan membeku. Beberapa anggota Dewan saling pandang. Kael tidak bergerak, tapi darahnya berdesir keras. "Jangan seret masa lalu ke meja ini."

"Justru masa lalu yang kembali menggigit," jawab Miravel lembut. "Dan Duchess-mu berada tepat di tengahnya."

Marsekal menghela napas. "Jenderal Draven, kami tidak menuduh. Tapi jika keputusanmu mulai dikendalikan oleh ikatan personal, kami harus mempertimbangkan pengawasan."

"Kau mengancam jabatanku?" suara Kael rendah, berbahaya.

"Kami menjaga kerajaan," jawab Marsekal. "Jika perlu, kami akan menarikmu dari komando aktif."

Keheningan jatuh-berat, menekan. Kael menyadari satu hal pahit. Ini bukan peringatan. Ini adalah langkah pertama.

Di sisi lain istana, Elora duduk tegak di ruang belajar kecil yang jarang dipakai. Dindingnya dipenuhi rak buku tua, aroma perkamen dan lilin memenuhi udara.

Di hadapannya, seorang wanita tua dengan rambut disanggul rapi menatapnya tajam. "Etika istana bukan tentang benar dan salah," kata wanita itu. "Ia tentang siapa yang boleh benar."

Elora mengangguk perlahan. "Kesalahanmu sejauh ini," lanjut sang wanita, "adalah kejujuran. Itu indah, tapi mematikan."

Elora menautkan jemarinya. "Lalu apa yang seharusnya kulakukan?"

"Belajar diam." Wanita itu mengetuk meja. "Belajar tersenyum saat dijebak. Dan yang terpenting-belajar membuat orang lain melanggar etika tanpa menyadarinya."

Elora menarik napas dalam. "Lady Miravel."

Wanita tua itu tersenyum tipis. "Kau bukan bodoh."

"Aku hanya terlambat belajar," jawab Elora tenang.

Ia menunduk, menyembunyikan sesuatu yang mulai tumbuh di dadanya tapi bukan ketakutan, melainkan tekad.

Jika istana adalah permainan, maka ia akan belajar aturannya dan mematahkannya.

***

Sore itu, Elora berjalan di koridor utama tanpa pengawalan dekat. Ia melangkah tenang, gaun pucatnya menyapu lantai marmer. Para bangsawan berhenti berbicara saat ia lewat. Lady Miravel muncul dari arah berlawanan.

"Nyonya Draven," sapanya manis. "Kau tampak berbeda hari ini."

Elora tersenyum sopan. "Mungkin karena aku mulai memahami istana."

Miravel menaikkan alisnya. "Oh?"

"Ya." Elora menunduk sedikit, etika sempurna. "Aku belajar bahwa kekhawatiran harus disampaikan melalui saluran yang tepat. Terutama kekhawatiran tentang stabilitas." Senyum Miravel menegang sepersekian detik. "Aku akan sangat berhati-hati agar tidak menyinggung Dewan Bangsawan atau Dewan Militer," lanjut Elora lembut.

Ia melangkah melewati Miravel, lalu berhenti setengah langkah. "Lagipula, istana tidak ramah pada mereka yang terlalu sering membicarakan masa lalu orang lain."

Elora melanjutkan langkahnya, meninggalkan Miravel dalam diam.

Untuk pertama kalinya, Lady Miravel tidak tersenyum.

Malam turun membawa kabar buruk.

Seorang pengawal mendekati Kael dengan wajah tegang. "Tuan ... Dewan Militer mengeluarkan keputusan sementara."

Kael menoleh. "Baca."

"Mulai besok, semua pergerakan pasukan Tuan harus mendapat persetujuan Dewan."

Kael tertawa pelan-tanpa humor. "Mereka membelengguku."

"Dan ada satu lagi," lanjut pengawal itu ragu. "Atas rekomendasi Dewan Bangsawan, Duchess Draven diminta menghadiri Sidang Kehormatan." Kael membeku. "Dengan Lady Miravel sebagai saksi utama."

Di lorong lain istana, Elora berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya tenang, tapi matanya berbeda. Ia mengerti sekarang, ini bukan tentang bertahan. Ini tentang siapa yang lebih dulu jatuh.

Dan ketika lonceng istana berdentang menandai pengumuman Sidang Kehormatan, Elora Avelyne tersenyum tipis. Jika mereka ingin perang kata,

ia tidak akan lagi datang sebagai korban. Ia akan datang sebagai ancaman.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I8. Sidang Kehormatan

    Aula Sidang Kehormatan dipenuhi cahaya pucat dari jendela-jendela tinggi. Pilar batu menjulang seperti saksi bisu, sementara bangku-bangku bangsawan terisi penuh. Tidak ada bisikan berlebihan hanya ketegangan yang menggantung. Elora melangkah masuk dengan kepala tegak. Gaun sederhana berwarna gading membungkus tubuhnya, tanpa perhiasan berlebihan. Ia tidak datang untuk memamerkan status. Ia datang untuk bertahan dan menyerang. Kael berdiri di sisi aula, tidak diizinkan duduk di lingkar sidang. Tatapannya terkunci pada Elora, rahangnya mengeras. Ia tahu ini medan yang tidak bisa ia lindungi dengan pedang. Di singgasana sidang, Lady Miravel duduk anggun. Wajahnya tenang, nyaris lembut. Seolah ia bukan orang yang memanggil sidang ini. Marsekal Kehormatan mengetukkan tongkat peraknya. "Sidang Kehormatan dimulai. Agenda hari ini-legitimasi dan kelayakan Duchess Draven." Beberapa kepala menoleh ke Elora. Tajam. Menilai. "Lady Miravel," lanjut Marsekal. "Sebagai saksi utama, silakan."

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I7. Bahasa Istana

    Pengawalan dimulai sejak matahari belum sepenuhnya naik. Elora melangkah keluar dari kamar dengan dua ksatria berdiri di kiri dan kanannya. Baju istana berwarna pucat yang dikenakannya tampak anggun, tapi berat di bahunya. Bukan karena kainnya, melainkan karena makna di baliknya.Ia tidak lagi hanya istri seorang jenderal.Ia adalah sasaran bergerak.Kael berjalan beberapa langkah di depan, jubah hitamnya berkibar pelan. Sejak surat ancaman itu ditemukan, sikapnya berubah-lebih tajam dan lebih waspada. Ia tidak lagi berpura-pura menjaga jarak."Mulai hari ini," ucap Kael tanpa menoleh, "kau tidak bergerak tanpa pengawal. Bahkan di dalam istana."Elora mengangguk. "Aku mengerti.""Kau tidak bertanya?" Kael meliriknya singkat."Apa gunanya bertanya," jawab Elora pelan, "jika jawabannya hanya satu-aku harus bertahan."Kael menatapnya lebih lama kali ini. Tidak ada ejekan. Hanya penilaian ulang.Mereka memasuki aula kecil tempat para wanita bangsawan biasanya berkumpul. Mereka tidak tahu

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I6. Etika yang Menikam

    Istana Valerion tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti wajah dari cahaya emas menjadi bisikan gelap. Lady Miravel berdiri di depan jendela tinggi paviliunnya, memandangi halaman dalam yang masih diselimuti kabut pagi. Gaun gelapnya menjuntai anggun, kontras dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya. Di tangannya, secangkir teh nyaris tak disentuh."Jadi ... dia mulai dilindungi." Suara itu datang dari belakang-pelan dengan hati-hati.Miravel tidak menoleh. "Bukan mulai," ujarnya lembut. "Dia sudah menjadi pusat perhatian di istana."Seorang bangsawan pria melangkah mendekat. "Jenderal Draven menolak beberapa agenda Dewan sejak pernikahan itu."Miravel akhirnya tersenyum. "Bagus.""Bagus ...?" Pria itu ragu."Artinya ia bertindak dengan emosi," jawab Miravel tenang. "Dan laki-laki yang bertindak dengan emosi selalu bisa diarahkan."Ia mengangkat cangkirnya, menyesap pelan. "Sekarang, kita hanya perlu memastikan Dewan Militer melihat istrinya bukan sebagai penguatan, mela

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I5. Bayangan di Balik Tirai Istana

    Elora berdiri di balik tirai jendela kamar istana, menatap halaman dalam yang mulai ramai oleh pelayan dan ksatria. Semua terlihat normal bahkan terlalu normal.Ia tahu, ketenangan ini palsu. Sejak pernikahannya dengan Kael Draven diumumkan secara resmi di hadapan Dewan Militer dan Bangsawan, gerak istana berubah. Tatapan yang dulu sekadar penasaran kini berubah menjadi perhitungan. Setiap langkahnya diukur. Setiap napasnya dinilai.Ia tidak lagi hanya Elora. Ia adalah istri Jenderal Perang.Ketukan di pintu terdengar pelan namun tegas. "Masuk," ucap Elora.Pintu terbuka dan seorang pelayan wanita masuk dengan kepala tertunduk. "Nyonya, Jenderal Draven memerintahkan agar Anda bersiap. Akan ada jamuan kecil di aula wanita bangsawan."Jamuan kecil. Elora menahan senyum pahit. Tidak ada jamuan yang kecil di istana."Apa Jenderal akan hadir?" tanyanya.Pelayan itu menggeleng. "Beliau dipanggil Dewan Militer pagi ini."Elora mengangguk. "Terima kasih."Saat pelayan itu pergi, Elora menarik

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I4. Ujian Seorang Istri

    Pagi datang tanpa kehangatan. Elora duduk tegak di kursi makan panjang yang menghadap taman dalam, dikelilingi pilar batu dan tirai sutra merah tua. Jamuan pagi itu seharusnya sederhana—roti hangat, buah, dan teh kerajaan. Namun, suasananya jauh dari santai.Terlalu banyak mata yang mengamati. Para bangsawan wanita duduk berderet, senyum mereka tipis dan penuh perhitungan. Di ujung meja, Kael Draven duduk tenang, posturnya tegap, wajahnya dingin seperti biasanya. Ia tidak berbicara padanya sejak pagi. Seolah mereka orang asing."Elora Avelyne."Suara itu datang dari seberang meja. Lady Miravel, wanita bangsawan yang dikenal dekat dengan istana. Tersenyum ramah dan keramahan yang tidak bisa dibaca oleh siapapun."Sebagai istri jenderal perang," lanjutnya, "tentu kau paham betapa pentingnya etika istana."Elora mengangguk pelan. "Aku akan berusaha sebaik mungkin.""Berusaha?" Lady Miravel terkekeh. "Atau kau memang tidak dibekali cukup?"Beberapa tawa kecil terdengar. Elora merasakan te

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I3. Umpan Dalam Istana

    Jadi benar. Ia bukan Elyssia.Kael melangkah maju. Hanya satu langkah, namun cukup untuk membuat bayangannya menelan Elora sepenuhnya. Wanita itu tidak mundur, namun napasnya tertahan sepersekian detik. Terlalu singkat untuk disebut takut, terlalu jelas untuk diabaikan. Kael mencatatnya."Kau tahu apa arti kebohongan ini?" tanyanya pelan.Elora menelan ludah. "Aku tahu apa yang dipertaruhkan.""Tidak," bantah Kael dingin. "Kau tidak tahu."Jika ia mau, Kael bisa mengakhiri semuanya malam ini. Satu perintah, satu keputusan dingin, dan keluarga Avelyne akan runtuh seperti bangunan rapuh yang disapu badai. Nama mereka dihapus dari catatan bangsawan. Kehormatan mereka dilenyapkan tanpa sisa.Namun, sesuatu menahannya.Bukan belas kasihan. Bukan pula keraguan. Melainkan insting seorang jenderal. Insting yang telah lama belajar membedakan dalang dan pion.Wanita di hadapannya ini bukan perencana. Terlalu lurus dalam keteguhannya. Terlalu siap menerima konsekuensi. Tidak ada kilat licik di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status